Mengajar atau Menghajar ?


Mengajar atau Menghajar

Mengajar Atau Menghajar ?

Dalam dunia pendidikan guru merupakan figur yang menjadi penting dalam proses pengajaran. Karena sebagai orang yang mendidik harus bisa memberikan gambarkan yang penting bagi anak didik dalam proses pembelajaran. Yang mempunyai tugas selain mencerdaskan anak bangsa juga guru sebagai agen perubahan.

Untuk itu sikap dan pola laku guru itu menjadi lebih penting, bahwa guru adalah subyek pembelajaran yang mampu melihat peserta didik sebagai subyek pembelajaran. Dengan begitu guru memberikan pedampingan dan pelayanan pada peserta didik untuk bisa belajar dan mengembangkan proses pembelajaran. Untuk itu guru di dalam proses pembelajaran peserta didik bukan sebagai obyek pembelajaran yang hanya menerima materi pembelajaran. Guru menjadi pusat pengetahuan dan informasi sekaligus kekuasaan. Hal ini yang masih terjadi di dalam dunia pendidikan kita bahwa guru mengajar menjadi sebuah bentuk kekuasaan yang mutlak terhadap peserta dididk. Guru di dalam mengajar sudah kehilangan orientasi pembelajaran di dalam kelas, karena beroreintasi pada materi pembelajaran dan materi. Karena guru bukan lagi menjadi yang pantas untuk diteladani oleh siswa tapi orang yang dimusuhi dan takuti oleh siswanya. Dengan prilaku yang bukan lagi sebagai orang yang diteladani, dan mendamping serta memotivasi. Karena guru menentukan masa depan anak dengan kekuasaan sebagai guru yang bisa menentukan anak itu pintar atau tidak, nakal atau tidak, baik atau tidak. Kepribadian anak ditangan guru sudah tidak ada lagi dan tidak mampu berkembang sesuai dengan fitrahnya sebagai seorang anak yang selalu ingin berkembang dan menemukan dirinya. Karena anak mengalami kekerasan verbal dalam bentuk perkataan yang tidak baik bagi seorang pendidik dan tidak lepas juga mengalami kekerasan fisik. Dengan demikian sikap guru di dalam mengajar sudah kehilangan subtansi, yaitu mengembangkan kemampuan dan kepribadian anak. Membuat anak tidak terdaya dan kehilangan pribadi sebagai anak yang mempunyai masa depan yang baik. Karena guru bukan lagi mengajar di dalam kelas atau di depan kelas, tapi menghajar anak-anak dengan prilaku guru yang kurang berkenan dalam penampilannya yang arogan, orang yang merasa paling benar, sikap kasar dengan kekerasan verbal dengan mencap anak yang bodoh, tidak mampu mengikuti pelajaran, anak kurang ajar, anak malas dan tidak mempunyai masa depan. Belum lagi dengan memberikan nilai yang tidak sesuai dengan pola pendidikan yang benar, karena memberikan nilainya hanya tebak-tebak dan sangat subyektif. Dan lebih parah lagi ada guru yang jarang memeriksa hasil ulang siswa karena banyak guru mengajar dibeberapa kelas, sehingga mengambil dinilai dengan rata-rata atau sesuai dengan ingatnya ketika guru berinterasi di sekolah. Seharusnya guru mampu memberikan rasa aman pada siswa dengan begitu anak akan merasa senang dalam mengikuti proses belajar mengajar. Anak yang tidak bisa sedikit demi sedikit akan berkembang. Kalau ada itu dalam keterbatasan, tapi ada sesuatu yang muncul dari diri akan karena guru mengajar dengan ketulusan hati bukan dengan manghajar. Guru adalah orang tua sebuah peradaban yang mempunyai amanah untuk selalu melahirkan anak yang baik dalam arti tumbuh dan perkembangnya anak sesuai dengan kemampuan dan kepriadian anaknya. Guru sebagai orang yang dikenal dengan “Tut Wuri Handayani”, didepan sebagai teladan, diantara siswa sebagai pedamping, dibelakang memberikan motivasi, sehingga anak berkembang dengan kepribadiannya sendiri secara lebih baik. Guru mampu melihat pontensi yang ada di dalam diri anak sebagai sesuatu yang harus dikembangkan. Dengan demikian anak akan menjadi lebih mudah mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Karena guru telah memberikan rasa aman dan nyaman pada anak. Dengan rasa aman dan nyaman ini yang tadinya anak itu tidak mampu menguasai materi pembelajaran menjadi mampu menguasai materi pembelajaran. Karena mekanisme otaknya berkembang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh anak. Begitu juga menumbuhkan motivasi yang kuat pada anak untuk bisa menguasai materi pembelajaran. Kesulitan bagi anak menjadi sebuah tantangan yang disambut dengan senang dan semangat untuk dapat menyelesaikan masalah itu. Karena peranan guru yang memberikan anak untuk mau berusaha untuk bisa menyelesaikan masalahnya. Untuk itu guru bukan hanya bisa menguasai materi pemelajaran yang baik, tapi juga mempunyai tujuan pelajaran yang jelas bagi peserta didik. Dengan membuat desain pembelajaran dengan baik, sesuai dengan visi dan misi pendidikan. Dengan demikian anak akan mampu mengetahui tujuan pelajaran dari materi pembelajaran yang diberikan. Begitu juga guru mempunyai pola berpikir dalam mengajar itu sesuai dengan amanah sebagai orang tua yang mampu mengembangkan kemampuan dan kepribadian anak. Untuk itu guru mengajar dengan segala kerendahan hati dan kasih sayang serta ketulusan hati agar mampu menumbuhkan suasana belajar menjadi lebih baik. Karena kemampuan guru di dalam mengajar bukan saja menguasai materi pembelajaran dan pintar tapi juga guru yang mempunyai visi pendidikan yang baik. Sehingga guru di dalam mengajar menjadi sebuah suasana yang mampu menumbuhkan dunia anak pada realitas kehidupan dan masa depannya. Kemampuan guru selain dari mengajar juga karena kemampuan berempati yang tinggi. Di mana empati guru itu muncul karena guru mengajar bukan dengan paradigma pendidikan positifis logis tapi dengan hati yang tulus, sehingga kemampuan guru bisa dilihat oleh peserta didiknya menjadi sumber pembelajaran yang menguatkan. Dengan demikian guru mengajar akan terlihat sebagai bagian dari kehidupan anak yang membutuhkan suasana yang baik dan mengenal apa yang menjadi permasalahan anak. Inilah guru mengajar dengan hati. Yang berbeda guru mengajar tidak dengan hati, sehingga yang muncul dari proses pembelajaran dikelas guru adalah menghajar anak. Dengan pendekatan untuk saling berbagi antara guru dan peserta didik. (Tri Aru)

2 thoughts on “Mengajar atau Menghajar ?

  1. Pembagian rapot bayangan merupakan tahap pretest untuk melihat kemampuan anak menyerap mata pelajaran, Dengan itu akan mellihat hasilnya sebagai indikator pembelajaran yang dilakukan itu memang sudah dapat diserap oleh siswa atau belum. Kalau belum dan sudah memperlihatkan sebuah strtegi pembelajaran yang bagaimana untuk dapat mencapai tujuan atau yang harus dipertahan dan dikembangkan menjadi model pembelajaran yang sesuai dengan siswa untuk dapat menyerap pelajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s