Mikail


MIKAIL ABUBAKAR DENGAN DUNIANYA


Sebuah realita yang dilihatnya dengan begitu saja, seolah dunia ini adalah duniannya. Jadi apa yang dia pikirkan seolah juga dipikirkan oleh orang lain. Namun hal itu tidak semudah apa yang dia banyangkan tentang sebuah realitas yang dihadapinya. Sehingga Mikail dengan begitu saja mengalami banyak hambatan dari lingkungannya. Terutama dalam proses belajar, kalau sudah begitu, maka Mikail harus mengadakan perubahan dan cara berpikirnya tidak seperti apa yang dia banyangkan, namun kelihatnya dia bisa mengadakan kompromi dengan orang lain dengan cara bertahap dengan tidak menghilangkan pandangan dan pikirnnya tentang apa yang dia pikirkan tentang realitas. Hal ini selalu berjalan dengan berbagai macam tahapannya. Dengan begitu dia lebih mudah menangkap realitas secara lebih baik. Dia bisa melihat teman sebagai temannya, tanpa mengurai dunianya sendirinya, temannya seolah-olah diajak kepada dunianya. Tanpa mengurangi apa yang menjadi sebuah kondisi sosial diantara mereka, yaitu dengan teman-temannya. Hal ini terlihat berjalan dengan begitu saja tapi mengurangi apa yang menjadi pikiran dan banyangannya tentang realitas sosial, yaitu teman-temannya atau gurunya. Dengan secara bertahap dia coba mengerti apa yang menjadi pikiran orang lain dan pikirannya sendiri. Sehingga dia mencoba untuk disingkronisasi pikiran orang lain atau realitas sosial dan lingkungannya untuk bisa cocok dengan pikirannya. Sebuah upaya yang dilakukan dengan begitu saja tanpa menjadi sebuah kesadaran. Bahwa apa yang dilakukan itu memang menjadi sebuah dialogis yang memerlukan upaya-upaya yang tidak mudah, tapi dia selalu melakukan hal itu.

Dunia bermainnya selalu membawa dirinya dunia pemikirannya untuk selalu melihat apa yang menjadi bayangannya itu memang harus bisa dilakukan. Karena dengan bermain itu membuat dirinya dengan begitu saja mampu bisa mengikuti apa yang menjadi inginan orang lain. Hal ini kelihatnnya ditrapkan dalam proses belajar di Merdeka Sekolah. Mikail bisa mengikuti tapi tidak begitu saja dia mengikuti belajar, karena dia harus melihat kebutuhan dirinya dalam mata pelajaran yang diberikan gurunya. Apakah cocok dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan, sudah tentu pemikiran yang dilakukan Mikail adalah pemikiran anak-anak yang semua itu diluar kesadarannnya. Hal ini yang membuat dirinya menjadi salah pengertian dengan gurunya. Karena apa yang dia pikirkan dan apa yang dipikiran gurunya untuk mengikuti pelajaran masih dalam tahapan penjajakan dalam dunianya. Kadang tidak begitu saja mengikuti pelajaran seperti yang lain. Begitu saja ditidak bisa memberikan sesuatu pada teman tanpa seijin dengan apa yang menjadi pikirannya. Karena dunia sudah dibentuk dengan pikirannya begitu saja tanpa dia sadari bahwa hal itu menjadi tidak sinkron dengan orang lain dan lingkungannya. Tapi itulah yang selalu menjadi dunianya untuk melihat diri dan realita yang dilihat dan dipahami tidak selalu sama dengan apa yang menjadi pikirannya.

Kesukaan dengan ketrampilan dan menggambar ini bukan berarti dia sedang membuat ketrampialan atau sedang menggambar. Tapi ketika dia sedang membuat sesuatu atau menggambar itu sama artinya dia sedang menjelajahi pikiran dan perasaannya terhadapa lingkungan dan orang lain yang sedang merespon dirinya. Karena dengan gambar seolah-olah dia sedang mencari sebuah pemahaman apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya atau apa yang terjadi pada orang lain. Sehingga orang lain merespon dirinya sedemikian rupanya. Inilah yang selalu menjadi sebuah pertanyaan yang berada diluar kesadarannya. Karena dunianya adalah dunia bermain yang selalu membuat dirinya begitu mudah dapat melihat dunia ini dengan caranya sendiri. Lingkungan dan teman-temannya dengan begitu saja mengikuti apa yang menjadi pikirannya dan begitu saja dia akan mengikuti ketika orang lain sepaham dengan pikirannya. Seolah-olah dengan pikirannya itu dia bisa memberikan banyak sesuatu pada orang lain.

Karena itu kalau belajar disekolah terlihat hanya sebagai sebuah pengertian yang coba ditunjukkan pada dirinya. Walapun dia sendiri tidak tahu kenapa harus demikian, dia melakkannya. Seolah realitas pikiran dan lingkungannya sedang adalah sebuah dialogis yang selalu menjadi kesamaan, agar dia mampu melihat realitas kehidupan dengan cara dunianya. Hal ini yang terlihat menjadi sebuah permasalahan bagi Mikail. Tapi ini adalah sebuah tahapan yang harus dilakukanya dalam tumbuh kembang dirinya dalam melihat realitas sosial dan lingkungan yang mempunyai dunia sendiri, bukan dunianya. (T.Aru)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s