Berita

LAHAN  MERDEKA

blajar-Sholat

Anak Merdeka Belajar Sholat

Pada hari Ahad yang lewat, beberapa pengurus Yayasan Semesta Langit Biru, bersama berbagi untuk memikirkan pengadaan lahan untuk Sekolah Merdeka.  Sekolah merdeka hingga kini masih beroperasi dengan mengontrak sebuah rumah sebagai sarana untuk operasional pendidikan berbagi.

Namun anak-anak Merdeka pingin segera merdeka dari ruang-ruang yang masih belum merdeka, karena tanah, saung dan segala yang ada saat ini masih milik orang lain. Kami Pengurus Yayasan Semesta Langit Biru kembali untuk segera berbuat untuk mencarikan dan mengupayakan lahan Merdeka untuk anak-anak Merdeka agar mereka dapat Merdeka belajar meniti jalan Ilahi dengan Tumbuh Kembang Bersama Al-Qur’an.

Kami mengajak kepada semua pihak untuk berbagi, mengadakan Lahan  Merdeka, pada tahap I kami ingin membebaskan tanah seluas 1.300 meter persegi yang letaknya  deket sekolah Merdeka saat ini.  Lahan untuk sekolahan seluas 1000 meter persegi dan untuk akses jalan kurang lebih 300 meter persegi.  Penawaran harga 250 ribu per meternya.  Sehingga hitung-hitungan kasarnya diperlukan dan Rp325 juta untuk pembebasan lahan tersebut.  Kami yakin bahwa Alloh bersama kita semua. Dengan  kita berbagi bersama maka dengan ijin Alloh tanah tersebut bakal dapat dibebaskan.  Marilah kita bersama untuk memerdekakan tanah tersebut untuk kemerdekaan anak-anak Merdeka agar dapat tumbuh kembang  bersana al-qur’an dengan cara berbagi.

cropped-judul34.jpg

Mereka Merdeka Bergerak

Setiap curahan pikiran, tetesan keringat dan wakaf yang Saudara-Saudara berikan akan menjadi bukti bahwa kita pernah berbuat untuk Menuju Pendidikan yang Merdeka. Semoga Alloh SWT. meridhoi apa yang kita lakukan. Amiin

Anak Merdeka Begitu Akrab dengan Lingkungannya

Kirimkan Wakaf, Infa’/Sedekah dan Zakat Saudara ke Sekolah Merdeka :

No. Rek. BRI (BRITAMA) KCP Gading Serpong

No. Rek : 1145-01-000816-50-1

An.: Yayasan Semesta Langit Biru

Alamat : Medang Lestari Blok. D.V No. E.31 RT.4/4/ Medang Tangerang Banten

Contact Kami: 0817882156    Telp.08161310726 – 081310858345

Assalammu’alaikum Wr.Wbr.

Merdeka….!, Saudaraku  sekalian,  lembar ini disunting sebagai papan tulisan guna memberikan berbagai informasi kepada khalayak dimana saja dan siapa saja. Biarlah berita ini merdeka mengembara, menelusuri dunia maya yang tak berujung batasnya. Semoga kabar ini bermanfa’at dan memberikan kemerdekaan bagi setiap insan untuk mendapatkan berita yang bermakna. Mari kita berbagi dan tumbuh bersama menuju kehidupan Qur’ani.

Wassalamu’alaikum Wr.Wbr.

12 thoughts on “Berita

  1. Kemarin Merdeka sekolah mengadakan koordinasi dengan guru bu mala dan bu yoyoh serta staf administrasi bu nila yang mengantikan pak suryono, bu kusni. Membicarakan mekanisme kerja dan menjelajahi gaya kerja masing-masing untuk memberikan sesuatu yang terbaik buat kita bersama. Karena Merdeka sekolah bukan saja tapi sekolah pemberdayaan masyarakat.

  2. Merdeka Sekolah mendirikan kantin Sidiq, kantin yang mengadalkan sebuah kejujuran. Karena tidak ada yang menjaganya. Karena dipercayakan pada pembelinya, dalam hal ini anak-anak dan guru atau staf administrasi. Kanti dengan langkah kecil, tapi niatan yang besar mudah-mudah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi Merdeka Sekolah.

  3. Jum’at di Merdeka Sekolah mengadakan ekskul melukis yang diberikan tema “Awan itu Menanggis” anak-anak antusias. Hanya ada yang asik dengan dirinya sendiri dengan eklpolari mengikuti intuisinya seperti ihsan, isa dan sholeh. Sedang syifa mau membaca buku.

    Suasana yang menyenangkan menjadi suasana yang menimbulkan keingin tahuan ada terhadap permasalahan yang tidak kita duga. Tapi itu adalah hidup yang kadang mau tidak mau harus dihadapi. Semoga Merdeka Sekolah terus berjuang.

  4. PENERIMAAN MURID BARU TAHUAN AJAR 2010-2011
    MELIHAT PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK BERMASA MERDEKA SEKOLAH, TUMBUH BERSAMA AL QURAN, UNTUK BERBAGI.

    * PENDAFTARAN MULAI TANGGAL 30 NOV-28 MEI 2010
    * WAWANCARA AKAN BERLANGSUNG SABTU TANGGAL 29 MEI 2010
    * PENGUMUMAN WAWANCARA DAN PENGUKURAN SERAGAM TANGGAL 7 JUNI 2010
    * MENYERAHKAN DANA PENDIDIKAN TANGGAL 8 JUNI 2010
    * PENGAMBILAN BAJU SERAGAM TANGGAL 5 JULI 2010
    * MASUK SEKOLAH TANGGAL 12 JULI 2010

    SYARAT-SYARAT BERGAMBUNG DI MERDEKA SEKOAH

    *BIAYA UNTUK MENGETAHUI POTENSI ANAK Rp 100.000,-
    *INFAK PENDIDIKAN Rp 1.000 000,-
    *FOTO COPY KARTU KELUARGA DAN AKTE KELAHIRAN
    *INVESTASI AMAL BAGI ANAK-ANAK KITA SESUAI DENGAN KEMAMPUANNYA
    *INFAK BULAN SEBAGAI USAHA MELAPANGKAN REZEKI, MEMBERSIHKAN HARTA DAN MENINGKATKAN KEIMANAN SERTA KETAQWAAN PADA ALLAH SWT.
    *KEGIATAN SEMESTER UNTUK KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DAN PROGRAM PENDIDIKAN Rp 500.000
    *BIAYA BUKU PAKET UNTUK SATU TAHUN Rp 350.000,-
    *BAJU SERAGAM SEKOLAH UNTUK ANAK PEREMPUAN Rp 450.000,-
    *BAJU SERAGAM SEKOLAH UNTUK ANAK LAKI-LAKI Rp 400.000,-

  5. Hari ini sabtu tanggal 31 Oktober 2009 guru Merdeka Sekolah yang terdiri dari Ibu Mala, Ibu Yoyoh dan Ibu Fifi mengikuti seminar pendidikan yang diberikan tema Paradigma Pendidikan dengan kemandirian, ketrampilan,kreatifitas,kecerdasan dan kebagian. Di mana pembicaraan adalah Neno Warisman.

    Kegiatan seminar yang dilakukan oleh guru Merdeka Sekolah menjadi bagian yang memang harus dilakukan sebagai prose pembelajaran. Semua biaya dan tranportasi di tanggung oleh sekolah, meskipun sekolah itu tidak ada biaya pengembangan guru. Tapi karena komitmen bersama, itu menjadi penting.

  6. Hari ini anak-anak Merdeka Sekolah menerima laporan hasil belajar selama 3 bulan atau tengah semester. Dalam rapat dengan orang tua di bahs pula rencana acara peringatan Idul Qur’ban yang insyaAlloh tahun ini Merdeka Sekolah akanmengadakan penyembelihan hewan kurban dengan kepanitiaan dari para orang tua murid, juga rencana mengadakan Study Visit pada bulan Desember ke Kidzania. Semoga acara tersebut bisa terlaksana dengan lancar dan sukses. Aamiin. ( Ummu DiADiZ)

  7. DIMANA RAPOT TUFFA

    Sekolah adalah pendidikan formal di mana kegiatan belajar mengajar itu ada tolak ukurnya. Meskpun tolak ukur itu tidak selalu mencerminkan apa yang dicapai oleh anak. Karena banyak hal yang masih luput dari nilai yaitu masalah kepribadian seorang anak. Hal ini hanya bisa dirasakan dialami secara personal dan tidak bisa dijelaskan dalam bentuk diskripsi dan ukuran keberhasilan. Karena memang susah untuk diukur, tapi hanya berdasarkan kepercaayan yang jauh dari obyektifitas di dalam cara pandang sekolah, di dalam melihat perkembangan adalah dalam belajar.

    Hal ini yang dirasakan oleh guru ketika ingin membuat hasil evaluasi belajar selama ini. Karena seorang siswi bernama Tuffa ini selama lima bulan berada di sekolah tidak pernah berbicara, meskipun dia bisa berbicara. Dia hanya diam dan diam. Meskipun diamnya itu bukan diam, tapi diamnya itu berbicara dan banyak bicara, hanya saja gurunya tidak bisa mengerti apa yang dibicarakan.

    Meskipun dalam proses pembelajaran dia mengikuti seperti layaknya anak-anak yang lain. Dia mengenal huruf dan sedikit bisa mengerangkai huruf, begitu juga dia bisa mengerti apa yang dikatakan oleh guru dan bisa bermain seperti biasa dengan teman lainnya. Dia bisa mengerti apa yang diinstruksikan gurunya. Dia juga bisa membantu gurunya untuk diminta tolong mengambil sesuatu atau memberikan sesuatu pada guru lainnya.

    Namun yang sekolah memerlukan sesuatu yang harus bisa dijelaskan dalam evaluasi belajar. Untuk itu yang diperlukan adalah kerjasama sekolah dengan orang tua muridnya. Yaitu dengan memberikan informasi sebanyak mungkin tentang Tuffa selama di rumah. Dengan begitu bisa diberikan nilai dalam bentuk konfersi nilai dari orang tua ke gurunya. Dengan cara orang tuanya Tuffa memberikan evaluasi layaknya seperti guru untuk dalam bentuk disktripsi dan skor kalau memang perlu. Kemudian diberikan guru dan guru akan menganalisa untuk di cek dan ricek untuk bisa dapat gambaran evaluasi untuk rapot.

    Hal ini perna terjadi pada seorang mahasiswa yang bercerita pada masa kecilnya. Dia tidak mau berbicara pada orang lain. Selama hampir enam tahun, dia selalu diam menghadapi orang lain. Dan ketika dia mulai bicara dengan orang lain bermula dari kepercayaan dia pada seorang guru yang memberikan rasa aman dan selalu mensportnya untuk sesuatu yang selama ini tidak pernah dia dapatkan. Dan dia mulai bicara ketika dia diajarkan bernyanyi oleh gurunya. Dan semenjak itu anak itu mau bicara dengan orang lain selain gurunya.

    Sekarang anak itu sudah mahasiswa dan sekarang menyelesaikan Sarjananya dengan membuat karya seni grafis tentang kehidupannya di masa kecil.

  8. MENEMBUS ILALLANG

    Pelajaran olah raga dimulai dengan pemanasan lari ditempat selama lima belas menit. Kemudian dilanjutkan dengan lari dipematang sawah yang membuat anak kalau tidak berhati-hati akan jatuh kesawah. Begitu juga dengan dengan halang rintang dari irigasi air yang harus dilewat dengan lompatnya yang memerlukan ketangkasan dengan keseimbangan, kalau tidak akan jatuh, kalau jatuh membuat bajunya jatuh.

    Berolah raga di sawah dengan sendiri akan memberikan warna yang berbeda sesuai dengan lingkungan yang memberikan paduan antara pemandangan hijaunya tunas padi yang baru ditanam dan warna coklat jerami yang bekas panen padi yang memberikan hasil pada masyarakatnya. Seolah hal itu memberikan kemampuan bagi kehidupan untuk memberikan kekuatan fisik dan jiwa anak-anak. Olah raga bukan hanya masalah permasalahan fisik saja tapi oleh hati yang memberikan kemampuan di dalam mengembangkan diri untuk berkata dalam kehidupan yang tidak pernah tahu dan dipahami oleh anak-anak itu bagian dari kehidupan yang dijalan dengan berbagai kegiatan bermain dan berpetualang, sambil melihat kapan lahan persawahan itu makin hari makin menyusut dan berubah menjadi rumah. Taman bambu yang begitu indah dengan tiupan angin menerpa pohon bambu memberikan bunyi dengan merambah pada irama alam. Tapi kini taman bambu berubah menjadi perumahan taman bambu, pohon bambu tidak ada tapi memberikan kesan sebagai bagian dari sesuatu yang tidak pernah memberikah arti sebenarnya. Nama sudah tidak ada arti sebagai bentuk petunjuk dari apa yang sebenarnya. Karena itu semua hanya tinggal nama.

    Perjalan dengan anak-anak Merdeka Sekolah melalui struktur tanah yang memberikan bentuk lingkungan rumah, tapi anak-anak mampu menerobos batasan dalam ruang karena gerak dan langkah kita bukan di dasarkan pada otoritas wilayah tapi sebuah petualangan yang menjelajah pada batas dan ruang yang tidak menjadi ikatan. Semua berjalan dengan keriangan dan kadang menimbulkan kebingungan dan was-was karena takut nyasar, tersesat. Pada hal anak-anak tidak akan pernah tersesat dalam sebuah petualandan karena yang ada menjelajah yang tidak pernah kita tahu, semua bergerak dalam langkah yang menikmat perjalanan yang tidak pernah tahu apa yang ingin dicapai. Karena ingin mersakan bagaiman kehidupan di dalam sebuah perjalanan, sehingga kadang anak-anak melewati depan rumah orang, belakang rumah orang, sawah, ladang dan kebun yang kita tidak tahu itu punya siapa, apakah itu menjadi bagian dari kehidupan. Biarkan semuanya hidup dalam realitas yang memberikan pemahaman tentang lingkungan dan alam semesta ini agar kita bisa berpikir, bagaiman orang melihat lingkungan menjadi bagian dari kehidupan kita, bukan dipandang dari suduh ekonomi, uang dan keuntungan, untuk apa lahan ini agar bisa menghasilakan uang, dan hal itu yang terjadi sekarang.

    Membuat kita tidak tahu apa Sekolah Merdeka memang ada di mana, seolah tidak pernah terbanyang dan membayangkan, karena kita merasan hal itu memang sekarang sedang berjalan dan mengalami bagaimana sekolah itu berjalan untuk bisa tumbuh berkembang. Anak-anak menjadi sebuah realitas yang memberik atmosfir pada sebuah lembaga pendidikan sekolah. Membuat kita selalu menyatakan bahwa kehidupan memang ada.
    Sekolah itu memang ada karena memang kita ada, karena anak-anak itu memang ingin belajar dan guru juga ingin belajar bersama untuk bisa merasakan kehidupan itu memang ada dan memberikan pemahaman dan kesadaran pada pandangan kita.

    Anak-anak Merdeka Sekolah sampai pada tanah lapang yang sudah tergali begitu luas sehingga berbentuk kawah yang besar. Karena tanahnya sudah dikeruk untuk penataan perumahan menjadi komodite tersendiri bagi yang mempunyai tanah. Anak-anak meluncur kebawah dengan cepat sehingga memberikan tantangan tersendiri karena menimbulkan ketakutan dan kegembiraan menjadi satu sehingga memberikan kegairahan tersendiri bagi jiwa dan perasaan anak-anak. Begitu juga ketika anak-anak itu memanjat untuk mencapai keatas, selalu mengalami kegagalan karena anak-anak kembali meluncur kebawah dan hal ini yang membuat anak-anak menikmati permainan yang mempunyai unsur olah raga, kalau mau dikaitakan. Lima kali meluncur, lima kali mendaki, sudah menjadi kepuasan sendiri dan sekaligus mengerakan energi yang banyak.

    Perjalanan dilanjutkan lagi untuk kembali pulang ke Merdeka Sekolah dengan jalan lain, dan jalan ini melewati ilallang yang tinggi, sehingga anak-anak tenggelam dalam ilallang itu membuat anak itu menjadi asing dan sekaligus membangun imajinasi anak pada pandangan yang berbagai macam sesuai dengan pengalaman yang di dapat selama ini. Tapi hal itu kemudian dialihkan menjadi sebuah pertualangan menembus ilallang untuk bisa sampai tujuan. Hingga sampai pada akhir untuk menembus ilallang membuat anak-anak itu menjadi lega dan sekaligus kelelahan.

  9. PEMBELAJARAN MI. MERDEKA SEKOLAH MELALUI PARTIPASI MASYARAKAT
    Oleh : Tri Aru Wiratno

    Abstrak
    In the learning of MI. Independent School involving community participation, especially parents of students in education who do not walk alone, but must have a connection with people’s lives for which there are parents, educational institutions, governments, companies or entrepreneurs and social institutions that have a concern for education. But it was not enough if the quality of education that would be developed not pay attention to values and culture of its people. Because of cultural values and society that must be developed to support the development of better education. This is done by MI. Independent School with the concept of education involves sharing in the community. In the hope of education will be well developed to meet the livelihood of many people.

    Key Word : Pembelajaran, MI. Merdeka Sekolah, Partisipasi masyarakat

    Kerangka Berpikir
    Belajar merupakan interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
    Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
    Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati.
    Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan memengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya memengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut.
    Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.
    Carl Rogers. Semangat untuk pendidikan yang terlibat dengan seluruh pribadi dan dengan pengalaman mereka, karena pembelajaran yang menggabungkan, logis dan intuitif intelek dan perasaan; menemukan penonton siap. “Ketika kita belajar dengan cara itu, katanya,kita utuh, memanfaatkan semua kapasitas kami maskulin dan feminin ‘(1983 20). Dia melihat unsur-unsur berikut sebagai terlibat dalam belajar yang signifikan atau pengalaman.
    • Ini memiliki kualitas keterlibatan-orang pribadi yang utuh baik dalam perasaan dan aspek kognitif berada di acara belajar.
    • Ini adalah yang diprakarsai sendiri. Bahkan ketika dorongan atau stimulus berasal dari luar, menemukan rasa untuk menjangkau, menggenggam dan memahami, berasal dari dalam.
    • Hal ini meresap. Itu membuat perbedaan dalam perilaku, sikap, bahkan mungkin kepribadian pelajar.
    • Hal ini dievaluasi oleh pelajar. Dia tahu apakah itu memenuhi kebutuhan nya, apakah itu mengarah ke arah apa yang dia ingin tahu, apakah itu menerangi daerah yang gelap ketidaktahuan dia mengalami. Lokus evaluasi, kita bisa mengatakan, pasti berada di pelajar.
    • Mungkin contoh yang paling terkenal adalah hierarki Abraham Maslow tentang motivasi. Pada tingkat terendah adalah kebutuhan fisiologis, pada aktualisasi diri tertinggi. Hanya ketika kebutuhan yang lebih rendah terpenuhi adalah mungkin untuk sepenuhnya beralih ke tingkat berikutnya. Sebuah motif di tingkat yang lebih rendah selalu lebih kuat daripada di tingkat yang lebih tinggi. Tennant (1997) meringkas sebagai berikut:
    • Tingkat satu: kebutuhan fisiologis seperti lapar, haus, seks, tidur, relaksasi dan integritas tubuh harus dipenuhi sebelum tingkat berikutnya datang ke dalam bermain.
    • Tingkat dua: kebutuhan Keselamatan panggilan untuk dunia yang diprediksi dan teratur. Jika ini bukan orang yang puas akan terlihat untuk mengatur dunia mereka untuk menyediakan tingkat terbesar keselamatan dan keamanan. Jika puas, orang akan datang di bawah kekuatan tingkat tiga.
    • Tingkat tiga: Cinta dan belonginess perlu menyebabkan orang untuk mencari hubungan yang hangat dan ramah.
    • Tingkat empat: Harga diri perlu melibatkan keinginan untuk kekuatan, prestasi, penguasaan kecukupan, dan kompetensi. Mereka juga melibatkan kepercayaan diri, kemandirian, reputasi dan prestise.
    • Lima tingkat: Aktualisasi diri adalah penggunaan penuh dan ekspresi bakat, kemampuan dan potensi.
    • Aktualisasi diri adalah mampu untuk mematuhi peraturan sosial tanpa kehilangan integritas mereka sendiri atau kemerdekaan pribadi; yang mereka mungkin mengikuti norma sosial tanpa cakrawala mereka menjadi dibatasi dalam arti bahwa mereka gagal untuk melihat atau mempertimbangkan kemungkinan lain. Mereka mungkin pada kesempatan melampaui cara bertindak sosial ditentukan. Mencapai tingkat ini mungkin berarti berkembang ke kepenuhan yang mereka mampu. (Tennant 1997: 13)
    Gardner (1999: 24) dikatakan, ‘kecerdasan lebih baik dianggap sebagai “didistribusikan” di dunia daripada “di kepala”‘. Beberapa dari mereka menganjurkan pentingnya tempat kognisi terdistribusi fokus yang lebih kuat pada distribusi daripada yang lain. Pelajar pasti berpartisipasi dalam komunitas para praktisi dan … penguasaan pengetahuan dan keterampilan memerlukan pendatang baru untuk bergerak menuju partisipasi penuh dalam praktek-praktek sosial budaya suatu komunitas. Partisipasi menyediakan cara untuk berbicara tentang hubungan antara pendatang baru tentang kegiatan, identitas, artefak, dan masyarakat pengetahuan dan praktek. Niat seseorang untuk belajar terlibat dan makna pembelajaran dikonfigurasi melalui proses menjadi peserta penuh dalam praktek sosiokultural. Proses sosial, termasuk, memang itu subsumes, pembelajaran keterampilan berpengetahuan. (Love dan Wenger 1991: 29)
    Pertama, teori behaviorisme, di teori ini, menekan pada adanya interaksi antara stimulus respons. Maksudnya adalah dalam proses pembelajaran guru memberikan stimulus-stimulus pada peserta didik sehingga memunculkan respon yang baik pada peserta didik. Teori ini memiliki kelemahan, yaitu dalam proses pembelajaran peserta didik hanya pasif tidak aktif, yang aktif hanya guru saja. pembelajaran hanya terpacu pada pemberian stimulus dan respons saja. Jadi, peserta didik dalam belajar tidak menemukan sendiri tetapi hanya menjiplak dari apa yang diajarkan oleh para pendidik. Dalam behaviorisme tidak adanya penggunaan aspek mental peserta didik, seperti: pikiran, perasaan, minat, dan lain sebagainya. Dan juga dalam pemberian stimulus dan repon kurang adanya penguatan. Untuk itu, teori ini digeser ke teori koneksionisme.
    Kedua, Teori Koneksionisme. Teori Koneksionisme menekankan adanya pemberian penguatan pada peserta didik. adanya penguatan karena sangat penting dalam mengkondisikan munculnya respons yang diharapkan. maksudnya, dalam pembelajaran guru memberikan stimulus dan juga diberi penguatan sehingga akan memunculkan respons yang baik pada peserta didik. apabila tidak adanya penguatan maka akan respons terkondisi akan menurun dan atau menghilang, namun suatu saat respons tersebut dapat muncul kembali. Dan konsep pada teori koneksionisme adalah kekuatan dan kebiasaan. Tapi dari kelemahan koneksionisme adalah para pendidik mengesampingkan pembelajaran semacam itu dan hanya berkutat pada fokus pembelajaran dengan tindakan mengkoneksikan hubungan stimulus-respons. Untuk itu, teori koneksionisme bergeser ke teori lain yaitu teori kognitif.
    Ketiga, Teori Kognitif. Teori ini merujuk pada aspek kognitif pada diri peserta didik. Jadi dalam pembelajaran dengan adanya pemerolehan pengetahuan dan pengolahan dalam aspek kognitif secara optimal maka akan meningkatkan intelektual pada peserta didik. tetapi, setiap peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk mempelajari pengetahuan yang sama dan membutuhkan waktu yang lama. Jadi, bagi peserta didik yang pintar, akan semakin meningkat, tetapi bagi yang kurang pintar akan ketinggalan dengan yang pintar. Nah dari itu lah, kelemahan teori kognitif dalam pembelajaran. Berdasarkan kelemahan tersebut maka teori ini, bergeser menuju teori kontruktivisme.
    Keempat, Teori Konstruktivisme. menekankan pada pengalaman untuk memperoleh pengetahuan. Guru harus bisa memberikan pancingan agar siswa tertarik dan aktif dalam pembelajaran sehingga tercipta suatu pengalaman yang menghasilkan pengetahuan. Jadi, siswa mandiri untuk menemukan pengetahuan dan guru hanya sebagai fasilitator. Dengan demikian, tentunya bagi para peserta didik harus bisa memiliki kemandirian dalam menemukan pengetahuan. Tetapi pada kenyataannya, beberapa peserta didik kurang memiliki hal itumisalnya seperti berpikir kreatif atau imajinatif. Nah, itulah kelemahan dari teori ini. Maka teori ini, mengalami pergeseran ke teori humanisme.
    Kelima, Teori Humanisme. Teori ini merupakan teori memanusiakan manusia. Pada teori ini peserta didik harus mempunyai kemampuan untuk mengarahkan sendiri perilakunya dalam belajar, apa yang akan dipelajari dan sampai tingkatan mana, kapan, dan bagaimana mereka akan belajar serta dapat memotivasi diri dalam belajar. Kelemahan Teori humanisme itu yaitu pada peserta didik yang belum bisa mempunyai kemampuan untuk mandiri dan motivasi diri.
    Hal itu memperlihat bahwa proses pembelajaran bukan saja hanya satu aspek tapi bagaimana semua aspek yang adalam dalam diri peserta didik menjadi bagian yang tidak kalah penting untuk dimaksimalkan. Pandangan itu sejalan dengan program pendidikan yang diberikan pada peserta didik untuk bisa melakukan segala hal yang menyakut proses belajar. Dengan demikian proses belajar bukan juga hanya di dalam kelas tapi dibeberapa ruang atau dibentuk dalam dua ruang dengan disebut ruang interior mencakup desain ruang pembelajaran disesuaikan kebutuhan belajar dari program sekolah. Begitu juga dengan ruang eksterior mencakup kebutuhan pembelajaran, untuk memberikan bagi peserta didik untuk lebih dapat menemukan kebutuhan belajar yang berkaitan dengan dirinya dalam kehidupannya sehari-hari di masyarakat.
    Partisipasi Masyarakat(Orang Tua Siswa)Dalam pembelajaran
    Jack Mezirow (1997) menggambarkan lingkungan belajar yang transformatif sebagai salah satu di mana mereka yang berpartisipasi memiliki informasi lengkap, bebas dari paksaan, memiliki kesempatan yang sama untuk menganggap berbagai peran, dapat menjadi kritis reflektif asumsi, lebih empatik dan pendengar yang baik, dan bersedia untuk mencari untuk tanah umum atau sintesis dari sudut pandang yang berbeda.
    “Teknologi baru dan jaringan lebih cepat menyediakan sekolah dengan strategi baru untuk berkomunikasi dengan dan melibatkan orang tua,” Jalur Poole Bernie dalam Bab 7 Pendidikan untuk Abad Informasi “Karena hampir setiap orang tua memiliki akses untuk implementasi email telephonevoice. harus tetap menjadi . pilihan untuk komunikasi Namun, telekomunikasi bergerak ke arah yang baru, arah yang banyak orang tua akan menemukan lebih banyak attractiveHere lari-down dari apa yang sekarang mungkin.
    Anne OBrien Wakil direktur dari Aliansi Pertama Belajar, mengatakan bahwa :
    “Ketika sekolah melibatkan orang tua mereka memimpin dengan kelembagaan kepentingan diri mereka dan keinginan – staf sekolah yang memimpin dengan mulut mereka Ketika sekolah terlibat orang tua mereka memimpin dengan orang tua ‘kepentingan diri (keinginan dan mimpi) dalam upaya untuk. mengembangkan kemitraan yang sejati. Dalam hal ini, staf sekolah yang memimpin dengan telinga mereka.
    Ketika kita melibatkan orang tua, orang tua umumnya diarahkan menyelesaikan tugas-tugas yang dipilih oleh staf sekolah – atau orangtua dapat menjadi klien yang menerima jasa dan informasi.
    Ketika kita terlibat orang tua, orangtua dianggap sebagai pemimpin atau pemimpin potensial yang merupakan bagian integral mengidentifikasi visi dan tujuan. Dia / ia mendorong orang lain untuk berkontribusi visi mereka sendiri dengan gambaran besar dan membantu melakukan tugas-tugas yang harus dicapai dalam rangka mencapai tujuan tersebut. ”
    Manfaat untuk sekolah melibatkan orang tua / wali dalam mereka pendidikan anak-anak yang didokumentasikan dengan baik. Mantan Departemen Pendidikan dan Keterampilan (sekarang Departemen Anak, Sekolah dan Keluarga), misalnya, menarik pada bukti penelitian dan data inspeksi (Bastiani, 2003) dan mengidentifikasi sejumlah signifikan dan abadi manfaat:

    • partisipasi orangtua meningkat, dan dukungan untuk, yang
    kehidupan dan pekerjaan sekolah
    • kemauan yang lebih besar bagi orang tua dan sekolah untuk berbagi
    informasi dan mengatasi kesalahpahaman dan masalah
    pada tahap awal
    • meningkatkan tingkat pencapaian – mendorong para parents’active
    pengelolaan dan dukungan untuk menghasilkan pembelajaran anak-anak
    manfaat nyata akademis yang terakhir di seluruh anak
    karir di sekolah
    • sikap murid yang lebih positif dan perilaku.
    Desforges dan Abouchaar (2003), bagaimanapun, menemukan bahwa parent-anak percakapan di rumah lebih berharga, di hal prestasi sekolah anak-anak meningkatkan itu, dari
    orang tua keterlibatan dalam kegiatan sekolah, menunjukkan bahwa sekolah harus mendorong orang tua untuk berbicara dengan anak-anak mereka tentang kegiatan sekolah di rumah.
    Manfaat keterlibatan orang tua
    Untuk anak-anak
    • Anak-anak tampil lebih baik di sekolah ketika orang tua mereka terlibat dalam pendidikan mereka.
    • Anak-anak menetap lebih baik ke dalam program sekolah ketika orang tua mereka yang terlibat.
    • Anak-anak merasa dihargai dan penting ketika orang tua mereka mengambil minat dalam hidup mereka.
    • Anak-anak mengamati dan mempelajari interaksi positif melalui menonton orang lain berinteraksi.
    Untuk staf
    • Staf mengalami tingkat yang lebih tinggi kepuasan kerja di lingkungan yang mendorong mendengarkan, rasa hormat dan penghargaan.
    • Staf tingkat stres berkurang ketika staf dan orang tua bekerja dalam kemitraan.
    • Staf dapat mengembangkan keterampilan sosial yang penting ketika mereka berkomunikasi dengan orang tua.
    Bagi orang tua
    • Keterlibatan orang tua memberikan kesempatan untuk mendiskusikan kepentingan anak mereka dengan staf, dan memiliki beberapa masukan ke dalam program.
    • Orang tua yang akrab dengan sebuah program merasa lebih nyaman tentang meningkatkan kekhawatiran dan solusi negosiasi dengan staf.
    • Kemitraan positif dengan staf dapat meredakan stres orang tua.
    Suatu badan penelitian yang cukup besar alamat program atau reformasi yang stres orangtua keterlibatan sebagai sarana untuk meningkatkan prestasi siswa akademik dan restrukturisasi sekolah umum (lihat, misalnya, Epstein, 1995; Fruchter, Galletta, & White, 1992; Rioux & Berla, 1993; Turnbull & Turnbull, 1990; Departemen Pendidikan AS, 1994). Fruchter, Galletta, dan White (1992) menganalisis 18 program yang baru dikembangkan atau reformasi yang stres keterlibatan orang tua sebagai strategi untuk meningkatkan kinerja akademik mahasiswa, restrukturisasi sekolah, dan pendidikan reformasi publik, terutama di sekolah-sekolah yang melayani siswa berpenghasilan rendah dan kurang beruntung.
    Rioux dan Berla (1993) menyoroti program inovatif keterlibatan orangtua untuk beragam populasi siswa yang terdaftar dalam pra-TK sampai SMA dan menyarankan strategi untuk menciptakan program yang sukses. Dalam Keluarga yang kuat, Sekolah Kuat: Membangun Kemitraan Masyarakat untuk Belajar , Departemen Pendidikan Amerika Serikat (1994) menjelaskan bagaimana sekolah, organisasi berbasis masyarakat, bisnis, negara, dan program-program federal dapat membantu orang tua mengambil peran lebih aktif dalam belajar anak-anak mereka. Bagi keluarga dari anak-anak penyandang cacat, Turnbull dan Turnbull (1990) memberikan tinjauan penelitian dan praktek pada kemitraan antara keluarga dan profesional, termasuk personil sekolah. Relevansi khusus bagi keterlibatan keluarga dalam pendidikan anak-anak mereka adalah diskusi hambatan partisipasi keluarga dalam mengembangkan rencana pendidikan individual (IEP).
    Patricia Clark Brown, menjelaskan bagaiman peranan guru dan orang tua siswa dalam mengembangkan program pendidikan di sekolah, diantaranya:
    Salah satu jenis keterlibatan orang tua berbasis sekolah dan termasuk berpartisipasi dalam pertemuan orangtua-guru dan fungsi, dan menerima dan menanggapi komunikasi tertulis dari guru. Orang tua juga dapat berfungsi sebagai relawan sekolah untuk perpustakaan atau ruang makan, atau sebagai pembantu kelas. Dalam satu survei, hampir semua guru dilaporkan berbicara dengan orangtua anak-anak – baik secara langsung, melalui telepon, atau pada malam sekolah terbuka – dan mengirim pemberitahuan rumah (Becker & Epstein, 1982). Metode ini, bersama dengan permintaan orang tua untuk meninjau dan menandatangani PR, yang paling sering digunakan untuk melibatkan orang tua.
    Orang tua dapat berpartisipasi di sekolah anak-anak mereka dengan bergabung Asosiasi Orang Tua Guru (POMG) atau Organisasi Guru Tua (PTO) dan terlibat dalam pengambilan keputusan tentang layanan pendidikan anak-anak mereka menerima. Hampir semua sekolah memiliki POMG atau PTO, tetapi sering hanya sejumlah kecil orang tua yang aktif dalam kelompok ini.
    Jenis lain keterlibatan adalah rumah berbasis dan berfokus pada kegiatan yang bisa dilakukan orangtua dengan anak-anak mereka di rumah atau di kunjungan guru ke rumah anak. Namun, beberapa guru melibatkan orang tua melalui kegiatan berbasis rumah, sebagian karena jumlah waktu terlibat dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan atau mengunjungi dan sebagian karena kesulitan koordinasi orangtua dan guru jadwal.
    Guru perlu mempertimbangkan gaya hidup keluarga dan latar belakang budaya saat merencanakan kegiatan rumah. Namun, beberapa kegiatan dapat disesuaikan untuk hampir semua situasi rumah. Ini adalah kegiatan yang orang tua atau anak-anak terlibat dalam pada sehari-hari. Guru dapat mendorong orang tua dan anak-anak untuk melakukan kegiatan ini bersama-sama, dan dapat fokus pada peluang bahwa kegiatan menyediakan untuk belajar. Sebagai contoh, meskipun menonton televisi merupakan hobi bagi kebanyakan anak dan orang dewasa, mereka tidak sering menonton acara-acara bersama. Guru dapat menyarankan program yang sesuai dan mengirim pertanyaan rumah bagi keluarga untuk membahas. Diskusi ini dapat terbawa ke dalam kelas.
    Bagi orang tua ternyata tidak terlibat banyak sekolah bukan pengalaman positif dan mereka merasa tidak memadai dalam lingkungan sekolah. Orang tua juga mungkin merasa tidak nyaman jika gaya budaya mereka atau tingkat sosial ekonomi berbeda dari guru (Greenberg, 1989). Beberapa orang tua yang terlibat di sekolah tidak dapat memahami pentingnya keterlibatan orang tua atau mungkin berpikir mereka tidak memiliki keterampilan untuk dapat membantu. Bahkan orang tua yang percaya diri dan bersedia untuk membantu mungkin ragu-ragu untuk terlibat karena takut melampaui batas-batas mereka. Ini adalah tanggung jawab guru dan administrator untuk mendorong orang tua tersebut untuk terlibat.
    Keluarga yang anaknya berprestasi di sekolah menunjukkan karakteristik sebagai berikut:
    1. Buat rutinitas keluarga sehari-hari.
    Contoh: Menyediakan waktu dan tempat yang tenang untuk studi, menugaskan tanggung jawab untuk rumah tangga tugas, bersikap tegas tentang tidur dan memiliki makan malam bersama. Yang terkuat dan paling konsisten prediktor Keterlibatan orang tua di sekolah dan di rumah adalah khusus program sekolah dan praktek guru yang mendorong keterlibatan orang tua di sekolah dan panduan orang tua dalam bagaimana membantu anak-anak mereka di rumah.
    Sekolah dan Kabupaten Kepemimpinan
    Sekolah dimulai kegiatan untuk membantu mengubah orang tua lingkungan rumah dapat memiliki yang kuat pengaruh terhadap kinerja sekolah anak-anak.
    2. Memantau luar kegiatan sekolah.
    Contoh: Setting pada batasan menonton TV, check up terhadap anak-anak ketika orang tua tidak rumah, mengatur kegiatan sesudah sekolah dan diawasi peduli. Orang tuamembutuhkan informasi spesifik tentang bagaimana untuk membantu dan apa yang harus dilakukan.
    3. Model nilai belajar, disiplin diri, dan kerja keras. Contoh: Berkomunikasi melalui pertanyaan dan percakapan, menunjukkan prestasi yang berasal dari bekerja keras.
    Federal dan Negara Persyaratan Parent keterlibatan komponen yang diperlukan dalam Pendidikan Dasar dan Menengah federal yang Undang-Undang (ESEA), dan federal dan negara berbagai program pendidikan termasuk Dini Aktif, Kesiapan Sekolah Michigan Program dan Judul 1.
    4. Ekspres harapan yang tinggi tetapi realistis untuk , Contoh prestasi:. tujuan Setting dan standar yang sesuai untuk anak-anak usia dan kedewasaan, mengenali dan mendorong bakat khusus, menginformasikan teman-teman dan keluarga tentang keberhasilan.

    Hambatan
    Kegiatan sekolah untuk mengembangkan dan memelihara kemitraan dengan keluarga masing-masing menurun dengan tingkat kelas, dan drop secara dramatis di transisi ke nilai tengah.
    5. Mendorong perkembangan anak
    Kemajuan di sekolah Contoh: Mempertahankan rumah yang hangat dan mendukung, menunjukkan minat pada kemajuan anak-anak di sekolah, membantu dengan pekerjaan rumah, membahas nilai dari pendidikan yang baik dan karir yang mungkin pilihan, tetap berhubungan dengan guru dan staf sekolah. Guru sering berpikir bahwa orang tua berpenghasilan rendah dan orang tua tunggal tidak akan atau tidak bisa menghabiskan sebanyak waktu untuk membantu anak-anak mereka di rumah seperti halnya menengah kelas orang tua dengan lebih banyak pendidikan dan rekreasi waktu.

    Kebutuhan Mutu Pendidikan
    Perkembangan sebuah bangsa tidak lepas dari sistem pendidikan yang membawanya pada kemampuan di dalam segala bidang. Hanya saja tinggal tujuan apa yang ingin dicapai dalam sebuah kemajuan dari bangsa. Karena bangsa Eropa dengan kemajuan dan ilmu pengetahuan dan teknologinya, yang kemudian diikuti oleh Amerika, Jepang dan bangsa Asia. Namun arah kemajuan itu mengalami kebuntuan dalam melihat hakekat kehidupan yang sebenarnya. Dimana masyarakat di dunia maju nilai kehidupan hanya diukur dengan materi. Membuat dirinya kehilangan orientasi kehidupannya, karena apa yang dilakukan semua sudah selesai, tapi ada saja ketidak puasan dan tidak kebahagian itu muncul dengan begitu. Karena ada hal yang tertinggal di dalam kehidupan modern, masalah jiwa yang memerlukan sebuah siraman rohani agar tumbuh kebahagian paripurna. Hal itu didapat melalui agama, namun agama di dalam dunia modern tidak menjadi penting bagi kehidupan masyarakatnya. Karena sudah tidak ada kepercayaan pada lembaga keagamaannya yang dianggap melaku kesewenang-wenangan, seperti dalam sejarah peradaban pada masa abad kegelapan. Dimana sektor pendidikan tidak ada kemajuan yang berarti karena ilmu pengetahuan dibawah kekuasaan lembaga agama.
    Untuk itulah pendidikan menjadi penting dalam menentukan arah kehidupan sebuah bangsa dan Negara ini. Karena dengan kemajuan dan kesadaran masyarakat tentang pendidikan memungkinkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik. Karena system dan mekanisme kerja di dalam perintahan dan masyarakat dengan sendirinya akan memberikan arti tersendiri. Dengan memberikan kemungkinan untuk berkembangan dengan baik.
    Karena dengan pendidikan yang baik akan memberikan arah yang baik bagi rakyat dan bangsa untuk bisa memahami kehidupan dengan baik. Karena pendidikan mampu memberikan pemahaman dan penyadaran pada masyarakat mengenai penting dan perlu pendidikan menjadi sesuatu yang berarti dengan apa yang menjadi sebuah cita-cita dan gagasan. Untuk selalu bisa memberikan terbaik pada masyarakat dan bangsa ini.

    Kualitas Sumber Daya Manusia Kabupaten Tangerang
    Kualitas sumber daya manusia sangatlah bergantung dari pembangunan di bidang pendidikan. Indikator atau ukuran yang bisa digunakan untuk melihat tingkat kemajuan pendidikan disuatu daerah antara lain adalah dengan melihat prosentase melek huruf, rata-rata lama sekolah clan pendidikan tertinggi yang ditamatkan.
    Pembangunan pendidikan, terutama upaya untuk meningkatkan angka partisipasi dan kelulusan pendidikan di Kabupaten Tangerang sempat diramalkan akan mengalami hambatan yang cukup berarti. Hal ini mengingat terjadinya penurunan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga BBM dan kenaikan inflasi, baik secara nasional maupun regional, serta meningkatnya angka pengangguran akibat tutup atau tidak berproduksinya beberapa pabrik industri — yang hingga awal Agustus 2007 mencapai 74 pabrik.
    Namun ternyata, kecemasan itu tidak terjadi. Bila komposisi penduduk menurut pendidikan yang tertinggi yang ditamatkan pada tahun 2003 tamatan SD sebesar 27,81% dan disusul tamat SLTP sebesar 17,8% dan SLTA sebesar 16,29%, maka meskipun tidak terlalu signifikan, pada tahun 2006 , komposisi ini berubah secara positif, yakni tamatan SD menjadi 26,35%; tamatan SLTP menjadi 19,929%; dan SLTA sebesar 17,42%.
    Prosentase Penduduk Umur 10 Tahun Ke Atas Menurut
    Ijazah Tertinggi Yang Dimiliki Tahun 2003-2006
    Pendidikan 2003 2004 2005 2006
    Tidak Memiliki Ijasah 26,30 26,58 20,83 23,72
    SD 27,81 26,94 27,42 26,35
    SLTP 17,80 17,70 19.91 19,92
    SLTA 21,17 23,68 23,04 23,22
    DI / DII 1,00 0,89 0,71 1,18
    Akademi / DIII 2,28 1,75 2,62 1,15
    S1, S2 dan S3 3,62 2,47 5,47 4,47
    Sumber: BPS Kabupaten Tangerang, (Susenas 2003-2006)
    Berdasarkan tabel di atas, secara umum hal yang masih perlu mendapatkan perhatian khusus adalah peningkatan prosentase penduduk untuk memiliki ijazah pada jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Hal ini dapat juga mengindikasikan bahwa kebutuhan akan pendidikan sampai janjang perguruan tinggi masih perlu memperoleh perhatian besar. Indikator lain yang bisa kita lihat untuk mengukur pendidikan adalah dengan melihat angka partisipasi murni sekolah.
    Dengan keadaan tersebut, walaupun tamatan jenjang pendidikan lebih tinggi dari pada SD mengalami peningkatan, namun bila melihat kepentingan masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi persaingan (antar daerah dan global), maka pemerintah daerah masih harus bekerja keras untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat. Upaya itu, tidak hanya memperbesar kesempatan masyarakat (khususnya dari masyarakat miskin) dapat memperoleh pendidikan ke jenjang lebih tinggi, tapi juga dapat meningkatkan akses masyarakat untuk bisa menamatkan pendidikan di perguruan tinggi.
    Selain sumber daya manusianya, hal yang perlu mendapat perhatian dalam bidang pendidikan adalah menyangkut ketersediaan sarana dan prasaran pendidikannya. Jumlah sekolah di Kabupaten Tangerang selama tahun 2003-2006 tampak dalam tabel berikut:
    Jumlah Sekolah Tahun 2003-2006
    No. Sekolah 2003 2004 2005 2006
    Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta
    1. SD 963 114 963 128 958 175 962 185
    2. SLTP 44 151 44 168 58 196 63 216
    3. SMU 14 70 19 75 26 77 34 77
    4. SMK 2 61 5 62 5 64 5 64
    Jumlah 1024 396 1031 433 1047 512 1064 542
    Sumber: BPS Kabupaten Tangerang, (Susenas 2003-2006)
    Hal bisa kita dalam sebuah penelitian tentang perkembangan ketenaga kerja dalam yang berkaitan dengan industri manufaktur merupakan industri yang menempati posisi penting di Indonesia dan diarahkan untuk berorientasi pada ekspor. Pada industri manufaktur tekstil, sandang, dan kulit, industri sepatu merupakan salah satu andalan pemerintah untuk melakukan ekspor terutama setelah adanya relokasi industri sepatu dari perusahaan transnasional ke Indonesia. Salah satu perusahaan sepatu transnasional yang beroperasi di Indonesia adalah Nike Inc. yang melalui perusahaan lokal yang menjadi mitranya membayar upah buruh murah untuk menekan biaya produksi. Dengan upah yang murah, buruh akan terus mengalami kemiskinan. Sebagai konflik yang bersifat laten (laten conflict) persoalan kemiskinan buruh dapat menjadi terangkat ke permukaan.
    Di sisi lain tuntutan buruh untuk memperbaiki kesejahteraannya seringkali dipandang sebagai salah satu faktor yang mengurangi daya saing investasi di Indonesia, sehingga bisa menjadi pernicu perusahaan manufaktur transnasional merelokasikan produksi ke tempat lain. Penelitian ini mengambil kasus operasionalisasi industri manufaktur transnasional Nike Inc di PT Doson Indonesia dan PT Pratama Abadi Industri yang berlokasi di Kabupaten Tangerang. PT Doson Indonesia adalah perusahaan yang sudah dihentikan ordemya oleh Nike Inc. Sebagai pembanding dilakukan penelitian terhadap buruh pabrilc PT Pratama Abadi Industri (PAD yang masih menerima order dari Nike Inc.
    Tujuan penelitian ini adalah: mendeskripsikan pola kebijakan pemerintah dalam bidang industrialisasi dan ketenagakerjaan di Indonesia dan Kabupateri. Tangerang, mendeskripsikan dan menguji hubungan antara tingkat kemiskinan buruh, persyaratan-persyaratan kondisional yang memungkinkan konflik antara buruh dan pihak perusahaan, dan tingkat konflik yang terjadi antara buruh dengan pihak perusahaan dalam operasionalisasi perusahaan transnasional melalui perusahaan lokalnya, serta menganalisis perbedaan pola hubungannya di kedua perusahaan tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan eksplanasi hubungan antar variabel dengan menggunakan metode korelasional. Untuk mengetahui perbedaan antara buruh di kedua perusahaan digunakan studi komparatif dengan menganalisis perbedaan kemiskinan buruh, persyaratan-persyaratan kondisional, dan tingkat konflik di PT Doson Indonesia dan di PT Pratama Abadi industri. Dari penelitian ini disimpulkan sebagai berikut: a) Industrialisasi yang mengejar pertumbuhan ekonomi dengan berorientasi pada ekspor dapat menyebabkan arus perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri dan jika tidak diimbangi pembangunan sosial memadai akan membuat limpahan tenaga kerja di sektor industri tidak diikuti oleh kemampuan tenaga kerja yang tinggi; b) Kondisi angkatad kerja yang ditandai dengan rendahnya Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan terdapat ketimpangan Gender-related Development Index (GDI) merupakan cerminan rendahnya kemampuan dan kesejahteraan penduduknya dan terjadi ketimpangan gender. Kondisi ini dimanfaatkan oleh industri manufaktur yang lebih banyak mempekerjakan tenaga kerja perempuan untuk mendapatkan buruh yang dapat dibayar lebih murah; c) Perusahaan industri manufaktur transnasional beroperasi di suatu negara melalui perusahaan subkontraktor lokalnya lebih mempertimbangkan biaya produksi murah dan lokasi pabriknya mudah dipindah ke negara lain . tanpa menanggung kerugian berarti atas investasi yang sudah ditandai, sehingga berusaha menekan seminimal mungkin upah buruh; d) Pola hubungan kemiskinan, persyaratan kondisional, dan tingkat konflik perusahaan industri manufaktur transnasional berbeda-beda. Perbedaan pola ini terjadi karena faktor pemicu (trigger) yang dimiliki suatu perusahaan menyebabkan adanya hubungan yang signifikan antara kemiskinan dengan persyaratan kondisional, serta antara persyaratan kondisional dengan tingkat konflik; e) Menurut teori Ralf Dahrendorf bahwa kepentingan yang bersifat laten (laten interest) berubah menjadi manifest interest karena berkorelasi dengan persyaratan kondisional (teknis, politis, dan sosial) dan persyaratan kondisi tersebut juga memiliki korelasi dengan tingkat konflik. Tapi dalam penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa teori Ralf Dahrendorf berlaku jika ada faktor pemicu (trigger), yakni diputuskrnnya secara sepihak hubungan pihak non otoritas dan pihak otoritas.
    Perlunya Mutu Pendidikan Di Kabupaten Tangerang
    Untuk itu perlu ada pemahaman yang mendalam dalam mekanisme pendidikan masyarakat. Dengan memberikan kesempatan untuk mengembangkan pendidikan. Hal itu yang dilakukan dalam pemerintah daerah mengarahkan pemahaman tentng apa yang menjadi masalah. Hal itu yang dilakukan dalam pendidikan madrasah ibtidaiyah Merdeka Sekolah yang diinisif oleh masyarakat dengan membentuk yayasan sebagai bangun dalam pendidikan.
    Dengan pendidikan berdiri masyarakat lain terlibat dengan memberikan peranan pada orang tua siswa untuk menyekolahkan pada anak-anak, begitu juga dengan guru dari masyarakat. Dengan begitu pendidikan itu lahir dari sebuah kebutuhan masyarakat dalam mengembangkan hal ini sejalan dengan pemahaman dari otonomi pemerintah. Yaitu Undang-undang no 22 Tahun 1999 menuntut adanya perubahan manajemen kependidikan yang dahulu terpusat sekarang bergeser ke unit-unit kelembagaan pendidikan yang makin kecil di tingkat pemerintah daerah sampai di tingkat komunitas sekolah. Hal ini membawa implikasi bahwa peran serta orang tua, peserta didik, masyarakat, dan guru menjadi sangat penting dalam pengambilan keputusan. Pelaksanaan otonomi pendidikan juga menuntut perubahan dalam meknisme pengawasan terhadap penyelenggara pendidikan (Basuki Wibawa 2005:18).
    Hal ini memperlihatkan bahwa kesadaran masyarakat dalam kebutuhan pendidikan tidak hanya mengadalkan penyelenggaran pendidikan melalui pemerintah. Begitu juga dengan lembaga penyelenggara pendidikan yang tidak berkait dengan pendidikan atau organisasi kemasyarakat. Karena pendidikan memang berangkat dari kemau dan kebutuhan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.
    Bahwa kebutuhan itu menjadi sebuah proses pembelajaran bagi semua orang, mulai dari orang perorangan, lembaga yayasan, pendidikan dalam hal ini sekolah, orang tua dan masyarakat. Di mana masing-masing mempunyai tugas sesuai dengan kemampuannya, yayasan mempunyai tugas untuk mengelolah pendidikan yang berkaitan dengan pihak pemerintah dan menyusun komposisi sehingga terbentuk mekanisme sekolah di dalam menjalankan proses pembelajaran. Yayasan juga menjadi sebagai sebuah legalitas pendidikan dan pembangunan infrastuktur dengan mendanai melalui pencarin dana yang dilakukan.
    Menumbuhkan Pendidikan Bersama
    Sebuah pemahaman tentang pendidikan masih saja pada unsur pemerintah, pengusaha, penguasa, atas nama yayasan dan pribadi. Semua itu mem punyai pemahaman yang bias dalam pendidikan. Karena pemerintah hanya membuat rakyat menjadi lemah dan mengalami ketergantungan, begitu juga pengusaha pendidikan hanya sebagai tambang uang saja, sedangkan penguasah ingin menguasahi orang lain untuk kepentingan tertentu, sedangkan yayasan yang mulanya sebagai bagian dari kepedulian dari pendidikan berangsur-angsur hanya untuk kepentingan kelompok saja, untuk pribadi setali dua uang hanya untuk usaha atau menampung dana yang tidak jelas. Setidaknya ini yang sangat kentara dalam realitas pendidikan walaupun masih ada melihat pendidikan sebagai bagian dari kepedulian pemerintah dan semua orang.
    Untuk itulah Merdeka Sekolah menjadi sebuah lembaga pendidikan yang mengakomodir sebuah orang untuk mengelolah pendidikan secara lebih baik dan tepat pada kebutuhan semua orang. Artinya Merdeka Sekolah dibangun dalam paradigma pendidikan yang luas. Di mana partisipasi masyarakat, orang tua, pengusaha, tokoh masyarakat, pemerintah dan kelompok lainnnya untuk bisa bekerjasama dalam pendidikan yang tidak terikat pada normativ yang hanya melihat pendidikan yang ada disekolah. Karena buat Merdeka Sekolah pendidikan bukan untuk siswa saja dalam pembelajaran, tapi juga kepala sekolah, guru, orang tua siswa, masyarakat sekitar sekolah, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah dan kelompok masyarakat menjadi bagian pendidikan.
    Kepala sekolah dengan kemampuan dalam mengelolah sekolah secara baik dan tepat guna dalam menepatkan diri sebagai orang yang diamanati oleh semua orang. Guru sebagai fasilitator yang selalu memberikan pendampingan pada siswa untuk bisa mengembangkan diri secara baik dan tepat sasaran. Orang tua yang selalu peduli dalam program pendidikan memberikan kemungkinan untuk bisa mengakselerasi sekolah menjadi sekolah yang lebih familiar, sekolah menjadi rumah kedua bagi setiap orang tua.
    Begitu juga masyarakat sekitarnya mendapatkan anggota keluarga baru dari anak-anak dan lembaga pendidikan di mana aspek pendidikan itu berinterasi dengan masyarakat sekitarnya. Dengan dibangun dialogis dalam proses pendidikan sekolah dan masyarakat. Begitu juga dengan pemerintah atau mengusaha dengan memberikan program yang berkaitan dengan kepedulian sekolah terhadap perusaha yang ada sekitarnya sebagai bagian pemahaman antara satu dengan yang lain, sebagai sebuah proses pembelajaran. Pemerintah dengan sendirinya mendorong pendidikan yang dikembangkan masyarakat menjadi pendidikan yang sejalan dengan pemerintah.

    Daftar Pustaka

    1. Andeson, Dkk, 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing, A Revison of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. US.
    2. Baker, Robert L & Richard R Schutz, 1971,”Instructional Product Development”, New York : Van Nostrand Reinhold Company.
    3. Dick, Walter & Carey, Lou. 1937,”The Systematic design of Intrustion”, Boston : Library of Congress Cataloging-in-Publication Data
    4. Ely, Donal P. 1978,,”Instruksional Design & Development”, New York : Syracuse University Publ.
    5. Muhaimin, Suttah, Sugeng listyo Prabowo. 2010, Manajemen Pendidikan Aplikasinya Dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah
    6. Suparman, Atwi. 2004. Desain Instruksional. Jakarta: Universitas Terbuka.
    7. Wibawa Basuki, 2005, Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan, Manajemen dan Implekasinya di Era Otonomi, Kertajaya Duta Media
    8. Wiratno Tri Aru, 2007, Sekolahku Rumahku, Kepustakaan Budaya Rakyat

    Sumber Dari Internet :
    http://www.nfer.ac.uk/nfer/publications/ASO01/ASO01part9.pdf
    http://raisingchildren.net.au/articles/involving_parents_in_school_and_childcare.html
    http://www2.ed.gov/pubs/FamInvolve/resources.html
    http://www.kidsource.com/kidsource/content2/Involving_parents.htmlData BPS Kabupaten Tangerang anak usia sekolah http://www.tangerangkab.go.idBlog Merdeka Sekolah, https://mimadrasahmerdeka.wordpress.com
    Thesis (UNSPECIFIED), http://eprints.lib.ui.ac.id/8374/

    • LANGKAH YANG MENYELIMUTI HATI

      Ketika langkah itu ada diantara mereka makin membuka harapan semua orang yang merasakan apa yang dirasakan dipikirkan dan dialami seolah terpenuhi. Pada hal mereka itu belum merasakan sebuah perjalan yang tidak selurus dan sedekat pandangan mata. Itu merupakan harapakan yang ditempuh dengan segala upaya dan jerih payang dengan pengorban jiwa dan raga.Tapi itulah kalau layar sudah terbentang pantang kembali sebelum menuai hasil, meski dengan sedih, duka lara menyelimuti senyum dan air mata harapan untuk selalu bisa melangkah,walaupun langkah itu berat dengan terjal dan nyaris tergelincir. Tapi harapan juga lah yang membuat langkah itu selalu berjalan dengan do’a dan senandung rinduku pada Allah yang selalu menyelimuti jiwa dan perasaanku yang kadang tak tahu harus bagaimana diungkapkan dalam sebuah kata atau kalimat yang tak berawal dan tak berakhir.
      Biarlah langkah itu mengikuti irama kehidupan dalam amanh yang telah diberikan sebagai wujud dari kasih sayang dan kedekatanku pada Mu, ya Allah. Tak ada lagi tangis dan kepedihakan semua telah menjelma menjadi takdir dalam langkah,langkah berikutnya. Meskipun tidak semua orang tahu apa langkah itu sampai dalam tujuan, karena langkah itu bukan pada tujuan semua orang yang merindukan bentuk dan kenikmatan dan kepuasan sesaat. Tapi langkah abadi dan ketidak abadian hidup ini.Biarlah belajar dalam pembelajaran yang tidak belajar menurut kebanyak orang tapi tujuan dan makna pembelajaran sudah diartikulasikan dalam ritme dan kerinduah pada alam dan kehidupan, karena Allah ada disana. Untuk selalu menyapa ketika aku bersama dengan anak yang katanya muridku, tapi sebenarnya dia adalah teman belajarku. Karena posisi saja aku dianggap guru, tapi realitas makna kehidupan ada adalah anak yang seperti anak muridku belajar dengan memeluk alam dan kehidupan sebagai rindu dan kegembiraan.
      Tangisku tapi anak kebanyak sebagai ungkap ketidak perdayaan terhadap hidup untuk bisa menerobos realitas kehidupan orang gede. Aneh, memang langkah hidup selalu mengantarkan pada langkah depan, meski aku menangis terseduh-seduh. Peluh resah dan tak berdaya dalam senyum dan kegembiraanku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s