Anak Ku Tidak Naik Kelas

Ibu peluk anak1

Sudah aku duga bahwa anakku tahun ini tidak naik kelas. Dari perkembangannya anakku tidak selincah dan secepat teman-temannya. Walau aku menyadari bahwa sebenarnya anakku telah berkembang pesat dibanding masa-masa sebelumnya.

Anakku yang polos itu masih nampak bahagia, berlarian dan bercanda tanpa beban. Dari kejauhan aku duduk dan perhatikan sambil menunggu acara pembagian rapot. Sesekali aku sudah dapat bocoran bahwa dikelas anakku ada 3 anak yang bakal tinggal kelas. Ya aku menyadari anakku mungkin diantara salah satunya.

Kembali aku perhatikan anakku yang begitu cerianya dihari ini. Selintaspun aku tak menemukan rasa gundah dan galau bahwa dirinya akan tinggal kelas ditahun ini. Anakku masih riang bermain bersama teman-teman sekelasnya, yang juga telah menjadi saudara-saudara kembarnya. Tanpa terasa mata ini meneteskan butiran-butiran kasih. Rasa ini kembali menembus hati, bagaimana kalau anakku tahu bahwa dia tinggal kelas di tahun ini. Apakah rasa bahagia dan rianggnya yang mulai tumbuh itu akan kembali sirna oleh ritual akademis yang mengganjalnya untuk bisa menjaga rasa gembiranya.

Entah kenapa aku begitu mengkhawatirnya kondisi jiwa anakku, maklum mungkin ini karena aku sangat menyayanginya. Anakku sudah sekian waktu terlelap dalam keminderan dan terpuruknya semangat untuk menjalani masa kecilnya dengan riang. Kini sebenarnya dia telah bersua dengan alam yang bisa menerima dan membangkitkan asanya. Namun sayang sekali, ketentuan akademis harus yang harus memupus harap yang mulai bersemi. Anakku, aku sangar menyayangimu. Ma’afkan mungkin semua ini karena salah kedua orang tuamu.

Tanpa terasa kian deras air mata ini, dan tak kuasa harus aku bendung dengan sapu tangan yang sudah mulai basah ini. Hatiku semakin tersayat ketika dari kejauhan anakku berteriak lantang ‘Aku naik kelasssssss. Aku kelas dua horeeee’, sambil mengepalkan tangannya dan berlarian bersama teman-temannya.

Namun suasana harus berubah ketika sudah ada pemberitahuan bahwa pembagian rapot untuk anak kelas 1 akan segera dimulai dan  orang tua siswa dimohon untuk memasuki kelas ‘Mawar’. Sebelum masuk aku menuju kamar mandi untuk sekedar menetralisir bahwa aku barusa menanggis melihat haru buah hatiku.

Setelah sekilas pengarahan dari wali kelas, pembagian rapotpun dimulai.Tiga penerima rapot yang pertama selalu keluar dengan wajah sumringah dan nampak bahagia. Beberapa  anak lagi pasti giliran aku, dan betul aku dipanggil. Bissmilah aku pasrah, toh semua memang telah kehendak Alloh. ‘Iya bu…, bagaimana hasilnya Ramdhan…’ tanyaku tak sabar. Dengan tersenyum dan pelan guru wali kelas itu menjawab, ‘ Ibu…., kami memahami bahwa Ramdhan anak kita memang berbeda dengan anak-anak kita yang lain. Kita sangat menyayangi Ramdhan dengan segala apa yang dia punya. Kita dari pihak sekolah telah berdiskusi panjang dan penuh pertimbangan. Namun ketentuan akademis yang memang belum bisa kita langgar. Jadi Ramdhan sebenarnya secara sosial, psikologis dan lainnya telah memenuhi syarat untuk bisa berkembang ditingkat lebih lanjut. Namun nilai akademisnya ternyata harus diperdalam lagi dikelas 1 ini. Jadi ananda Ramdhan harus mendalami lagi pelajaran-pelajaran di kelas 1. Jangan kawatir bu, saya yakin tahun depan Ramdhan akan bisa lebih baik dan berprestasi lagi. Mohon ma’af ya bu, yang penting kita mari sama-sama untuk menguatkan semangat ananda Ramdhan yang sedang tumbuh ini’.

Setelah menarik nafas dalam-dalam aku berusaha tegar setelah beberapa saat tak bisa berucap apapun,’Terimakasih bu, saya sudah menduga sebelumnya memang Ramdhan pasti bakal tinggal kelas. Bagi saya tidak masalah bu, namun saya kasihan sama Ramdhan karena dia baru saja bisa bahagia dengan teman-temannya, nanti kalo dia tinggal kelas akan ketemu teman-teman yang baru tentu akan beda lagi perlakuannya terhadap Ramdhan, saya kasihan sama Ramdhan bu’. Dengan kembali menghibur dan menguatkan saya  wali kelas satu menyemangati saya ‘Bu…, kita semua disini sayang sama Ramdhan, Ramdhan adalah anak istimewa bu. Yakinlah bu kita akan membantu untuk memberikan semangat kepada Ramdhan untuk terus bisa sekolah disini. Jangan kawatir bu, ini juga untuk melatih Ramdhan agar bisa memulai belajar hidup. Bahwa hidup tak selamanya berjalan seperti yang kita harapkan, karena ada Tuhan yang mengatur segalanya. Semangat ya bu !!!!!’.

Setelah berpamitan saya keluar ruanggan, dan betapa terkejut dan tidak kuasanya aku ketika Ramdhan ternyata sudah berdiri di depan pintu sambil merangkul aku. Yang membuat aku semakin tak kuasa menahan tangis adalah  ucapan yang pertama keluar dari lisannya ‘Bu…., Ramdhan enggak naik ya ???. Gak papa bu, Ramdhan sudah siap kok. Maafkan Ramdhan ya bu, Ramdhan mengecewakan ibu’. Tanggisku semakin tidak terbendung dan semakin kupeluk erat tubuhnya yang lembut itu. ‘Tidak Ramdhan, Ramdhan anak pinter, Ramdhan anak pinter. Ibu bangga sama Ramdhan. Ramdhan anak baik…’, ucapku sebisanya. ‘Ibu, gak usah cemaskan Ramdhan ya bu, Ramdhan ikhlas kok menerima ini, Ramdhan akan belajar lebih keras lagi tahun depan. Ramdhan pingin terus sekolah bu, sampai Ramdhan bisa naik kelas walau entah kapan semua itu bisa Ramdhan wujudkan’ tambah Ramdhan yang semakin membuat hatiku tidak karu-karuan. ‘Sudah ya Ramdhan kita pulang dulu ya sayang. Bapak sudah menunggu di rumah, Bapak sudah pulang dari tugasnya. Ayo kita pulang ya sayang’. Sambil menatap wajahku, buah hatiku yang tulus ini bertanya ‘Buuuu, kira-kira Bapak marah gak ya Ramdhan tidak naik kelas ?’. Tanpa aku jawab kupeluk semakin erat tubuhnya yang lembut itu.

‘Ramdhan kita semua sayang dan bangga sama kamu’

(Tanda S)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s