Ma’afkan kami Anakku


Kenapa Engkau Harus Pergi ?

Beberapa hari galau hati tak lepas dari diri ini. Belum lewat seminggu yang lalu seorang anak murid dan ibunya datang dan pamitan bahwa sang anak tak lagi dapat melanjutkan pendidikan di sekolah ini,  tadi pagi datang lagi orang tua yang nampak lungkrah dan berujar, “terimakasih ya bu, ibu sudah banyak membantu dan mendidik anak saya. Namun ma’af anak saya kayaknya tidak bisa melanjutkan pendidikan disini karena memang dia harus kesekolah yang tepat untuknya”.

Naluri seorang guru dan seorang wanita, tak kuasa tersembunyikan dan air mata mengalir perlahan di pipi yang sudah mulai bergelombang ini. Walau tak ternampakkan di sekolah rasa sedihku, namun ketika dirumah air mataku saya leluasakan untuk berderai mengingat beberapa kejadian ini. Ramadhan anak yang baik, namun memang Tuhan memberikan kelebihan padanya walau nampak gerakan dan parasnya lembut, namun sesekali emosinya tidak terkontrol. Awalnya saya dan guru-guru bisa mengatasi dan mengkondisikan, namun disemester akhir ini, tak mampu diatasi. Bahkan membahayakan, beberapa kali Ramadhan menendang, membanting, mendorong dan melakukan tindakan tidak terkontrolnya sehingga membahayakan fisik temannya. Akhirnya, sekolah sepakat untuk menyarankan agar Ramadhan dapat dicarikan sekolah yang memang tepat untuk Ramadhan.

Subhanalloh, saya yakin Ramadhan tidak pernah berdo’a kepada Tuhan untuk dilahirkan dengan kelebihan emosi yang sulit dikontrolnya tersebut. Namun banyak hal yang jadi pertimbangan sehingga Ramadhan harus dicarikan sekolah yang bisa memadainya. Rasa haru saya semakin mendalam saat ibunya pamitan, Ramadhan yang lugu itu masih merasa dirinya adalah murid sekolah ini. Ramadhan masih mengenakan seragam kesayangannya dan kebanggaanya dan masih berlari ceria dengan teman-temannya seakan tak kan pernah terpisahkan. Dari balik  jendela sekolah yang terbuka, saya menatap sayang dan berujar dalam bibirku yang telah basah dengan air mata ” Wahai Ramadhan ma’afkan kami semua ya nak…..!!!”

Berbeda dengan Ramadhan, Nisa anak yang cantik itu juga harus berpisah dengan sekolah ini. Nisa dikaruniai  Tuhan dengan sifat introvert yang berlebihan. Dan Nisa memang berada di alamnya sendiri. Menjalani hidup dengan alamnya sendiri, dan saya yakin bahwa Nisa kecil ini tidak pernah bermohon pada Tuhan untuk dilahirkan menjadi gadis kecil yang pendiam dalam dunianya. Karena sekolah ini adalah sekolah sebagaimana sekolah lainnya dengan standar yang harus dipenuhi dari pemerintah, maka Nisa kecil harus tetap bertahan dikelasnya selama beberapa masa kenaikan. Sebenarnya  Nisa tidak  mempermasalahkan posisinya naik atau tidak naik kelas, bagi Nisa hal itu bukan bagian yang harus dirisaukannya, namun yang penting dia bisa bersekolah sebagaimana anak seusianya.

Namun orang tuanya berharap lain, barang kali dengan sekolah ketempat yang lain, Nisa dapat lebih akseleratif untuk memenuhi ranah keilmuan dan jenjang pendidikan demi masa depanya. Haru semakin terasa kala lamunku teringat pada sosoknya yang tak pernah merasa gundah atas apa yang dia lakukan. Kalau ada soal ujian yang dia memang tidak mood mengerjakan maka dia tidak kerjakan. Dia tidak  peduli dengan apa itu nilai minimal kelulusan atau sejenisnya. Nisa tetap menjalani hidupnya dengan cara hidupnya sendiri. Suatu saat wajahnya melintas dalam pikir ini. Dia sedang berdiri diatas tanah gundukan tinggi dan menatap jauh kelangit, cukup lama. Perlahan saya dekati dan akhirnya saya rangkul. Saya dapati diwajahnya  tetesan air mata, saya tidak tahu apa yang sedang difikirkan anak kenyataan ini. Mungkinkah Nisa sedang mengadu kepada Tuhan, “Ya Tuhan kenapa Engkau lahirkan aku seperti ini?”.

Nisa, Ramadhan…, bunda tidak bisa berbuat banyak. Bunda manusia biasa yang tak kuasa tanpa izinnya. Dari lubuk hati yang bersih ini bunda mengakui, maafkan bunda karena tidak bisa membimbingmu dengan baik, semoga Tuhan memberikan pembimbing yang jauh lebih baik dari bunda. Anakku, betapa sedihnya hati ini ketika harus terpisah dengan anak-anak kesanyangannya. Dan aku bermohon kepada Tuhan semoga semua ini tidak terulang lagi.

Selamat jalan anakku, do’aku menyertaimu.

(T. Setiya)

One thought on “Ma’afkan kami Anakku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s