GALAU


GALAU

Sekolah itu masih sepi, hanya pak Tukiran yang sedang membersihkan lantai sekolah karena hujan tadi malam membasahi ruang kelas II yang atapnya sudah mulai bocor. Bu Retno nampak sudah datang dan terlihat galau. Sambil membuka pintu kantor wajahnya yang sudah mulai bergelombang itu disinari mentari pagi yang hangat. Entah apa yang sedang dipikirkan, cukup lama dia tak beranjak dari jendela kayu yang sederhana itu. Sinar mentari pagi seolah tak mampu menyengat rasanya, wajahnya memandang kearah yang tak berujung. Dan air mata jernih mulai menetes beruntutan menuju bibir lalu jatuh setelah melewati batas dagu.

‘Bu Retno, ini tehnya bu ‘, suguh mbok Tijah istri pak Tukiran yang tinggal disudut kecil sekolah. Tak ada jawaban, akhirnya mbok Tijah menggulangi lagi suguhnya. ‘Bu …, ini tehnya bu. Mumpung masih hangat bisa untuk tombo haus bu…’. Perlahan seolah tak ada apa-apa bu Retno, menjawab ‘ Makasih mbok ….,’. ‘Saya pamit dulu ya bu…., lagi ngoreng bakwan, takut gosong’ pinta mbok Tijah. ‘Baik, mbok silahkan’ jawab bu Retno. Langkah mbok Tijah belum sampai keluar pintu kantor, bu Retno memanggil ‘ Mbok Tijah…’. Kontan mbok Tijah menjawab ‘ ada apa bu ?’ . ‘ E , e e. Gak papa mbok . Gak jadi. Ma’af  ya mbok ‘ balas bu Retno. ‘ Ya udah, saya ke dapur dulu ya bu 1`, bermisi mbok Tijah ulang.

Kegalauan itu semakin kentara, bu Retno tampak mondar-mandir lembut di ruang kantor yang tak luas itu. Sesekali ingin duduk, namun urung dan berjalan lagi. Diluar, suara beberapa anak mulai memecah sepinya sekolah. Suara motor dan sepeda sudah ikut mewarnai pagi itu. Namun semua itu masih belum mampu membuang kegalauan bu Retno.
Pak Arif, guru baru itu mengucap salam ‘Assalammu’alaikum’. ‘Waalaikumsalam’ jawab bu Retno. ‘Wah bu Retno udah datang duluan nich, saya kira saya yang paling pagi. Maklum bu guru baru harus dateng pagi biar kinerjanya dikira bagus he he he’, kelakar pak Arif. Bu Retno menjawab, ‘Ah pak Arif bisa aja’. Kemudian suasana senyap lagi dan bu Retno, nampak berusaha untuk menyembunyikan kegalauannya dengan mengusap wajah dengan sapu tangan warna biru.

Beberapa guru juga sudah mulai berdatangan, namun bu Retno malah memilih untuk bergegas ke belakang sekolah menuju rumah kecil mbok Tijah. ‘E e ee, bu Retno, ada apa bu’ sambut mbok Tijah. ‘Masih repot ya mbok ? tanya bu Retno.’ Ya,  ini, bu, lagi nyelesaiin ngoreng bakwan dan tempe. Lumayan anak-anak pada seneng. Ada opo ya bu kok tumben pagi-pagi kesini ?’ tanya mbok Tijah. ‘Begini mbok…, saya agak galau. Tadi malam saya agak berselisih paham dengan Mas Condro. Saya diminta untuk berhenti mengajar, karena diajak pindah ke kampung. Mas Condro udah gak bisa lagi usaha disini, katanya sulit dan hanya menambah utang saja. Saya diajak pulang kampung untuk mengawali hidup dikampung dan saya mungkin bisa mengajar mencari sekolah dikampung. Tapi saya berat sekali rasanya. Sudah 5 tahun disekolah ini saya berat rasanya untuk berpisah dengan anak-anak yang saya didik sejak kelas satu, saat sekolah ini baru berdiri. Saya sebenarnya pingin minta waktu setahun lagi agar bisa menyaksikan anak-anak itu lulus dengan baik dari sekolah ini. Saya merasakan bagaimana susah payahnya sekolah ini hingga sekarang menjadi lebih baik. Saya merasakan sekolah ini sudah rumah kedua bagi saya. Namun Mas Condro, tetep bersikukuh pada pendiriannya. Saya hanya dikasih waktu 2 hari, mau tidak mau harus pulang kampung untuk mengawali hidup baru disana, bagaimana ya menurut pendapat mbok Tijah…?’. Sambil menghela nafas dalam mbok Tijah perlahan menjawab, ‘Woooh begitu masalahnya ya bu?. Kalau saya ya, paling hanya bisa urun rembug, sebaiknya ibu turuti kehendak pak Condro. Bagaimanapun beliau kan suami ibu, jadi harus diikuti. Kalau masalah pekerjaan, rejeki dan anak-anak disini, ikhlaskan saja bu, kan sudah banyak guru-guru yang lain. Saya juga menyayangkan kalau ibu harus pergi. Namun hidup itu kan memang pilihan bu. Semoga di tempat yang baru nanti ibu bisa berbuat lebih baik dan tetap bisa berbakti pada pak Condro’.
Bu Retno terdiam, dan belum sempat menjawab arahan mbok Tijah, lonceng sekolah berbunyi tanda pelajaran akan dimulai. Akhirnya bu Retno pamitan dan bergegas menuju kelas dengan hati yang GALAU .
Tanda S.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s