HIPER-REALISME PENDIDIKAN


HIPER-REALISME PENDIDIKAN

Ujian akhir sudah selesai bagi anak-anak yang duduk di sekolah dasar, menengah, menengah atas. Sedangkan yang lainnya sedang mempersiapkan ujian semester dan sekolah sibuk dengan kegiatan itu. Namun ada kegiatan yang lainnya dan tidak kalah pentingnya dalam pendidikan. Yaitu persiapan penerimaan siswa mulai dari PUD, TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan tinggi.

Ada yang sudah mempersiapkan dari akhir tahun kemarin dan ada yang mempersiapkan dan menerima siswa baru pada awal tahun, meskipun pendidikan masih berakhir pada bulan Juni nanti. Tapi itulah sebuah perkembangan pendidikan yang begitu sigap dalam mempromosikan lembaga pendidikannya. Dalam memprosmosikan lembaga pendidikan selalu yang dikedepankan adalah fasilitas yang bagus dan lengkap dan itu menjadi suatu bentuk promosi yang sudah tidak lagi rasional dalam dunia pendidikan, meskipun hal itu terlihat rasional. Dan juga kalau hanya mengedepankan kelengkapan fasilitas yang bagus hanya mencerminkan pendidikan yang hanya berorientasi pada materi, uang karena yang diharapkan masuk pendidikan itu adalah anak yang berpotensi membawa uang orang tua yang banyak. Begitu juga sekolah yang mengedepankan fasilitas yang lengkap dan supermodern itu hanya mencermikan transaksi pendidikan, hanya melayani orang kaya dan mampu. Tapi ada yang lebih ekstrim lagi di dalam menilai sekolah yang hanya mengedepankan fasilitas yang mewah dan super modern itu hanya memperlihat lembaga itu bersifat konsumerisme alias tidak mampu mengembangkan teknologi sesuai dengan kebutuhan sekolah, sehingga lembaga itu mencerminkan kebodohan pengelolah dalam dunia pendidikan. Dan ini adalah yang sedang terjadi di dalam dunia pendidikan di Indonesia. Setiap sekolah sibuk mengurusi infrastrukstur yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan tapi lebih pada sebuah pengakuan, legitimasi formal baik lakol, regional, nasional dan internasional yang ingin digabainnya. Pada hal legitimasi internasional bukan legitimasi sebuah lembaga yang berpengaruh. Tapi bagaimana pendidikan itu bisa memberikan kontribuksi yang sangat berarti bagi lokal, regional, nasional dan internasional. Karena dengan memberikan kontribusi yang berarti pada masyarakat dunia dengan sendirinya lembaga apapun namannya mulai dari lokal dan internasional dengan sendiri akan mengakuinya. Inilah yang perlu direnungkan kembali tentang apa yang dikatakan sebuah pendidikan bukan sebuah bentuk pencitraan, di mana pencitraan untuk mengarah pada pola pendidikan yang tidak lagi realistik, pendidikan halusinasi yang sudah menjadi Hiperrealisme Pendidikan. Karena sudah tidak lagi berangkat dari sebuah proses kehidupan yang wajar, semuanya dilakukan dengan pendidikan parodi, Pendidikan Camp, hanya menampilkan kelengkapan tanpa mengerti untuk apa itu kelengkapan, dalam hal ini yang berkaitan dengan sarana prasaran.Pendidikan Kitsch yang hanya ingin menampilkan kemajuan yang bersifat artifisial, pendidikan palsu yang selalu ingin diperlihatkan, tidak perduli itu melanggar etika pendidikan atua tidak. Pendidikan pastiche, lembaga pendidikan yang hanya bisa ambil sana, ambil sini, metode ini, metode itu alias sekolah latah. Dan pendidikan Skizofrenia, di mana pendidikan bukan dalam arti sebenarnya, bahwa lembaga itu bukan lagi berorientasi pada pendidikan tapi bisnis, cari uang atas nama pendidikan. Kalau bahasa kasarnya bahwa sekolah seperti domba berbulu srigala, bercitra pendidikan tapi sebenarnya menjadi sarang kejahatan yang membuat bulu merinding.

Profesionalisme menjadi pisau yang selalu membunuh lembaga pendidikan menjadi sarang kejahatan. Karena ini sudah menjadi citra dari kemampuan dan kebaikan dalam sebuah penampilan. Bukan sebagai dunia pendidikan yang memberikan benih yang baik untuk selalu tumbuh dan berkembang. Karena profesionalisme harus disandingkan dengan uang, harga diri alias sok Jaim, jaga jarak, berhubungan dengan orang bukan berdasarkan kehidupan tapi berdasar kepentingan dan efesien, menghasilkan atau tidak. Tidak perlu lagi sebuah proses untuk saling memahami, berempati, mencoba, untuk saling berbagi dan melengkapi. Pokoknya kalau guru harus profesional dibayar sesuai dengan prosfesinya. Kalau tidak itu zolim, mesake, kasihan deh. Pada hal banyak lembaga pendidikan sudah merasakan begitu banyak memberikan sesuatu pada guru atau kepala sekolahnya sehingga dengan begitu saja harga dirinya diijak-ijak dengan cara senyum, dengan cara memperlakukan sebagai mesin uang, dengan cara memperlakukan guru profesional, dengan cara memperlakukan kepala sekolah dengan penghormatan dan kehinaan. Ini yang sudah lazim dialami hampir semua orang karena kondisi memang demikian adanya. Dan itu bukan sesuatu yang perlu diresakan karena uang itu perlu dan sangat perlu, yang penting dapat uang. Jangan sekali-kali mengeluarkan uang membuat rugi, itu sangat berbahaya. Karena dengan begitu sudah kehilangan harga diri, harga diri sudah dinilai dengan uang dan uang telah memperbudak manusia menjadi robot, mesin dan binatang jalan yang terbuang.

Untuk itu kita kembali pada peristiwa Mei tanggal 2 Mei hari pendidikan, hari di mana menjadi langkah yang selalu mengingatkan pada kita bahwa pendidikan itu melalui proses yang sebenarnya. Karena hidup adalah hidup bekerja mengali tanah dan memasuki rahasia samudra serta mengukir dunia. Bahwa pergulat hidup itu ada dalam dunia pendidikan dalam arti yang sebenarnya. Karena semua orang memerlukan itu bukan Masalah Butuh atau Tidak Butuh. Tapi proses sebagai mana layaknya manusia untuk menjadi manusia. Dan sekolah atau pendidikan itu tempatnya manusia menjadi manusia, layaknya manusia. Untuk saling melengkapi dan membangun hidup ini dengan baik. Karena hidup ini tidak ada juara yang pintar. Tapi yang ada adalah orang yang bertanggung jawab terhadap kemenangan dan kemampuannya dihadap Allah. Tapi yang ada adalah orang yang bijaksana di dalam mengajaka orang untuk berbuat baik sebagai bagian dari amanat Allah bagi manusia karena kepintarannya.

Begitu juga dengan 20 Mei hari kebangkitan nasional untuk mengajak kita semua bangkit bersama, untuk bisa merasakan rasa keadilan dan kesejahteraan melalui pendidikan. Kenapa kita selaluuuuuu berbicara kemajuaaaan dengan uaang. Kemajuan selalu berkaitan dengan kesadaran bersama untuk saling membantu dan melengkapi tanpa harus merasa paling benar dan paling tahu. Apa yang bisa kita lakukan lakukan saja untuk kepentingan bersama. Karena pendidikan sekarang hanya sebatas tahu atau to know, belum menjadi prilaku kita atau to do, sehingga pendidikan bukan menjadi sebuah karakter kita sebagai hamba Allah yang selalu memberikan manfaat pada orang lain atau bahasa pendidikan kita sudah to be dan kita sudah together, bahwa pendidikan untuk bersama, tanpa ada yang merasakan berjasa dengan segala upaya. Baik gagasan, pikiran, waktu, uang yang banyak dan pengorban lainnya. Itu tidak ada artinya bagi kita sebagai manusia karena Allah makin memberikan yang terbaik bagi kita kalau memang kita mempunyai niatan itu semua karena Allah. Karena Allah Maha Melihat dan Maha Tahu, tidak akan keliru untuk memberikan yang terbaik bagi hambanya. Ini pendidikan realitas bukan HIPERREALISME PENDIDIKAN YANG MEMBUAT MANUSIA MENJADI ABSURD!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s