Dunia Pengajaran

32

Hormati Anak Kita

Assalamu’alaikum Wr.Wbr.

Dunia pengajaran merupakan dunia yang menyenangkan. Sungguh betapa bahagianya dapat memberikan pelajaran kepada yang membutuhkan. Inilah amal yang tak kan pernah terhapus rewardnya walau jiwa dan raga telah sirna. Dunia Pengajaran tidak pernah berhenti tak kala kehidupan pengajaran masih terus berlangsung. Untuk itu frame ini disediakan untuk aktualisasi diri dalam membeberkan ide, faham, pengalaman dan informasi tentang dunia pengajaran yang beraneka. Marilah kita jadikan kanvas elektric ini sebagai media sumbang sih dalam dunia pengajaran yang lebih beradab.

Wassalamu’alaikum Wr.Wbr.

DIMANA RAPOT TUFA

Tufa

Anak Pendiam yang tak Pernah Diam

Sekolah adalah pendidikan formal di mana kegiatan belajar mengajar itu ada tolak ukurnya. Meskpun tolak ukur itu tidak selalu mencerminkan apa yang dicapai oleh anak. Karena banyak hal yang masih luput dari nilai yaitu masalah kepribadian seorang anak. Hal ini hanya bisa dirasakan dialami secara personal dan tidak bisa dijelaskan dalam bentuk diskripsi dan ukuran keberhasilan. Karena memang susah untuk diukur, tapi hanya berdasarkan kepercaayan yang jauh dari obyektifitas di dalam cara pandang sekolah, di dalam melihat perkembangan adalah dalam belajar.

Hal ini yang dirasakan oleh guru ketika ingin membuat hasil evaluasi belajar selama ini. Karena seorang siswi bernama Tuffa ini selama lima bulan berada di sekolah tidak pernah berbicara, meskipun dia bisa berbicara. Dia hanya diam dan diam. Meskipun diamnya itu bukan diam, tapi diamnya itu berbicara dan banyak bicara, hanya saja gurunya tidak bisa mengerti apa yang dibicarakan.

Meskipun dalam proses pembelajaran dia mengikuti seperti layaknya anak-anak yang lain. Dia mengenal huruf dan sedikit bisa mengerangkai huruf, begitu juga dia bisa mengerti apa yang dikatakan oleh guru dan bisa bermain seperti biasa dengan teman lainnya. Dia bisa mengerti apa yang diinstruksikan gurunya. Dia juga bisa membantu gurunya untuk diminta tolong mengambil sesuatu atau memberikan sesuatu pada guru lainnya.

Namun yang sekolah memerlukan sesuatu yang harus bisa dijelaskan dalam evaluasi belajar. Untuk itu yang diperlukan adalah kerjasama sekolah dengan orang tua muridnya. Yaitu dengan memberikan informasi sebanyak mungkin tentang Tuffa selama di rumah. Dengan begitu bisa diberikan nilai dalam bentuk konfersi nilai dari orang tua ke gurunya. Dengan cara orang tuanya Tuffa memberikan evaluasi layaknya seperti guru untuk dalam bentuk disktripsi dan skor kalau memang perlu. Kemudian diberikan guru dan guru akan menganalisa untuk di cek dan ricek untuk bisa dapat gambaran evaluasi untuk rapot.

Hal ini perna terjadi pada seorang mahasiswa yang bercerita pada masa kecilnya. Dia tidak mau berbicara pada orang lain. Selama hampir enam tahun, dia selalu diam menghadapi orang lain. Dan ketika dia mulai bicara dengan orang lain bermula dari kepercayaan dia pada seorang guru yang memberikan rasa aman dan selalu mensportnya untuk sesuatu yang selama ini tidak pernah dia dapatkan. Dan dia mulai bicara ketika dia diajarkan bernyanyi oleh gurunya. Dan semenjak itu anak itu mau bicara dengan orang lain selain gurunya.

Sekarang anak itu sudah mahasiswa dan sekarang menyelesaikan Sarjananya dengan membuat karya seni grafis tentang kehidupannya di masa kecil. (Tri Aru)

12 thoughts on “Dunia Pengajaran

  1. DAUN SEKOLAHKU

    Sistem pendidikan yang diajarkan sekolah merdeka memberikan keleluasaan pada anak-anak untuk mengekspresikan diri dan bereksplorasi. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendampingi anak sejauh anak itu tidak bergeser pada sesuatu yang dapat merugikan anak.
    Karena pendidikan memang bukan sekolah yang memaksakan anak untuk belajar sesuai dengan keinginan guru atau orang tuanya tanpa memahami dunia anak. Untuk itu pendidikan sekolah Merdeka Sekolah ini menumbuhkan kesadaran untuk belajar pada anak, agar anak menjadi lebih senang dalam mengikuiti pendidikan yang membawa dirinya pada dunia yang lebih luas dan bermakna dalam kehidupannya nanti. Karena dengan pendidikan seperti itu diharapkan akan memberikan nilai yang sangat kuat bagi perkembangan kepribadian anak yang lebih baik.
    Karena pendidikan bukan saja mengajarkan anak menjadi pintar dan cerdas. Tapi bagaimana anak itu bisa pintar dan cerdas karena lahir dari dirinya sendiri sebagai sebuah ungkapkan dirinya terhadap lingkungan sosial, masyarakatnya dan Tuhannya sebagai pencipta alam semesta ini, sehingga anak itu berada di dunia ini.
    Dengan begitu pendidikan sebenarnya bukan menjadi anak yang pintar dan cerdas. Tapi mampu melahirkan anak yang pintar dan cerdas karena lingkungan yang dibangun mendukung anak itu menjadi pintar dan cerdas secara alamiah. Bukan dipaksakan dengn berbagai macam cara, mulai dari lks, bimbel, kursus dan cara-cara lain yang bertentangan dengan dunia pendidikan anak.
    Dengan lingkungan yang baik secara psikologi, bukan secara fasilitas yang lengkap, walaupun itu menjadi salah satu aspek dari lahirnya anak yang cerdas. Tapi bukan menjadi segala-galanya anak itu menjadi lebih cerdas. Karena hubungan anak dan guru, pihak sekolah baik pengawainya, orang tua dan guru, masyarakat pada umumnya yang saling bekerjasama dan untuk saling berbagi antara satu sama lain membuat anak menjadi inspirasikan menjadi anak yang berani untuk melakukan sesuai dengan apa yang menjadi pemikirannya.

  2. Inspirasi Nabi Ibrahim

    Pendidikan bukan saja sebagai lembaga pendidikan sekolah. Tapi juga sebagai lembaga pendidikan pemberdayaan manusia. Dan Lembaga pendidikan karaktera manusia yang baik dan kuat. Untuk itu sistem pendidikan selalu mengacu pada nilai agama sebagai sebuah keyakinan kita Pada Allah. Karena dengan agama kita bisa tahu sejauh mana pendidikan itu menjadi lebih baik dan berguna bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat.

    Bahwa sistem yang dikembangkan di dalam dunia pendidikan pada saat ini. Di dunia berkembang adalah sistem pendidikan yang hanya mengarah pada kompetensi dasar mencari makan, yaitu dengan bekerja. Membuat pendidikan itu menjadi tidak bermutu dan membangun karakter manusia budak yang menjadi bagian dari sistem produksi dari sebuah mesin. Pada hal jaman sekarang manusia kalah hebatnya dengan mesin. Pendidikan bukan menjadi diri manusia sebagai manusia yang mulia seperti apa yang digambarkan dalam Al Quran sebagai khalifah di muka bumi. Tapi sebagai manusia yang dibendakan, karena manusia didik untuk menghasilkan nilai dan manusia dilihat dari nilai dan menusia diharga dari selembar ijasah. Dan manusia yang dihewanan, karena hanya diprogram untuk mencari makan. Ini yang sekarang dikembangkan dalam sistem pendidikan yang berbagai macam cara untuk diseminarkan dan workshop sebagai sistem pendidikan yang unggul.

    Pada hal sejarah Nabi Ibrahmi bagaimana mendidik anaknya Ismail bukan bagaimana mencari makan dan minum. Tapi Nabi Ibrahmi mengajarkan pada istri dan anaknya bagaimana mengenal Allah yang memberikan makan dan minum. Karena kalau soal makan dan minum itu merupakan naluri mahluk yang Allah ciptakan untuk bisa makan tanpa harus belajar dan mempunyai pendidikan yang baik. Karena fitra manusia kalau lapar yang makan. Tapi karena kita didik oleh sistem pendidikan yang katanya jauh lebih maju hanya mengajarkan kita bukan sekedar makan nasi, roti, tapi juga makan batu, minyak, hutan, tanah dan makan manusia dengan manusia.

    Inilah sistem pendidikan yang sedang menjadi trend dari pendidikan sekarang. Pada hal namanya sistem pendidikan bukan berbicara masalah pintar, cerdas, rangkin, juara kelas, sekolah favorit. Tapi sistem pendidikan adalah berbicara masalah pengetahuan dan keimanan yang membawa manusia pada kesadaran hidup ini bukan hanya makan dan makan. Tapi bagaimana dengan kecerdasan setiap orang membuat hidup ini menjadi lebih baik dan indah. Seperti apa yang banyak dijelaskan di dalam Al Quran bahwa Allah menciptakan manusia itu lebih baik dari semua mahluknya, termasuk malaikat.

    Sistem pendidikan bukan bicara masalah materi tapi bagaiman mana sistem pendidkan dengan pendekataan budaya membuat Islam menjadi kehidupan manusia secara khafa. Karena pendidikan bukan saja masalah pengetahuan tapi pendidikan adalah masalah keyakinan dan keimanan manusia pada Allah yang menciptakan alam semesta.

    Kita juga ingat bagaimana Nabi Musa belajar dengan Nabi Kaidir dengan berbagai kenyataan yang ditunjukan sebagai simulasi memberikan banyak hikmah. Mulai dari diam untuk tidak komentar sebagai komitmennya, ternyata tidak bisa begitu saja bisa berjalan sebagaimana perjanjiannya. Karena seseorang yang belajar itu harus mempunyai etikanya yaitu diantaranya rendah hati, sabar dan istiqoma. Dan ini yang tidak pernah diajarkan di dalam pendidikan. Karena sistem pengajaran yang di ajarkan di sekolah adalah bagai mana murid bisa mengisi jawaban dengan benar. Bagaimana mengerjakan sesuatu itu dengan baik dan benar. Tapi tidak pernah belajar sebuah kebaikan dan kebenaran itu menjadi cara pandangnya di dalam belajar. Sehingga menjadinyak anak didik sebagai orang yang berpengetahuan dengan akhalak yang baik. Dengan begitu pengetahuannya bukan untuk mencari makan. Tapi untuk mengembangkan kesadaran hidup manusia di dunia ini menjadi lebih paham dan mengerti bahwa hidup itu memang sebuah jejang yang harus dilalui sebagai mana manusia diciptakan Allah melalu sebuah proses mulai dari akad nikah yang baik, bertemua sel telur dan sperma yang kemudian dari jutaan sperma itu hanya satu yang bisa membuahkan telur. Artinya kita menjadi manusia pilihan. Kemudian terbentuknya gumpalan dari hingga terwujuda sebagai manusia hal itu yang dijelaskan dalam Al Quran.

  3. Inspirasi Nabi Ibrahim

    Pendidikan bukan saja sebagai lembaga pendidikan sekolah. Tapi juga sebagai lembaga pendidikan pemberdayaan manusia. Dan Lembaga pendidikan karaktera manusia yang baik dan kuat. Untuk itu sistem pendidikan selalu mengacu pada nilai agama sebagai sebuah keyakinan kita Pada Allah. Karena dengan agama kita bisa tahu sejauh mana pendidikan itu menjadi lebih baik dan berguna bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat.

    Bahwa sistem yang dikembangkan di dalam dunia pendidikan pada saat ini, berorientasi pada materi dan pramagtisme kehidupan. Seperti pendidikan multi intelgensia yang ditawarkan Horward dari University Harvard. Sehingga sampai sampai pendidikan berbasis kompetensi seperi yang terjadi di dunia berkembang adalah sistem pendidikan yang hanya mengarah pada kompetensi dasar mencari makan, yaitu dengan bekerja. Membuat pendidikan itu menjadi tidak bermutu dan membangun karakter manusia budak yang menjadi bagian dari sistem produksi dari sebuah mesin. Pada hal jaman sekarang manusia kalah hebatnya dengan mesin. Pendidikan bukan menjadi diri manusia sebagai manusia yang mulia seperti apa yang digambarkan dalam Al Quran sebagai khalifah di muka bumi. Tapi sebagai manusia yang dibendakan, karena manusia didik untuk menghasilkan nilai dan manusia dilihat dari nilai dan menusia dihargai dari selembar ijasah. Dan manusia yang dihewankan, karena hanya diprogram untuk mencari makan. Ini yang sekarang dikembangkan dalam sistem pendidikan yang berbagai macam cara untuk diseminarkan dan workshop sebagai sistem pendidikan yang unggul.

    Pada hal sejarah Nabi Ibrahmi, bagaimana mendidik anaknya Ismail bukan bagaimana mencari makan dan minum. Tapi Nabi Ibrahmi mengajarkan pada istri dan anaknya bagaimana mengenal Allah yang memberikan makan dan minum. Karena kalau soal makan dan minum itu merupakan naluri mahluk yang Allah ciptakan untuk bisa makan tanpa harus belajar dan mempunyai pendidikan yang baik. Karena fitrah manusia kalau lapar yang makan. Tapi karena kita didik oleh sistem pendidikan yang katanya jauh lebih maju hanya mengajarkan kita bukan sekedar makan nasi, roti, tapi juga makan batu, minyak, hutan, tanah dan makan manusia dengan manusia.

    Inilah sistem pendidikan yang sedang menjadi trend dari pendidikan sekarang. Pada hal namanya sistem pendidikan bukan berbicara masalah pintar, cerdas, rangkin, juara kelas, sekolah favorit. Tapi sistem pendidikan adalah berbicara masalah pengetahuan dan keimanan yang membawa manusia pada kesadaran hidup ini bukan hanya makan dan makan. Tapi bagaimana dengan kecerdasan setiap orang membuat hidup ini menjadi lebih baik dan indah. Seperti apa yang banyak dijelaskan di dalam Al Quran bahwa Allah menciptakan manusia itu lebih baik dari semua mahluknya, termasuk malaikat.

    Sistem pendidikan bukan bicara masalah materi tapi bagaiman mana sistem pendidkan dengan pendekataan budaya membuat Islam menjadi kehidupan manusia secara khafa. Karena pendidikan bukan saja masalah pengetahuan tapi pendidikan adalah masalah keyakinan dan keimanan manusia pada Allah yang menciptakan alam semesta.

    Kita juga ingat bagaimana Nabi Musa belajar dengan Nabi Kaidir dengan berbagai kenyataan yang ditunjukan sebagai simulasi memberikan banyak hikmah. Mulai dari diam untuk tidak komentar sebagai komitmennya, ternyata tidak bisa begitu saja bisa berjalan sebagaimana perjanjiannya. Karena seseorang yang belajar itu harus mempunyai etikanya yaitu diantaranya rendah hati, sabar dan istiqomah. Dan ini yang tidak pernah diajarkan di dalam pendidikan. Karena sistem pengajaran yang di ajarkan di sekolah adalah bagaimana murid bisa mengisi jawaban dengan benar. Bagaimana mengerjakan sesuatu itu dengan baik dan benar. Tapi tidak pernah belajar sebuah kebaikan dan kebenaran itu menjadi cara pandangnya di dalam belajar. Sehingga menjadinyak anak didik sebagai orang yang berpengetahuan dengan akhalak yang baik. Dengan begitu pengetahuannya bukan untuk mencari makan. Tapi untuk mengembangkan kesadaran hidup manusia di dunia ini menjadi lebih paham dan mengerti bahwa hidup itu memang sebuah jejang yang harus dilalui sebagai mana manusia diciptakan Allah melalu sebuah proses mulai dari akad nikah yang baik, bertemua sel telur dan sperma yang kemudian dari jutaan sperma itu hanya satu yang bisa membuahkan telur. Artinya kita menjadi manusia pilihan. Kemudian terbentuknya gumpalan darah dari hingga terwujud sebagai manusia hal itu yang dijelaskan dalam Al Quran.

  4. SENI MEMBAWA KEHIDUPAN MERDEKA

    Seni adalah bagian dari kehidupan manusia, karena hidup ini begitu indah sebagai karya cipta Allah yang menyukai keindahan dan Allah itu Maha indah dan Maha kaya. Untuk itu manusia mempunyai citra rasa keindahan yang kaya dibandingkan dengan mahluk lainnya. Keindahan membawa manusia pada kesadaran dirinya tentang dirinya di dalam kehidupan di dunia ini.

    Seni sudah melekat di dalam kehidupan manusia mulai dari kandungan hingga akhir hayatnya. Bahwa seni itu menjadi manusia mengerti bahwa keindahan alam semesta ini ada yang menciptakan dan yang menciptakan itu adalah Allah sebagai Maha seniman dari segala seniman.

    Hal ini yang dikatakan Plato bahwa keindahan seni itu adalah bentuk peniruaan keindahan alam dan keindahan alam itu ada dari konsep keindahan dan konsep keindahan itu adalah keindahan Allah yang Maha Indah. Jadi kalau manusia yang menyukai keindahan berarti manusia yang selalu ingin dekat dengan Allah. Karena manusia yang mulia adalah manusia yang selalu ingin dekat dengan sesuatu yang menguasai kehidupan ini. Dengan dengan pada Allah berarti manusia akan bisa menjakau sesuatu apa yang menjadi keinginannya. Karena keinginan itu memang sudah diukur oleh Allah untuk setiap manusia. Dan manusia sendiri dengan kesadaran penuh mengerti betul apa yang diberikan Allah itu sebuah anugrah dan rezeki untuk selalu bersyukur kepada Allah Swt.

    Begitulah seni menjadi sebuah keindahan ini makin mendekatkan diri pada Allah Swt. Karena keindahan itu kepunyaan Allah Swt, dengan mendekati diri pada Allah berarti membawa kesadaran manusia pada kehidupan yang lebih mulia dan tidak lagi terikat pada kehidupan dunia seperti apa yang dipahami kebanyakan orang bahwa dunia itu terbatas.

    Seni dalam naungan ide, ideologi dan yang lebih luas lagi adalah pandangan hidupan dan keyakinan kita pada Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw itu menjadi agama Islam itu menjadi pedoman hidupnya, di mana seni itu sangat indah dijelaskan dalam Al Quraan tapi tidak semua orang mengerti bahwa konsep seni itu begitu kuat dan jelas penjabaran tentang seni di Al Quraan dibandingkan seni berdasarkan etimologi Yunani yang berasal dari tehnek yang berarti ketrampilan dan tidak ada kaitannya dengan seni yang mengaduk citra rasa keindahan jiwa yang begitu luas dan kaya. Tehnek itu diartinya sebagai arts dalam bahasa inggrisnya art yang artinya seni dan seni menurut bahwa indonesia menjadi banyak pengertian seni, ketrampilan dan seni memasak dan air seni, sehingga tidak jelas pengertiannya.

    Untuk itu Islam selalu mengambarkan seni dengan sesuatu yang berdasarkan nilai, yaitu nilai ketauhidkan. Di mana seni dalam Islam selalu menjelaskan pengertian mengenai sebuah keindahan yang selalu mengacu pada kekuasaan Allah sebagai pencipta alam semesta ini dan seisinya.

    Untuk itu anak-anak mulai dari usia dini anak bersosialisasi dengan karya senirupa, seni tari, seni musik dan seni suara yang membuat anak itu tumbuh dan berkembang sesuai dengan jiwa dan kehidupannya.

    Begitu juga ketika anak itu meningkat balita adalah lebih menyadari bahwa aktualisasi dirinya terhadap lingkungannya melalui media seni, mulai dari senirupa, tari, musik, teater dan film menjadi lebih efektif. Dan hal itu sangat disadari betul oleh dunia pendidikan, yaitu taman kanak-kanak yang mengajarkan anak-anak pada kesenian.

    Hanya saja kesenian yang diajarkan oleh guru-gurunyanya bukannya mendidik. Tapi justru menjerumuskan anak-anaknya pada pendidikan yang tidak tahu sopan satu dan ahlak yang baik bagi anak. Misalnya saja anak di dalam pertunjuan di dalam memperingatkan hari-hari besar dengan mengadakan pementasan anak-anaknya di dandani seperti orang dewasa dan pakaian yang seronok tanpa tidak tahu malu. Dengan menyanyikan lagunya yang tidak sesuai dengan usianya, dan tariannya yang menonjolkan pada bentuk tubuh yang memang belum pantas untuk dipertunjukan pada orang lain. Karena tubuh bagi orang dewasa menjadi sesuatu yang lebih berbahaya dalam akhlak yang tidak baik pada anak-anak atau orang pada umumnya.

    Ketika anak sudah menginjak usia sekolah dasar seni tidak lagi begitu penting. Karena anak-anak lebih ditekankan pada kemampuan kognitifnya dibanding yang lain. Apa lagi masalah akhak dan karakater manusia yang lebih baik dan kaffah. Menjadi sesuatu yang dilupakan meskipun tidak disadari oleh mereka pada umumnya. Yang menganggap bahwa pendidikan sekolah dasar adalah pendidikan kognitif. Apa lagi pendidikan bukan lagi untuk memberikan anak mengenai pengetahuan. Karena anak tidak perlu pengetahuan karena dia akan mencari sendiri pengetahuan sesuai dengan minat dan kemampuannya di dalam melihat kehidupanyang lebih baik. Dan seni adalah salah satunya yang membawa anak pada kemerdekaan di dalam melihat kehidupan manusia secara lebih baik.

    Begitu juga pada masa remaja smp dan sma anak yang memerlukan kesenian tidak lagi diakomodir pada dunia pendidikan. Yang terjadi adalah pendidik seni yang mengarahkan sekedar seni untuk kenikmatan dan merangsang libido anak pada kegiatan yang akan merugikan anak. Karena seni yang sebenarnya tidak dipahami dan dikedepankan sebagai bagian dari pendidikan bagi anak-anak. Dan hal itu harus mengacup pada nilai keindahan yang terkandung di dalam Al Quraan. Di mana seni memberikan kemerdekaan pada seseorang untuk melihat keindahan itu sebagai sesuatu kebenara yang harus diyakini pada kehidupan manusia. Dengan demikian kehidupan itu akan menjadi lebih baik dan berguna bagi dirinya dan orang lain pada umumnya.

    Inilah yang harus dipahami dengan kehidupan dalam pendidikan seni sebagai sesuatu yang harus dimerdekakan pada kesadaran pada nilai yang harus diperjuangkan. Sehingga tidak heran kalau seni menjadi sesuatu media perjuangan di dalam menegakkan keadilan dan kesejahteraan bagi setiap orang.

    Dengan seni membuat manusia menjadi manusia yang mulia. Dengan kemuliahn itu manusia menjadi lebih hidup. Karena banyak manusia yang hidup tapi sebenarnya telah mati sebelum mati. Karena tidak lagi berfungsi sensitifitas rasa dan jiwanya, sehingga tidak memunyai empati kepada orang lain. Karena seni itu memang mengasah pada jiwa dan indra yang lebih luas.

  5. PENDIDIKAN BERGANTUNG PADA ALLAH

    Kehidupan ini tidak ada tempat bergantung pada siapapun juga kecuali pada Allah semata. Karena manusia tidak mempunyai gantung yang kuat untuk memberikan gantung pada orang lain. Karena dirinya sendiri tidak mempunyai gantungan.

    Tapi kenapa masih saja ada manusia bergantung dengan orang lain. Karena dia tidak mengerti tentang dirinya dan kehidupan ini. Cara berpikirnya terlalu sempit, hanya sebatas mata memandang yang bisa ditangkap, yaitu materi yang selalu melingkupi kehidupan manusia sehingga membuat manusia lupa dengan tujuan yang sebenarnya.

    Ketika manusia hidupnya bergantung dengan orang lain. Berarti dia telah menghinakan dirinya secara keji. Karena dia telah melupakan Allah sebagai Yang Maha Pencipta manusia ini. Dan bisa melakukan apa saja dengan mudah tanpa ada halangan.

    Kehinaan ini membuat manusia sudah tidak ada lagi harga diri dan kehidupan ini. Karena dia sudah membatasi kehidupan ini pada orang lain. Yang membuat dirinya tidak berdaya dan tidak pernah bisa melakukan layaknya manusia yang mulia dan terhormat. Membuat dirinya menjadi manusia yang mati sebelum waktunya.

    Untuk itu ketergantungan kita pada Allah menjadi sesuatu yang mutlak. Karena dengan ketergantungan kita pada Allah sama artinya kita lebih merdeka untuk melakukan apa yang menjadi keinginan dan sesuatu yang baik untuk kehidupan dirinya dan manusia pada umumnya.

    Dengan bergantung pada Allah sama artinya mempermudah kehidupan yang kita lakukan di dunia ini. Karena kita merasakan dekat dan di cintai.

    Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi, ya dengn Niatan yang Tulus Ikhlas kita membuat Merdeka Sekolah pada Allah sebagai upaya mendekatkan diri pada Allah dengan keridhoannya dalam hidup yang tidak bisa kita kuasai kecuali atas pertolongan Allah. Dengan Niat kita melakukan Amalan dengan bekerja untuk bisa merealisasikan apa yang menjadi kepeduliah kita terhadap kehidupan ini. Dengan begitu kita sudah membuka pintu langit untuk mempermudah kita mendapatkannya. Yang dilengkapi dengan kesabaran, ketabahan untuk selalu melihat permasalah itu menjadi pintu harapan untuk bisa mewujudan apa yang menjadi harapan kita sebagai Merdeka Sekolah.

    Bekerja dengan kesabaran dan ketabahan memang sesuatu yang mudah untuk diucapkan, tapi tidak mudah untuk dilaksanakan. Tapi justru inilah yang membuat tekat bulat kita untuk mengatakan itu yang harus kita singkirkan. Karena menjadi sebuah pendorong untuk selalu berjuang dan berjuang. Karena cita-cita tanpa sebuah perjuangan adalah sebuah mimpi kosong yang membuat kita menjadi gila.

    Perjuang adalah sebuah kunci keberhasilan di dalam kehidupan ini. Tapi perjuangan tidak hanya cukup berjuang tanpa ada sebuah pengorbanan seperti apa yang dikatakan Allah di didalam Al Quran, Perjuanglah dengan harta dan jiwa nanti akan aku balas dengan yang lebih besar lagi, yaitu surga Allah.

    Berjuang dengan harta dan jiwa adalah sebuah upaya yang juga tidak mudah kalalu kita tidak pernah merasa tergantung pada Allah. Hal itu tidak akan pernah terwujud. Karena kita masih dibatasi dengan materi. Dan kita masih disibuki dengan kehidupan dunia. Tapi dengan Niatan Ikhlas Allah akan memberikan kemudahan. Karena Allah sudah memberikan banyak contoh dari pada Nabi dan sahabat Rosul. Kita bisa lihat bagaimana pengorbanan Ismail, bagaimana pengorbanan Rosullah untuk umatnya. Bagaimana pengorbanan Abukar dan Umar. Sebuah itu bukan mimpi semua itu kenyataan yang benar. Hanya ketakutan kita adalah sebuah mimpi yang harus kita hilangkan dengan terjaga dari tidur. Kita belum tidak kita akan tidur ketika sudah waktunya untuk tidur.

    Harta memang sudah waktunya itu diberikan pada kita dengan berkorban untuk meraih jejang kehidupan yang lebih mulia. Sehingga kita mampu mencapai makom yang lebih mengerti apa yang ada di dalam kehidupan dunia sebenarnya. Seperti kita paham bahwa sholat fajar itu lebih baik dari seisi dunia. Dan itu bisa kita rasakan di dalam kesungguh hidup untuk mengapai keridhoan.

  6. anak-anak kita adalah pemimpin dimasanya,karena setiap hari dan setiap saat kita bervisi dan berdoa kepada-Nya agar kita dan anak-anak kita menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa, yaa…tidak sekedar menjadi orang yang bertaqwa tapi harus menjadi pemimpinnya.Karena disetiap kebaikan yang dilakukan oleh seorang pemimpin ,yang kebaikan itu menjadi inspirasi dan contoh bagi munculnya kebaikan-kebaikan yang lain maka ianya kan beroleh pahala seperti orang yang mengerjakan amalan tersebut tanpa dikurangi sedikitpun. Oleh karena itu patut kita bertanya SUDAHKAH KITA MENJADI SANGAT TEROBSESI untuk melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan ini dari rahim perjuangan kita ?Visi Akhirat akan membentuk diri kita menjadi cerdas karena ukuran setiap amalan dan pekerjaan kita adalah keabadian , inilah sesungguhnya yang akan menghidupkan jiwa seorang manusia dengan sesungguhnya, hingga ia memiliki nilai kemanusiaannya,yang tidak akan pupus manakala umur jasadnya sudah tiada. Kecintaan yang besar kepada Yang Maha Besar adalah kecintaan yang hakiki yang kan memproduktifkan amal-amal kebaikan dalam diri kita.Allohu Akbar

  7. BELAJAR DARI DUNIANYA

    Dunia pendidikan begitu yakin dengan apa yang dilakukan sebagai sesuatu yang terbaik dengan adanya sekolah. Karena dengan sekolah anak menjadi pintar, cerdas, berhasil, sukses, kaya dan terhormat.

    Tapi pada kenyataannya yang kita hadapi dengan dunia pendidikan adalah sekolah menjadi sebuah keuntungan finansial bagi lembaga yayasan yang meyelenggarakan pendidikan, disadari mau tidak. Sekolah menjadi sebuah kebanggaan bagi orang tua karena anaknya masuk di sekolah yang baik, meskipun biaya pendidikan tidak masuk akal, irasional. Sekolah menjadi problem sosial bagi kehidupan masyarakat, karena lembaga pendidikan menciptakan kesenjangan sosial dan terjadi polarisasi di dalam kehidupan masyarakat. Di mana adalah sekolah orang kaya dan ada sekolah orang miskin. Ada sekolah favorit ada sekolah kadang kambing. Sekolah juga menjadi sebuah indikator keberhasilan seseorang di dalam kehidupannya.

    Pada hal kalau dipikirkan lebih dalam tentang keberadaa kita sebagai manusia itu di dalam Islam sudah jelas, bahwa takdir kehidupan manusia sudah ditentukan oleh Allah. Dan Allah memberikan kita akal untuk berpikir untuk melihat dan membaca ayat kaulia dan kaunia. Artinya mekanisme akal dan pikiran manusia itu dengan sendiri bekerja sesuai dengan apa yang menjadi sikap dan pandangan terhadap kehidupan ini. Dengan demikian manusia tidak perlu sekolah karena dengan sendirinya sudah berpikir. Tinggal bagaimana tekat dan kemaunnya yang dapat mewujudkan apa yang menjadi keinginannya dan Allah yang menentukan. Jadi apa sebenarnya pendidikan itu kaitan dengan sekolah. Kalau fitrahnya manusia dengan sendiri bisa belajar sendiri sesuai dengan kehidupannya.

    Sekolah yang sekarang kita lihat dan alami sebenarnya sekolah itu bukan untuk berpikir, tapi untuk membebani akal dan pikiran kita. Karena disekolah kita dipaksa untuk belajar apa-apa saja yang tidak sesuai denan keinginan kita. Karena disekolah tidak pernah diajarkan untuk mempergunakan akal dan pikiran kita. Kita didokrin untuk menyimpan pengetahuan dan mengeluarkan lagi sesuai dengan apa yang diinginkan oleh guru. Kalau tidak sesuai dengan keinginan guru berarti anak itu bodoh, nakal, pembangkang, pemalas dan sebagainya. Karna anak itu mempergunakan akal dan pikirannya sesuai dengan keinginannya.Tapi kalau bisa mengeluarkan pengetahuan yang pernah diajarkan oleh gurunya dianggap sebagai anak yang pintar, cerdas, rajin dan juara. Walaupun akan pikirnya tidak pernah digunakan secara baik dan maksimal.

    Begitulah pendidikan dengan sekolahnya yang mempergunakan keberhasilanan seseorang dengan nilai dan kemampuan menjawab dengan baik sesuai dengan kehendak guru. Karena guru sudah terpola dengan sekolah seperti itu sehingga cara berpikirnya sudah tidak lagi rasional melainkan irasional alias tidak masuk akal.

    Pada hal kalau lihat anak-anak Merdeka Sekolah secara normatif biasa saja dalam belajar. Dia seperti anak yang terlihat malas, tidak menguasai materi, tidak menangkap dan sebagainya. Tapi ketika dia ada diluar kelas atau sekolah. Gambaran sebagai anak yang malas, tidak menguasai materi, tidak bisa menangkap pelajar, tidak pintar dan sebaginya itu, tidak tampak di dalam performant, penampilan yang ekspresi, cerdas dan matanya berbinar-binar sejalan dengan gerak langkah dan seluruh tubuhnya yang begitu hidup dan dinamis dalam bergerak.

    KIta lihat anak-anak merdeka naik diantara tiang saung dan bergelantungan dengan begitu lincah, seolah tidak ada keraguan untuk meniti batang bambu dengan tangannya, melompat dari batang bambu satu keberikutnya atau melompat kebawah dengan tangkasnya.

    Ada juga yang menaikan pohon denga cekatan dan batang mana yang menjadi peganggannya. Dengan lincah anak laki-laki dan perempuan begitu mudahnya menaik dan turun dari pohon itu tidak ada kesulitan. Semau dilakukan dengan alami dan penuh perhitungan. Yang menggambarkan kecerdasan seorang anak di dalam menaklukan sebuah pohon. Seolah akan pikirannya begitu cepatnya bekerja dengan baik dan cepat, tanpa ragu.

    Begitu juga ada beberapa anak yang sedang asik bermain dirawa depan sekolah mencari belalang, kadang dan kepik emas. Hal itu dilakukan sebagai bentuk represntasi akal pikiran begitu saja bekerja tanpa sesuatu yang mengkomandani. Seolah-olah dengan mencari sesuatu di rawa itu menjadi sebuah kehidupan yang dia buka. Membuat akal pikiran begitu saja menangkap dan mencernanya, sehingga anak itu terlihat seperti seorang peneliti yang sedang menelit sesuatu yang begitu penting bagi kehidupan ini.

    Begitu juga dengan beberapa anak yang asik membaca buku cerita dengan khusus, sehingga dia tidak lagi menghiraukan lingkungannya, alias tidak terganggun dengan lingkungannya yang ramai. Mereka tenggelam dalam alur cerita buku itu, lembaran demi lembaran dia telusuri dengan baik. Memperlihatkan anak itu menjadi seorang anak yang cerdas, karena akal pikirannya berjalan dengan begitu saja tanpa ada komando.

    Begitu juga dengan anak-anak sedang bermain kejar-kejaran. Dengan mudah dia memperlihatkan ketangkasannya untuk menghindari dari kejaran temannya. Karena akal pikiran dengan begitu saja berjalan dengan cepat. Anak-anak itu terlihat hidup dan semangat untuk mengatasi segala permasalahan.

    Apakah itu bukan pendidikan yang ada disekolah, yang dikatakan oleh orang dewasa sebagai jedah waktu istirahat dari belajar. Karena anak-anak itu menikmati pelajaran itu dengan sungguh-sungguh. Apakah yang dilakukan di dalam kelas belajar dengan buku paket itu merupakan beban bagi anak sehingga anak terlihat tidak berdaya dan tidak mempunyai daya juang di dalam gerak hidupnya.

    Tapi begitulah yang terjadi di dalam pendidikan Merdeka Sekolah. Baju kotor dan terluka di beberapa tubuhnya merupa sebuah kekuatan diri anak di dalam mengaktualisasikan dirinya. Yang diwadahi oleh sekolah sebagai media pertemuan dengan teman-teman seusianya.

  8. BELAJAR DARI DUNIANYA

    Dunia pendidikan begitu yakin dengan apa yang dilakukan sebagai sesuatu yang terbaik dengan adanya sekolah. Karena dengan sekolah anak menjadi pintar, cerdas, berhasil, sukses, kaya dan terhormat.

    Tapi pada kenyataannya yang kita hadapi dengan dunia pendidikan adalah sekolah menjadi sebuah keuntungan finansial bagi lembaga yayasan yang meyelenggarakan pendidikan, disadari mau tidak. Sekolah menjadi kepentingan politis bagi partai di dalam membangun citranya di masyarakat. Sekolah menjadi sebuah kebanggaan bagi orang tua karena anaknya masuk di sekolah yang baik, meskipun biaya pendidikan tidak masuk akal, irasional. Sekolah menjadi problem sosial bagi kehidupan masyarakat, karena lembaga pendidikan menciptakan kesenjangan sosial dan terjadi polarisasi di dalam kehidupan masyarakat. Di mana ada sekolah orang kaya dan ada sekolah orang miskin. Ada sekolah favorit ada sekolah kadang kambing. Sekolah juga menjadi sebuah indikator keberhasilan seseorang di dalam kehidupannya.

    Pada hal kalau dipikirkan lebih dalam tentang keberadaa kita sebagai manusia itu di dalam Islam sudah jelas, bahwa takdir kehidupan manusia sudah ditentukan oleh Allah. Dan Allah memberikan kita akal untuk berpikir untuk melihat dan membaca ayat kaulia dan kaunia. Artinya mekanisme akal dan pikiran manusia itu dengan sendiri bekerja sesuai dengan apa yang menjadi sikap dan pandangan terhadap kehidupan ini. Dengan demikian manusia tidak perlu sekolah karena dengan sendirinya sudah berpikir. Tinggal bagaimana tekat dan kemaunnya yang dapat mewujudkan apa yang menjadi keinginannya dan Allah yang menentukan. Jadi apa sebenarnya pendidikan itu kaitan dengan sekolah. Kalau fitrahnya manusia dengan sendiri bisa belajar sendiri sesuai dengan kehidupannya.

    Sekolah yang sekarang kita lihat dan alami sekarang sebenarnya sekolah itu bukan untuk berpikir, tapi untuk membebani akal dan pikiran kita. Karena disekolah kita dipaksa untuk belajar apa-apa saja yang tidak sesuai denan keinginan kita. Karena disekolah tidak pernah diajarkan untuk mempergunakan akal dan pikiran kita. Kita didokrin untuk menyimpan pengetahuan dan mengeluarkan lagi sesuai dengan apa yang diinginkan oleh guru. Kalau tidak sesuai dengan keinginan guru berarti anak itu bodoh, nakal, pembangkang, pemalas dan sebagainya. Karena anak itu mempergunakan akal dan pikirannya sesuai dengan keinginannya.Tapi kalau bisa mengeluarkan pengetahuan yang pernah diajarkan oleh gurunya dianggap sebagai anak yang pintar, cerdas, rajin dan juara. Walaupun akan pikirnya tidak pernah digunakan secara baik dan maksimal.

    Begitulah pendidikan dengan sekolahnya yang mempergunakan keberhasilanan seseorang dengan nilai dan kemampuan menjawab dengan baik sesuai dengan kehendak guru. Karena guru sudah terpola dengan sekolah seperti itu sehingga cara berpikirnya sudah tidak lagi rasional melainkan irasional alias tidak masuk akal.

    Pada hal kalau lihat anak-anak Merdeka Sekolah secara normatif biasa saja dalam belajar. Dia seperti anak yang terlihat tidak bisa diam, tidak menguasai materi, tidak menangkap dan sebagainya. Tapi ketika dia ada diluar kelas atau sekolah. Gambaran sebagai anak yang malas, tidak menguasai materi, tidak bisa menangkap pelajar, tidak pintar dan sebaginya itu, tidak tampak di dalam performant, penampilan yang ekspresi, cerdas dan matanya berbinar-binar sejalan dengan gerak langkah dan seluruh tubuhnya yang begitu hidup dan dinamis dalam bergerak.

    KIta lihat anak-anak merdeka naik diantara tiang saung dan bergelantungan dengan begitu lincah, seolah tidak ada keraguan untuk meniti batang bambu dengan tangannya, melompat dari batang bambu satu keberikutnya atau melompat kebawah dengan tangkasnya.

    Ada juga yang menaikan pohon dengan cekatan dan batang mana yang menjadi peganggannya. Dengan lincah anak laki-laki dan perempuan begitu mudahnya menaik dan turun dari pohon itu tidak ada kesulitan. Semau dilakukan dengan alami dan penuh perhitungan. Yang menggambarkan kecerdasan seorang anak di dalam menaklukan sebuah pohon. Seolah akanl pikirannya begitu cepatnya bekerja dengan baik dan cepat, tanpa ragu.

    Begitu juga ada beberapa anak yang sedang asik bermain di rawa depan sekolah mencari belalang, kadang dan kepik emas. Hal itu dilakukan sebagai bentuk represntasi akal pikiran begitu saja bekerja tanpa sesuatu yang mengkomandani. Seolah-olah dengan mencari sesuatu di rawa itu menjadi sebuah kehidupan yang dia buka. Membuat akal pikiran begitu saja menangkap dan mencernanya, sehingga anak itu terlihat seperti seorang peneliti yang sedang menelit sesuatu yang begitu penting bagi kehidupan ini.

    Begitu juga dengan beberapa anak yang asik membaca buku cerita dengan khusuh, sehingga dia tidak lagi menghiraukan lingkungannya, alias tidak terganggun dengan lingkungannya yang ramai. Mereka tenggelam dalam alur cerita buku itu, lembaran demi lembaran dia telusuri dengan baik. Memperlihatkan anak itu menjadi seorang anak yang cerdas, karena akal pikirannya berjalan dengan begitu saja tanpa ada komando.

    Begitu juga dengan anak-anak sedang bermain kejar-kejaran. Dengan mudah dia memperlihatkan ketangkasannya untuk menghindari dari kejaran temannya. Karena akal pikiran dengan begitu saja berjalan dengan cepat. Anak-anak itu terlihat hidup dan semangat untuk mengatasi segala permasalahan.

    Apakah itu bukan pendidikan yang ada disekolah, yang dikatakan oleh orang dewasa sebagai jedah waktu istirahat dari belajar. Karena anak-anak itu menikmati pelajaran itu dengan sungguh-sungguh. Apakah yang dilakukan di dalam kelas belajar dengan buku paket itu merupakan beban bagi anak sehingga anak terlihat tidak berdaya dan tidak mempunyai daya juang di dalam gerak hidupnya.

    Tapi begitulah yang terjadi di dalam pendidikan Merdeka Sekolah. Baju kotor dan terluka di beberapa tubuhnya merupa sebuah kekuatan diri anak di dalam mengaktualisasikan dirinya. Yang diwadahi oleh sekolah sebagai media pertemuan dengan teman-teman seusianya.

  9. KESENJANGAN DAN CARUT-MARUT PENDIDIKAN

    Sebuah realita di dalam kehidupan masyarakat pendidikan bukan lagi menjadi sebuah kebutuhan atau kewajiban bagi masyarakat. Karena pendidikan berubah dengan begitu saja, bahwa pendidikan itu menjadi gaya hidup masyarakat modern sebagai status orang yang terpelajar. Dengan sekolahlah mahal dan unggulan menjadi indikator anaknya menjadi cerdas dan sukses dikemudian hari. Dan menjadi sebuah kebangga tersendiri di dalam kehidupan masyarakat. Sebuah pandang yang melupakan peranan Allah dalam kehidupannya.

    Sebalikan banyak rakyat miskin menganggap pendidikan itu tidak begitu penting, yang penting cari uang bantu orang tua, menjadi buruh tani, buruh pabrik, pengamen sebagai anak jalanan dan banyak lagi. Karena mencari uang tidak perlu pendidikan asal ada kemauan insyallah akan mendapatkan uang. Begitulah cerita sebuah sekolah sebagai bagian dari dunia pendidikan ini.

    Sedangkan cerita guru lain lagi bahwa banyak orang ingin menjadi guru bukan karena idealisme dan tujuan yang suci sebagai umat yang mulia. Tapi sebagai guru adalah sebuah pilihan yang bukan pilihan, dari pada tidak bekerja jadi guru, juga tidak apa-apa. Profesi guru adalah sebuah alternatif terakhir dan alternatif yang terpaksa harus dijalani. Yang terjadi guru yang mengajar anak-anak kita adalah orang-orang kalah di dalam menghadapi realitas kehidupan yang begitu keras dan kejam. Persaingan kehidupan di dalam lapangan kerja.

    Kalau anak-anak kita diajarkan oleh orang-orang kalah bagaimana bisa melahirkan seorang pemimpin atau orang yang mempunyai sikap dan berkarakater sebagai bekal dari kehidupannya, di dalam masyarakat nanti. Profesi guru bukanlah sebuah pilihan yang sebuah idealisme yang mengalah materi. Tapi profesi guru karena materi dan uang, selain itu tidak ada lagi. Karena niatannya seperti itu maka metode pendidikan apapun yang diberikan selama itu tidak memberikan materi, akan dikesampingkan dan diutamakan adalah materi. Sehingga kita kenal dengan bimbingan belajar bagi anak kelas VI,IX dan XII orang tua harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membayarnya pada sekolah. Agar bisa lulus dengan nilai yang terbaik, yaitu nilai standar nasional.

    Pada hal ketika sekolah mengadakan bimbel untuk sama artinya menilai sekolahnya sendiri tidak mempunyai mutu yang baik. Sehingga perlu dipertanyakan sistem pendidikan yang diajarkan pada anak-anak kita.

    Begitu juga ada guru yang mengajarkan les tambahan bagi muridnya bukan menjadi pintar, tapi hanya mendapat bocoran ulangan atau ujian agar nilai bagus dan guru dapat uang lumayan buat nambah-nambah kebutuhan sehari-hari. Selain itu ada juga kegiatan Elkas yang sama artinya guru tidak bisa membuat soal secara baik. Dan hanya menginginkan keuntungan uang dari buku Elkas, begitu juga dengan studi tour yang awalnya merupakan program mulia bagi sebuah proses pendidikan berubah menjadi proyek yang menguntungkan, meskipun tidak begitu banyak, tapi lumayanlah buah beli pakaian di Mall. Sebuah realitas yang terjadi di dalam dunia pendidikan kita.

    Guru kita adalah orang-orang yang kalah, sehingga banyak permasalahan yang membebani dirinya, sehingga yang terjadi adalah prilaku sebagai guru tidak sesuai. Yang terjadi anak-anak mencontohkan sesuai dengan apa yang dilihat. Tidak heran kalau bahasa kasar dan prilaku kasar karena sekolah memperlihatkan itu sebagai sebuah perlajaran yang mengesankan dibandingkan pelajaran formal yang di dalam di dalam kelas.

    Ujian buat anak-anak sudah tidak lagi penting, yang penting apa yang diminta oleh guru atau pihak sekolah masalah uang diberikan saja. Karena uang adalah segala-gala bagi pendidikan disekolah. Hal itu juga terjadi di sekolah favorit anak-anak pintar dan cerdas tapi ahklaknya tidak mencermikan dia sebagai orang yang cerdas. Bicara kasar, tidak ada sopan santu pada guru maupun orang tua. Guru bukan lagi dipandang anak murid sebagi orang yang mulia, tapi orang yang bisa dibeli dengan uang. Itu sebuah realitas di dalam pendidikan kita.

    Sedangkan masyarkat yang konon katanya peduli dengan dunia pendidikan anak-anak kita. Medirikan sekolah dengan cita-cita yang mulia dan agung. Tapi pada kenyataan pendidikan yang dikelolah oleh masyarakat tidak bedanya sebuah lahan bisnis yang berkedok kepedulian pada pendidikan masyarakat. Karena masyarakatnya sendiri tidak mampu berbuat banyak terhadap pendidikan yang dikelolah oleh yayasan pendidikan. Di mana pegelolah mempunyai otoritas penuh di dalam menentukan segala hal yang menyangkut keuangan, sehingga peranan orang tua murid tidak mempunyai pernan yang strategi di didalam mengawasi pendidikan yang dikelolah yayasan.

    Yang terjadi banyak anak guru yang mengajar disekolah favorit, terkenal, unggulan, bagus dan modern karena mahalnya. Tidak bisa masuk sekolah itu karena bayarnya mahal, meskipun ada keringanan, keringanan itu tidak berarti sehingga ada dua anak yang menunggak banyak tidak mendapatkan rapot menjadi masalaha antara guru dan yayasan. Guru mengatakan saya sudah lama mengabdi di sekolah ini koh tidak ada kebijaksaan bagi guru. Ketua yayasan dengan mudahnya mengatakan bahwa ini adalah sebuah sistem yang diperlakukan. Karena kalau sekolah ini tidak pada sistem sekolah ini tidak akan maju (maksud tidak akan laku).

    Begitu juga dengan peranan pemerintah di dalam pendidikan ini. Hanya sebagai bagian dari komudite politik bagi pemilihan umum, pilpres, pilkada. Yang semuanya itu menjadi kendali dari segala sesuatu yang menyangkut kebijaksaannya, bagi yang menang. Masalah mekanimes dan peraturan tentang bagaimana pendidikan itu menjadi lebih baik. Menjadi sebuah persoalan yang berbeda. Inilah realitas yang kita hadapi dalam dunia pendidikan kita saat ini.

    Pada hal kalau kita berbicara masalah pendidikan kita bicara masalah manusia bukan masalah nilai nominal, dan bukannya seberapa banyak keuntungan yang akan didapat. Meskipun uang itu penting bukan berarti menjadi tolak ukur dari sebuah sistem pendidikan disekolah.

    Tapi bagaiman mengelolah pendidikan harus di dasarkan nilai yang baik dan ikhlas sebagai bentuk partispasi Allah di dalam langkah kita, yang kemudian dilanjutkan dengan gerak langkah yang konsisten pada apa yang dikatakan pendidikan sebuah pengembangan manusia yang baik dan berkarakter. Konsistensi ini juga perlu adalah keterlibatak Allah dalam mekanisme ini sehingga bisa melihat apa-apa yang menjadi permasalah akan dapat diselesaikan masalah.

    Sekolah sebagai sebuah pendidikan bukan hanya sebagai tranformasi ilmu saja. Tapi mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan masyarkatnya. Sebagai agen perubahan di dalam kehidupannya dan masyarakat pada umumnya.

    Sehingga kalau kita berbicara sistem dalam pendididkan. Berarti yang harus kita pahami sebagai bentuk realitas di dalam pengelolah untuk bisa dapat menditeksi sesuatu yang harus diperbaik atau dilengkap dalam bentuk kebijakan yang lebih mengedepan nilai luhur kehidupan sebagai manusia, bukan sebagai homoekonomik. Sehingga ada terlambat membayar dari anak seorang guru yang menjadi catatan dari yayasan atau pemerintah yang bertanggung jawab. Bukan dibiarkan begitu saja.

    Karena sekolah sebagai sebuah pendidikan menjadi manusia menjadi terlihat keberadaan secara lebih baik, sesuai dengan proposinya. Agar menjadi anak-anak yang baik dan mempunyai sikap yang kuat.

    Dengan begitu tidak ada lagi manusia yang dikatakan sebagai obyek penderita antara sesama. Pada Allah sendiri memposisikan manusia sebagai subyek , yaitu sebagai khalifah di muka bumi ini

    Sehingga jangan sampai ada orang yang menganggap kehidupan bagi setiap orang sudah tidak ada lagi. Apa lagi untuk ingin mengaktualisasikan nilai-nilai kehidupan yang luhur dan mulia, yaitu menjadi orang yang baik, berakhlaq, sehingga hidupnya menjadi lebih bermakna dan bermanfaat.

    Begitulah sekolah sebagai lemaga pendidikan yang mempunyai muatan yang sangat mulia, di mana peranan Allah di dalam hal ini sangat sekali besar. Tapi manusia tidak memahami dan hanya melihat sebatas kebutuhan materi, uang dan ekonomi.

    Melupakan kemulian sebuah pendidikan dengan nilai ibadah yang luar biasa besarnya. Karena dengan memperjuangan pendidikan dengan harta dan jiwa menjadi bentuk jihad fisabillillah. Yang nantinya akan mendapatkan balasan Allah baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Ini adalah realitas pendidikan di dalam kehidupan kita sekarang.

  10. saya sangat salut dengan sistem pendidikan yang bapak Tri bangun, walau lain dari yang dan kesederhanaan. mungkin sistem pendidikan bapak bisa memberi pencerahan baru bagi dunia pendidikan kita, amin! maju terus pak TRI

    • Terimakasih atas attensinya, semoga do’anya membawa spirit ini terus bertambah. Mohon do’anya juga insyaalloh kami akan membebaskan lahan untuk bangunan sekolah. Syukron.

  11. KANTIN JUJUR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

    Media pembelajaran pada masa kini banyak dikembang dengan berbagai macam cara. Terutama yang berkaitan dengan perkembangan teknologi dan informasi, di mana media pebelajaran sudah tidak zaman lagi guru berdiri di depan kelas dengan memberikan materi pembelajaran. Di mana posisi guru sebagai subyek dan sumber ilmu yang memberikan harapan besar bagi siswanya. Membuat guru terjebak pada pencitraaan diri di mata muridnya. Dengan begitu tanpa disadari guru sudah membangun dirinya sebagai seorang yang berkuasan dan menentukan segala keputusan yang menyangkut kemampuan anak. Dan membuat anak sebagai obyek yang didominasi, sehingga kehidupan masa depan anak seolah-olah berada ditangan gurunya.
    Media bertutur menjadi sebuah kesadaran yang menghancurkan kultur pendidikan yang tidak lagi memberikan kemungkinan pada anak. Dan mengajar dengan pengajaran yang hanya mengulang materi pembelajaran, forlam dan normat. Membuat belajar dikelas menjadi sebuah penjaran yang sangat membosankan dan menjenuhkan. Karena apa yang disampaikan guru di depan kelas sudah bukan lagi sebuah materi pelajar, tapi sebuah pemikiran yang abstrak, pemikiran yang menjauhkan anak pada kehidupan dirinya dan lingkungannya. Membuat anak mengembar pada sesuatu yang tidak jelas dan sangat absurd pada kehidupan anak. Untuk itu tidak heran kalau anak-anak sekolah yang dikatakan pintar disekolah menjadi orang yang paling bodoh di dalam kehidupannya. Karena cara pandangnya sudah tidak lagi memakai perasaan, etika, moral, akhlak, budi pekerti atau budaya manusia yang masih melihat kehidupan dengan kehangatan, rasa hormat dan menghormati sesama manusia, baik dengan orang tua maupun temannya. Kejujuran bagi anak bukan lagi menjadi kehidupannya, karena kehidupan yang dipenuhi dengan tipu daya dan kebohongan sudah menjadi warna pendidikan. Di mana anak itu berada.

    Kenapa pendidikan menjadi dunia yang penuh dengan tipu daya dan kebohongan yang mencekam bagi setiap orang. Karena ketika sudah masuk sekolah saja anak dikondisikan pada posisi orang yang tidak berdaya dengan penyeleksian dan kasak-kusuk dengan tipu daya muslihat yang dilakukan guru dan kepala sekolah. Yang dilanjutkan dengan sogok sana sogok seni, suap sana suap sini. Kalau tidak ada tipu daya, sogok dan suap bermetofora menjadi iuaran, sumbangan, pengembangan. Yang lebih cantik dan kemilau sekolah mengupayakan dirinya menjadi sekolah terakriditasi A, berstandar Nasional, berstandar Internasional bukan karena kemampuan pendidikan yang memberikan arti kehidupan bagi seorang anak. Tapi media pembelajaran dengan teknologi visual yang canggih, dengan internet yang seolah-olah menjadi sesuatu yang luar biasa dan sebagainya. Tapi toh pada akhirnya bagai mana sekolah dapat meraup uang kalau tidak mau dibilang merampok dengan kemilauan di siang bolong. Karena masyarakat sudah dihipnotis dengan gaya hidup semu, prilakunya sebagai mahluk yang kehilangan hidup yang dia punya. Karena telah direnggut olah fatamogan kehidupan materialisme yang absurd dan tak mendasar. Kering dengan makna dan kehidupannya. Membuat anak-anak seperti ropot cop atau boneka berbi tak lagi berdaging dan bertulang. Wajah atau fisionomi dirinya menjadi datar dan masif, kaku dan membosannya, lentur seperti plasik karena penuh dengan kepalsuaan.

    Membuat media pembelajaran yang berjalan dalam pendidikan bukan lagi belajar tentang kehidupan dan dirinya sebagai manusia. Bagaimana bisa melihat arti sebuah kasih sayang dan kehangatan antara sesama dan mahluk ciptaan Allah. Karinduan anak cinta dan kebenaran menjadi lantunan lagu yang memberikan kesadaran untuk melihat dirinya dihadap Allah itu menjadi sebuah cermin dari kehidupannya. Membuat kejujuran itu menjadi cahaya yang selalu melihat kehidupan itu dengan segala macam cara dengan rasa dan empati yang kuat. Kekuatan pemikiran menjadi sebuah power kehidupan dirinya untuk membangun hidupnya dengan orang lain untuk selalu berbagi. Untuk itu perlu kejujuran dalam sebuah pendidikan ditanamkan menjadi sebuah kehidupan anak dalam melihat kehidupan dengan penuh warna. Tanpa harus merasakan silaunya dunia, suramnya kepedihan yang mendalam sehingga membawa pada kehancuran dan keputus asa disiang bolong tanpa orang tahu siap dia.

    Kanti Kejujuran sebagai media pelajaran adalah sebuah paradigma pendidikan untuk menggembalikan diri anak pada fitrahnya. Karena kehidupan anak yang dibangun dengan kejujuran menjadi anak yang baik. Dalam arti mampu bertanggung jawab, mandiri, teguh dan pemberani. Karena anak belajar mengenai kebaikan dan kebenaran bukan dari matematika 5×5=25 tapi dari proses yang dalam di dalam melihat pembelajaran menjadi lebih menyeluruh menjadi anak merasakan kebaikan dan kebenaran. Karena kebenaran, kebaikan yang menjadi kejujuran itu bukan sebagai pengetahuan. Jadi kejujuran bukan sebuah pengetahuan tapi sebagai sebuah proses kehidupan yang melihatkan semua kecerdasan yang ada di dalam diri anak kognitif sebagai sebuah pemahaman bahwa membeli sesuatu sesuai dengan apa yang menjadi keinginan tanpa harus dihadiri orang lain. Membeli menjadi sebuah proses membeli dengan dirinya sendiri, sehingga menimbulkan kesadaran dirinya untuk bisa memperkaya dirinya untuk selalu berkata sesuai dengan kata hati. Sebagai sebuah kesadaran afektif yang selalu ditumbuh kembangkan pada diri anak. Begitu juga dengan tindakan yang menyangkut motori menjadi sebuah realitas dirinya, karena dia harus bertransaksi dengan hati nurani dan jasmani yang direpresentasi tangannya. Sebagai sebuah tindakan yang terorganisasi dengan sebuah irama kehidupannya. Dengan begitu akan membangun diri anak menjadi warna kehidupan sosialnya begitu sublim untuk bisa melihat permasalahan kehidupan. Yang selalu membentukan dirinya pada hati nurani sebagai suara hati. Membuat kejujuran bukan sebagai slogan dan pengetahuan.

    Tapi itulah yang lagi dilakukan oleh Merdeka Sekolah dan ternyata menjadi sebuah realitas kehidupan yang begitu dasyat bagi seorang anak. Karena kejujuran ternyata masih menjadi sebuah pengetahuan bukan sebagai dirinyanya sendirinya. Hal itu sangat mengagetkan bagi orang yang merasakan kejujuran itu sebuah sebuah keindahan dan keberkahan Allah yang dikaruniakan pada umatnya. Karena anak-anak yang masih bersahaja, jujur apa adanya, ternyata anak-anak itu menjadi prototipe masyarakatnya yang jauh dari kejujuran, pejabat yang korup, bangsa yang bedebah. Dan itu sangat memilukan dan menikam dari belakang dalam sebuah kemerdekaan hidup ini. Tapi itu adalah sebuah proses yang harus diperbaiki dengan kepedihan hati dan tangisan. Mudah-mudah kanti kejujuran ini menjadi media pembelajaran yang baik bagi anak dan guru. Selama kanti kejujuran itu memang menjadi sebuah track bagi merubah kehidupan anak, masyarakat dan bangsa yang korup, karena bangsa ini adalah bangsa ke dua di dunia yang paling korup. Karena menurut pengamatan sudah beberapa sekolah membuat kantin kejujuran tapi hanya dimaknai sebagai sebuah yang tidak berarti, tidak menguntungkan, tidak ekonomi dan tidak menjadi kapitalistik. Karena sekolah memang sudah menjadi kapitalistik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s