Presentasi LCD


Belajar Presentasi dengan LCD


Pelajaran proyek besok yaitu membuat kue coklat bulat’, informasi bunda Mala diakhir sekolah. Anak-anak nampak ceria sekali sambil bertanya-tanya ‘kue coklat bulat itu kayak apa sih ?’. Bunda Mala melanjutkan dengan beberapa peralatan dan bahan yang harus disiapkan oleh anak-anak, dan anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok kecil 3-4 orang. Sekolahpun berakhir, dan  anak-anak penuh keriangan sambil memendam rasa ingin segera belajar membuat kue coklat bulat. Apalagi, besok katanya selesai praktek membuat kue, anak-anak belajar mempresentasikan ke depan kelas dengan menggunakan LCD dan notebook.

Hari esokpun tiba. Anak-anak penuh ceria datang kesekolah Merdeka, mereka membawa beberapa peralatan dan bahan untuk pelajaran proyek yaitu membuat kue coklat bulat. Ada yang membawa nampan lebar, ada yang membawa bungkusan coklat, ada juga yang membawa meses coklat. Tufa dan Nining kebagian tugas membawa mangkok sedangkan Solah nampak membawa beberapa potong tusuk bakso. Akhirnya jam pelajaran praktekpun dimulai.

Beberapa guru wanita mempersiapkan beberapa hal untuk kelancaran pelaksanaan praktek. Anak-anakpun sudah mulai berkumpul dengan kelompoknya masing-masing, tentu dengan peralatan dan bahannya. Pertama kali bunda Mala memberikan contoh cara membuat kue coklat bulat, anak-anak baik laki-laki maupun perempuan dengan simaknya memperhatikan. Setelah itu, anak-anak mulai mempraktekan. Dimulai dari membuat coklat ditambakan  sedikit air matang supaya bisa agak lembut dan bisa dibentuk bulat. Setelah terbentuk bulatan-bulatan coklat maka digelindingkan pada hamparan meses yang telah disiapkan. Nah akhirnya jadilah kue coklat bulat berbalut meses coklat.


Setelah jadi, beberapa puluh keu coklat, maka anak-anak diberikan pelajaran untuk menawarkan/menjajakan kue tersebut kepada siapa saja yang berada diluar lingkungan sekolah. Kelompok di bagi dengan arah berbeda agar tidak saling bertumpukan daerah pemasaranya. Waktu yang diberikan 30 menit. Siapa yang paling laku maka akan mendapatkan hadiah. Anak-anakpun mulai berangkat menjajakan dagangan kue coklat bulatnya. Setiap orang yang ditemui dicoba untuk ditawari, bahkan beberapa diantaranya memperkenankan calon pembeli untuk mencicipi agar puas dan tak salah sebelum membeli.

Beberapa guru memegang handycamp  dan foto untuk mengabadikan setiap tahapan proses praktek membuat  kue tersebut. Mulai dari bahan yang disiapkan, proses pembuatan hingga penjualan semua diabadikan/direcord dengan teliti. Hasil dari foto dan video itulah yang nantinya akan dijadikan bahan oleh anak-anak untuk melakukan presentasi di depan kelas.

Setelah acara jualan selesai, anak-anak Merdeka istirahat sejenak sambil menghitung hasil jualan dan menyiapkan bahan presentasi dengan guru pendampingnya. Tak lupa kue-kue yang belum laku dijual dijadikan santapannya, ‘Ueih mgeunah pisan atuuuuh’, teriak Isa dengan logat sunda kentalnya.

Acara presentasipun dimulai, masing-masing kelompok mempresentasikan proses pembuatan mulai bahan hingga hasil penjualannya. Salah seorang diantara mereka mempresentasikan di depan kelas dengan dukungan LCD yang dipancarkan pada screen/layar putih yang terpampang di depan kelas. Untuk memperhebat ppresentasinya, masing-masing penyaji dilengkapi dengan remote dan laser milik sekolah. Presentasi dengan power point dilengkapi dengan video dan foto disamping beberapa tulisan penjelas. Semua anak nampak bahagia dan bangga sekali atas karya dan  belajar mereka hari itu. Demikian juga guru-guru, dengan begitu cermatnya mengontrol setiap tahapan pembelajaran agar terarah dan tidak  semrawut.

Beginilah pendidikan di Merdeka,  memberikan ruang pada anak untuk belajar pada kenyataan dengan pendekatan dimasanya. Dunia audio visual yang kian marak, disanak juga oleh anak Merdeka dengan ramah. Mereka memanfaatkan kemajuan untuk kebaikan. Anak-anak merdeka yang berada pada  ruang sewaan, namun melaju dengan model-model pembelajaran yang modern. Sebenarnya demikianlah anak merdeka, yang belajar dengan segala media yang ada. Terkadang mereka harus mencebur ke lumpur sawah untuk belajar menanam padi, mereka juga perlu ke lab komputer untuk bisa mengakses internet, mereka juga perlu turun ke pasar dan masyarakat untuk menjajakan dagangannya. Sebuah pendidikan yang diharpakn komplit dapat mereka raih disekolah kenyataan ini.


Puji syukur kepada Tuhan, dari sekolah yang sederhana ini, menyajikan model pendidikan yang tidak  sederhana, bahkan dapat menyajikan pendidikan berkelas untuk sesama. Bahkan apa yang dilakukan anak merdeka belum tentu didapatkan anak seusianya ditempat belajar yang lain. Anak Merdeka adalah anak kenyataan, yang suatu saat dia akan menjadi anak yang harus berbuat sesuatu yang nyata dimasanya.

Anak Merdeka terus melaju untuk menjadi masusia yang BERADAB.

(Tanda S)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s