Ujian Merdeka


Jadikan Ujian Yang Merdeka

Ujian Merdeka

Ujian betapa merdekanya. Hari senin ini adalah ujian akhir semester untuk siswa kelas II, yang menentukan kenaikan kelas. Tapi sungguh mengagetan suasana di Merdeka, seolah tak ada ujian, semua berlangsung biasa-biasa saja. Yang lebih mengagetkan susunan bangku dikelas juga sebagaimana hari-hari biasa, hanya ada no ujian saja, mungkin untuk membuat kejelasan dimana tempat duduk anak merdeka. Ini sungguh ganjil, untuk saat itu.

Seperti keumuman sekolah, apabila musim ujian maka suasana nampak berbeda. Anak-anak sibuk dan nampak raut wajah yang lebih tegang bahkan cenderung takut. Orang tua tak ketinggalan terimbas dampak ujian anaknya. Pihak sekolah apalagi terpaksa harus menjalankan pekerjaan ekstra. Kenapa ritual akademis seperti ini tak beranjak berubah dari sejarah rentang panjang apa yang disebut Ujian.

Ujian dijadikan sebagai sesuatu yang harus dihormati, diistimewakan sehingga tidak boleh biasa-biasa saja. Ujian yang hitungan jam dan hari itu dianggap sebagai puncak tertinggi dari keberhasilan sebuah proses belajar. Instrument hasil ujian yang dijadikan tolok ukur keberhasilan belajar hingga saat ini masih kokoh bercokol sebagai dewa penentun keberhasilan proses belajar. Walhal semua itu ‘Tidak Satu-Satunya’.

Serasa sudah menjadi budaya dan seolah harus dibudayakan bahwa suasa ujian adalah suasana sakral yang patut dibedakan dibanding suasana lainnya. Bahkan ma’af bisa dibilang dapat mengalahkan hari-hari, bulan dan tahunan dari proses belajar itu sendiri. Walau masa panjang proses pelajar itu telah berlangsung, tak ada artinya bila tak berhasil dalam ujian instant itu. Sekali lagi ini bukan nana apatis, skeptis dan pesimis, namun sebuah upaya untu menilik kembali makna ujian.

Tulisan ini khusus ingin memaknai penyuasanaan ujian, supaya lebih biasa-biasa saja. Bukan membahas ujian itu sendiri apakah masih layak dijadikan tolok ukur keberhasilan pendidikan.

Merdeka sekolah mengajarkan, menanamkan kepada anak merdeka bahwa setiap saat adalah ujian. Setiap saat adalah belajar, tidak perlu mendikotomi antara saat belajar dan saat ujian, semuanya adalah belajar, semuanya adalah ujian. Hidup ini sendiri adalah ujian, dan kita biasa-biasa saja. Sungguh timpang kiranya diri ini menyikapi tentang ujian. Untuk ujian naik kelas, Ujian nasional dan bahkan masuk ke PTN upaya besar dilakukan, psikologis dikurbankan untuk merasa gelisah kalau tidak lulus dan lain-lainnya. Namun adilkah kita bahwa kita biasa-biasa saja menyikapi ujian hidup yaitu kematian yang setiap saat bisa terjadi sebagai ujian dari setiap insan yang bernyawa.

Anak Merdeka disiapkan untuk hidup yang siap untuk menghadapi kematian. Sehingga ujian kematian ditanamkan dalam benak anak merdeka sehingga anak merdeka siap menghadapi ujian kematian itu kapanpun, karena memang tidak ada satupun insan didunia ini yang bisa mengambil tempo dari ujian kematian. Apabila anak-anak merdeka telah siap mengikuti ujian besar dalam kehidupan yaitu kematian, maka apatah lagi ujian skoring untuk mendapatkan legimitasi angka-angka dalam pelajaran yang digeluti selama ini. Maka wajar apabila ujian yang kecil ini memang diberikan porsi action yang sederhana pula, sederhananya biasa-biasa saja.

Sekali lagi ini bukan untuk melecehkan ujian, namun untuk lebih proporsional dalam memperlakukan sesuatu yang biasa-biasa saja.

Disamping itu, perlu disampaikan bahwa menghadapi ujian dengan overaction akan membuat kemampuan normal tereduksi sebanyak porsi berlebih yang dialokasikan untuk penyikapan yang tegang dan cemas. Ujian pada dasarnya adalah review dari apa yang telah disampaikan, bukan menanyakan sesuatu yang baru, dan bukan upaya untuk  menyulitkan peserta ujian. Ujian basicnya adalah upaya untuk mengetahui apakah  yang telah diberitahukan kepada siswa, telah diketahui betul oleh siswa.

Pendidikan tak sekedar meningkatkan daya ingat, namun jauh lebih komprehensif. Daya ingat, daya tindak, daya sikap dan daya hati untuk memahami atas sesuatu rangsangan hal baru yang dia terima dari sang guru. Apabila yang ditanyaka hanya daya ingat maka daya sikap, daya tindak dan daya hati kapan bisa diketahui. Ini menandakan ujian itu tidak mewakili kemampuan sejati dari proses belajar.

Ujian yang komprehensif, adalah jalan terbaik untuk mengetahui kemampuan hasil belajar anak. Bahkan kita juga harus menyadari bahwa setiap anak memiliki hak untuk tidak mau diuji, karena dia belajar bukan untuk diuji tapi belajar untuk mengetahui, memahami sehingga bisa digunakan saat ilmu itu digunakan. Sehingga jangan heran kalau ada anak yang tidak mau menjawab soal fisikan, atau biologi atau ilmu eksak lainnya, karena dia menjawab bahwa ‘ngapain saya ngerjain hitung-hitungan, kan saya tidak sedang melakukan pekerjaan penghitungan. Kenapa saya menjawab soal fisika kan saya tidak sedang mengolah benda-benda fisik untuk dioptimalkan, saya sekarang sedang duduk di meja dan didepanku ada tulisan-tulisan yang perlu dijawab, padahal saya tidak sedang perlu untuk menjawab soal-soal itu.

Cilaka. Begitulah kehidupan yang merdeka ini. Dirindukan adanya pendidikan yang benar-benar bisa menjadikan proses belajar yang benar-benar untuk belajar.

Tentu banyak pertanyaan yang membalik. Kalau begitu bagaimana cara mengukur keberhasilan siswa, kalau begitu tidak perlu aja ujian, kalau begitu tidak usah saja dibuat naik kelas atau tidak naik kelas. Memang ini perlu penjernihan asasi dalam proses belajar. Apakah Rosululloh pernah mengadakan test tertulis kepada para shahabat r.hum, terus apakah para shahabat tidak ingat firman Tuhan yang diajarkan oleh Nabi, atau apakah shahabat tidak ingat hadist yang dicontohkan Nabi. Terus apakah shahabat tidak melaksanakan perintah Tuhan dan Sunah Rosull?. Ataukah ekstrimnya tanpa ujian apakah shahabat gagal mengikuti pendidikan ala Rosull ?.

Ini perlu untuk direnungkan, bahwa ujian kalau memang sudah diakui sebagai salah satu bentuk menguji kemampuan serap anak didik, maka penyuasanaan/pengkondisian ujian sepatutnya lebih biasa-biasa saja. Sambil kita terus belajar bagaimana cara untuk mengukur daya serap siswa yang lebih lumrah, dan komprehensif. (Tanda S)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s