It’s Me


it’s me

Setiap anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang menjadi impresi atau apa yang dia tangkap sebagai mana mestinya. Dan anak akan menangkapnya dan direpresentasikan atau dijadikan sebuah prilaku bagi anak. Membuat anak menjadi prilaku yang kita lihat, ada anak yang baik, lincah, suka bicara, pendiam, iseng, nakal, tidak bisa diam, suka menangis, suka melawan, suka berantem, susah dibilangi, dan banyak lagi. Tapi itu semua ada pada sebuah proses di mana anak ada dalam situasi kondisi lingkungan dan masyarakatnya yang memberikan contoh dan pengetahuan tentang prilaku yang menjadi acuan atau contoh dari anak. Membuat anak itu menjadi apa yang dikatakan anak bermasalahan dan tidak bermasalah. Semua itu berada dalam relasi, hubungan anak dengan lingkungan baik dirumah, sekolah dan bermain yang berkaitan dengan televisi, game dan dunai informasi lainnya. 

Untuk itu bisa kita lihat apa yang ada dalam diri anak itu yang dimulai dengan kognitif yang menangkap pembelajaran dan pengalaman sebagai pengetahuan yang dimulai dengan mengingat apa yang menjadi ketertarikan terhadap permasalahan atau menjadi sesuatu yang diminatinya dan menghafal fakta sebagai sesuatu pengetahuan yang coba untuk diingat menjadi sebuah fakta dirinya, untuk gagasan berangkat dari apa yang menjadi respon dalam mencernanya, dan fenomena apa yang dilihat dirasakan. Semua itu beranjak menjadi sebuah pemahaman yang coba diterjemahkan, mengiterpretasikan, menyimpulkan dengan pandanganya dan konsepnya sendiri. Dari situ kemudia dipraktekkan sebagai prilaku yang mempergunakan konsep, prinsip, prosedur untuk melakukan sesuatu, misalnya saja disekolah ada kantin jujur dengan sendiri anak akan belajar dan mempunyai pandangan tentang kejujuran bahwa membeli makanan dengan meletakan uang ditempatnya yang sudah tersedia, begitu juga kalau mengambil pengembalian sesuai dengan harganya. Dengan begitu terjadi sebuah analisis dengan menjabarkan bahwa kejujuran menjadi sebuah gagasan nilai dari ajaran agama. Dari situ akan terjadi sintesis yang menyatukan konsep jujur dengan mengintegrasikan menjadi bentuk gagasan yang menyeluruh bahwa kejujuran itu memang menjadi budaya orang muslim. Sebagai bentuk nilai yang menjadi sebuah evaluasi bagi setiap orang muslim.

Untuk pengologan Afektif menjadi sebuah kepribadian anak berkaitan dengan kehidupan sosialnya. Karena pertumbuhan afektif atau kepribadian anak dimulai dengan peniruan pada orang lain terutama orang tua dan gurunya, kalau disekolah. Kemudian peniruaan selanjut berasal dari lingkungannya, baik teman, orang tua lain, televisi, game maupun internet. Peniruan ini akan berlanjut menjadi sebuah respon yang menangkap untuk ditanyakan dan kemudian menjadi value atau nilai yang dianggap baik atau buruk bagi pandangan anak. Karena dari situ anak akan melihat prilakunya yang berkaitan dengan lingkungannya baik dirumah dan disekolah, seperti halnya kejujuran dalam jajanan itu menjadi sebuah simulasi anak dalam melihat tatanan sosial yang ada disekolah, karena sekolah yang melakukan itu dengan kantin jujurnya. Karena kejujuran menjadi sebuah norma sosial dengan sendirnya anak akan menjadi anak jujur sebagai representasi dari karakter yang terbentuk.

Sudah tentu hal ini sejalan dengan perkembangan motorik yang memberikan bentuk dan kekhasan yang menjadi bagian dari sebuah kognitif dan afektif, dari sebuah pengetahuan dan kepribadian anak untuk diaktualisasikan sebagai prilakunya. Hal inilah yang perlu dilihat dari proses dari perkembangan kognitif dan afektif anak agar anak akan menjadi manusia yang menyempurnakan dirinya. Kemammpuan dan kopetensinya menjadi sebuah tujuan sebagai anak yang bisa menjadi anak yang sholeh dan mandiri dalam kehidupannya. Karena dengan sholeh dan mandiri akan melahirkan sikap kepemimpinan yang kreatif dan bijak dalam melihat permasalahan. Itu semua harus dimulai dari rumah dan sekolah untuk bisa bekerjasama dengan baik. Kerjasama dalam arti memberikan contoh dan suasana lingkungan atau hubungan orang tua dan guru sebuah sesuatu yang memang patut untuk dijadi contoh bagi anak.

Kerjasama bukan didasarkan pada pragmatisme, yang hanya pada oreintasi pada materi, membayar dan dibayar. Tapi bagaimana menjadikan dunia pendidikan yang dilihat sebagai sekolah ini memang membuat orang tua dan guru itu sebagai contoh dalam mengelola pendidikan yang baik, seperti apa yang dimulai dengan Merdeka Sekolah dengan pola pendidikan yang berorientasi Islam ini dilihat dari manajemennya dengan berbagi, infaq, sedekah dan sakat diharapkan akan menjadi dasar pendidikan yang memberikan suasana dan warna yang memberikan kebaikan bagi anak. Karena anak akan merasakan hal itu dalam proses pendidikan yang menjadi inti dari kepribadian anak yang menyangkut kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), motorik (kebiasaan) yang selalu dibangun dari kerjasama orang tua dan sekolah. It’s Me. (T. Aru)

2 thoughts on “It’s Me

  1. Parfum Menangis di Batu

    Langit biru bernyanyi dalam senandung tanpa kata, membuat daun-daun berharap ada sesuatu yang ingin disampaikan. Sebagai kenangan yang tak akan pernah ada. Meskipun embun pagi itu selalu hadir di fajar menyingsing. Senyuman batu itu tak kan lari dari kehidupan. Suara anak-anak kekecil itu warna dari dinamika masa depan yang selalu berharap mentari selalu menyinari. Angin bermain dengan irama dan rintikan hujan untuk berkata tentang makna-makna kehidupan.Gang kecil dengan saluran air yang menyebar bau menyengat seolah berbicara ketidak adilan yang meningkam rakyat kecil. Karena minyak wangi menghayutkan orang pada titik nadir dalam kehidupan mewah.

  2. PENDIDIKAN PADA KEASLIAN HIDUP INI
    Oleh : Tri Aru Wiratno

    Pendahuluan
    Dunia pendidikan mempunyai peran penting dalam perkembangan masyarakatnya, sebagai nadi dari kehidupan sosial di dalam memahami dan membentuk pola masyarakatnya yang bisa memberikan keselarasan dalam hidup bermasyarakat yang teratur. Karena pendidikan menjadi cermin dari masyarakatnya untuk dapat melihat sejauh mana kaidah, norma atau aturan hukum yang mengatur kehidupan sosial itu berfungsi sebagai mana mestinya.
    Begitu juga sebuah budaya atau bangsa yang maju bersumber dari pendidikannya. Karena pendidikan mendorong budaya kehidupan sosial masyarakatnya untuk dapat mengembangkan kepribadian yang baik, yaitu berbudi luhur dan mampu mengembangkan pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat banyak, yaitu bangsa dan negara. Sejalan itu juga memberikan ruang yang luas bagi kreativitas dan karya cipta menjadi sebuah kebutuhan yang mampu membangun jiwa dan pikiran masyarakatnya untuk maju jauh lagi kedepan. Untuk menghadapi tantang yang lebih luas dan dapat memberikan kontribusi pada peradaban dunia.
    Dengan begitu kita dapat menggambarkan bahwa dunia pendidikan menjadi sebuah obor dari semangat masyarakat. Untuk selalu maju dalam semangat kebersamaan membangun cita-cita yang memberikan banyak kemungkinan pada sebuah tujuan masyarakatnya, sebagai pola untuk saling membangun dan berbagi dalam kehidupan yang lebih baik. Membuat kehidupan sosial masyarakat menjadi lebih baik karena pola kehidupan sudah tumbuh berkembang menjadi sebuah sistem sosial yang menaungi kehidupan masyarakatnya. Karena dengan baiknya sistem dan budaya masyarakatnya dengan sendirinya akan memberikan rasa nyaman pada anggota masyarakatnya. Dengan sistem yang baik dan memfasilitas kehidupan masyarakat mampu membangun semangan budaya untuk selalu berkembangan dengan baik, baik dalam seni budaya dan ilmu pengetuhuan yang disempurnakan dengan ketaatan menjalana nilai fitriah manusai yang beragama sebagai representasi dari kehidupan masyarakatnya yang baik.
    Karena itu semua peranan pendidikan di masayarakat itu memang berjalan sebagai mana mestinya, sejalan dengan perkembangan masyarakatnya, pendidikan tumbuh dan berkembang dari perkembangan dan kesadaran masyarakatnya dalam mencapai tujuan hidup yang ingin di capainya. Untuk itu pendidikan dapat merubah seseorang yang tidak pernah tahu dan mengerti tentang sesuatu menjadi mengerti tentang sesuatu. Dari yang tadinya tidak beradab menjadi bangsa beradab, wujud kesatuan dari kehidupan itu, yang ada dalam dunia pendidikan.
    Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan memengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya memengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut.
    Membuat dunia pendidikan bukan sesuatu yang berada diluar diri seseorang tetapi sesuatu yang memang telah melekat di dalam kehidupan disetiap orang. Karena hal itu memang telah ada, dan yang dibawah oleh manusia ketika dia lahir. Bahwa pendidikan bukan milik seseorang atau lembaga tertentu. Tapi pendidikan memang sudah menjadi dunia kehidupan manusia di dalam mengaktualisasikan diri di dalam kehidupan sosial masyarakatnya, dan bukan itu saja sudah menjadi bagian anamah dari kehidupan manusia terhadap Allah swt. Hanya saja aktualisasi berbeda-beda sesuai dengan minat dan kemampuan setiap orang di dalam menginternalisasikan dan mengungkapkan sebagaimana mestinya. Sesuai dengan kapasistas kemampuan setiap orang atau suku bangsa untuk bisa diintegrasikan menjadi menjadi sebuah warna kehidupan manusia dalam realitas sosial sempurna. Namun untuk mencapai pemahaman dan tujuan realitas sosial yang sempurna perlu adanya proses yang mampu memberikan kemungkinan pada setiap orang untuk selalu dapat memberikan yang terbaik. Untuk itu perlu ruang yang kodusif itu mengaktualiasasikan kinerja, kreativitas dan pemikiran yang inovatif. Hal itu terdapat dalam ruang pendidikan di mana proses pembelajaran menjadi satu kebutuhan bagi setiap orang untuk mengembangkan diri secara lebih baik. Agar bisa memahami diri dan kehidupan realitas sosial sebagai masyarakat atau suku bangsa yang berkaitan dengan kehidupan global.

    Dasar Pemikiran
    Bahwa manusia memerlukan sebuah elemen yang mampu untuk mengetahui apa-apa yang tidak diketahui secara lebih baik. Untuk itu perlu ada upaya untuk melihat pembelajaran itu dengan melalui pendidikan. Karena apa yang dilakuan oleh para Nabi utusan Allah itu dimulai dengan pembelajaran, seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Adam yang diajarkan Allah tentang benda-benda yang ada di alam kehidupan dan kehidupan alam semesta ini, dengan menyebutkan bentuk dan benda-benda yang ada dialam semesta ini. Begitu juga Nabi Ibrahim dengan keingintahuan yang begitu besar tentang Allah itu dia memulai dengan sesuatu yang ada di alam ini, membaca alam yang kemudian mencoba mengidentifikasi gunung, matahari, bulan dan kemudian Nabi Ibrahim menemukan keesaan Allah dengan mengatakan bahwa alam semesta berserta isi ada yang menciptakannya. Allah Maha Besar, Maha Agung, Maha Indah. Membuat Nabi Ibrahim dikenal dengan Bapak para penyebar agama, Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw, secara garis keturunan juga memang dari Nabi Ibrahim. Di mana yang diajarkan pada Nabi Muhammad saw adalah dengan Iqro, bacalah. Karena dengan membaca itu setiap orang akan mengetahui sesuatu yang tadinya tidak diketahuinya. Inilah yang sekarang kita kenal dengan pendidikan, di mulai dengan pembelajaran.
    Sistem pembelajaran dimulai dengan kebutuhan manusia ingin tahu lingkungan dan keberdaan dirinya sebagai manusia berada dalam posisi apa. Untuk itu dia belajar dengan berbagai macam cara yang dilakukan, sehingga lahir pada yang dinamakan dengan sistem pendidikan yang pada saat ini. Sebagai sebuah lembaga yang dinaungi oleh pemerintah dan dibantu oleh masyarakat yang mempunyai kepedulian pada masalah pendidikan. Belajar merupakan interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
    Dengan begitu terjadinya sinergi di dalam proses pengembangan pendidikan apa yang dilakukan masyarakat dengan pemerintah. Hal ini yang dilakukan oleh Yayasan Semeste Langit Biru dengan MI Merdeka Sekolahnya. Membangun masyarakat yang utuh dalam kehidupan ini, dengan mengembangkan pendidikan berkaitan dengan fitrah dan kebutuhan manusia di dalam mengaktualisasikan keagamaannya. Agar tidak tereduksi pada pola pemikiran yang terpilah-pilah dalam melihat pendidikan. Ada pendidikan berbasis agama, ada pendidikan berpola umum, ada pendidikan untuk kelas menengah atas, ada pendidikan untuk kaum menengah, ada pendidikan untuk kaum rakyat jelata.
    Meskipun kita tahu tentang sebuah pemahaman pendidikan untuk mengembangkan kemampuan diri dan mengerti apa yang terjadi di dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Dengan demikian diharapkan sebuah orang mampu akan memberikan kontribusinya. Hal ini kelihatnya sudah maju dan lebih maju sesuai dengan detak jantung dan nadi kehidupan masyarakatnya.
    Allah juga yang memberikan pelajaran pada hambanya untuk belajar dengan ciptaannya. Hal ini yang tergambar dalam Islam setiap ibadah sholat lima waktu itu menjadi sebuah pelajaran yang sangat mendalam. Untuk selalu sujud dan tuduh pada perintah dan larangannya. Karena sebagai keterkaitan hambanya dengan Sang Penciptanya sehingga menjadi satu kesatuan yang selalu berjalan secara berkesinambungan. Dalam ibadah sholat itu jugalah masjid menjadi sebuah artikulasi ungkapan hambanya pada Allah. Yang dimulai dengan Bapak para Nabi, yaitu Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk mendirikan tempat ibadah yang sekarang kita kenal dengan Ka’bah bersama dengan anak yang juga seorang Nabi, Nabi Ismail. Karena dari Ka’bah itu kemudian berkembang menjadi masjid yang disebut dengan Masjidil Harram, tempat suci bagi umat Islam.
    Sholat itu juga dalam Al Qur’an disebutkan sebuah sebuah sajadah yang artinya tempat untuk ibadah pada Allah. Jadi kalau seseorang yang sholat di mana ketika sudah waktunya sholat maka disitu terjadinya masjid, sebuah tempat yang dibentuk dalam sebuah komunikasi seorang hamba Allah dengan Sang Penciptanya. Dan hubungan ini menjadi sebuah proses pembelajaran baginya di dalam mengarungi kehidupan di dunia ini dengan segala macam persoalan yang dibingkai pada Kebesaran Allah. Inilah dunia pendidikan yang sebenarnya telah diajarkan Allah pada hambanya yang beriman dan bertaqwa.

    Pendidikan Berbagi Merdeka Sekolah
    Dari dasar pemikiran sejarah para Nabi inilah bisa dilihat bahwa pendidikan pada hakekatnya menjadi sebuah tanggung jawab semua orang untuk melakukan secara sendiri dan bersama-sama untuk mencapai tujuan hidup yang lebih bermakna dunia akhirat. Karena Allah ketika menciptakan manusia sudah diberikan ketentuan nasibnya. Dan Allah juga yang memberikan setiap manusia di muka bumi yang memberikan rezekinya dan rezeki setiap orang tidak akan pernah tertukar. Jadi jelas bahwa pendidikan dan kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan atau saling bertentangan. Tetapi menjadi satu kesatuan yang selaras dengan kehidupan manusia dan mahluk Allah yang diciptakan di muka bumi ini. Dengan begitu menjadi selesai antara permasalahan idealisme dan realitas. Antara pendidikan idealisme dan komersial tidak ada, yang ada adalah pendidikan bagaimana mengembangkan setiap diri ini dan masyarakat menjadi selalu satu dalam perintah Allah.
    Untuk itulah MI Merdeka Sekolah lahir dari sebuah kesadaran manusia bahwa pendidikan itu memang sebuah ibadah pada Allah bukan sebuah lahan untuk mencari keuntungan materi, begitu juga pendidikan bukan sesuatu yang menjadi idealisme manusia yang tidak berkaitan dengan ketentuan Allah sebagai pengatur kehidupan ini. Karena semua kegiatan pendidikan harus dikaitkan dengan ketentuan Allah, dan kita sebagai hambanya untuk selalu mengarah kepada Allah. Karena pendidikan sebagai media manusia untuk selalu beriman dan bertaqwa pada Allah swt. Hal itu dimunculkan dari orang tua siswa Aghniya Ilman dan kemudian menjadi bermetamorfosis sebagai Al Fityan School. Namun proses metamorfosis tidak begitu indah seperti apa yang dibanyangkan. Karena pendidikan itu selalu berkaitan dengan uang, materi, kedudukan dan status, sehingga manusia dengan manusia lain untuk saling mereduksi. Hingga terjadilah apa yang disebuat dengan perubahan paradigma berpikir. Bahwa pendidikan pada hakekatnya harus berangkat dari sesuatu yang satu, yaitu menjalankan amanah Allah untuk menjadi khalifah yang adil dan bijaksan. Sebagai tujuan kedepan, dari dunia akhirat.
    MI, yang kepanjangannya madrasah ibtidaiyah menjadi sebuah pilihan yang sederhana bagi sebuah pandangan pendidikan pada masa sekarang yang beroreintasi pada masalah standar nasional dan internasional. Karena ini mengembalikan peranan madrasah dalam kehidupan masyarakat didalam berbangsa dan bernegara. Bagaimana perjuangan yang istiqomah dari para guru dan santre madrasah ini untuk tidak terkontaminasi pada pandangan dan pemikiran kaum kolonialisme. Dan berpedoman pada ajaran agama Islam yang menjadi pandangan hidup ini, mampu melihat persoalan itu dengan baik, dalam kondisi tertekan. Karena kekuatan iman dan ketaqwaan pada Allah swt, dan sepenuh hati hidupnya hanya untuk Allah. Karena tidak ada seseorang, siapapun juga untuk menghidar dari ketentuan Allah.
    Madrasah Ibtidaiyah ini yang mengembalikan pada sebuah kesadaran bahwa pendidikan itu dimulai dari sesuatu yang utama, yaitu bagaimana secara berjamaah untuk selalu menyempurnakan diri masing-masing dihadapan Allah swt. Dengan niat mencari ridho Allah ini dengan sendirinya teraktualisasi dalam bentuk pendidikan, di mana proses pembelajaran terjadi antara guru dan peserta didik. Yang keduanya mempunyai tujuan sama beribadah pada Allah meskipun posisinya berbeda. Namun Allah tidak akan menukar amal ibadah masing-masing. Apakah guru lebih baik di mata Allah dibandingkan peserta didik, hanya satu Allah akan melihat niatan dari guru dan peserta didikan apakah karena ibadah pada Allah atau tidak, Allah yang Maha Tahu.
    Sebuah upaya untuk melihat dunia pendidikan pada sisi kehidupan manusia secara lebih baik antara keimanan dengan keinginan. Keimanan adalah realitas manusia yang pada saat ini tersingkirkan pada keinginan yang melampaui batas. Membuat kehidupan manusia menjadi hiperealis, sesuatu seolah-olah itu yang sebenarnya, pada hal itu hanya sebuah fatamorgana atau sebuah ilusi. Bahwa dengan pola kehidupan yang hedonisme, seolah-olah hidup ini menjadi lebih hidup. Seolah-olah dengan pendidikan yang kapitalistis menjadi pendidikan yang terbaik bagi masyarakat. Inilah persoalan yang terjadi pada masa sekarang.
    Begitu juga dengan nama madrasah ibtidaiyah Merdeka Sekolah menjadi sebuah langkah untuk melihat pendidikan itu bukan sesuatu yang membelenggu peserta didik untuk belajar mengembangkan diri dan kemampuan sesuai dengan kebutuhannya. Dengan begitu diharapkan peserta didik akan dapat menemukan pola pembelajaran yang sesuai dengan dirinya sendiri. Karena tidak semua peserta didik itu mempunyai kesamaan dalam pola pembelajaran, sehingga pola pembelajaran pada peserta didik tidak bisa digeneralisasi atau disamakan.
    Dengan Merdeka Sekolah diharapkan peserta didik lebih merdeka sekolahnya, tanpa ada sesuatu yang membuat peserta didiknya merasakan sesuatu ketakutan atau ketidak nyamanan. Namun sebaliknya di Merdeka Sekolah itu peserta didik mampu mengembangkan diri secara lebih baik sesuai dengan kemampuan dirinya sebagai bagian dari panggilan dari kehidupan alam ini. Dengan demikian peserta diri dapat menyempurnakan dirinya dan memahami kekurangannya untuk bisa diperbaiki sebagai bentuk pendekatan transdisipliner. Untuk memahami lebih jauh, bagaimana pendekatan transdisipliner digunakan untuk memahami suatu pengetahuan, berikut diberkan dua contoh pendekatan transdisciplinarity yang dilakukan oleh Edelman dan Changeux. Edelman berupayam memahami “kesadaran (consciousness)” dari perspektif neuroscience (teori tentang otak) dan psikologi. Sementara Changeux, lengkapnya Pierre Jean Changeux (Prancis), mencoba memahami tentang capable person (katakanlah orang yang mengenal jati dirinya dan perannya dalam dunia ini) dilihat dari perspektif neuroscience (teori tentang otak), sosial budaya, etika, dan agama.
    Sedangkan nama Merdeka Sekolah sebagai sebuah pengertian tidak terikat dengan apapun juga kecuali pada Allah swt. Dengan begitu diharapakan menjadi sebuah pendorong yang kuat untuk menjadi manusia seperti apa yang dilihat dan nilai Allah swt, beriman dan bertaqwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s