Model Pendidikan Apa Ini ?

 

Biarkan Anak Belajar dengan Caranya

Anak-anak itu dibiarkan berhamburan. Entah tidak ada arahan yang jelas apa yang harus dilakukan. Tidak ada tujuan isntruksional pembelajaran, tidak ada target capaian dan asesoris satuan acara pengajaran lainnya. Semua berjalan seolah tak berpola dan tak berujung, selain menghabiskan waktu (Killing Times) hingga masa belajar usai. Anak-anak hanya mendapatkan teriakan-teriakan dan basah keringat bercucuran. Baju-baju kotor untuk oleh-oleh ke ibu di rumah, inilah hasil belajar yang berlangsung disekolah itu dari waktu ke waktu.

Guru-guru disitu seolah tak pernah merasa salah dengan ala belajar yang berlangsung disekolahnya. Semua berjalan tak beraturan dan begitu saja berlalu. Wajah-wajah guru itu tetap serius entah apa yang sedang dibenak kepalanya, seolah sedang berfikir keras tentang masa depan yang panjang tentang pendidikan. Karena penasaran maka aku coba untuk bertanya dan menanyakan tentang model pendidikan disekolah itu. Suatu waktu saya bertandang ke sekolah tak beraturan itu dan berdiskusi tentang banyak hal tentang  apa yang sebenarnya terjadi disekolah itu.

‘Saya dengar dan lihat bahwa sekolah disini sekolah tidak jelas apa benar sih?”, tanyaku dalam nada heran. Seseorang yang katanya koordinator disekolah itu, tersenyum dan menundukkan kepada sambil bernafas datar lembut. ‘Begini pak, memang sekolah ini sebenarnya bukan sekolah. Namun tempat belajar untuk menjadi lebih baik daripada tidak belajar, itu saja visi kami. Memang kami tidak bisa disetarakan dengan sekolah-sekolah yang lain, yang lebih dalam segala hal. Tapi tidak berarti kami tidak memiliki kelebihan’ , jawab koordinator sekolah itu pelan. ‘Tapi kan ini namanya sekolah, itu ada papan nama sekolahnya berati kan ya sekolah’, tanyaku lagi. Sambil membetulkan duduknya dengan bersila lelaki berambut panjang itu menjawab ‘Benar pak. Papan nama rapot dan lain-lainnya yang ada disini bisa dibilang sama dengan sekolah yang lain. Padahal kami sebenarnya tidak membutuhkan semua itu. Karena kami memang tidak seperti itu. Kalau disini ada rapot dan ijasah itu sebenarnya untuk memberi peluang kepada anak didik disini yang barang kalu ingin melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi sehingga dia perlu ijasah. Sedangkan sebagian besar anak disini memang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang formal, namun  mereka akan melanjutkan pendidikan pada kenyataan hidup yang harus dijalaninya. Nah, bahaimana memberikan bekal agar anak-anak ini nanti bisa menjalani hidup dengan lebih baik itulah yang diajarkan disini’.

Saya semakin tidak mengerti dengan apa yang dia uraikan, gejolak pertannyaan dengan nada  kok gitu-kok gitu terus menyelimuti pikirku. Setelah beberapa saat terdiam akhirnya keluar juga pertanyaan selanjutnya ‘Nah konkretnya kayak apa pendidikan yang dijalankan disekolah ini. Kalau saya lihat anak-anak disini hanya datang bermain dan bermain lalu kapan dan dimana mereka belajar mempersiapkan diri untuk bisa menjawab tantangan hidupnya ?’ . Lelaki berkaos oblong putih itu mulai menjelaskan ‘Mungkin bapak hanya memperhatikan sesaat saja, atau hanya mendapatkan informasi miring saja tentang sekolah ini. Kami dan beberapa teman disini sungguh-sungguh sangat serius untuk memberikan bekal bagi anak-anak agar nanti dia bisa menjawab  tantangan kehidupannya. Karena ini level sekolah dasar, maka yang diberikan adalah hal-hal yang fundamental saja sebagai bekal pokok saat mereka harus menjawab kehidupan. Kami punya kurikulum sendiri yang disesuaikan dengan niatan awal pendirian sekolah ini. Kami juga punya target, tentu amat sangat berbeda dengan sekolah pada umumnya. Walau sebagai bagian dari syarat sekolah kamipun juga harus tunduk pada target-target normatif pendidikan umum itu. Memang waktu anak banyak diluar, karena mereka nanti akan hidup diluar, bukan terus berada diruang kelas. Mereka mungkin akan berada dipasar, mall, masjid, sawah, jalanan atau bentangan alam raya tak berbatas ini. Maka mereka harus dibiasakan berada dialam kenyataan. Biasanya mereka akan banyak bertanya ketika mereka tidak bisa menjawab tantangan yang mereka temui, nah disitulah kita bantu untuk menjawabnya. Sebagai contoh mereka ketemu petani yang sedang menaburkan  tanah kompos ke tanaman-tanaman di ladang maka mereka berfikir, kenapa tanah kok ditabur-taburkan ketanah. Ketika  mereka  mengalami kebuntuan penjelasan dari dirinya sendiri maka kami bantu. Bahwa tanah itu adalah pupuk kompos dan selanjutnya kita ajak mereka mendengarkan dan melihat bagaimana pupuk kompos dibuat. Contoh yang lain, ketika anak-anak melihat dan mendengarkan penduduk sekitar sekolah sedang bertengkar dengan tetangganya, maka anak-anak diam semua dan kebingungan, mereka kita biarkan beberapa saat untuk mengamati, mendengarkan bagaiman terjadi pertengkaran dalam kenyataan hidup ini. Baru setelah kembali kesekolah, kita ceritakan apa yang terjadi, apa baik dan buruknya pertengkaran dan bagaimana cara-cara untuk menghindari dang menyelesaikan pertengkaran. Dan masih banyak contoh yang lain pak. Jadi semua ini berjalan sesuai dengan apa yang terjadi. Kami tidak membuat anak-anak harus belajar ini dulu baru yang ini itu bukan target kami, sehingga materi begitu luas dan  tak terbatas’, urai lelaki berparas bersih itu.

Tensi penasaran saya beranjak turun, ternyata tak seperti yang saya bayangkan selama ini tentang sekolah itu, walau memang ganjil jika dibanding sekolah yang lain. ‘Oke, kalau memang begitu. Terus apa orang tua anak-anak disini dapat menerima model pendidikan seperti ini ?’ tanyaku lagi.

Dengan cepat lelaki itu menjawab ’Jujur pak, sangat tidak mudah untuk bisa meyakinkan orang tua untuk menerima sekolah ini. Khususnya bagi orang tua yang mapan atau cukup kecukupan hidupnya. Ditambah lagi disekolah ini mereka harus dicampurkan dengan anak-anak kampung yang lusuh, jorok, nakal dan  kekurangan lainnya. Kalau untuk anak-anak kampung, biasanya orang tua tidak begitu peduli. Apalagi sekolahnya bayar semaunya. Jadi untuk memberi pemahaman kepada orang tua kami sering berdiskusi. Semua program kegiatan disini dishare ke orang tua, bagaimana pendapat masukan dan keputusannya. Ini adalah sekolah berbagi dan model pendidikannya juga berbagi. Kami memang biasanya yang menginisiasi, lalu berdiskusi musyawarah lagu kami jalankan. Kami terus melakukan evaluasi, berdiskusi mendapatkan masukan dari banyak pihak, memberikan penjelasan kepada siapapun yang ingin mengerti tentang sekolah ini, Yah itulah pak yang bisa kami lakukan disini’.

Saya semakin tertarik, lalu muncul pertanyaan lagi. ‘Untuk urusan kemampuan akademik bagaimana hasilnya selama ini?’. ‘Untuk urusan akademik pak, memang kami tidak bisa menjanjikan. Bahkan beberapa anak tidak harus naik kelas karena nilainya kurang memenuhi rukun naik kelas menurut Kementerian Agama selaku tempat bernaung sekolah ini. Namun bagi kami itu tidak masalah, walau ada juga anak-anak kita yang berprestasi dengan meraih nilai yang  tidak rendah jika dibanding sekolah lainnya. Kami tetep berusaha juga memenuhi tuntutan itu, namun itu tidak menjadi satu-satunya tujuan kami. Ada beberapa siswa yang memiliki keterbatasan baik fisik,kecerdasan maupun mental psikologisnya dibanding anak ukuran normal. Yah ini yang harus kami jaga dan diperlakukan adil dalam meraih hak pendidikannya. Do’akan pak semoga kami bisa menjaga semua ini. Mohon ma’af pak sudah waktunya sholat Dhuhur mari sholat dulu nanti kalau bapak masih ada waktu bisa kita lanjutkan’, ucap lelaki itu sambil menutup pembicaraan dan menuju mushola kampung sebrang sekolah.

Akupun kembali berfikir dan masih bingung, model sekolah apa ya sekolah ini ??.

(Tanda S)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s