Pikiran Fikri


FIKRI YANG TERPIKIRKAN

Pikiran Fikri Sang Pemikir

Tipe anak yang kalem dan pendiam tapi luar biasa tidak bisa diamnya. Seolah kalimat yang menggambarkan Fikri tidak singkron kalem tapi kho tidak bisa diam, usil dan iseng. Tapi itu realitas prilaku yang ditampilan Fikri pada teman dan gurunya. Mungkin kalau orang tuanya sudah tahu bahwa anaknya susah diatur atau bahasa klisenya anak nakal. Tapi itulah sebuah tanggapan yang tidak bisa dihindari oleh seorang anak di dalam lingkungan kehidupannya. Pada hal dia sendiri tidak mau seperti apa yang dikatakan orang yang nakal, iseng dan usil. Tapi apa yang ingin dikatakannya adalah bahwa apa yang dilakukan sebagai sebuah respon di dalam pergaulan hidup yang coba dia tawarkan pada teman-temannya. Karena dia menyadari betul bahwa di dalam bergaul atau berteman dengan orang lain tidak begitu saja berdiam diri. Harus ada respon dan apresiasinya pada orang lain. Jadi keisengannya hanya sebuah tegur sapa yang belum bisa dipahami oleh orang lain.

Karena kalau mau melihat dan sedikit memahami bisa dipahami bahwa apa yang dilakukan Fikri itu adalah sebuah dinamikan pergaulan yang harus dilakukan. Untuk bisa melihat sejauh mana dia bisa berinteraksi dengan temannya. Anak ini begitu memahami tentang apa yang dirasakan oleh orang lain. Karena dengan kekalemannya itu menjadi sebuah tanda bahwa dia memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan temannya, dan dia tahu apa yang harus dilakukan di dalam sebuah lingkungannya. Kadang keputusan itu yang membuat dirinya menjadi anak yang tidak tidak bisa diam, bandel. Tapi itu sebuah ungkapkan yang harus dilakukan. Karena kalau tidak dilakukan orang lain tidak akan mengerti apa yang sebenarnya menjadi pikirannya. Itulah cara berpikir Fikri dalam realitas kehidupannya baik dirumah maupun disekolah.

Seorang anak yang berrtubuh agar besar dan selalu mencoba untuk mengikuti pelajaran formal dengan berupaya untuk bisa memenuhinya. Walaupun dia sendiri agak kerepotan untuk mengikutinya. Karena pikirannya begitu saja mengeluarkan segala yang dia tidak kehendakinya. Kata dan kalimatnya sangat irit tapi tindakan dan responnya sangat pemurah hati, baik hati dan perhatian pada temannya, yang bisa dikatakan sebagai anak yang kalem tapi baik hati.

Fikri dijauh lubuk hatinya sebenarnya anak yang baik, bertanggung jawab dan sangat patuh dengan apa yang menjadi kesepakatan. Tapi lagi-lagi dia selalu melihat lingkungannya yang tidak konsisten dalam mengetrapkan kesepakatannya itu membuat diri secara responsif membandel. Anak yang perhatian pada teman semata-mata ingin melihat temannya senang. Fikri yang suka berpikir dengan caranya sendiri itu selalu menjadi dirinya menjadi anak yang bijak dan kadang terlihat dewasa terhadap temannya. Aneh memang terlihat bahwa anak seperti begitu saja bisa belajar tentang psikologi sosial secara intuitif. (T.Aru)

2 thoughts on “Pikiran Fikri

  1. Zaedan Taktis dan Strategis

    Proses pembalajaran media untuk melihat sebuah perkembangan anak di dalam sekolah, bukan menjadi satu tujuan yang sebenarnya. Tapi pada kenyataan pembelajaran menjadi tolak ukur bagi perkembangan anak. Hal ini yang menjadi permasalahan di dalam proses pembelajaran. Apalagi pada pendidikan tingkat dasar yang sebenarnya belajar atau materi pembelajaran media untuk melihat perkembangan dirinya, bagaimana mempunyai gaya belajar yang baik menurut kemampuannya. Ini yang dilihat Zaedan dalam mengikuti pelajaran di sekolah, anak ini mampu mengikuti pelajaran, meskinpun dia sendiri mempunyai pola belajar yang berbeda dengan gaya belajar yang normatif dan formal. Tapi itulah yang menjadi bentuk taktisnya di dalam belajar dan mengikuti pendidikan di setiap mata pelajaran. Sebuah cara pandang yang strategi dan bisa memberikan kebaikan bagi semua orang dilingkungan di mana dia berada. Karena dilihat dalam segi kemampuan menangkap pelajaran sangat baik dan dengan mudah begitu saja dia kerjakan, seolah menjadi anak murid yang baik dan rajin di dalam mengikuti pelajaran. Pada hal ada keinginan lain yang ingin dia rasakan, yaitu kemerdakaan di dalam belajar. Karena kemampuannya menangkap pelajaran mendorong dirinya ingin mengekspresikan dan mengaktulisasikan apa yang menjadi pandangannya, apa-apa yang menjadi pemikirannya. Hal itu bisa dilihat dalam pelajaran kreatif dan lukisannya. Pandangan tentang pelajaran atau sesuatu yang dia alami itu menjadi sebuah cerita dan khayalannya sesuatu yang menjadikan dirinya itu menjadi apa yang dia pikirkan. Sebuah gerak dinamikan pikiran dalam kehidupan anak untuk bisa melihat dirinya dan lingkungannya itu seperti apa yang dia rasakan dan alami, setelah dia tangkap dan bayangkan seperti apa yang menjadi dirinya itu, menjadi lebih hidup.

    Zaedan anak bertubuh kecil dengan hafalannya yang baik dan kemampuan belajar mempermudah guru di dalam mengajarnya. Anaknya kalem tapi banyak yang dirasakan untuk diungkapkan, tapi yang ada menjadi sebuah pandangannya di dalam melihat pendidikan sebagai sebuah medan yang dia jalani dengan caranya. Membuat dirinya menjadi lebih diapresiasi oleh banyak kalangan untuk mengembangkan diri dalam kehidupan lingkungannya, baik terhadap teman dan gurunya. Kepatuhan terhadap guru dan orang tua kadang menjadikan dirinya merasakan sesuatu yang berarti bagi kehidupannya. Tanpa harus menghilangkan rasa jiwanya yang merdeka. Hal itu diperlihatkan dengan temannya yang begitu saja mampu memberikan warna dan keterlibatannya begitu saja tanpa temannya merasa bahwa dia begitu saja terlibat dalam permainannya. Kadang membuat temannya menyadari bahwa dia ada ketika dengan iseng mengusili temannya, sampai temannya menyadari bahwa itu perbuatannya Zaedan.

    Kemampauan belajar dan kemampuan bergaul dengan temannya membawa diri pada anak yang disukai oleh temannya. Dan begitu saja dia mudah bisa mengikuti irama lingkungannya, tanpa harus dia terpengaruhnya. Karena keterlibatannya dalam lingkungan selalu memperkaya temannya dalam sebuah permainan. Karena kemudahnya Zaedah dalam bergaul menjadi panggilan hidupnya, dan memberikan dia banyak pelajaran. Karena kemampuannya membuat dirinya secara tidak langsung bisa mengaplikasikan cara belajar yang taktis dan strategi.

  2. Ziarah Zharah

    Ziarah mempunyai arti orang yang suka mengunjung tempat atau orang, hal itu yang dilakukan Zharah selalu menghampir temannya untuk bermain bersama. Kalau disekolah menjadi anak perempuan biasa saja, sedang dalam prestasi akademiknya. Tapi kemampuan berteman membuat dia menjadi lebih menarik dengan temannya. Karena dia bukan anak yang supel atau mudah bergaul. Tapi dia sendiri bisa bergaulan dengan siapa saja, sesuai dengan keinginannya. Untuk itu tepat bagi Zharah itu dikatakan sebagai anak perempuan yang suka berziarah atau menghampiri temannya. Dan di dalam berteman ini sebenarnya anaknya tidak pernah milih tapi selalu mengikuti dorongan hatinya.

    Anak pendiam tapi memberikan sesuatu pada temannya, karena Zharar sedikit mempunyai pemahaman tentang apa itu kehidupan baginya. Walaupun hal itu tidak diungkapkan begitu saja seperti orang dewasa mengungkapkan pandangan hidupnhya. Dia hanya menyakan dengan kesederhanaannya, anak yang tidak pernah mengeluh apalagi menangis. Meskipun dia merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam dirinya tapi kelihatnya dia kelolah menjadi sesautu yang memang harus dia hadapi dan alami dengan apa adanya. Seolah dengan menangis bukan sebuah penyelesaian masalah, malah menambah masalah, hal itu yang dia bahasa dalam bahasa tubuhnya.

    Anaknya pendiam tapi kadang usil kalau sudah datang usilnya sampai temannya menangis dan kesal luar biasa. Tapi dia tanggapi dengan ekspresi yang datar dan senyum hanya sedikit, seolah-olah memberikan arti saja bahwa itu adalah aku meresponnya, sebagai etik pergaulan. Yang selalu membawa dirinya pada sebuah pribadi yang begitu saja, tidak menonjolkan diri pada temannya. Tapi dia mempunyai tujuan apa yang dikerjakan, sehingga memberikan dirinya kekuatan untuk bisa menjalani dan mengerjakan pekerjaan apa yang diinginkan guru atau orang tuanya walaupun dia sendiri kadang mencari cela untuk menghidari tugas yang diberikan.

    Zharah dengan segala yang ada didalam dirinnya, menjadi anak yang juga tidak jauh dari rasa takut terhadap apa-apa yang mengancam dirinya. Baik itu ketika belajar, bermain dengan temannya, baik di sekolah maupun di rumah kalau melihat gerak dan geriknya ketika sedang menghadapi persoalan. Namun ketakutannya itu dia coba untuk disembunyikan, agar tidak terlihat pada orang lain atau temannya. Tapi lagi-lagi Zharah itu adalah seorang anak perempuan kelas I ketika menghadapi masalah dengan begitu saja ketakutan tapi bisa dia tutupi meskinpun ada upayan kesana. Seperti kehidupan ini mengajarkan diri pada realitas sosial yang begitu keras bagi dirinya sehingga tertanam pada dirinya untuk selalu belajar memahami orang lain. Dengan ziarah atau berkunjungan dengan temannya atau orang lain memberikan kemungkinan untuk diri selalu bisa mengerti terhadapa permasalahan orang lain dan dirinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s