Penerimaan Guru MI Merdeka

Dalam rangka menghadapi tahun ajaran baru 2014 dan menambah kuantitas serta kualitas SDM (Guru) MI Merdeka sekolah maka MI Merdeka Sekolah kembali membuka Penerimaan Guru MI dengan kualifikasi sebagai berikut :

Beragama Islam

Berakhlak Terpuji

Hafal 1 Juz dari Al-Qur’an

Pendidikan Terakhir S1/D-IV jurusan Matematika / IPA

Pengalaman Kerja minimal 5 Tahun

Berbadan sehat

Diutamakan  Pria

Lolos Ujian Wawancara

Syarat-syarat Administrasi disampaikan ke MI Merdeka Sekolah paling lambat  28 Februari 2014. Penyampaian persyaratan administrasi diserta dengan surat lamaran dan dialamatkan kepada Ketua Yayasan Semesta Langit Biru (MI Merdeka Sekolah) dengan alamat MI Merdeka Sekolah Perumahan Dasana Indah, Kelurahan Bojong Nangka

 

Pameran Lukisan Merdeka di TMIM

DALAM PAMERAN LUKISAN MERDEKA

lukisan merdeka

Anak MI Merdeka, pameran lukisan di Taman Ismail Marzuki. Karya adalah kebanggaan dan kebanggaan itu akan menjadi besar apabila kebanggaan itu diapresiasi, baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Salah bentuk untuk mengetahui apresiasi itu adalah dengan di perkenalkan kepada orang lain (publik).

Anak-anak yang sedang tumbuh agar menjadi pesat tumbuhnya maka harus diberikan semangat, harus ditumbuhkan semangatnya dan salah satu bentuknya ada sebuah apresiasi. Dengan adanya pengakuan dari lingkungan akan memotivasi dirinya berbuat lebih luar biasa kedepannya.

Bagaikan tunas yang sedang tumbuh, bak kecambah yang berlum sempurna daunya maka harus dirawat dan dijaga agar daun mudanya dapat tumbuh sempurna hingga menjadi bekal untuk melanjutkan perjuangan hidup. Sungguh tidak arif apabila daun kecambah yang belum sempurna kemudian di ‘pothek’, apa jadinya ?. Anak-anak butuh apresiasi yang proporsional untuk membangkitkan karya/ekspresi selanjutnya. Anak-anak adalah asset diri dan alam ini untuk tumbuh dan kelak menjadi pengganti diri-diri ini. Peradaban ini membutuhkan mereka, maka anak-anak tercinta ini harus diberikan ruang untuk mendapatkan apresiasi yang positif.

Ruang pamer itu kini berwarna-warni. Walau daun-daun itu masih kuncup namun kelak akan tumbuh dan pajangan lukisan-lukisan di dinding TIM yang kini masih kuncup akan mekar semerbak. Lukisan-lukisan tunas itu kelak akan menghunjam dalam akarnya, akan tumbuh kokoh batang dan dahannya akan rimbu dedaunannya dan buahnya lebat memanfaati.

Pameran Lukisan Merdeka

Walau lukisan-lukisan itu masih kuncup, namun mekar didalam hati dan semangat anak-anak Merdeka. Warna merahnya masih muda, Birunya belum pekat, dan kuningnya masih pucat, namun  dimata anak-anak Merdeka disetiap mata yang memadangnya semua warna yang ditabur dalam kanvas itu adalah warna abadi. Warna yang tak akan pernah terhapus dalam sepanjang hayat karena ditorehkan dengan kemerdekaan rasa dan imajinasi. Warna-warna merdeka yang dipilih adalah warna kejujuran yang menjadi asasi dari sifat mulia manusia. Kejujuran untuk menuangkan apa yang ada di jiwa adalah bentuk ‘Anti Kemunafikan’. Sungguh betapa bahagiannya hidup dengan apa adanya.

Semua anak merdeka memamerkan lukisannya. Pada sudut pikuknya suasana, seorang ibu bertanya ‘Dimana lukisan Kakak ? kok Bunda belum ketemu ?’. Dengan tersenyum bangga sang anak menjawab ‘Umi disini lukisan itu, kupajang dalam lubuk rasa yang terdalam untuk diapresiasi oleh Tuhan semoga mengaruniai aku dengan semangat untuk berkarya lebih baik’, jawab anak itu sambil bangga menempelkan tangan kanannya yang lembut di bidang dadanya yang masih ringkih.

(T. Setiya)

 

 

 

 

Warna-Warni MERDEKA

Warna Warni Merdeka

Langkah itu terasa panjang dan berliku, pada alam semesta itu terlihat dengan indah dan luas. Menyanyikan lagu kerinduan pada Allah. Serasa ingin menjatuh diri diawan untuk mengikuti lajunya awan membisikan masa depan dan harapan bagi kehidupan ini. Kesejukan membawa hati pada kesejukan hati jiwa.Walaupun warna permasalahan menarik, tapi kadang membosankan, karena masalah remeh temeh yang juga harus diselesaikan. Angin selalu mengikuti, sehingga harapan itu juga kembali lahir untuk menyatakan ini adalah kekuatan warna yang menjadi lebih baik dan sempurna dalam lukisan kehidupan ini. Biarkan warna itu berbicara, seperti awan berarak, angin sejuk menyejukan kehidupan ini.

Anak Ku Tidak Naik Kelas

Ibu peluk anak1

Sudah aku duga bahwa anakku tahun ini tidak naik kelas. Dari perkembangannya anakku tidak selincah dan secepat teman-temannya. Walau aku menyadari bahwa sebenarnya anakku telah berkembang pesat dibanding masa-masa sebelumnya.

Anakku yang polos itu masih nampak bahagia, berlarian dan bercanda tanpa beban. Dari kejauhan aku duduk dan perhatikan sambil menunggu acara pembagian rapot. Sesekali aku sudah dapat bocoran bahwa dikelas anakku ada 3 anak yang bakal tinggal kelas. Ya aku menyadari anakku mungkin diantara salah satunya.

Kembali aku perhatikan anakku yang begitu cerianya dihari ini. Selintaspun aku tak menemukan rasa gundah dan galau bahwa dirinya akan tinggal kelas ditahun ini. Anakku masih riang bermain bersama teman-teman sekelasnya, yang juga telah menjadi saudara-saudara kembarnya. Tanpa terasa mata ini meneteskan butiran-butiran kasih. Rasa ini kembali menembus hati, bagaimana kalau anakku tahu bahwa dia tinggal kelas di tahun ini. Apakah rasa bahagia dan rianggnya yang mulai tumbuh itu akan kembali sirna oleh ritual akademis yang mengganjalnya untuk bisa menjaga rasa gembiranya.

Entah kenapa aku begitu mengkhawatirnya kondisi jiwa anakku, maklum mungkin ini karena aku sangat menyayanginya. Anakku sudah sekian waktu terlelap dalam keminderan dan terpuruknya semangat untuk menjalani masa kecilnya dengan riang. Kini sebenarnya dia telah bersua dengan alam yang bisa menerima dan membangkitkan asanya. Namun sayang sekali, ketentuan akademis harus yang harus memupus harap yang mulai bersemi. Anakku, aku sangar menyayangimu. Ma’afkan mungkin semua ini karena salah kedua orang tuamu.

Tanpa terasa kian deras air mata ini, dan tak kuasa harus aku bendung dengan sapu tangan yang sudah mulai basah ini. Hatiku semakin tersayat ketika dari kejauhan anakku berteriak lantang ‘Aku naik kelasssssss. Aku kelas dua horeeee’, sambil mengepalkan tangannya dan berlarian bersama teman-temannya.

Namun suasana harus berubah ketika sudah ada pemberitahuan bahwa pembagian rapot untuk anak kelas 1 akan segera dimulai dan  orang tua siswa dimohon untuk memasuki kelas ‘Mawar’. Sebelum masuk aku menuju kamar mandi untuk sekedar menetralisir bahwa aku barusa menanggis melihat haru buah hatiku.

Setelah sekilas pengarahan dari wali kelas, pembagian rapotpun dimulai.Tiga penerima rapot yang pertama selalu keluar dengan wajah sumringah dan nampak bahagia. Beberapa  anak lagi pasti giliran aku, dan betul aku dipanggil. Bissmilah aku pasrah, toh semua memang telah kehendak Alloh. ‘Iya bu…, bagaimana hasilnya Ramdhan…’ tanyaku tak sabar. Dengan tersenyum dan pelan guru wali kelas itu menjawab, ‘ Ibu…., kami memahami bahwa Ramdhan anak kita memang berbeda dengan anak-anak kita yang lain. Kita sangat menyayangi Ramdhan dengan segala apa yang dia punya. Kita dari pihak sekolah telah berdiskusi panjang dan penuh pertimbangan. Namun ketentuan akademis yang memang belum bisa kita langgar. Jadi Ramdhan sebenarnya secara sosial, psikologis dan lainnya telah memenuhi syarat untuk bisa berkembang ditingkat lebih lanjut. Namun nilai akademisnya ternyata harus diperdalam lagi dikelas 1 ini. Jadi ananda Ramdhan harus mendalami lagi pelajaran-pelajaran di kelas 1. Jangan kawatir bu, saya yakin tahun depan Ramdhan akan bisa lebih baik dan berprestasi lagi. Mohon ma’af ya bu, yang penting kita mari sama-sama untuk menguatkan semangat ananda Ramdhan yang sedang tumbuh ini’.

Setelah menarik nafas dalam-dalam aku berusaha tegar setelah beberapa saat tak bisa berucap apapun,’Terimakasih bu, saya sudah menduga sebelumnya memang Ramdhan pasti bakal tinggal kelas. Bagi saya tidak masalah bu, namun saya kasihan sama Ramdhan karena dia baru saja bisa bahagia dengan teman-temannya, nanti kalo dia tinggal kelas akan ketemu teman-teman yang baru tentu akan beda lagi perlakuannya terhadap Ramdhan, saya kasihan sama Ramdhan bu’. Dengan kembali menghibur dan menguatkan saya  wali kelas satu menyemangati saya ‘Bu…, kita semua disini sayang sama Ramdhan, Ramdhan adalah anak istimewa bu. Yakinlah bu kita akan membantu untuk memberikan semangat kepada Ramdhan untuk terus bisa sekolah disini. Jangan kawatir bu, ini juga untuk melatih Ramdhan agar bisa memulai belajar hidup. Bahwa hidup tak selamanya berjalan seperti yang kita harapkan, karena ada Tuhan yang mengatur segalanya. Semangat ya bu !!!!!’.

Setelah berpamitan saya keluar ruanggan, dan betapa terkejut dan tidak kuasanya aku ketika Ramdhan ternyata sudah berdiri di depan pintu sambil merangkul aku. Yang membuat aku semakin tak kuasa menahan tangis adalah  ucapan yang pertama keluar dari lisannya ‘Bu…., Ramdhan enggak naik ya ???. Gak papa bu, Ramdhan sudah siap kok. Maafkan Ramdhan ya bu, Ramdhan mengecewakan ibu’. Tanggisku semakin tidak terbendung dan semakin kupeluk erat tubuhnya yang lembut itu. ‘Tidak Ramdhan, Ramdhan anak pinter, Ramdhan anak pinter. Ibu bangga sama Ramdhan. Ramdhan anak baik…’, ucapku sebisanya. ‘Ibu, gak usah cemaskan Ramdhan ya bu, Ramdhan ikhlas kok menerima ini, Ramdhan akan belajar lebih keras lagi tahun depan. Ramdhan pingin terus sekolah bu, sampai Ramdhan bisa naik kelas walau entah kapan semua itu bisa Ramdhan wujudkan’ tambah Ramdhan yang semakin membuat hatiku tidak karu-karuan. ‘Sudah ya Ramdhan kita pulang dulu ya sayang. Bapak sudah menunggu di rumah, Bapak sudah pulang dari tugasnya. Ayo kita pulang ya sayang’. Sambil menatap wajahku, buah hatiku yang tulus ini bertanya ‘Buuuu, kira-kira Bapak marah gak ya Ramdhan tidak naik kelas ?’. Tanpa aku jawab kupeluk semakin erat tubuhnya yang lembut itu.

‘Ramdhan kita semua sayang dan bangga sama kamu’

(Tanda S)

LANGKAH YANG MENYELIMUTI HATI

Ketika langkah itu ada diantara mereka makin membuka harapan semua orang yang merasakan apa yang dirasakan dipikirkan dan dialami seolah terpenuhi. Pada hal mereka itu belum merasakan sebuah perjalan yang tidak selurus dan sedekat pandangan mata. Itu merupakan harapakan yang ditempuh dengan segala upaya dan jerih payang dengan pengorban jiwa dan raga.Tapi itulah kalau layar sudah terbentang pantang kembali sebelum menuai hasil, meski dengan sedih, duka lara menyelimuti senyum dan air mata harapan untuk selalu bisa melangkah,walaupun langkah itu berat dengan terjal dan nyaris tergelincir. Tapi harapan juga lah yang membuat langkah itu selalu berjalan dengan do’a dan senandung rinduku pada Allah yang selalu menyelimuti jiwa dan perasaanku yang kadang tak tahu harus bagaimana diungkapkan dalam sebuah kata atau kalimat yang tak berawal dan tak berakhir.

Biarlah langkah itu mengikuti irama kehidupan dalam amanh yang telah diberikan sebagai wujud dari kasih sayang dan kedekatanku pada Mu, ya Allah. Tak ada lagi tangis dan kepedihakan semua telah menjelma menjadi takdir dalam langkah,langkah berikutnya. Meskipun tidak semua orang tahu apa langkah itu sampai dalam tujuan, karena langkah itu bukan pada tujuan semua orang yang merindukan bentuk dan kenikmatan dan kepuasan sesaat. Tapi langkah abadi dan ketidak abadian hidup ini.Biarlah belajar dalam pembelajaran yang tidak belajar menurut kebanyak orang tapi tujuan dan makna pembelajaran sudah diartikulasikan dalam ritme dan kerinduah pada alam dan kehidupan, karena Allah ada disana. Untuk selalu menyapa ketika aku bersama dengan anak yang katanya muridku, tapi sebenarnya dia adalah teman belajarku. Karena posisi saja aku dianggap guru, tapi realitas makna kehidupan ada adalah anak yang seperti anak muridku belajar dengan memeluk alam dan kehidupan sebagai rindu dan kegembiraan.

Tangisku tapi anak kebanyak sebagai ungkap ketidak perdayaan terhadap hidup untuk bisa menerobos realitas kehidupan orang gede. Aneh, memang langkah hidup selalu mengantarkan pada langkah depan, meski aku menangis terseduh-seduh. Peluh resah dan tak berdaya dalam senyum dan kegembiraanku.

(Tri Aru/ Maret 2013)

Kok Nilai Anak Saya Jelek Banget Sich ?

Kok Nilai Anak Saya Jelek Banget Siiih  ???

Hasil ujian telah dibagikan. Anak-anak tetap ceria, anak-anak tetap dalam dunianya. Namun anak adalah wujud kasih sayang kedua orang tuanya. Sehingga anak menjadi tautan refleksi dari apa yang dikehendaki oleh orang tuanya. Sebuah tata kasih yang wajar dalam kenyataan jaman ini. Rasa sayang yang lebih telah membuat orang tua berada dalam zona kekawatiran dan kecewa apabila sang buah hati tidak sesuai dengan harapnya.

Beberapa orang tua memandang bahwa hasil ujian kali ini jauh dari harapnya. Bila dibanding dengan hasil ujian sebelum sebelumnya ternyata secara scoring memeng ‘maaf jauh dibawah’.

‘Bu, gimana hasil ujian  Rian ?’ tanya ibu Prapti. ‘Yah gitu dech, emang anak saya yang satu ini beda dengan kakak-kakanya yang selalu rangking. Tau dech ini, jelek semua bu’, jawab ibu Rahma.  Dengan duduk yang semakin mendekar bu Prapti semakin antusian, ‘Iya nich kata ibu-ibu yang lain juga demikian. Banyak anak-anaknya yang nilainya jelek-jelek. Ini gimana sich gurunya. Apa kita nanti komplain aja ya buk ke Sekolah ?’. ‘Kalau menurut saya kita diskusi musyawarah dulu dengan ibu-ibu yang lain. Apa yang akan kita tanyakan ke sekolah agar anak kita nilainya bagus-bagus’ jawab bu Rahma. Dari awah belakang ibu Tugino menambahkan, ‘Kalau kondisinya begini terus aku akan pindahkan saja Rahmat ke sekolah yang lain. Itu tuh di sekolah sebelah sono, anak-anaknya nilainya bagus-bagus bu. Cuman Rahmat aja yang masih ngotot katanya gak mau dipindahin disini enak katanya. Jadi ya udah sementara disini dulu. Tapi kalau ujian semester nanti masih jelek ya terpaksa deh tak paksa pindah.’ ‘Ya udah dech habis ini kalao udah banyak ibu-ibu yang ngumpul kita diskusi aja untuk tanya ke sekolah, apa yang harus dilakukan sekolah agar nilai anak-anak kita lebih bagus bagus’, himbau ibu Prapti.

Memang saat ini nilai anak masih dijadikan satu-satunya indikator untuk melihat perkembangan anak kita. Pembicaraan ibu-ibu diatas menunjukkan bahwa memang orang tua tetap meletakkan harapan kesuksessan pendidikan anak pada nilai yang diujikan. Kondisi yang memungkinkan seperti ini. Anak akan dikatakan sukses apabila nilainya bagus dan diatas rata-rata, semua pingin anaknya ranking 1 nilai rata-rata diatas 8, dan sesungguhnya ketika nilai semuanya tinggi apakah sebenarnya memeng tinggi ? dan apabila nilai semua anak rendah apakah anak-anak tidak pandai ?. Sebuah pertanyaan-pertanyaan yang patut untuk diuji empirisnya.

Yang jelas sekolah dan orang tua harus sering berkomunikasi untuk menyamakan harapan. Ketika nilai anak turun tentu dicari penyebabnya dan setelah tahu baru dicarikan solusi untuk perbaikannya. Tentunya ada variable-variable yang memungkinkan hasil belajar belum sesuai dengan harapan. Nach ini yang harus diindentifikasi, apakah gurunya kurang ?, apakah soalnya yang kurang tepat? apakah anaknya belum siap ? atau faktor lainnya ?. Dengan komunikasi dan pengamatan seksama kiranya kekurangan-kekurangan itu akan dapat ditutupi sehingga menjadi lebih baik. Sebenarnya yang belajar itu tidak hanya anak-anak saja, namun sekolah, guru dan masyarakat ini semuanya juga sedang belajar untuk menuju yang lebih baik.

Semoga kedepan nilai anak kita menjadi lebih baik. Aamiin