Seminar Kreativitas 2 SISI


MI MERDEKA SEKOLAH KEMBALI MENGGELAR SEMINAR DENGAN TAJUK

KREATIVITAS DUA SISI ANAK

Kreatifitas bagian dari kehidupan manusia dan menjadi kepribadian yang menyatu di dalam diri seorang. Karena kreatifitas yang ada pada manusia itu memang menjadi tastenya Allah sebagai Sang Pencipta yang begitu kental dengan kreatifitas di dalam menciptakan alam semesta dan isi dunia. Allah begitu kuat untuk memberikan sebuah pemahaman pada manusia bahwa kehidupan ini memang bukan sebuah bentuk yang ada dengan sendirinya. Tapi memang diciptakan sebagai bagian dari kekuasaan Allah terhadap kehidupan ini. Dengan begitu sangat terlihat bahwa kreatifitas dua sisia Allah dalam kehidupan ini begitu kentara. Bagaimana Allah menciptakan Malam menjadi gelap gulita dan  sunyi sepi. Tapi dibalik gelap gulita dan sunyi itu adalah cahaya malam bukan hanya bulan dan bintang yang menghiasi hidup manusia. Tapi  Kedekatan manusia pada Allah pada malam hari menjadi sebuah dunia yang mempunyai sisi lain dari realitas kehidupan sosial yang dialaminya. Begitu juga sebaliknya kehidupan siang hari seolah menjadi realitas kehidupan yang sebenarnya, karena terlihat indah dan mempeson. Tapi pandangan itu tidak bisa menjadi sebuah pandangan satu sisi dari kehidupan manusia. Karena itu menjadi sebuah kehidupan dua sisi yang membuat manusia terjebak pada fatamorgan kehidupan, seolah tertipu oleh kehidupan dunia yang abadi. Pada hal itu hanya sebuah langkah awal dari kehidupan manusia pada kehidupan yang abadi.

Kreatifitas dua sisi menjadi persoalan manusia dalam melihat kehidupan ini yang kadang terjebak pada pemahaman yang sempit, artifial dan terbatas. Hal ini menjadi sebuah paradigma kapitalistik dalam melihat kreatifitas manusia dalam sebuah kemasan hiburan dan komersial. Seolah-olah kreatifitas adalah sebuah kehidupan orang maju dan beradab. Kreatifitas menjadi sebuah status kehidupan anak dalam dunia pendidikan. Pada hal dunia pendidikan tidak pernah melahirkan kreatifitas tapi menghancurkan kreatifitas anak. Karena dunia pendidikan adalah dunia penyeragaman dan mereduksi pandangan anak tentang dunianya. Dunia pragmatisme yang hanya berorientasi pada masalah angka dan status pendidikan bagi anak. Untuk bisa menyenangkan orang tuanya bahwa anak masuk dalam pendidikan modern yang notabenenya adalah penyempitan cara berpikir anak terhadap dunianya dan realitas sosialnya. Karena hanya menekankan pada akal, cara berpikir rasional dan logika yang sangat terbatas. Karena sejarah pengetahuan sudah membuktikan bahwa beradaban yang hanya mengadalkan logika dan berpikir rasional itu yang menyempitkan cara pandang anak pada dunianya dan realitas sosialnya. Anak tidak bisa lagi mengindentifikasi dirinya sebagai manusia yang mempunyai warna dan kehidupan yang begitu kaya. Karena sudah dibebani dengan pelajaran yang tidak relevan bagi pertumbuhan anak. Karena hanya dibebani dengan materi pelajaran yang dipaksakan untuk dikunya dan ditelan. Membuat anak mengalami kontraksi psikologi terhadap diri dan realitas kehidupannya. Membuat anak mengalami kegamangan dalam hidupnya. Karena apa yang dipelajari disekolah  tidak ditemui dalam kehidupannya. Nilai raport menjadi sebuah mantra yang hanya mengantarkan pada cara berpikir irasional. Yang awalnya rasional. Kenapa dikatakan irasional karena standart dari sebuah penilaian hanya sebuah ukuran guru sebagai target mengajar. Bukan urusan anak, karena anak hanya sebagai media, alat untuk memperlihatkan bahwa apa yang dilakukan guru, sistem itu harus bisa diterima oleh anak. Membuat pendidikan yang awalnya menjadikan anak yang kreatif dengan segala macam fasilitas yang disediakan sekolah, yang harus dibayar mahal oleh orang tua. Hanya menjerumuskan anak pada kehampaan hidup dan merubah anak menjadi zombi.

Tapi kalau kita lihat dalam kehidupan anak dengan dunia anaknya dengan segala yang ada dalam kehidupan dan alamnya. Yang menurut dunia pendidikan itu adalah sebuah permasalahan  yang tidak ada kaitannya dengan perkembangan anak. Mana mungkin anak bisa kreatif dan pintar tanpa mengenyam pendidikan disekolah. Karena dengan sekolah anak bisa terdidik dengan baik, seolah-olah menjadi anak yang kreatif dan cerdas. Pada anak-anak kita hanya sebagai obyek dunia pendidikan yang kapitalistik, yang hanya berorientasi pada masalah uang dan derajat kehidupan palsu.

Anak belajar dengan dunianya dan alamnya. Karena alam memang menjadi kehdiupan manusia yang selalu memberikan sentuhan yang tidak bisa dijelaskan oleh pemahaman dan pemikiran yang rasional. Karena kehidupan anak dalam belajar dengan dunianya menjadi kreatifitas yang mengali sebuah pontensi diri dan kehidupannya. Untuk bisa mengapai kehalusan budi perkerti dan keberanian dalam memutuskan. Karena budi perkerti dan keberanian adalah dua sisi yang selam membawa manusia pada sebuah kesadaran kreatif, tanpa harus dikemas dalam dunia pendidikan yang lebih bergengsi. Karena anak belajar dengan dunianya dan realitas sosial selalu merangkul kehidupan alam itu agar Allah selalu berperan dalam kehidupan dan pertumbuhan anak itu. Tapi kalau disekolah yang bisa mengembangkan kreatifitasnya, itu hanya sebuah kamuflasi dari dunia pendidikan yang kapitalistik dan hedonisme.

Untuk itu kreatifitas dua sisi anak menjadi sebuah pemahaman dunia anak terhadapi diri dan lingkungannya. Anak tidak dibentuk, dikemas, diwarnai, dihiasi dengan kehidupan yang palsu, dibangun dengan cita-cita  kesuksesan, yang hanya menghancurkan hidupnya. Karena anak bisa belajar bagaimana dia belajar sesuai dengan dirinya dan menjadikan belajar sebagai sebuah realitas kehidupan dirinya yang sebenarnya. Dengan begitu anak akan mampu menyerap pengetahuan dan permasalahan menjadi sebuah pengetahuan yang mampu dikelolanya secara lebih baik dan terpadu. Keinginan dan mimpinya berbenturan dengan dunia orang dewasa membuat dirinya dianggap sebagai orang pembangkang. Sikap kritis anak terhadap orang tua menjadi sebuah realitas yang anak yang tidak patuh pada orang tua.  Pembrontakan anak menjadi sebuah persoalan orang tua terhadap anak. Karena anaknya tidak bisa diatur, pada hal dalam sisi yang lain anak itu sebenarnya sedang mengatur dirinya dan mengelolah keinginannya yang menjadi dorongannya yang begitu kuat. Kreatifitas itu menjadi sebuah jendela dalam melihat kehidupan anak.

Kembali pada sejarah beradaban dunia diusirnya nabi Adam dari surga dua sisi yang bisa dimaknakan dalam kehidupannya. Bahwa kreatifitas yang salah kadang menyadarkan pada kerinduan dan kecintaan pada benar menjadi begitu kuat. Kerinduan dan kecintaan pada Allah membuat nabi Adam bertobat pada Allah.
Begitu juga Rosullah yang sudah dijamin masuk surga bukan menjadikan dirinya lupa pada Allah tapi justru lebih mendalam kecintaan dan rasa syukurnya pada Allah. Untuk selalu sholat dan sholat hanya untuk Allah. Kreatifitas keimanan dan ketaqwaannya membuat dirinya  selalu menangis dengan tersyungkur untuk selalu dekat pada Allah. Sebuah kreatifitas dua sisi yang menjadi keimannya selalu menjadi panutan dari kaum muslim pada umumnya.

 

2 thoughts on “Seminar Kreativitas 2 SISI

  1. KREATIFITAS DUA SISI ANAK

    Kreatifitas bagian dari kehidupan manusia dan menjadi kepribadian yang menyatu di dalam diri seorang. Karena kreatifitas yang ada pada manusia itu memang menjadi tastenya Allah sebagai Sang Pencipta yang begitu kental dengan kreatifitas di dalam menciptakan alam semesta dan isi dunia. Allah begitu kuat untuk memberikan sebuah pemahaman pada manusia bahwa kehidupan ini memang bukan sebuah bentuk yang ada dengan sendirinya. Tapi memang diciptakan sebagai bagian dari kekuasaan Allah terhadap kehidupan ini. Dengan begitu sangat terlihat bahwa kreatifitas dua sisia Allah dalam kehidupan ini begitu kentara. Bagaimana Allah menciptakan Malam menjadi gelap gulita dan sunyi sepi. Tapi dibalik gelap gulita dan sunyi itu adalah cahaya malam bukan hanya bulan dan bintang yang menghiasi hidup manusia. Tapi Kedekatan manusia pada Allah pada malam hari menjadi sebuah dunia yang mempunyai sisi lain dari realitas kehidupan sosial yang dialaminya. Begitu juga sebaliknya kehidupan siang hari seolah menjadi realitas kehidupan yang sebenarnya, karena terlihat indah dan mempeson. Tapi pandangan itu tidak bisa menjadi sebuah pandangan satu sisi dari kehidupan manusia. Karena itu menjadi sebuah kehidupan dua sisi yang membuat manusia terjebak pada fatamorgan kehidupan, seolah tertipu oleh kehidupan dunia yang abadi. Pada hal itu hanya sebuah langkah awal dari kehidupan manusia pada kehidupan yang abadi.

    Kreatifitas dua sisi menjadi persoalan manusia dalam melihat kehidupan ini yang kadang terjebak pada pemahaman yang sempit, artifial dan terbatas. Hal ini menjadi sebuah paradigma kapitalistik dalam melihat kreatifitas manusia dalam sebuah kemasan hiburan dan komersial. Seolah-olah kreatifitas adalah sebuah kehidupan orang maju dan beradab. Kreatifitas menjadi sebuah status kehidupan anak dalam dunia pendidikan. Pada hal dunia pendidikan tidak pernah melahirkan kreatifitas tapi menghancurkan kreatifitas anak. Karena dunia pendidikan adalah dunia penyeragaman dan mereduksi pandangan anak tentang dunianya. Dunia pragmatisme yang hanya berorientasi pada masalah angka dan status pendidikan bagi anak. Untuk bisa menyenangkan orang tuanya bahwa anak masuk dalam pendidikan modern yang notabenenya adalah penyempitan cara berpikir anak terhadap dunianya dan realitas sosialnya. Karena hanya menekankan pada akal, cara berpikir rasional dan logika yang sangat terbatas. Karena sejarah pengetahuan sudah membuktikan bahwa beradaban yang hanya mengadalkan logika dan berpikir rasional itu yang menyempitkan cara pandang anak pada dunianya dan realitas sosialnya. Anak tidak bisa lagi mengindentifikasi dirinya sebagai manusia yang mempunyai warna dan kehidupan yang begitu kaya. Karena sudah dibebani dengan pelajaran yang tidak relevan bagi pertumbuhan anak. Karena hanya dibebani dengan materi pelajaran yang dipaksakan untuk dikunya dan ditelan. Membuat anak mengalami kontraksi psikologi terhadap diri dan realitas kehidupannya. Membuat anak mengalami kegamangan dalam hidupnya. Karena apa yang dipelajari disekolah tidak ditemui dalam kehidupannya. Nilai raport menjadi sebuah mantra yang hanya mengantarkan pada cara berpikir irasional. Yang awalnya rasional. Kenapa dikatakan irasional karena standart dari sebuah penilaian hanya sebuah ukuran guru sebagai target mengajar. Bukan urusan anak, karena anak hanya sebagai media, alat untuk memperlihatkan bahwa apa yang dilakukan guru, sistem itu harus bisa diterima oleh anak. Membuat pendidikan yang awalnya menjadikan anak yang kreatif dengan segala macam fasilitas yang disediakan sekolah, yang harus dibayar mahal oleh orang tua. Hanya menjerumuskan anak pada kehampaan hidup dan merubah anak menjadi zombi.

    Tapi kalau kita lihat dalam kehidupan anak dengan dunia anaknya dengan segala yang ada dalam kehidupan dan alamnya. Yang menurut dunia pendidikan itu adalah sebuah permasalahan yang tidak ada kaitannya dengan perkembangan anak. Mana mungkin anak bisa kreatif dan pintar tanpa mengenyam pendidikan disekolah. Karena dengan sekolah anak bisa terdidik dengan baik, seolah-olah menjadi anak yang kreatif dan cerdas. Pada anak-anak kita hanya sebagai obyek dunia pendidikan yang kapitalistik, yang hanya berorientasi pada masalah uang dan derajat kehidupan palsu.

    Anak belajar dengan dunianya dan alamnya. Karena alam memang menjadi kehdiupan manusia yang selalu memberikan sentuhan yang tidak bisa dijelaskan oleh pemahaman dan pemikiran yang rasional. Karena kehidupan anak dalam belajar dengan dunianya menjadi kreatifitas yang mengali sebuah pontensi diri dan kehidupannya. Untuk bisa mengapai kehalusan budi perkerti dan keberanian dalam memutuskan. Karena budi perkerti dan keberanian adalah dua sisi yang selam membawa manusia pada sebuah kesadaran kreatif, tanpa harus dikemas dalam dunia pendidikan yang lebih bergengsi. Karena anak belajar dengan dunianya dan realitas sosial selalu merangkul kehidupan alam itu agar Allah selalu berperan dalam kehidupan dan pertumbuhan anak itu. Tapi kalau disekolah yang bisa mengembangkan kreatifitasnya, itu hanya sebuah kamuflasi dari dunia pendidikan yang kapitalistik dan hedonisme.

    Untuk itu kreatifitas dua sisi anak menjadi sebuah pemahaman dunia anak terhadapi diri dan lingkungannya. Anak tidak dibentuk, dikemas, diwarnai, dihiasi dengan kehidupan yang palsu, dibangun dengan cita-cita kesuksesan, yang hanya menghancurkan hidupnya. Karena anak bisa belajar bagaimana dia belajar sesuai dengan dirinya dan menjadikan belajar sebagai sebuah realitas kehidupan dirinya yang sebenarnya. Dengan begitu anak akan mampu menyerap pengetahuan dan permasalahan menjadi sebuah pengetahuan yang mampu dikelolanya secara lebih baik dan terpadu. Keinginan dan mimpinya berbenturan dengan dunia orang dewasa membuat dirinya dianggap sebagai orang pembangkang. Sikap kritis anak terhadap orang tua menjadi sebuah realitas yang anak yang tidak patuh pada orang tua. Pembrontakan anak menjadi sebuah persoalan orang tua terhadap anak. Karena anaknya tidak bisa diatur, pada hal dalam sisi yang lain anak itu sebenarnya sedang mengatur dirinya dan mengelolah keinginannya yang menjadi dorongannya yang begitu kuat. Kreatifitas itu menjadi sebuah jendela dalam melihat kehidupan anak.

    Kembali pada sejarah beradaban dunia diusirnya nabi Adam dari surga dua sisi yang bisa dimaknakan dalam kehidupannya. Bahwa kreatifitas yang salah kadang menyadarkan pada kerinduan dan kecintaan pada benar menjadi begitu kuat. Kerinduan dan kecintaan pada Allah membuat nabi Adam bertobat pada Allah.
    Begitu juga Rosullah yang sudah dijamin masuk surga bukan menjadikan dirinya lupa pada Allah tapi justru lebih mendalam kecintaan dan rasa syukurnya pada Allah. Untuk selalu sholat dan sholat hanya untuk Allah. Kreatifitas keimanan dan ketaqwaannya membuat dirinya selalu menangis dengan tersyungkur untuk selalu dekat pada Allah. Sebuah kreatifitas dua sisi yang menjadi keimannya selalu menjadi panutan dari kaum muslim pada umumnya.

  2. MAKNA KREATIFITAS DUA SISI ANAK

    Kreatifitas bagian dari kehidupan manusia dan menjadi kepribadian yang menyatu di dalam diri seorang. Karena kreatifitas yang ada pada manusia itu memang menjadi tastenya Allah sebagai Sang Pencipta yang begitu kental dengan kreatifitas di dalam menciptakan alam semesta dan isi dunia. Allah begitu kuat untuk memberikan sebuah pemahaman pada manusia bahwa kehidupan ini memang bukan sebuah bentuk yang ada dengan sendirinya. Tapi memang diciptakan sebagai bagian dari kekuasaan Allah terhadap kehidupan ini. Dengan begitu sangat terlihat bahwa kreatifitas dua sisia Allah dalam kehidupan ini begitu kentara. Bagaimana Allah menciptakan Malam menjadi gelap gulita dan sunyi sepi. Tapi dibalik gelap gulita dan sunyi itu adalah cahaya malam bukan hanya bulan dan bintang yang menghiasi hidup manusia. Tapi Kedekatan manusia pada Allah pada malam hari menjadi sebuah dunia yang mempunyai sisi lain dari realitas kehidupan sosial yang dialaminya. Begitu juga sebaliknya kehidupan siang hari seolah menjadi realitas kehidupan yang sebenarnya, karena terlihat indah dan mempeson. Tapi pandangan itu tidak bisa menjadi sebuah pandangan satu sisi dari kehidupan manusia. Karena itu menjadi sebuah kehidupan dua sisi yang membuat manusia terjebak pada fatamorgan kehidupan, seolah tertipu oleh kehidupan dunia yang abadi. Pada hal itu hanya sebuah langkah awal dari kehidupan manusia pada kehidupan yang abadi.

    Kreatifitas dua sisi menjadi persoalan manusia dalam melihat kehidupan ini yang kadang terjebak pada pemahaman yang sempit, artifial dan terbatas. Hal ini menjadi sebuah paradigma kapitalistik dalam melihat kreatifitas manusia dalam sebuah kemasan hiburan dan komersial. Seolah-olah kreatifitas adalah sebuah kehidupan orang maju dan beradab. Kreatifitas menjadi sebuah status kehidupan anak dalam dunia pendidikan. Pada hal dunia pendidikan tidak pernah melahirkan kreatifitas tapi menghancurkan kreatifitas anak. Karena dunia pendidikan adalah dunia penyeragaman dan mereduksi pandangan anak tentang dunianya. Dunia pragmatisme yang hanya berorientasi pada masalah angka dan status pendidikan bagi anak. Untuk bisa menyenangkan orang tuanya bahwa anak masuk dalam pendidikan modern yang notabenenya adalah penyempitan cara berpikir anak terhadap dunianya dan realitas sosialnya. Karena hanya menekankan pada akal, cara berpikir rasional dan logika yang sangat terbatas. Karena sejarah pengetahuan sudah membuktikan bahwa beradaban yang hanya mengadalkan logika dan berpikir rasional itu yang menyempitkan cara pandang anak pada dunianya dan realitas sosialnya. Anak tidak bisa lagi mengindentifikasi dirinya sebagai manusia yang mempunyai warna dan kehidupan yang begitu kaya. Karena sudah dibebani dengan pelajaran yang tidak relevan bagi pertumbuhan anak. Karena hanya dibebani dengan materi pelajaran yang dipaksakan untuk dikunya dan ditelan. Membuat anak mengalami kontraksi psikologi terhadap diri dan realitas kehidupannya. Membuat anak mengalami kegamangan dalam hidupnya. Karena apa yang dipelajari disekolah tidak ditemui dalam kehidupannya. Nilai raport menjadi sebuah mantra yang hanya mengantarkan pada cara berpikir irasional. Yang awalnya rasional. Kenapa dikatakan irasional karena standart dari sebuah penilaian hanya sebuah ukuran guru sebagai target mengajar. Bukan urusan anak, karena anak hanya sebagai media, alat untuk memperlihatkan bahwa apa yang dilakukan guru, sistem itu harus bisa diterima oleh anak. Membuat pendidikan yang awalnya menjadikan anak yang kreatif dengan segala macam fasilitas yang disediakan sekolah, yang harus dibayar mahal oleh orang tua. Hanya menjerumuskan anak pada kehampaan hidup dan merubah anak menjadi zombi.

    Tapi kalau kita lihat dalam kehidupan anak dengan dunia anaknya dengan segala yang ada dalam kehidupan dan alamnya. Yang menurut dunia pendidikan itu adalah sebuah permasalahan yang tidak ada kaitannya dengan perkembangan anak. Mana mungkin anak bisa kreatif dan pintar tanpa mengenyam pendidikan disekolah. Karena dengan sekolah anak bisa terdidik dengan baik, seolah-olah menjadi anak yang kreatif dan cerdas. Pada anak-anak kita hanya sebagai obyek dunia pendidikan yang kapitalistik, yang hanya berorientasi pada masalah uang dan derajat kehidupan palsu.

    Anak belajar dengan dunianya dan alamnya. Karena alam memang menjadi kehdiupan manusia yang selalu memberikan sentuhan yang tidak bisa dijelaskan oleh pemahaman dan pemikiran yang rasional. Karena kehidupan anak dalam belajar dengan dunianya menjadi kreatifitas yang mengali sebuah pontensi diri dan kehidupannya. Untuk bisa mengapai kehalusan budi perkerti dan keberanian dalam memutuskan. Karena budi perkerti dan keberanian adalah dua sisi yang selam membawa manusia pada sebuah kesadaran kreatif, tanpa harus dikemas dalam dunia pendidikan yang lebih bergengsi. Karena anak belajar dengan dunianya dan realitas sosial selalu merangkul kehidupan alam itu agar Allah selalu berperan dalam kehidupan dan pertumbuhan anak itu. Tapi kalau disekolah yang bisa mengembangkan kreatifitasnya, itu hanya sebuah kamuflasi dari dunia pendidikan yang kapitalistik dan hedonisme.

    Untuk itu kreatifitas dua sisi anak menjadi sebuah pemahaman dunia anak terhadapi diri dan lingkungannya. Anak tidak dibentuk, dikemas, diwarnai, dihiasi dengan kehidupan yang palsu, dibangun dengan cita-cita kesuksesan, yang hanya menghancurkan hidupnya. Karena anak bisa belajar bagaimana dia belajar sesuai dengan dirinya dan menjadikan belajar sebagai sebuah realitas kehidupan dirinya yang sebenarnya. Dengan begitu anak akan mampu menyerap pengetahuan dan permasalahan menjadi sebuah pengetahuan yang mampu dikelolanya secara lebih baik dan terpadu. Keinginan dan mimpinya berbenturan dengan dunia orang dewasa membuat dirinya dianggap sebagai orang pembangkang. Sikap kritis anak terhadap orang tua menjadi sebuah realitas yang anak yang tidak patuh pada orang tua. Pembrontakan anak menjadi sebuah persoalan orang tua terhadap anak. Karena anaknya tidak bisa diatur, pada hal dalam sisi yang lain anak itu sebenarnya sedang mengatur dirinya dan mengelolah keinginannya yang menjadi dorongannya yang begitu kuat. Kreatifitas itu menjadi sebuah jendela dalam melihat kehidupan anak.

    Kembali pada sejarah beradaban dunia diusirnya nabi Adam dari surga dua sisi yang bisa dimaknakan dalam kehidupannya. Bahwa kreatifitas yang salah kadang menyadarkan pada kerinduan dan kecintaan pada benar menjadi begitu kuat. Kerinduan dan kecintaan pada Allah membuat nabi Adam bertobat pada Allah.
    Begitu juga Rosullah yang sudah dijamin masuk surga bukan menjadikan dirinya lupa pada Allah tapi justru lebih mendalam kecintaan dan rasa syukurnya pada Allah. Untuk selalu sholat dan sholat hanya untuk Allah. Kreatifitas keimanan dan ketaqwaannya membuat dirinya selalu menangis dengan tersyungkur untuk selalu dekat pada Allah. Sebuah kreatifitas dua sisi yang menjadi keimannya selalu menjadi panutan dari kaum muslim pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s