MERDEKA BERKURBAN


MERDEKA BERKURBAN

 

Pagi itu cerah banget, ciyus dech, sinarnya menerobos sela-sela dedaunan rindang disekitar sekolah Merdeka. Huan ringan malam Sabtu itu, membuat tanah yang biasa berdebu, tunduk dan menebarkan aroma segar. Ditambah, beberapa hari ini memang hujan udah menghampiri bumi Merdeka jadi ya kelihatan mulai hijaulah beberapa pohon dan tentunya rumput hijau di pelataran sekolah Merdeka. Suasana pagi itu memang lain dech, udah ada tertambat 1 ekor sapi berwarna putih dan satu ekor domba. Yeeeeee, hari ini anak Merdeka akan berpesta. Anak Merdeka akan potong kambing dan sapi kemudian makan bareng-bareng. Duuuh asyikkknya. Beberapa anak  Merdeka yang pagi-pagi udah dateng mulai bermain dan memainkan  domba yang lucu itu, dasar anak-anak ya, dia enggak tahu bahwa sang domba sebenarnya sedang galau karena akan segera menjadi hewan kurban. Ya gitu dech dunia anak-anak yang penting happy.

Tak selang lama, mulai rame sekolah Merdeka, ada anak-anak Merdeka yang aduhai lincahnya, ada juga orang tua murid yang ikut bergabung untuk membantu melaksanakan prosesi pemotongan hewan kurban. Dan ibu-ibu wali muridpun juga lagi ribet tuh di belakang untuk menyiapkan sarapan dan makan siang dengan hidangan daging kurban. Pokoknya hari itu seruuu abiz.

Hafiz, anak kelas I, berseru kepada temennya, ‘Bin, aku entar mau bakar sate sendiri , sate kambing’. ‘Bakar sate ?… emangnya ada bakaran satenya ?’ tanya balik Bintang. Hafiz menjawab, ‘Kacian deh loow, aku udah bawa dari rumah pangganggan  sate. Tadi malem papaku juga panggang sate’. ‘Oo gitu, ya udah entar aku ikut numpang  manggang ya ..’, pinta Bintang. Dialog ini salah satu frase saja dari  berpuluh dan bahkan beratus dialog yang terjadi di pagi itu.

Anak-anak merdeka menikmati betul hari yang indah ini untuk berkurban di sekolahnya. Anak-anak tidak ambil pusing dengan pemaknaan kurban, namun dia merasa happy dengan berkurban. Terkadang bagi orang tua/dewasa, melupakan arti kegembiraan dan kebahagiaan dalam berkurban. Padahal, salah satu wujud keikhlasan dapat terpancar dari adanya rasa happy ketika melakukan suatu amal perbuatan. Anak-anak memang belum bisa memaknai ikhlas, namun dia telah melakukan keikhlasan. Melakukan sesuatu dengan rasa gembira tanpa ada embel-embel yang malah dapat mendistorsi keikhlasan itu sendiri.

Terimakasih anak-anak Merdeka yang telah berkurban dengan penuh keceriaan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s