Membagun Ruang Merdeka


MEMBANGUN RUANG MERDEKA

Bangunan Merdeka

Sambil  memandangi hamparan lahan seluas 1000 m2, tak terasa mata ini mulai menitikkan air ke pipi yang sudah mulai berkerut. Lahan Merdeka sudah cukup lama terhampar tanpa makna. Hanya ilalang dan renik-renik alam yang menghuni. Masih belum ada daya untuk membuat bangunan merdeka diatas lahan merdeka.

Bilangan waktu terus bertambah meninggalkan jarak antara pembelian lahan merdeka dengan impian bangunan merdeka. Rasa bahagia saat bisa membeli lahan merdeka kini telah menjadi tantangan untuk membangun lahan diatasnya. Harapan bahagia itu kini kembali menggelayut untuk adanya sebuah bangunan yang merdeka untuk anak-anak merdeka. Telinga ini terasa tak lagi peka mendengar, anak-anak merdeka yang merdeka itu sering berteriak-teriak keras, kerassss sekali !!!. ” Hore aku punya bangunan yang merdeka-aku punya sekolah yang merdeka, aku senang aku bangga menjadi anak merdeka “. Dalam hati yang dalam, aku tersenyum dan bangga terhadap mereka yang mempercayakan tumpuan harap pada sekolah merdeka yang benar-benar merdeka. Dan hanya lirih bibirku bermohon ‘Ya Rabb, kabulkan harapan mereka, jangan kecewakan harapan anak-anak merdeka ya Rabb. Kepada siapa lagi kami harus memohon selain pada diri Mu yang berkuasa atas segalanya. Pada diri Mu Maha Kaya. Jadikannlah hambamu yang sederhana ini menjadi asebab berdirinya bangunan merdeka di lahan merdeka’.

Kembali kupandangi lahan merdeka yang terhampar sepi, hanya ilalang dan beberapa pepohonan setia menjaganya. ‘Wahai lahan merdeka, aku berjanji tak lama lagi akan menghiasimu dengan bangunan sejati. Madrasah bagi anak-anak merdeka yang akan terbang tinggi mengejar cita-citanya. Aku bermohon semoga engkau menjadi lahan yang kelak menjadi hamparan rumah-rumah kami di Surga abadi”.

Tuhan memang Engkau tak pernah ingkar janji. Dari hasil untaian-untaian makanan dan minuman ringan yang tak seberapa berharga uang itu terkumpul secara perlahan. Dari sisa-sisa kebutuhan hidup,  uang itu tertabung berangsung-angsur secara perlahan. Dari sedikit-demi sedikit sisihan hasil kue dikantin sidiq, bilangan-bilangan rupiah itu kini telah bertambah. Dan lahan merdeka akan segera berubah wujudnya. Bersiaplah wahai lahan merdeka, bangunan surga akan berdiri di atasmu. Kucuran pahalan akan terus membasahi lahan dan bangunan itu hingga dunia telah dikembalikan kepada Tuhan. Selamat datang anda memasuki, Kawasan Merdeka, Ruang Merdeka, dan Pendidikan yang Merdeka.

Wahai anak-anakku yang merdeka, sekarang berteriaklah lebih keras. Bahwa bangunan merdeka itu sekarang telah ada adanya. Anak-anak Merdeka berterimakasihlah pada Tuhan yang telah memerdekakan kalian dari ruang-ruang sewaan, yang telah memerdekakan kalian dari tanah-tanah orang. Aku akan tersenyum dari kejauhan karena mendengarkan teriakkanmu yang begitu langtang. (Tanda)

One thought on “Membagun Ruang Merdeka

  1. PENDIDIKAN BUKAN BENTUK GEDUNG TAPI PROSES

    Sebuah pendidikan pada masa sekarang ini berangkat dari bentuk, status dan legitimasi. Di mana pendidikan dipandangan sebagai sekolah dan sekolah itu dilihat dari bangunannya. Dengan begitu penyelenggara pendidikan kalau mau membangun sekolah harus membuat disainnya dulu. Dalam membangun sekolah berangkat dari desain dengan sendiri berangkat dari idealisasi bentuk yang dibarengi dengan biaya yang memadai. Masalahnya kalau biaya tidak ada dalam membangun sekolah dan masih mengacuh pada desain bangunan sekolah dengan sendirinya pendidikan itu tidak akan terwujud. Karena di dalam menyelenggarakan pendidikan mengacuh pada bentuk sekolah bukan visi pendidikan. Membuat penyelenggara pendidikan berupaya meminjam dana ke bank, sesuatu yang wajar karena bentuk yang menjadi acuhannya. Dengan segala upaya keinginan bentuk sekolah itu memang bisa diupayakan melalui pinjaman ke bank. Dan biasanya kalau sekolah dibangun dengan dana pinjaman biasanya mengoyakan visi pendidikan yang sebenarnya. Karena pihak sekolah atau penyelenggara pendidikan berupaya menggambil dana dari orang tua murid dalam biaya pendidikan yang mahal. Dengan begitu sekolah berangsur-angsur mengupaya pendidikan dengan harga sebagai rasionalisasi dari sebuah upaya untuk melunasi pinjaman bank. Maka selanjutnya gaya dan pandangan tentang pendidikan memang harus mahal karena gurunya harus profesional dan harus diberikan gaji yang baik. Fasilitas yang serba lengkap untuk menunjang pendidikan yang baik. Biaya mahal menjadi sebuah nilai bahwa sekolah itu bermutu dan maju atau modern, pada hal itu semua pandangan masa lalu, yang melihat dengan sesuatu yang harus satu, kesempurnaan bentuk. Pada hal pendidik bukan sebuah bentuk tapi sebuah visi untuk menumbuhkan kesadaran setiap orang tentang bagaimana hidup yang baik untuk dunia dan akhirat. Dan pendidikan yang beroreintasi pada masalah bentuk gedung masa artinya berorientasi pada masalah artifisal pendidikan yang berorintasi dunia.

    Pada hal hidup ini bukan masalah bentuk tapi masalah sikap dan pandangan tentang pendidikan yang diupayakan melalui sebuah proses. Di mana proses itu akan menumbuhkan kesadaran bentuk tanpa terpaku pada bentuk. Membuat bentuk itu menjadi sebuah representasi dari pandangan penyelenggara pendidikan apa yang dinamakan sekolah itu. Dengan kata lain bentuk lahir dari sebuah ekpresi yang murni dari penyelenggara pendidikan. Karena bentuk bukan sebuah keharusan untuk ada dan bersikukuh untuk dipertahankan sesuai dengan bentuk desain apa yang dinamakan sekolah. Bentuk gedung bukan standar, tapi penyelenggara pendidikanlah yang menentukan gedung itu sesuai dengan visi dan proses pendidikan di mana tumbuh dan berkembang dengan realitas yang saling berpengaruh. Gedung sekolah bukan bentuk formal yang tidak ada kaitannya dengan proses tumbuh kembangkan pendidikan yang menjadi nadi kehidupan sekolah. Kalau pendidikan mengikuti bentuk formal gendung membuat pendidikan itu kehilangan nadi kehidupanya. Dan terpisah dengan realitas sosial dimana sekolah dibentuk karena kebutuhan dari pertanyaan dan keinginan masyarakat untuk dapat memberikan pencerahan. Bukan sesuatu yang membeku dan terjebak pada formalitas dari gedung yang seharusnya.

    Begitu juga dengan status menjadi upaya yang tersendiri bagi penyelenggara pendidikan pada saat ini. Bahwa dengan status sekolah yang bagus. Bagus yang selalu dipahami oleh penyelenggara pendidikan ada bentuk dan fasilitasnya memadai, sesuatu yang wajar dan realitis dalam sebuah hitung-hitungan ekonomi. Karena dengan status yang baik dan terakreditas yang sebenarnya masalah kewajaran dari sebuah sekolah untuk meningkatkan kualitasnya. Tapi bukan berarti menjadi lebay dan menjurus pada sesuatu yang tidak rasioanal, tidak masuk akal, tidak ilmiah, tidak cerdas kalau tidak mau dibilang bodoh dan menjadi sekolah ngelmu.Pada hal akriditasi sekolah adalah sebuah saran untuk menumbukan pendidikan secara wajar, sebagai mana mestinya, bukan sesuatu yang lebay tapi sebuah kebutuhan untuk selalu memperbaharui pendidikan secara berkala. Untuk mengatakan pendidikan itu adalah bagian dari proses kehidupan bukan dari materialisme yang berorientasi pada ekonomi dan kapital. Karena dengan proses kehidupanlah pendidikan menjadi sesuatu yang tidak perlu dilihat dengan sesuatu yang lebay. Didiklah masyarakat untuk kembali pada fitrah kehidupan manusia yang berkaitan dengan lingkungan sosial, alam dan Allah. Karena keindahan adalah sesuatu yang sederhana bukan sesuatu yang lebay, untuk itu status sekolah adalah keindahan bagaimana mendidik itu menjadikan anak merasakan kehidupan dan menyadari dirinya bahwa dia ada dan ada karena Allah yang menciptakan untuk dapat mengemban visi dunia akhirat.

    Legitimasi ini juga masalah sekolah untuk diakui, karena kalau tidak ada legitimasi dari pemerintah maka dengan sendirinya sekolah itu tidak ada. Meskipun bangunan sekolah yang desain dengan begitu bagus tanpa ada perubahan dan merubah sebuah desain adalah sesuatu yang tabu. Seolah desain bangunan itu segala-galanya, pada hal itu hanya sebuah keberangkat yang bisa diurut prosesnya. Karena legitimasi pada sekarang ini perlu dan wajib, itu menjadi sesuatu yang wajar dan memang harus diupayakan. Akan tetapi menjadi tidak wajar kalau segala sesuatu upaya itu bukan menjadi sebuah proses sosialisasi tapi sebagai sebuah proses transaksi dagang. Karena dengan pola transaksi dagang secara berangsur-angsur menjadi sekolah transaksi. Pendidikan baik secara artifisial menjadi sebuah citra bahwa sekolah yang baik, karena sekolah itu dibiayai oleh luar negeri, diresmikan oleh penjabat, mendapatkan izin dengan sekejab mata, tidak terlalu lama dan bertele-tele dan langsung terakriditasi dengan baik,karena menjadi sekolah bertarap internasional. Bertarap internasional sama arti sekolah menjadi tiruan sekolah internasioanal, sekolah negara maju seperti Amerika dan Eropa. Itu sama artinya sekolah itu budak negara maju, karena sudah dijajah pemikiran dan pandangan hidupnya. Dia bukan lagi sekolah tapi pabrik yang memproduksi orang terampil dan pintar tapi tidak tahu siapa sebenarnya dirinya. Hidup kehilangan oreintasi karena hidupnya dihiasi dengan kehidupan artifisial, kehidupan palsu, kehidupan orang lain bukan dirinya. Pada hal Allah sendiri yang menciptakan manusia itu tidak sama dan tidak seragam, satu sama lain mempunyai keunikan yang berbeda. Tapi kenapa kita menginginkan keseragaman dengan pemaksaan, dengan bahasa halus standarisasi, menjaga mutu, harus terencana dan profesiaonal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s