LANGKAH YANG MENYELIMUTI HATI

Ketika langkah itu ada diantara mereka makin membuka harapan semua orang yang merasakan apa yang dirasakan dipikirkan dan dialami seolah terpenuhi. Pada hal mereka itu belum merasakan sebuah perjalan yang tidak selurus dan sedekat pandangan mata. Itu merupakan harapakan yang ditempuh dengan segala upaya dan jerih payang dengan pengorban jiwa dan raga.Tapi itulah kalau layar sudah terbentang pantang kembali sebelum menuai hasil, meski dengan sedih, duka lara menyelimuti senyum dan air mata harapan untuk selalu bisa melangkah,walaupun langkah itu berat dengan terjal dan nyaris tergelincir. Tapi harapan juga lah yang membuat langkah itu selalu berjalan dengan do’a dan senandung rinduku pada Allah yang selalu menyelimuti jiwa dan perasaanku yang kadang tak tahu harus bagaimana diungkapkan dalam sebuah kata atau kalimat yang tak berawal dan tak berakhir.

Biarlah langkah itu mengikuti irama kehidupan dalam amanh yang telah diberikan sebagai wujud dari kasih sayang dan kedekatanku pada Mu, ya Allah. Tak ada lagi tangis dan kepedihakan semua telah menjelma menjadi takdir dalam langkah,langkah berikutnya. Meskipun tidak semua orang tahu apa langkah itu sampai dalam tujuan, karena langkah itu bukan pada tujuan semua orang yang merindukan bentuk dan kenikmatan dan kepuasan sesaat. Tapi langkah abadi dan ketidak abadian hidup ini.Biarlah belajar dalam pembelajaran yang tidak belajar menurut kebanyak orang tapi tujuan dan makna pembelajaran sudah diartikulasikan dalam ritme dan kerinduah pada alam dan kehidupan, karena Allah ada disana. Untuk selalu menyapa ketika aku bersama dengan anak yang katanya muridku, tapi sebenarnya dia adalah teman belajarku. Karena posisi saja aku dianggap guru, tapi realitas makna kehidupan ada adalah anak yang seperti anak muridku belajar dengan memeluk alam dan kehidupan sebagai rindu dan kegembiraan.

Tangisku tapi anak kebanyak sebagai ungkap ketidak perdayaan terhadap hidup untuk bisa menerobos realitas kehidupan orang gede. Aneh, memang langkah hidup selalu mengantarkan pada langkah depan, meski aku menangis terseduh-seduh. Peluh resah dan tak berdaya dalam senyum dan kegembiraanku.

(Tri Aru/ Maret 2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s