Hafidz


KEBERANIAN HAFIDZ KETAKUTANYA

Hafidz yang Berani Takut

Gerak yang lincah dan mudah begitu saja berpindah dengan cepat dari masalah satu ke masalah berikutnya. Begitu juga ketempat satu ketempat lainnya. Kekarakter satu kekarakter berikutnya. Hafidz mudah saja berubah sesuai dengan dorongan hatinya, mau kemana dia berubah. Begitu juga masalah karakternya dengan gagahnya dia bisa bergerak dengan berani tapi pada saat tertentu di tidak berani melompat. Seolah ada sesuatu yang membuat dirinya begitu saja berani dan dengan mudah saja dia menjadi orang yang penakut. Sebuah perubahan yang begitu cepat dan begitu saja dipahami sebagai anak yang tidak bisa diam. Karena memang anak ini tidak bisa diam secara fisik, tapi apakah benar dia tidak bisa diam dalam kepribadiannya. Hal itu perlu ada sebuah pemahaman dan pendalaman kenapa Hafidz begitu saja berubah.

Kalau mau melihat postur tubuhnya Hafidz anak ini agak gemuk dan pendek, namun tidak mengurangi kelincahan dan keberaniannya dalam bergerak atau melakukan gerakan. Seperti memanjat, bergelantungan di bambu dan melompat begitu saja,sudah menjadi sebuah kebiasaan. Hal ini memang sudah menjadi kebiasaan anak Merdeka Sekolah berolah raga dengan bergelantungan dan memanjat pohon. Sebuah peluang yang dibuka pada anak-anak untuk bisa merespon lingkungan yang begitu saja memberikan sesuatu pada setiap orang. Tinggal setiap orang bisa memaknakan lingkungkan itu buat apa saja, sesuai dengan apa yang diinginkan, apa yang menjadi tujuannya, dan apa yang bisa di daya gunakannya. Hal itu yang terjadi di Merdeka Sekolah merespon lingkungan sosial dan alam ini dengan dunia anak. Bergelantungan, memanjat pohon, menemukan ular, dihisap lintah, menemukan kepiting dan bermain di pematang sawah dan saluran air. Semua itu menjadi lebih memperkayaa dunia anak dengan segala macam keinginan dan imajinasinya.

Hal ini yang dilakukan Hafidz dalam merespon lingkungan Merdeka Sekolah dia dengan lincah dan beraninya bergelantungan dan berjalan dititian bambu dengan tangannya lalu meloncat. Begitu juga dia mampu memanjat pohon sampai ujung ketinggian pohon itu. Dan Hafidz pernah jatuh dari pohon dengan luka di mulutnya. Tapi alhamdullillah Hafidz masih menguasai dirinya. Artinya luka yang dideritanya itu tidak menjadi persoalan besar karena dia hanya menangis sebentar, selanjutnya di menahannya atau tidak merasakan sakit. Itulah yang menjadi kekuatan dan antibody yang dipunyai Hafidz, pribadi yang kuat dan teguh. Karena kepribadiannya yang kuat kadang dia terkesan anak dewasa, bahasa yang dipergunakan atau kosakatanya, kosakata dewasa, entah dapat dari mana. Kosakata dewasa yang positif, seolah anak ini begitu luas pergaulannya, dan seolah dia begitu mengenal lingkungannya, seolah dia mudah beradaptasi dengan lingkuangannya. Hal itu dia buktikan ketika di bawa ke rumah sakit dan ada anak yang sakit dia dengan entengnya dan lupa dengan sakitnya mengomentari anak itu dengan bahasa dewasa.

Memang dalam segi pergaulan Hafidz lebih unggul dari teman-temannya, meskipun dia masih anak-anak. Penampilan dan gaya menghadapi orang dengan mudahnya dia bisa berkomunikasi. Meskipun dia baru mengenal huruf dan merangkai kata-kata yang terbata-bata bukan menjadi halangan baginya untuk merangkai kata-kata dalam berbicaranya. Begitu juga dengan pelajaran lainnya Hafidz tergolong anak biasa-biasa saja. Mau mengikuti pelajaran sesuai dengan kemampuannya, kalau tidak mampu biasanya dimenjadi ide untuk menghidar dari tugas dan pelajaran dengan gaya yang khas. Hal ini bisa mencermikan anak ini memang membuat kepribadian yang kuat dan mampu melihat permasalahan dengan apa yang dia mampu. Karena dia menyadari posisi dirinya di dalam sebuah lingkungan, dalam hal ini lingkungan sekolah. Apa-apa yang dia bisa kerjakan maka dia akan mengerjakan, tapi apa-apa yang dia tidak bisa kerjakan dia tidak mungkin mengerjakan. Tapi kalau di dampingi dan dimotivasi dia baru bergerak, seolah dia ingin menyatakan pada orang lain lihatlah diri saya dengan apa adanya. Bukan karena tidak mampu atau tidak mau mengikuti pelajaran. Tapi karena tidak mengerti apa yang harus dia kerjakan kalau dia memang tidak mengerti, hal inilah yang menjadi pengamatan orang tua dan guru dalam melihat Hafidz dengan apa adanya.

Keberanian yang diaungkapkan hanya sebuah solusi ketakutan yang coba dia atasi dengan caranya sendiri. Cara yang diluar kesadarannya untuk melakukan apa-apa yang menjadi jalan keluarnya. Sebuah kesadaran diri yang begitu saja dilakukan tanpa tahu apa yang harus dikerjakan oleh Hafidz.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s