Tanah Merdeka


Lahan Yang Merdeka

Kapan Sekolahku Dibangun ?

Ketika asa-asa itu mulai terpenuhi. Sedikit-demi sedikit Tuhan memberikan jalan untukmelakukan perbaikan. Walau beranjak sangat perlahan dan tertatih, namun semua menandakan adanya pergerakan. Ketika asa-asa itu mulai nampak nyata, semua terus bergulir dan ternyata terlahir asa-asa baru yang lebih mengembang.

Saat beberapa waktu terlalu, begitu membumbungnya tinggi asa ini. Ingin membuat sebuah perubahan dalam peradaban pendidikan yang kini kian terkoyak oleh nafsu-nafsu realitas. Namun  disadari cacian dan hujatan tak mampu menyibak keberadaan dan yang patut adalah berbuat dan harus berbuat.

Dengan segala yang ada atas karuni-Nya, Sekolah Beradab itu akhirnya lahir dengan merdeka. Memberi ruang belajar yang berbeda yang penuh dengan kemerdekaan. Belajar adalah kewajiban insan, yang tidak dikungkung oleh batasan-batasan angka dan hafalan.

Namun sekolah itu belum Merdeka, karena masih berada di bumi sewaan. Ruang-ruang itu seakan masih menyisakan ketidakmerdekaan. Terasa diri ini belum lega untuk berkata ya, ini adalah Sekolah Peradaban yang Merdeka. Gelisah dan terus gelisah, berlarut dengan arah yang tak beraturan, liar bergerak menggelayut pada langit-langit keraguan dan ketakutan. Dan, akhirnya Tuhan yang memutuskan. Lahan Merdeka kini telah Ada.

Air mata ini menetes malu-malu namun menyesakkan, ketika melihat anak merdeka ragu-ragu melangkah di tanah kenyataan. Mereka seakan tak percaya bahwa tanah kebebasan itu kini telah ada dan Merdeka. Matanya terawang kesegala arah, pohon-pohon yang kokoh dan beberapa tumbuhan liar itu menghijaukan matanya. Hatinya lari mengembara untuk tak sabar bergelantungan di dahan-dahan kemerdekaan. Suaranya tak kuasa ditahan untuk segera berteriak, ‘kini aku punya tanah kemerdekaan’.

Mereka dengan masih tak percaya lirih bertanya ‘Pak.., apa benar ini tanah Merdeka ?’. Sambil kupeluk anak-anak merdeka itu dan kuucap ‘Kemarilah anak-anakku sayang, dekatlah di dadaku dan jawabannya akan kau temukan dari suara hatiku ini ‘. Setelah sekian masa menyatu dalam pelukan kasih, diantara mereka berucap ‘ I ya, pak. Aku sekarang percaya bahwa tanah ini adalah Tanah Kemerdekaan, hadiah dari Tuhan atas rintihan dan harapan kita yang tak pernah berhenti’. ‘Terimakasih anaku, silahkan berlarilah bebas di tanah ini, raihlah bekal sebanyaknya ditempat ini, hingga suatu saat kalian akan meluaskan tanah kemerdekaan ini ke merata bumi. Cepatlah-cepat berlari, kalian sudah terlalu lama berpijak pada tanah sewaan.’

Tanah Merdeka itu masih kosong, tanah itu kini masih sekedar menjadi pondasi. Anak-anak yang berlarian suatu saat akan kepanasan dan kehujanan, mereka membutuhkan teduhan yang rindang. Kembali diri ini tertegun, kapan anak-anak bisa berlari meniti ilmu ditempat yang teduh dan damai. Diatas bumi kemerdekaan ini harus dibangun madrasah sejahtera. Tempat semua belajar menjadi manusia yang beradab, menjadi manusia yang berarti bagi kehidupan.

Kini saatnya untuk kembali berdo’a dan memohon kepada Tuhan, supaya memberi kekuatan untuk hamba-hamba yang biasa ini. Supaya bisa dan mau untuk kembali lebih keras berupaya, mewujudkan bangunan sejahtera. Anak-anak merdeka merindukan naungan, anak-anak merdeka ingin belajar dengan seksama, dibawah pohon-pohon kasih sayang. Tunggulah wahai anak-anak merdeka, semoga tak berwaktu lama, Tuhan akan menghadiahkan kita dengan istana-istana belajar, yang menjadi media tempatan bagimu wahai anak Peradaban. Teruslah berharap dengan sangat, jangan pernah kendorkan harapmu, semakin keraslah berteriak untuk memohon kepada Tuhan. Anak-anakku, Tuhan akan menjawab pintamu dengan lebih cepat. Amiin. (Tanda S)

One thought on “Tanah Merdeka

  1. IMPRESI ORANG TUA DAN MASYARAKAT

    Pendidikan bagaian dari kehidupan manusia dalam konstelasi sosial yang memberikan makna pada sebuah pemahaman kemajuan dan masa depan. Disisi lain pendidikan merupakan mampu melihat kehidupan manusia menjadi lebih bermakna dan sublim. Namun hal itu semua selalu menjadi sebuah pemahaman retorika yang ada dalam kehidupan manusia. Yang memang sudah tidak memungkinkan ada dalam realitas sosial masyaraktnya. Karena pemahaman pendidikan itu bukan lagi menjadi tapi sudah tidak ada dalam benak kehidupan masyarkat. Karena yang ada sekolah dan uang. Menyelenggarakan pendidikan dengan mendirikan sekolah sama dengan menghasilkan profit, uang dan kekayaan yang memberikan kesenangan dan kenikmatan dunia. Karena tanpa uang hidup ini menjadi hina dina dimata manusia yang menjadi masyarakat materialisme dan hedonisme.

    Merdeka Sekolah menjadi impresi orang tua karena membuat anak-anak banyak kemajuan di dalam pelajaran dan terutama pelajaran agama hal itu yang terbesit dari orang tua Aghniya. Begitu juga apa yang dikatakan orang tua Aulia merasakan betul kemajuan anak yang penakut menjadi anak pemberani, begitu juga dari akademiknya sejalan dengan kemajuan pelajaran agama. Tapi keberanian dan kritisnya memang menjadi sebuah persoalan yang tersendiri bagi orang tua. Karena keberanian untuk mencoba yang sesuatu yang tidak lazim membuat orang tuanya dan sekolah perlu ada pendekatan tersendiri. Sedangakan kekuatiran orang tuanya tentang pelajaran agama apa selalu dalam kondisi baik atau bisa dipertahankan selanjutnya. Inilah yang menjadi persoalan Merdeka Sekolah yang selalu mencari bentuk-bentuk lain dalam model pendidikan. Untuk bisa mengatas anak-anak secara tepat dan pas. Untuk pendidikan guru dan kosuldasi guru perlu selalu dikembangkan menjadi sebuah pembelajaran. Sedangkan Merdeka Sekolah seperti sekolah alam karena memberikan impresi tersendiri pada masyarakat. Untuk melihat Merdeka Sekolah pada paradigma kehidupan yang lebih kaya pada anak. Kebebasan yang difasilitasi pada pemahaman tentang pendidikan kelihat menjadi ketertarikan masyarakat untuk melihat sebagai sebuah realitas pendidikan. Memang impresi ini hanya terlihat sebagai sebuah ruang masyarakat yang telah jenuh pada kehidupan yang artifial. Di mana semau serba tiruan dan kehidupan penuh dengan tiruan dan kepalsuaan. Untuk itu masyarakat seolah ingin melepasnya dan mereka mencari wadahnya. Tapi kembali sebuah pencitraaan yang menjadi kiat tersendiri bagi President kita saat ini membuat masyarakat menjadi latah di dalam penampilannya dengan membangun image yang baik dan modern. Begitu juga di dalam memilih sekolah anaknya bukan sekedar menyekolahkan anaknya, tapi juga bagaimana membangun image dirinya atau pencitraan pada orang lain menjadi penting. Untuk itu masyarakat yang mempunyai kemampuan uang akan menyekolahkan anak pada sekolah yang bagus dan modern. Pada hal istilah bagus dan modern itu selalu lewat menjadi sesuatu yang feoldal dan jumut dalam kehidupan ini, karena manusia menjadi sebuah barang yang tidak bertuan.

    Namun impresi berbagi dan menjadi infaq bagian dari kehidupan sosial masyarakat ini menjadi sebuah kehidupan mimpi. Di mana mimpi itu memberikan harapan yang banyak sekaligus memberikan kecemasan apa bisa Merdeka Sekolah itu berjalan dan itu hampir sebuah orang, masyarakat dan dunia pendidikan melihat pendidikan itu tidak memungkinkan, sampai ustad dan ahli pendidikan mengatakan pendidikan itu tidak mungkin berjalan dengan baik. Tapi mimpi itu memang sedang perlahan-lahan terbit menjadi sebuah realitas yang harus diperjuangkan dan menjadi sebuah pilihan masyarakat untuk melihat kehidupan dan dunia pendidikan itu menjadi lebih sublim dan memperkayaan imanan dan ketaqwaan pada Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s