Desain Pembelajaran


Desain Pembelajaran Pendekatan Psikologi

 

Bagaimana sekolah dalam melihat Desain pembelajaran dengan pendekatan psikologi untuk membantu, kebutuhan pendidikan sesuai dengan sosial budaya dan masyarakatnya. Karena dengan desain itu diharapkan akan mampu memberikan yang tepat bagi sebuah pendidikan bagi masyarakat tersebut. Begitu juga dengan kemampuan dalam melihat segala aspek untuk bisa memungkinkan pada kehidupan masyarakatnya.

Karena dengan begitu pendidikan bagi anak-anak bukan lagi sebagai bagian yang mengikat tapi yang memberikan kemungkinan pada anak untuk melakukan yang terbaik bagi dirinya dan orang lain. Hal ini yang dapat dilihat sebagai pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Karena dengan begitu tidak akan adanya kesenjangan di dalam pendidikan yang diselenggarakan. Pendekatan ini tidak semua bisa diimplementasikan karena ini hanya sebuah pendekatan bukan sesuatu yang harus menjadi keharusan yang diikuti tapi tidak sesuai dengan realitas yang ada. Ini kiranya yang harus diperhaikan dalam mendesain pembelajaran dengan pendakatan psikologi.

HUMANISME
Menekankan pada kebebasan individu,bahwa anak didik merupakan pribadi yang mempunyai kemampuan dan warna tersendiri di dalam mengembangkan kemampuan dalam mengekspresikan diri dan melontarkan sebuah gagasan menjadi sesuatu berarti untuk dijadi sebuah pembelajaran. Dengan begitu akan memberikan kemungkinan pribadi menjadi lebih mengenal dirinya secara lebih baik.

Karena di dukung dengan cara pendekatan pembelajaran yang Berorientasi pada learner (peserta didik) untuk memberikan kemungkinan melihat tujuan pembelajaran menjadi lebih mudah, karena berdasarkan kapasitas yang ada di dalam dirinya. Dan belajarnya dengan sendirinya akan memberikan jalan lain untuk melihat pelajaran sebagai bagian dari aktulitas dirinya. Karena peranan Guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran yang memberikan anak didik untuk selalu mengeksplorasi apa yang menjadi keinginan tahu dirinya terhadap persalahan dengan dialog dengan gurunya.

Kebebasan peserta didik dalam berinteraksi dengan lingkungan menjadikan dirinya menemukan sesuatu yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya.

BEHAVORISME

Pengelolaan kondisi belajar untuk perubahan prilaku peserta didik menjadi sesuatu yang penting untuk bisa menjadi sebuah perhatian di dalam melihat perkembangan anak-anak sebagaimana mestinya. Karena perkembangan anak menjadi faktor yang sangat penting agar Perubahan prilaku belajar harus dapat diamati dan dapat diukur, sesuai dengan perkembangannya.
Perubahan prilaku peserta didik melalui pengaturan lingkungan dan pengelolaan stimulus-respon, Menjadi guru untuk selalu mengamati dan memperhatikan, dalam melihat perkembangan anak sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari pendidikan. Menumbuhkan karekter anak yang baik dan komitment pada nilai keimanan pada Allah.

KOGNITIFISME
Tingkat perkembangan berpikir peserta didik dipengaruhi
Kematangan intelektual dalam melihat permasalahannya dengan baik karena Interaksi dengan lingkungan menjadi Transmisi sosial (belajar dari orang lain)Perubahan struktur kognitif peserta didik adalah tujuan utama pembelajaran.

KONSTRUKTIFISME
Peserta didik berpikir sendiri untuk memaknai suatu peristiwa secara lebih menyeluruh, arti semua bagian dari tumbuh yang menjadi penampilan anak didik itu baik itu pikiran, motori maupu kepribadiannya. Dengan demikian anak didik akan Berpikir kolaboratif untuk berbagai makna atas peristiwa.  Menghubungkan pengalaman awal dengan peristiwa belajar dengan mudah akan tumbuh dan menjadi sebuah proses Belajar dengan pengalaman konkrit, kontekstual dan bermakna.

CYBERNETISME
Manusia sebagai pemroses informasi dan pembuat respon yang aktif
Manusia belajar secara sistematik & sistemik, sebagai bentuk lain dari kemungkinan yang dapat memberikan anak didik menjadi lebih baik dalam melihat permaslahannya sendiri, mulai dari berinteraksi dengan teman dan gurunya. Hal itu memberikan anak didik untuk bisa melihat masalah sesuai dengan proporsinya, susai dengan kemampuan anak dalam melihat. KarenaManusia mengorganisasikan apa yang telah diketahuinya. Hal ini menjadi
Belajar secara sistematik dan sistemik untuk mencari, menerima, menyimpan, dan memanfaatkan pengetahuan.

Respon baru diulang sebagai akibat respon tersebut.Implikasinya perlu pemberian umpan balik yang positif dalam pembelajaran harus menyenangkan.

Prilaku berada di bawah kondisi lingkungan memberikan implikasinya sebagai tanda yang berpengaruh besar dalam tujuaan perlu dinyatakan secara jelas.

Prilaku yang dihasilakan akan hilang bila tidak diperkuat menjadi implikasinya dari isi pembelajaran harus berguna dengan memberikan pengahargaan atas keperhasilan dalam latihan dan tes yang sering disertai nilai yang adil dan pujian untuk memotivasi anak menjadi lebih baik.

Respon terhadap tanda-tanda menjadi terbatas dan akan terbatas pula dalam mentransfernya. Memberikan implikasinya di dalam kondisi pembelajaran yang mirip dengan kenyataan, dengan memberikan contoh yang baik dan bagaimana yang tidak baik.

Generalisasi dan membedakan adalah dasar untuk proses pembelajaran yang lebih kompleks. Hal ini bisa dilihat dalam belajar memecahkan masalah yang diawali dengan belajar membuat kesimpulan dan membandingkan.

Status mental di dalam menghadapi pembelajaran akan mempengaruhi ketekunan anak didik selama proses belajar. Untuk itu perlu menarik perhatian dengan menjelaskan manfaat isi pelajaran, karena pengajar harus melakukkan langkah-langka instruksional yang sistematik.

Kegiatan belajar dibagi menjadi langkah-langkah kecil, di mana isi pelajaran disajikan secara bertahap dan isi pelajaran dimulai dari pengetahuan awal dari peserta didik.

Menyederhanakan materi yang kompleks dengan mengunakan model,dengan mempergunakan media dan metode secara tepat di dalam penggunaan model pembelajaran.

Ketrampilan tingkat tinggi terbentuk dari ketrampilan dasar yang lebih sederhana. Dengan tujuaan dirumuskan dalam bentuk hasil belajar yang dianalisis menjadi prilaku yang lebih khusus, sebagai kegiatan intruksional yang dilakukan secara pertahap dan berurutan.Urutan pelajaran dimulai dari yang sederhana menuju yang kompleks dengan kemajuan siswa diinformasikan secara bertahap dan teratur.

Perkembangan dan kecepatan belajar setiap orang berbeda. Penguasaan prasyarat sangat penting dalam belajar tuntas, maju menurut kecepatan masing-masing.

Dengan persiapan, peserta didik dapat mengorganisasikan kegiatan belajarnya sendiri Pemberian kemungkinan belajar yang fleksibel memerlukan bahan ajar yang didesain dengan terpaduan belajar menjadi awal yang baik baik anak didik, guru dan sekolah tersebut. Hal ini memungkinkan kepada pendidikan untuk melihat permasalah sesuai dengan apa yang dibutukan oleh siswa, bukan keinginan sekolah atau orang tua tanpa bisa melihat apa yang dibutuhkan oleh anak-anak. Tri Aru

2 thoughts on “Desain Pembelajaran

  1. it’s me

    Setiap anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang menjadi impresi atau apa yang dia tangkap sebagai mana mestinya. Dan anak akan menangkapnya dan direpresentasikan atau dijadikan sebuah prilaku bagi anak. Membuat anak menjadi prilaku yang kita lihat, ada anak yang baik, lincah, suka bicara, pendiam, iseng, nakal, tidak bisa diam, suka menangis, suka melawan, suka berantem, susah dibilangi, dan banyak lagi. Tapi itu semua ada pada sebuah proses di mana anak ada dalam situasi kondisi lingkungan dan masyarakatnya yang memberikan contoh dan pengetahuan tentang prilaku yang menjadi acuan atau contoh dari anak. Membuat anak itu menjadi apa yang dikatakan anak bermasalahan dan tidak bermasalah. Semua itu berada dalam relasi, hubungan anak dengan lingkungan baik dirumah, sekolah dan bermain yang berkaitan dengan televisi, game dan dunai informasi lainnya.

    Untuk itu bisa kita lihat apa yang ada dalam diri anak itu yang dimulai dengan kognitif yang menangkap pembelajaran dan pengalaman sebagai pengetahuan yang dimulai dengan mengingat apa yang menjadi ketertarikan terhadap permasalahan atau menjadi sesuatu yang diminatinya dan menghafal fakta sebagai sesuatu pengetahuan yang coba untuk diingat menjadi sebuah fakta dirinya, untuk gagasan berangkat dari apa yang menjadi respon dalam mencernanya, dan fenomena apa yang dilihat dirasakan. Semua itu beranjak menjadi sebuah pemahaman yang coba diterjemahkan, mengiterpretasikan, menyimpulkan dengan pandanganya dan konsepnya sendiri. Dari situ kemudia dipraktekkan sebagai prilaku yang mempergunakan konsep, prinsip, prosedur untuk melakukan sesuatu, misalnya saja disekolah ada kantin jujur dengan sendiri anak akan belajar dan mempunyai pandangan tentang kejujuran bahwa membeli makanan dengan meletakan uang ditempatnya yang sudah tersedia, begitu juga kalau mengambil pengembalian sesuai dengan harganya. Dengan begitu terjadi sebuah analisis dengan menjabarkan bahwa kejujuran menjadi sebuah gagasan nilai dari ajaran agama. Dari situ akan terjadi sintesis yang menyatukan konsep jujur dengan mengintegrasikan menjadi bentuk gagasan yang menyeluruh bahwa kejujuran itu memang menjadi budaya orang muslim. Sebagai bentuk nilai yang menjadi sebuah evaluasi bagi setiap orang muslim.

    Untuk pengologan Afektif menjadi sebuah kepribadian anak berkaitan dengan kehidupan sosialnya. Karena pertumbuhan afektif atau kepribadian anak dimulai dengan peniruan pada orang lain terutama orang tua dan gurunya, kalau disekolah. Kemudian peniruaan selanjut berasal dari lingkungannya, baik teman, orang tua lain, televisi, game maupun internet. Peniruan ini akan berlanjut menjadi sebuah respon yang menangkap untuk ditanyakan dan kemudian menjadi value atau nilai yang dianggap baik atau buruk bagi pandangan anak. Karena dari situ anak akan melihat prilakunya yang berkaitan dengan lingkungannya baik dirumah dan disekolah, seperti halnya kejujuran dalam jajanan itu menjadi sebuah simulasi anak dalam melihat tatanan sosial yang ada disekolah, karena sekolah yang melakukan itu dengan kantin jujurnya. Karena kejujuran menjadi sebuah norma sosial dengan sendirnya anak akan menjadi anak jujur sebagai representasi dari karakter yang terbentuk.

    Sudah tentu hal ini sejalan dengan perkembangan motorik yang memberikan bentuk dan kekhasan yang menjadi bagian dari sebuah kognitif dan afektif, dari sebuah pengetahuan dan kepribadian anak untuk diaktualisasikan sebagai prilakunya. Hal inilah yang perlu dilihat dari proses dari perkembangan kognitif dan afektif anak agar anak akan menjadi manusia yang menyempurnakan dirinya. Kemammpuan dan kopetensinya menjadi sebuah tujuan sebagai anak yang bisa menjadi anak yang sholeh dan mandiri dalam kehidupannya. Karena dengan sholeh dan mandiri akan melahirkan sikap kepemimpinan yang kreatif dan bijak dalam melihat permasalahan. Itu semua harus dimulai dari rumah dan sekolah untuk bisa bekerjasama dengan baik. Kerjasama dalam arti memberikan contoh dan suasana lingkungan atau hubungan orang tua dan guru sebuah sesuatu yang memang patut untuk dijadi contoh bagi anak.

    Kerjasama bukan didasarkan pada pragmatisme, yang hanya pada oreintasi pada materi, membayar dan dibayar. Tapi bagaimana menjadikan dunia pendidikan yang dilihat sebagai sekolah ini memang membuat orang tua dan guru itu sebagai contoh dalam mengelola pendidikan yang baik, seperti apa yang dimulai dengan Merdeka Sekolah dengan pola pendidikan yang berorientasi Islam ini dilihat dari manajemennya dengan berbagi, infaq, sedekah dan sakat diharapkan akan menjadi dasar pendidikan yang memberikan suasana dan warna yang memberikan kebaikan bagi anak. Karena anak akan merasakan hal itu dalam proses pendidikan yang menjadi inti dari kepribadian anak yang menyangkut kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), motorik (kebiasaan) yang selalu dibangun dari kerjasama orang tua dan sekolah. It’s Me.

  2. Menyelami Ilmu

    Menyelami lautan ilmu, menguraikan kehidupan untuk menemukan makna. Untuk memperkaya hidup bersama menjadi lebih indah, Untuk bisa bertegur sama dengan hidup. Karena ilmu bukan etalase atau lipstik yang membuat kita terpana.
    Pada hal alam mengajarkan kita tentang waktu.
    Malam dunia kita bersama Allah dan Siang hari menjadi dunia kita bersama untuk mengapai cahaya kehidupan.
    Janganlah tenggelam dalam waktu. Tapi jadikan waktu tempat kita untuk bersemai dalam merajut kehidupan yang lebih indah dan bermakna.
    Agar tidak terhempas dalam dunia kehampaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s