Sekolah Merdeka di BUKA


Ruang Sekolah Merdeka

Ayo ke Merdeka

Beberapa ibu-ibu muda sedang bergerombol sambil menunggu anaknya yang sedang belajar di TK Pembangunan. Disela-sela perbincangan hangat tentang berbagai hal, mulai semakin pedasnya harga cabe, hingga membengkaknya harga minyak dunia, seorang ibu berkerudung jingga bertanya, ‘Bu, nanti anaknya dimasukkan ke SD mana ?’. Serentak pembicaraan yang ngalor ngidul itu terhenti dan beralih fokus pada kemana sekolah anak-anaknya nanti.

Bu, Ratih yang duduk di atas motor langsung menyambar, ‘Udah langsung aja disolahi ke SD Pembangunan, ngapain jauh-jauh dan katanya kalau anak kita TK di Pembangunan kalau SD nya ke Pembangunan dapat diskon lho…!’. Memangnya diskonnya berapa persen bu Ratih?, kalau sampai 50 % + 20 % kayak diskon di mall-mall sih boleh  juga doong ?! ” tanya bu Vivi disambut tawa oleh ibu-ibu yang lain. “Bu, hati-hati deh , kalau ada sekolahan yang menawarkan diskon untuk biaya pendidikannya. Itu biasanya pasti ada upaya komersialisasi pendidikan’ , argumen ibu Rahma. Ibu Prapti, sambil berdiri menimpali “Yah, kalau bicara lembaga pendidikan yang tidak komersil yang mana sih. Semua pasti cari untung bu, bahkan kalau bisa untungnya yang besar, cepet balik modal dah pokoknya sekarang pendidikan itu jadi lahan bisnis. Jangankan yang swasta yang negripun sekarang udah ikut-ikutan nyari untung, terutama gurunya itu’.

‘Ya jadi kemana doong anak kita nanti masuk SD nya ?’ tanya bu Sintha memotong polemik sekolah diskon dan bisnis pendidikan. ‘Kata bu Fatimah, sekarang sekolah alam yang di gang Sawo, kampung Babat itu bagus lho. Biayanya juga tidak mahal dibanding sekolah alam lainnya. Katanya sih ada bantuan dari Prancis sehingga harganya lebih miring. Metode pendidikannya juga ala-ala Prancis gitu, dinamis dan kreatif’ , tawar bu Maisyaroh. “Kalau disitu pendidikan agamanya gimana bu, apa baik? saya pingin sekolah yang pendidikan agamanya bagus. Kalau tidak sejak kecil ditanamkan agamanya entar gedenya tidak karu-karuan bu..,” tanya ibu Retno. Bu Iin, dengan celetukkanyan berujar ” Yah, kalau memang anak pingin pinter agama, masuken aja kepesantren bu pasti pinter agamanya!!’ . Bu Prapti kembali nimbrung omongan ‘ Kalau mau SD yang pelajaran agamanya bagus dan umumnya juga bagus itu ada di sekolah Mapan aja. Memang sih biayanya mahal tapi bermutu ‘.  ‘Kalau saya cari yang murah-murah aja bu, sebab di TK ini aja udah setengah mati nyari duwitnya. Yang penting Firman bisa sekolah, biar sekolah sederhana asal murah gak papa’ urai ibu Rahmi.

“Bu saya denger-denger ada sekolah murah lho, itu Sekolah Merdeka di ujung sawah itu. Katanya model belajarnya juga bagus” jelas bu Shinta. “Iya, yang udah sekolah disono sih si Mumun anak pok Ijah, dia malah gratis katanya’, kata bu Titin yang berbaju merah muda. Bu Vivi menimpali, ‘Eh…, saya udah kesana bu, sekolahannya sempit dan wah kurang bagus. Kasihan anak-anak, apalagi deket sawah anakknya main becek-becek. Kata orang-orang sekolahannya malah masih ngontrak. Kan itu namanya sekolahan nggak jelas, masak gara-gara murah anak kita sekolah ke sekolah yang  enggak jelas sihhh?.’ Bu Titin kembali menjelaskan, “Saya kemaren ketemu bu Nur, dia kan kerja disana katanya sih Sekolah Merdeka mau beli tanah di Kampung Sasak, nanti sekolah Merdeka mau pindah kesana. Tapi memang lho saya dengar-dengar sekolah Merdeka itu bangunannya sederhana tapi anaknya hebat-hebat lho. Si Rohim aja, sekarang sudah pandai pidato dan anaknya memang brani-brani. Bagaimana besok kalau kita kesana saja sambil nanya-nanya tentang sekolah Merdeka’ .

“Saya udah musyawarah dengan Papanya Wildan, kalau WIldan akan masuk SD ‘Nalia’ karena disana sudah SBI (Sekolah Bertaraf Internasional), Papanya pingin bahasa Inggrisnya Wildan Bagus”, ujar umi Wildan yang memang nampak paling Borju dibanding ibu-ibu lainnya. Sedangkan mama Prastiwi lebih memilih memasukkan anaknya ke SD di wilayah Kota, maklum sistem rayon membatasi lintas wilayah untuk masih ke SMP nantinya. Sedangkan ibu Rahmi akan mengirimkan anaknya ke Pesantren Nurul Fikri karena pingin anaknya menjadi ahli agama.

Kondisi seperti paraphrase diatas, memang lagi banyak ditemui dalam gerombolan ibu-ibu yang sedang mempersiapkan ananknya masuk SD. Sebuah kewajaran sebagai orang tua untuk mencarikan tempat belajar yang terbaik bagi anak-anaknya. Semua tentu tidak ada yang berniat kurang baik terhadap pendidikan anaknya. Namun realitas ketersediaan lembaga pendidikan, akhirnya yang harus menjadi bahan pertimbangan masak-masak bagi orang tua. Sekolah yang ada dipasaran memang saat ini amat beragam. Mulai dari ketersediaan prasarana, kualitas, lebel/kelas hingga biayanya. Orang tua tidak bisa leluasa memilihkan tempat anaknya untuk menuntut ilmu karena ada batasan-batasan yang harus dipenuhi. Bagi yang berduit  ukuran mahal tentu tidak menjadi masalah, sementara  bagi yang masih belum mampu, masalah biaya tentu menjadi kendala nomer satu. Memang bagi anak yang dikaruniai kecerdasan ekstra maka beasiswa akan mudah menghampirinya, namun bagi anak yang kecerdasannya terbatas, ekonominya terbatas kemana hendak melabuhkan tempat belajarnya.

Sekolah gratis, sungguh menjadi dambaan semua orang, namun keterbatasan kursi dibandiing kebutuhan peminat lagi-lagi menjadi penghambat bagi anak yang serba kekurangan. Dihrapkan hadirnya lembaga pendidikan yang benar-benar bisa dijangkau oleh anak kekurangan adalah amat sangat dibutuhkan. Sekolah Merdeka berusaha memberi ruang untuk anak yang dikaruniai kekurangan, namun memang belum semuannya dapat diwadahi di Sekolah ini. Namun upaya itu terus dilangsungkan, dengan segala keterbatasan sekolah Merdeka terus berusaha. Kepedulian dari siapapun sangat diharapkan untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas dengan cara berbagi. Alhamdulilah lahan untuk sekolah Merdeka demi sedikit  mulai diupayakan. Ruang merdeka yang saat ini dipakai tak lama lagi harus dikembalikan kepada pemiliknya. Anak-anak butuh ruang untuk melanjutkan belajarnya. Namun Sekolah Merdeka tidak pernah berhenti belajar, walau tanpa ruang-ruang belajar yang formal. Pada dasarnya seluruh ruang alam ini adalah tempat belajar. Merdeka kini membuka ruang yang seluas-luasnya untuk siapapun yang ingin belajar bersama mewujudkan  pendidikan yang tumbuh kembang bersama al-Qur’an. Marilah bergabung dengan sekolah Merdeka, semoga Alloh meridhoi. (TS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s