Membangun dengan Hati


MEMBANGUN DENGAN HATI

Sejarah telah membukti bahwa sebuah peradaban yang dibangun dengan materi dan kehendak hanya mengantarkan pada bentuk kepunahan seperti bangsa Aad dan kehilangan orientasi sebagaimana Bangsa Barat.

Seolah dengan pengetahuan dan materi yang dia punya mampu memberikan kemungkinan yang baik. Bahwa kekakuan dalam membangun yang hanya pada setiap apa yang menjadi kehendak dan keinginan yang sudah direncanakan tanpa mempertimbangkan hal yang lain sama artinya meniadakan yang lain. Sebuah pandangan Barat yang membangun sejarah peradabannya yang dimulai dari Yunani, zaman kegelapan, renaisance sampai akhirnya kemenangan kapitalisme demokrasi.

Pada hal sejarah peradaban dunia mulai dari Mezopotamia, Yunani,Parsi,Romawi,India, Islam dan Barat. Begitu juga cara berpikir modern yang sempit hanya dengan mengandalakan rasional, logika yang dianggap konsisten dan profesional. Karena modern zaman masa lalu yang tradisional itu tidak memperhatikan pontensi dan keutuhan manusia, di mana Allah sangat menghargai semuanya, hasrat, kehendak, pikiran logika, jiwa, hati dan iman percaya pada sesuatu hanya yang gaib. Yang membuat kehidupan yang dibangun tidak pernah seimbang.

Allah sendiri menciptakan alam ini sangat memperhatikan semua aspek yang menjadi kebutuhan mahluknya. Allah menciptakan alam tempat kehidupan mahluknya, termasuk manusia dan untuk dipelihara dengan baik, tapi manusia dengan kehendaknya, keinginan dirinya yang tidak memperhatikan lingkungannya membuat alam ini menghadapi titik nadir. Begitu juga Allah menciptakan manusia bersuku-suku bangsan untuk saling mengenal. Tapi manusia saling meniadakan manusia lain dengan berbagai macam cara dan istilah yang keren negara maju dan negara berkembang, modern (masa lalu) dan tradisional, pintar dan bodoh, profesional dan tidak profesional, rasional dan irasional, miskin dan kaya. Padahal Allah tidak pernah membuat pengertian untuk saling meniadakan dan mengunggulkan antara manusia satu dengan yang lain. Karena hanya pada keimanan pada Allahlah yang menjadi manusia pilihan.

Allah dalam kitabnya tidak pernah mengadakan pembedaan tapi selalu menjelaskan kebersamaan, berjamaah, untuk saling mengenal dengan silaturahim, untuk saling menolong, untuk saling melengkapi dalam rangkai beribadah pada Allah Swt. Begitu juga Allah membangun kehidupan ini dengan hati agar manusia melihat kehidupan ini dengan hati. Di mana hati yang selalu diterangi dengan iman dan ketaqwaan pada Allah Swt.

Hal itu yang terlihat dalam sejarah peradaban Islam di mana Nabi Muhammad Saw membangun masjid pertama di Madinah sangat memperhatikan kontektualitas masyarakat pada saat itu yang akhirnya jadilah masjid Kiblatain. Meskipun sejarah mencatat dan menjadikan masjid Nabawi sebagai masjidil Harram. Masjid itu dibangun dengan hati dan kesederhana sesuai dengan situasi kodisi umat Islam pada waktu itu yang bangunannya mempergunakan batang pohon kurma, atapnya mempergunakan daun kurma. Pada hal waktu itu ada bandingannya dengan arsitektur Yunani, India, Parsi dan Romawi yang berkesan monumental dan menganggumkan sampa saat ini.

Namun dengan seiringnya waktu dan perkembangan kaum muslim peradaban Islam makin sejajar dengan bangsa lain dalam seni arsitekturnya, sekaligus melampaui kemampuan di dalam membangun arsitektur dari bangsa lain. Karena membangunnya berangkat dari hati yang memperhatikan hakekat membangun itu apa, memperhatikan alam dan sosial budaya masyarakatnya. Dengan begitu lahirnya arstitektur yang mengaggumkan karena ada masjid Cordoba dan istana Alhambra di Spanyol, Taj Mahal di India, masjid biru di Turki. Tidak heran kalau pada abad ke 6 kota yang terindah di dunia adalah kota Bagdad, pada hal di Eropa masayarakat tinggal bersama hewan peliharaannya, tidak memperhatikan kebersihan dan kesehatan.

Begitu juga sejalan dengan perkembangan Islam kebelahan dunia arsitektur Islam itu berkembangan dengan keindahan yang selalu mewarnai budaya lokal. Misalnya saja masjid Kudus menjadi masjid yang khas perbaduan arsitektur budaya asli, hindu, cina dan Islam. Begitu juga masjid di Cina dan di India sesuai dengan muatan lokalnya, seolah Islam mau memperlihatkan bahwa membangun bukan berpegang pada konsep bentuk materi. Tapi membangun dengan hati, bersama-sama untuk selalu tumbuh bersama, sehingga membuat Islam selalu tumbuh dan berkembang dengan alami di belahan bumi.

Dengan kata lain membangun itu bukan hanya memperhatikan desain dan hitungan saja. Tapi Alam, lingkungan, budaya masyarakatnya, untuk selalu tumbuh bersama dengan kesadaran bukan dengan kehendak. Agar hati ini selalu tumbuh dan berkembang, karena membangun apapun sama arti membangun diri dan kepribadian seorang muslim dengan baik. Bahwa membangun itu bukan tujuan tapi sebuah media untuk mengembangkan jiwa dan hati ini peduli terhadap lingkungan alam, baik itu tumbuhan dan tanaman, baik itu budaya maupun sosial, baik itu materi mau kebersamaan. Untuk membangun hati dan jiwa ini menjadi lebih baik dan selalu merindukan keimanan dan ketaqwaan pada Allah. Membuat agama tidak terjebak pada formalitas dan pengetahuan saja. Tapi memang telah menjadi, sudah tentu sesuai dengan kemampuan dan intensitas penghayatan dan pengalaman setiap orang yang berbeda, tapi prosesnya tetap sama, itulah Islam. (Tri A  -April-14-2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s