Rapor Anak Merdeka


“RAPOTAN”

“Anak-anak Nilai Kalian bagus-bagus, namun mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, untuk itu ayo disisa semester ini kita tingkatkan belajar kita lebih baik.” Demikian kata pembuka yang disampaikan oleh Kepala Sekolah ‘Perjuangan’. Anak-anak nampak antusias dan didadanya seakan bergelora bahwa semester depan harus lebih baik. Setelah kalimat itu berakhir maka Kepala Sekolah mempersilahkan puluhan anak-anak itu untuk bermain diluar kelas sepuasnya. Dan orang tua tetap tinggal dikelas untuk berdiskusi tentang berbagai hal ikhwal tentang sekolah dan anak-anak.

Diawali Kepala Sekolah mempresentasikan berbagai perkembangan kondisi sekolah dan proses belajar mengajar. Kepala sekolah Perjuangan mengharapkan agar sekolah ini memiliki semangat perjuangan yang jauh kedepan. Berbagai ide  maju dilontarkan mulai dari bagaimana  menyikapi cara anak belajar hingga manajemen/Organisasi belajar modern ditawarkan. Kedepan anak-anak akan hidup dalam era yang digital, era tanpa batas jarak, waktu dan tempat. Kepala Sekolah berharap agar dunia pendidikan di sekolah Perjuangan juga bisa mengantisipasi hal tersebut. Sekolah ‘Maya’ atau ada yang menyebut sekolah digital diharapkan dapat dirintis di sekolah ini. Bagaimana sekolah dapat memiliki perpustakaan digital, orang tua bisa memantau kegiatan belajar mengajar di kelas dengan sambil memasak dirumah, karena koneksi antara ruang belajar dengan rumah sudah disambungkan secara online dengan bantuan perangkat CCTV yang langsung dihubungkan dengan internet dengan teknologi teleconfrence. Sungguh ide yang maju, yang mana saat ini hanya dapat dijalankan oleh sekolah-sekolah bertarif mahal dan berlabel modern (international school).

Sementara orang tua menyikapi dengan dingin atas gagasan tersebut, maklum untuk mewujudkan impian sekolah maya tersebut memang tidak semurah  dan semudah yang dibayangkan. Kalau mudah sih memang mudah namun tidak murah itu adalah sesuatu hal yang wajib. Seorang wali murid mengacungkan tangan dan berkomentar, ‘Pak bagaimana kita bisa mewujudkan sekolah Maya yang berbasis teknologi cangih, sementara sekolah ini belum memiliki telepon sekolah. Kita yang realistis aja pak penuhi dulu yang sederhana-sederhana baru yang ‘wah’. Trus gimana kami bisa memantau melalui dunia maya kan, saya tidak punya internet pak ?’. Dengan tenang Kepala sekolah menjawab komentar tersebut, ‘Pak, terimakasih atas komentarnya. Ini adalah pancingan kepada Bapak/Ibu sekalian, kami menginginkan sesuatu yang terbaik. Dengan adanya kelas digital ini, Bapak/Ibu dapat memantau bagaimana proses belajar mengajar yang ada disekolah, nah dari situ apabila ada yang kurang atau tidak sesuai bapak/ibu bisa langsung memberikan masukan ke sekolah sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih baik. Itu harapan pak. Intinya adalah sekolah berkeinginan agar proses belajar mengajar atas anak kita ini mari kita kawal bersama. Kalau menyangkut peralatan untuk cita-cita itu memang mahal pak, namun saya berharap semangat itu tetap ada pada kita semua, agar sekolah ini kedepan lebih maju. Masalah realisasi itu tentu tetap berpijak pada kemampuan sekolah dan bapak/ibu sekalian. Nah masalah telepon akan kita upayakan pak terimakasih atas masukannya’.

Belum selesai  Kepala Sekolah menutup jawabannya, ibu-ibu yang hadir berebutan untuk menyampaikan pertanyaanya. Seorang ibu paruh baya semangat untuk mengajukan masukannya ke sekolah, ‘Pak saya kritik kepada sekolah Perjuangan. Selama ini anak-anak sekolah lain pada sibuk ikut lomba ini dan itu bahkan apa itu ikut olimpiade macem-macem. Mana sekolah kita, sekalipun kita belum pernah mengirimkan anak untuk kompetisi dengan sekolah lain. Terus terang pak, orang tua ini merasa bangga kalau anaknya misalnya juara ini atau itu, ini untuk mengukur bahwa anak kita itu unggul dibanding yang lain. Mohon pak anak kita diikutkan lomba-lomba yang ada diluar ( sekolah lain) !”

‘Baik Ibu-ibu dan Bapak-bapak sekalian, memang kita belum aktif ikut lomba-lomba yang diadakan sekolah-sekolah disekitar kita. Memang kita pernah mengirim anak kita untuk ikut lomba Adzan, namun tidak berhasil karena komba yang ada tidak mengelompokkan anak berdasarkan kelas namun SD secara  umum aja. Nah akhirnya kita evaluasi bahwa pengiriman anak kesekolah lain itu kita lihat dulu ada pengelompokan atau tidak. Sebagaimana diketahui  anak-anak kita baru kelas III yang paling tinggi jadi kalau berkompetisi dengan sekolah lain yang sudah lebih tinggi kelasnya ya mungkin akan kalah. Nanti setelah kelas IV anak-anak akan kita persiapkan untuk berlomba. Namun masukannya kami terima” jawab  Kepala Sekolah singkat.

Masih banyak pertanyaan dan jawaban yang terjadi dalam rapat itu. Ada yang mengusulkan ada kota saran, ada media SMS untuk pengaduan atau yang lain-lainnya. Semua terjadi dalam pertemuan tersebut. Namun waktu pembagian raport harus dijalankan sehingga acara tersebut diakhiri dengan pembagian rapot ke kelas masing-masing. Pertemuan yang sungguh berarti dimana hubungan antara sekolah dan orang tua murid memang harus dibangun sedemikian rupa agar proses belajar dan mengajar bisa berlangsung baik di sekolah. Pendidikan yang sinergi antara sekolah, orang tua murid dan lingkungan ada faktor yang penting dalam pencapaian tujuan belajar. Menimpakan semua tanggung jawab belajar kepada sekolah adalah tidak adil, menyalahkan orang tua dirumah juga tidak pas dan membiarkan masyarakat tidak peduli pada proses belajar juga harus dihindarkan. Sebuah proses pendidikan yang komprehensive sebagai bentuk implementasi fardhu kifayah harus dijalankan oleh seluruh stakeholders agar tujuan asasi pendidikan itu dapat tercapai.

Memang perlu kerja Keras, Cerdas, Tuntas, Kualitas dan Iklas (5 as) untuk mewujudkan pendidikan yang baik.

(T.Setiya)

One thought on “Rapor Anak Merdeka

  1. I agree, setuju untuk pendidikan menjadikan manusia menjadi manusia secara utuh. To be the real moslem, to respect each other, to get closer with nature, to be the leader in the future,,,, Totemo sugoi,,,,Smart idea pak, kalaupun saya adalah orang gaptek, tapi adalah impian kelak anak bisa kuasai high technology,,,, At least, bila tak terwujud sekarang, maka impian ini adalah kenyataan esok hari,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s