PENDIDIKAN BUKAN BENTUK GEDUNG

TAPI PROSES

Sebuah pendidikan pada masa sekarang ini berangkat dari bentuk, status dan legitimasi. Di mana pendidikan dipandangan sebagai sekolah dan sekolah itu dilihat dari bangunannya. Dengan begitu penyelenggara pendidikan kalau mau membangun sekolah harus membuat disainnya dulu. Dalam membangun sekolah berangkat dari desain dengan sendiri berangkat dari idealisasi bentuk yang dibarengi dengan biaya yang memadai. Masalahnya kalau biaya tidak ada dalam membangun sekolah dan masih mengacu pada desain bangunan sekolah dengan sendirinya pendidikan itu tidak akan terwujud.

Penyelenggarakan pendidikan yang mengacu pada bentuk sekolah bukan visi pendidikan. Menjadikan  penyelenggara pendidikan berupaya meminjam dana ke bank, sesuatu yang wajar karena bentuk yang menjadi acuannya. Dengan segala upaya keinginan bentuk sekolah itu memang bisa diupayakan melalui pinjaman ke bank. Dan kalau sekolah dibangun dengan dana pinjaman  imbasnya  dapat menggoyahkan visi pendidikan yang sebenarnya. Karena pihak sekolah atau penyelenggara pendidikan berupaya memungut  dana dari orang tua murid dengan  biaya pendidikan yang  mahal. Dengan begitu sekolah berangsur-angsur mengupayakan pendidikan dengan harga sebagai rasionalisasi dari sebuah upaya untuk melunasi pinjaman bank. Maka selanjutnya gaya dan pandangan tentang pendidikan memang harus mahal karena gurunya harus profesional dan harus diberikan gaji yang baik. Fasilitas yang serba lengkap untuk menunjang pendidikan yang baik.

Biaya mahal menjadi sebuah nilai bahwa sekolah itu bermutu dan maju atau modern, pada hal itu semua pandangan masa lalu, yang melihat dengan sesuatu yang harus satu, kesempurnaan bentuk. Pada hal pendidikan bukan sebuah bentuk tapi sebuah visi untuk menumbuhkan kesadaran setiap orang tentang bagaimana hidup yang baik untuk dunia dan akhirat. Dan pendidikan yang beroreintasi pada masalah bentuk gedung sama  artinya berorientasi pada masalah artifisal pendidikan yang berorintasi dunia.

Pada hal hidup ini bukan masalah bentuk, tapi masalah sikap dan pandangan tentang pendidikan yang diupayakan melalui sebuah proses. Di mana proses itu akan menumbuhkan kesadaran bentuk,  tanpa terpaku pada bentuk jasadiyah. Membuat bentuk itu menjadi sebuah representasi dari pandangan penyelenggara pendidikan apa yang dinamakan sekolah itu. Dengan kata lain bentuk lahir dari sebuah ekpresi yang murni dari penyelenggara pendidikan. Karena bentuk bukan sebuah keharusan  untuk ada dan bersikukuh untuk dipertahankan sesuai dengan bentuk desain apa yang dinamakan  sekolah.

Bentuk gedung bukan standar, tapi penyelenggara pendidikanlah yang menentukan gedung itu sesuai dengan visi dan proses pendidikan di mana tumbuh dan berkembang dengan realitas yang saling berpengaruh. Gedung sekolah bukan bentuk formal yang tidak ada kaitannya dengan proses tumbuh kembangkan pendidikan yang menjadi nadi kehidupan sekolah. Kalau pendidikan mengikuti bentuk formal gedung membuat pendidikan itu kehilangan nadi kehidupanya. Dan terpisah dengan realitas sosial dimana sekolah dibentuk karena kebutuhan dari pertanyaan dan keinginan masyarakat untuk dapat memberikan pencerahan. Bukan sesuatu yang membeku dan terjebak pada formalitas dari gedung yang seharusnya.

Begitu juga dengan status menjadi upaya yang tersendiri bagi penyelenggara pendidikan pada saat ini. Bahwa dengan status sekolah yang bagus. Bagus yang selalu dipahami oleh penyelenggara pendidikan ada bentuk dan fasilitasnya memadai, sesuatu yang wajar dan realitis dalam sebuah hitung-hitungan ekonomi. Karena dengan status yang baik dan terakreditasi  yang sebenarnya masalah kewajaran dari sebuah sekolah untuk meningkatkan kualitasnya. Tapi bukan  berarti menjadi lebay (berlebihan) dan menjurus pada sesuatu yang tidak rasional, tidak masuk akal, tidak ilmiah, tidak cerdas kalau tidak mau dibilang bodoh dan menjadi sekolah ngelmu (mistis).Pada hal akreditasi sekolah adalah sebuah saran untuk menumbuhkan pendidikan secara wajar, sebagai mana mestinya, bukan sesuatu yang lebay tapi sebuah kebutuhan untuk selalu memperbaharui pendidikan secara berkala.

Untuk mengatakan pendidikan itu adalah bagian dari proses kehidupan bukan dari materialisme yang berorientasi pada ekonomi dan kapital. Karena dengan proses kehidupanlah pendidikan menjadi sesuatu yang tidak perlu dilihat dengan sesuatu yang lebay.

Didiklah masyarakat untuk kembali pada fitrah kehidupan manusia yang berkaitan dengan lingkungan sosial, alam dan Allah. Karena keindahan adalah sesuatu yang sederhana bukan sesuatu yang lebay, untuk itu status sekolah adalah keindahan bagaimana mendidik itu menjadikan anak merasakan kehidupan dan menyadari dirinya bahwa dia ada dan  ada karena Allah yang menciptakan untuk dapat mengemban visi dunia akhirat. (T.Aru)

One thought on “

  1. MEMBANGUN DENGAN HATI

    Sejarah telah membukti bahwa sebuah peradaban yang dibangun dengan materi dan kehendak hanya mengantarkan pada bentuk kepunahan seperti bangsa Aad dan kehilangan orientasi Bangsa Barat. Seolah dengan pengetahuan dan materi yang dia punya mampu memberikan kemungkinan yang baik. Bahwa kekakuan dalam membangun yang hanya pada setiap apa yang menjadi kehendak dan keinginan yang sudah direncanakan tanpa mempertimbangkan hal yang lain sama artinya meniadakan yang lain. Sebuah pandangan Barat yang membangun sejarah peradabannya yang dimulai dari Yunani, zaman kegelapan, renaisance sampai akhirnya kemenangan kapitalisme demokrasi. Pada hal sejarah peradaban dunia mulai dari Mezopotamia, Yunani,Parsi,Romawi,India, Islam dan Barat. Begitu juga cara berpikir modern yang sempit hanya dengan mengandalakan rasional, logika yang dianggap konsisten dan profesional. Karena modern zaman masa lalu yang tradisional itu tidak memperhatikan pontensi dan keutuhan manusia, di mana Allah sangat menghargai semuanya, hasrat, kehendak, pikiran logika, jiwa, hati dan iman percaya pada sesuatu hanya yang gaib. Yang membuat kehidupan yang dibangun tidak pernah seimbang.

    Allah sendiri menciptakan alam ini sangat memperhatikan semua aspek yang menjadi kebutuhan mahluknya. Allah menciptakan alam tempat kehidupan mahluknya, termasuk manusia dan untuk dipelihara dengan baik, tapi manusia dengan kehendaknya, keinginan dirinya yang tidak memperhatikan lingkungannya membuat alam ini menghadapi titik nadir. Begitu juga Allah menciptakan manusia bersuku-suku bangsan untuk saling mengenal. Tapi manusia saling meniadakan manusia lain dengan berbagai macam cara dan istilah yang keren negara maju dan negara berkembang, modern (masa lalu) dan tradisional, pintar dan bodoh, profesional dan tidak profesional, rasional dan irasional, miskin dan kaya. Pada hal Allah tidak pernah membuat pengertian untuk saling meniadakan dan mengunggulkan antara manusia satu dengan yang lain. Karena hanya pada keimanan pada Allahlah yang menjadi manusia pilihan. Allah dalam kitabnya tidak pernah mengadakan pembedaan tapi selalu menjelaskan kebersamaan, berjamaah, untuk saling mengenal dengan silaturahim, untuk saling menolong, untuk saling melengkapi dalam rangkai beribadah pada Allah Swt. Begitu juga Allah membangun kehidupan ini dengan hati agar manusia melihat kehidupan ini dengan hati. Di mana hati yang selalu diterangi dengan iman dan ketaqwaan pada Allah Swt.

    Hal itu yang terlihat dalam sejarah peradaban Islam di mana Nabi Muhammad Saw membangun masjid pertama di Madinah sangat memperhatikan kontektualitas masyarakat pada saat itu yang akhirnya jadilah masjid Kiblatain. Meskipun sejarah mencatat dan menjadikan masjid Nabawi sebagai masjidil Harram. Masjid itu dibangun dengan hati dan kesederhana sesuai dengan situasi kodisi umat Islam pada waktu itu yang bangunannya mempergunakan batang pohon kurma, atapnya mempergunakan daun kurma. Pada hal waktu itu ada bandingannya dengan arsitektur Yunani, India, Parsi dan Romawi yang berkesan monumental dan menganggumkan sampa saat ini. Namun dengan seiringnya waktu dan perkembangan kaum muslim peradaban Islam makin sejajar dengan bangsa lain dalam seni arsitekturnya, sekaligus melampaui kemampuan di dalam membangun arsitektur dari bangsa lain. Karena membangunnya berangkat dari hati yang memperhatikan hakekat membangun itu apa, memperhatikan alam dan sosial budaya masyarakatnya. Dengan begitu lahirnya arstitektur yang mengaggumkan karena ada masjid Cordoba dan istana Alhambra di Spanyol, Taj Mahal di India, masjid biru di Turki. Tidak heran kalau pada abad ke 6 kota yang terindah di dunia adalah kota Bagdad, pada hal di Eropa masayarakat tinggal bersama hewan peliharaannya, tidak memperhatikan kebersihan dan kesehatan.

    Begitu juga sejalan dengan perkembangan Islam kebelahan dunia arsitektur Islam itu berkembangan dengan keindahan yang selalu mewarnai budaya lokal. Misalnya saja masjid Kudus menjadi masjid yang khas perbaduan arsitektur budaya asli, hindu, cina dan Islam. Begitu juga masjid di Cina dan di India sesuai dengan muatan lokalnya, seolah Islam mau memperlihatkan bahwa membangun bukan berpegang pada konsep bentuk,materi. Tapi membangun dengan hati, bersama-sama untuk selalu tumbuh bersama, sehingga membuat Islam selalu tumbuh dan berkembang dengan alami di belahan bumi.

    Dengan kata lain membangun itu bukan hanya memperhatikan desain dan hitungan saja. Tapi Alam, lingkungan, budaya masyarakatnya, untuk selalu tumbuh bersama dengan kesadaran bukan dengan kehendak. Agar hati ini selalu tumbuh dan berkembang, karena membangun apapun sama arti membangun diri dan kepribadian seorang muslim dengan baik. Bahwa membangun itu bukan tujuan tapi sebuah media untuk mengembangkan jiwa dan hati ini peduli terhadap lingkungan alam, baik itu tumbuhan dan tanaman, baik itu budaya maupun sosial, baik itu materi mau kebersamaan. Untuk membangun hati dan jiwa ini menjadi lebih baik dan selalu merindukan keimanan dan ketaqwaan pada Allah. Membuat agama tidak terjebak pada formalitas dan pengetahuan saja. Tapi memang telah menjadi, sudah tentu sesuai dengan kemampuan dan intensitas penghayatan dan pengalaman setiap orang yang berbeda, tapi prosesnya tetap sama, itulah Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s