Merdeka Sekolah Berbagi


MERDEKA SEKOLAH BERBAGI

Pada pendidikan Merdeka Sekolah berjalan dalam bayang yang hedonisme dan pragmatisme. Sebagai sebuah perjalan lautan dan langit yang membentang untuk bisa memaknai dari kehidupan ini. Bahwa sekolah itu apa ada sesuai dengan yang namanya sekolah, guru mengajar agar muridnya cerdas dan berguna bagi bangsa dan agama. Bukan sekolah yang mempersulit masyarakat dan rakyat untuk bisa mengakses kemajuan di dalam menghadapi tantangan hidup di masa akan datang. Dengan segala seleksi dan polarisasi pendidikan, ada pendidikan orang miskin, pendidikan kelas menengah, pendidikan orang kaya, pendidikan internasional yang hanya bermuara pada masalah ekonomi. Bukan masalah karakter sebuah kehidupan setiap orang, masyarakat dan bangsa ini. Seolah-olah anak-anak kita didik untuk menjadi bagian dari mekanisme industri. Karena pendidikan bukan lagi melahirkan anak didik yang baik, tapi pendidikan mencetak anak yang cerdas, di mana sistem berpikirnya bukan lagi dengan pola berpikir seorang anak yang berkarakter, dengan ekspresif, penuh dengan ide dan pandangan yang sublim. Tapi anak yang diperlakukan seperti mesin, karena sistem berpikiran dipolakan seperti mesin, sehingga pendidikan hanya membentuk pola berpikir instrumental, bukan pada pola berpikir yang sublim, yang lebih memahami kehidupan. Bahwa bekerja, berusaha adalah bagian dari keberadaan manusia untuk saling berbagi dan melengkapi. Bukan saling meniadakan dan menguasai orang lain. Hal ini yang perlu disadari dalam kehidupan bahwa bekerja, berusaha menjadi sukses dan berhasil menjadi orang kaya dan terkaya, menjadi orang terhormat dan dihormati karena bukan harta tapi kepeduliannya pada kehidupan masyarakat dan rakyat sebagai, wujud dari kehidupan manusia dengan manusia yang lebih baik. Karena kebaikan itu menjadi sebuah amal ibadah pada seseorang di mata Allah.

Untuk perlu adanya Merdeka Sekolah yang bisa mengakomodir dari kehidupan masyarkat yang berada dalam bayang-bayang kehidupan hedonisme, yang memujakan kesenangan sesaat, dan pragmatis, yang mementingkan kehidupan yang instan sehingga mengabaikan proses dan makna dari pendidikan di dalam kehidupan ini. (Tri Aru)

One thought on “Merdeka Sekolah Berbagi

  1. NILAI RAPORT YANG MENYESATKAN

    Sudah ada kabar baik bagi guru dan orang tua murid yang menyangkut dengan pendidikan anaknya. Bahwa kelulusan siswa bukan lagi ditentukan dari UAN lagi. Tapi ditambah dari hasil raport dari kelas 1-3 SMP, begitu juga dengan SMA. Sudah tentu SD akan kicipratan kabar baik itu. Sekaligus menjadi kabar penyelasan bagi guru yang ingin membangun pencintraan diri dan sekolahnya. Karena tidak memberikan nilai yang baik bagi anak-anak didik pada awal kelas 1. Menjadi sebuah gambaran yang begitu kentara bahwa sekolah itu bukan lagi sebagai sebuah lembaga pendidikan. Tapi sebagai sebuah lembaga penghacur pertumbuhan anak secara baik dan menyeluruh dalam melihat diri dan kehidupannya. Karena anak sudah tidak dilihat sebuah manusia tapi sebagai komodite ekonomi dan kapital bagi kepentingan materi yang tidak seberapa tapi berdampak sangat tragis bagi kehidupan anak. Seolah anak ada di sekolah bukan karena anak itu sebuah dirinya sendiri atau panggilan dari kehidupan yang selalu memberikan warna keindahan dari sebuah cinta dan kasih sayang. Yang membuat kehidupan sosial masyarakat itu menjadi harmonis dan selaras dengan lingkungan hidupnya.

    Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan sudah beku membeku. Karena paradigma yang dipakain bukan lagi menjadi anak itu baik tapi semangkin kehilangan dirinya. Karena paradigma yang dipakai adalah paradigma positif yang mempunyai kecenderungan pada generalisasi permasalahan dan pengulangan yang sangat membosankan. Bagaimana mana kemampuan anak dibatasi pada permasalahan materi pembelajaran yang diberikan guru. Karena anak yang melampaui materi pembelajaran dianggap pembangkang dan kalau tidak bisa mengikuti materi pembelajaran yang diberikan guru dianggap bodoh, goblok, tapi bahasa halusnya tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Pada hal anak bukan tidak mau mengikuti pelajaran guru, karena dia sendiri mempunyai materi pembelajaran sendiri. Karena konsep belajar adalah bagaimana menguasi materi pelajaran, dan anak mempunyai materi pelajaran sendiri. Hanya saja materi pembelajaran yang dipunyai anak tidak bisa diakomodir, karena statusnya masih dianggap siswa yang dianggap tidak tahu apa-apa. Jadi kalau anak itu tahu dianggap sok tahu. Karena yang mengatakan anak sok tahu itu gurunya sangat sok tahu jadi kelihatan bodohnya. Ini masalah yang mendasar bagi pendidikan. Kemerdekaan untuk belajar dibatasi pada kerangka berpikir yang normatif dan terjebak pada generalisasi, menyamarakatakan anak satu dengan yang lain. Pada hal gurunya sendiri tidak mau disamakan dengan simpanse walaupun mempunyai kesamaan yang mendekati prilaku manusia. Malah sebaliknya manusia itu lebih kejam dari pada bintang.

    Pengisisan raport dengan nilai angka saja sudah memperlihatkan keterbatasa guru di dalam melihat perkembangan anak dengan apa adanya. Karena sesuatu yang dinilai dengan angka itu sama arti sesuatu yang bisa diukur, tidak berubah-ubah, tidak bergerak dan tidak punya hati nurani. Jadi kalau guru menilai anak dengan angka sama artinya guru memperlakukan anak seperti benda. Dan hal itu yang selalu disinyalir oleh kebanyak kritikus pendidikan yang mengatakan bahwa siswa itu bukan obyek, bank atau benda gelas yang bisa dituangkan air seenaknya. Karena benda sangat terbatas. Tapi manusia bisa diluar batas, seperti cara penilaian anak dengan anak itu diluar batas, tidak pada proposinya. Sebagai mahluk Allah yang selalu memberikan kemungkinan untuk selalu berkembang dan tumbuh dengan baik. Karena dinaugi oleh kehidupan yang begitu indah dan mempesona. Yang membawa perasaan manusia untuk selalu mengungkapkan perasaannya dengan cinta dan kasih sayang yang tidak bisa diukur dengan statistik atau dengan diagram. Tapi itu bisa dijelaskan dengan ungkapan yang empati dan hangat.

    Nilai raport yang menyesatkan itu membuat anak menjadi kehilangan dunianya. Karena sudah dibatasi dengan hasil nilai yang tidak bisa dipertanggung jawabkan dalam bentuk angka. Dan itu sudah dibuktikan dalam kehidupan ini banyak orang yang mempunyai nilai yang baik dan gelar akademiknya yang baik tapi masih saja korup. Karena hati nuraninya sudah hilang dan terhembas dengan kemilai pengetahuan yang mengabaikan perasaan dan kehangatan cinta sebagai manusia.

    Untuk itu perlu ada paradigma baru dalam melihat perkembangan anak dalam sebuah raport. Yaitu dengan mempergunakan eraport yang dapat memberikan gambar secara alamiah. Bagaimana kegiatan dan aktifitas anak di sekolah dan dirumah itu menjadi sebuah satu kesatuan yang dapat merepresentasi keberadaan anak sebagai dirinya. Bukan sebuah sebuah keputusan guru yang mematikan dengan nilai angka.

    Bahasa tubuh, bahasa visual dan audio memberikan kemungkinan pada orang tua dan masyarakat bisa melihat permasalahan pendidikan dengan adil. Karena melihat perkembangan anak bukan dengan raport yang kuantitatif tapi ada juga raport yang bersifat partisipasi anak di dalam belajar yang menyangkut diri dan kehidupannya. Yang kemudian bisa dikorelasikan pada permasalahan materi pembelajaran yang bersifat abstrak, kalau tidak mau dibilang absurd.

    Karena eraport itu memberikan banyak kemungkinan pada anak dan orang tua untuk bisa melihat diri anak dan anak sediri juga bisa melihat dirinya. Karena di eraport itu ditangkap sebuah yang menyangkut kecerdasan emosi, perasaan dan motorinya sebagai bentuk aktifitas dirinya untuk melangkah kedepan secara baik. Membuat eraport itu menjadi sebuah representasi dari dirinya untuk bisa melihat dan membuka kemungkinan untuk bisa melakukan sesuatu yang lebih baik. Karean eraport itu cermin yang mudah ditangkap dan dipahami dengan baik dan sangat menghibur, sehingga memberikan kemungkinan pada anak untuk menjadi lebih kreatif dan inspiratif bagi orang lain dan dirinya sendiri. Di bandingkan dengan raport yang konvensional, abstrak karena kecerdasaran dinilai dengan angkat bukan dengan visual.

    Sebuah paradigma eraport itu membawa anak dan orang tua kepada masa dengan secara bersama. Untuk bisa mengarungi luasnya samudra dan keindahan alam semesta ini bersama orang tua, sanak saudara dan orang lain. Karena eraport itu memang bagian dari dirinya sendiri. Bukan dari orang lain, karena orang lain hanya merekam yang menjadi aktifitasnya secara alamiah, tidak direkayasa atau dibuat-buat. Karena akan merusak proses belajar yang dilakukan secara alamiah dan mudah untuk mencernanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s