Pameran Lukisan Merdeka di TMIM


DALAM PAMERAN LUKISAN MERDEKA

lukisan merdeka

Anak MI Merdeka, pameran lukisan di Taman Ismail Marzuki. Karya adalah kebanggaan dan kebanggaan itu akan menjadi besar apabila kebanggaan itu diapresiasi, baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Salah bentuk untuk mengetahui apresiasi itu adalah dengan di perkenalkan kepada orang lain (publik).

Anak-anak yang sedang tumbuh agar menjadi pesat tumbuhnya maka harus diberikan semangat, harus ditumbuhkan semangatnya dan salah satu bentuknya ada sebuah apresiasi. Dengan adanya pengakuan dari lingkungan akan memotivasi dirinya berbuat lebih luar biasa kedepannya.

Bagaikan tunas yang sedang tumbuh, bak kecambah yang berlum sempurna daunya maka harus dirawat dan dijaga agar daun mudanya dapat tumbuh sempurna hingga menjadi bekal untuk melanjutkan perjuangan hidup. Sungguh tidak arif apabila daun kecambah yang belum sempurna kemudian di ‘pothek’, apa jadinya ?. Anak-anak butuh apresiasi yang proporsional untuk membangkitkan karya/ekspresi selanjutnya. Anak-anak adalah asset diri dan alam ini untuk tumbuh dan kelak menjadi pengganti diri-diri ini. Peradaban ini membutuhkan mereka, maka anak-anak tercinta ini harus diberikan ruang untuk mendapatkan apresiasi yang positif.

Ruang pamer itu kini berwarna-warni. Walau daun-daun itu masih kuncup namun kelak akan tumbuh dan pajangan lukisan-lukisan di dinding TIM yang kini masih kuncup akan mekar semerbak. Lukisan-lukisan tunas itu kelak akan menghunjam dalam akarnya, akan tumbuh kokoh batang dan dahannya akan rimbu dedaunannya dan buahnya lebat memanfaati.

Pameran Lukisan Merdeka

Walau lukisan-lukisan itu masih kuncup, namun mekar didalam hati dan semangat anak-anak Merdeka. Warna merahnya masih muda, Birunya belum pekat, dan kuningnya masih pucat, namun  dimata anak-anak Merdeka disetiap mata yang memadangnya semua warna yang ditabur dalam kanvas itu adalah warna abadi. Warna yang tak akan pernah terhapus dalam sepanjang hayat karena ditorehkan dengan kemerdekaan rasa dan imajinasi. Warna-warna merdeka yang dipilih adalah warna kejujuran yang menjadi asasi dari sifat mulia manusia. Kejujuran untuk menuangkan apa yang ada di jiwa adalah bentuk ‘Anti Kemunafikan’. Sungguh betapa bahagiannya hidup dengan apa adanya.

Semua anak merdeka memamerkan lukisannya. Pada sudut pikuknya suasana, seorang ibu bertanya ‘Dimana lukisan Kakak ? kok Bunda belum ketemu ?’. Dengan tersenyum bangga sang anak menjawab ‘Umi disini lukisan itu, kupajang dalam lubuk rasa yang terdalam untuk diapresiasi oleh Tuhan semoga mengaruniai aku dengan semangat untuk berkarya lebih baik’, jawab anak itu sambil bangga menempelkan tangan kanannya yang lembut di bidang dadanya yang masih ringkih.

(T. Setiya)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s