Rasionalita yang Tidak Rasional


Rasionalitas yang Tidak Rasional

Dunia pendidikan adalah dunia rasionalitas segala sesuatu bisa diukur dan dibisa diamati sebagai kajian ilmiah. Sebagai tradisi kehidupan dunia pendidikan, segala penyampainya harus didasarkan pada landasan yang ilmiah, yang masuk akal, yang rasional. Dengan dasar teori yang jelas, untuk memperlihat bahwa apa yang disampaikan dan apa yang menjadi gagasan itu bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Karena dunia pendidikan bukan dunia mistik atau perdukunan, tapi dunia yang mampu memberikan pemahaman tentang sesuatu itu bisa dilihat secara ilmiah.

Untuk itu dunia pendidikan menjadi sebuah tolak ukur dari kehidupan manusia dan masyarakat pada umumnya. Sekolah formal itu menjadi wajib hukumnya untuk semua orang. Karena dengan sekolah itu seolah-olah anak itu menjadi lebih pintar, cerdas, baik dan berbudi pekerti yang baik. Mengenal tata krama yang menjadi budaya moral di dalam kehidupan masyarakat. Yaitu menghormati orang tua, yang tua menghargai yang muda, dan kedua untuk saling menghormati satu sama lain. Karena mengharmoti adalah manifestasi dari kehidupan manusia yang mempunyai perasaan dan nilai moral.

Tapi karena nilai moral dan etika yang menyangkut perasaan seseorang itu tidak pernah terasah di sekolah. Karena sekolah lebih menekankan pada rasionalitas dan formalitas. Jadi apa yang dikatakan menghormati guru adalah dalam rangka untuk mendapatkan nilai yang terbaik, minimal tidak merah. Karena menghormati guru adalah indikatro keberhasilan untuk mendapatkan nilai. Anak tidak perlu lagi melihat guru itu baik atau tidak, benar atau tidak dalam mengajar, kelakuannya kasar atau tidak. Yang penting bagaimana baik sama guru itu dapat nilai. Untuk itu guru memang tidak perlu dihormat atau ditakuti, yang takuti oleh anak murid adalah kalau tidak naik kelas, itu akan menghebokan dunia. Dan membuat anak menjadi bulanan orang dengan segala macam cap yang buruk disandangnya.

Guru dihormati oleh anak muridnya karena takut tidak naik kelas atau nilainya jelek. Itu rasionalitas dari anak yang dibangun oleh dunia pendidikan di dalam sekolah. Tidak heran kalau diluar sekolah anak seperti menemukan dunianya yang ingin mengekspresikan apa yang menjadi keinginannya. Tanpa harus melanggar tata krama semu yang telah dibuat sekolah untuk mengukukuh legalitasnya sebagai penentu anak dimasa depan. Begitu juga anak dirumah sudah tidak melihat orang tua sesuatu yang harus dihormati karena orang tua sendiri memang sudah berpikir sangat rasional. Bahwa memasukan anak kesekolah dengan biaya mahal, diharapkan anak menjadi apa yang diingikan orang tua, sebagai anak yang pintar dan sukses. Dan itu memang menjadi terbukti anak pintar dan sukses, tapi tidak punya empati pada orang tua sebagai hubungan orang tua dan anaknya. Anak sudah tidak melihat orang tua sebagai sesuatu yang harus dihormati. Tapi sebagai sesuatu yang memberikan sumber materi untuk keperluannya. Karena cinta dan kasih sayang sudah diganti dengan media materi, uang dan harta benda lainnya. Anak sudah tidak dibangun lagi dengan cinta. Tapi dengan materi.

Padangan materialisme dunia pendidikan, masyarakat dan pemerintahan sebuah cermin rasionalitas yang dikedepankan untuk menjadi sebuah ukuran kesuksesan dan keberhasilan. Karena pandangan rasionalisme berorientasi pada materi, benda, bukan pada sesuatu yang menyangkut ahlak, jiwa atau rasa. Karena budaya sekolah dengan rasionalitas dengan demikian tidak heran kalau anak-anak sudah kehilangan empati dan nilai luhur yang menyangkut keiman dan ketaqwaan pada Tuhan Pencipta alam semesta ini.

Rasionalitas menjadi sebuah kesesatan yang mengarahkan hidup pada dunia materi. Pada hal kehidupan ini tidak bisa dipandang dari segi material. Yang hanya menyesatkan pandangan hidup manusia pada nilai kehidupan yang lebih baik lagi yaitu kehidupan akhirat. Dunia dalam pandangan filsafat adalah fenomenal yang membatasi seseorang di dalam memahamikan kehidupan yang hakiki. Dunia seperti kembang api yang terlihat indah tapi hanya sebuah fatamorgana. Seperti kita melihat udara panas di pandang pasir yang menyerupai air. Begitulah dunia, bukan sebuah materi semata. Tapi sebuah keterkaitan kehidupan yang membuat orang harus menyadari bahwa Allah adalah Maha Kuasa dalam situasi apapun juga.

Pendidikan bukan lagi menjadi realitas yang sebenarnya, pendidikan adalah sebuah realitas sekolah yang dirasionalitaskan. Sebuah imitasi yang tidak akan membawa anak-anak kepada masa dengan yang sebenarnya, yaitu kehidupan akhirat. Dunia adalah sebuah tangga lagu untuk membuka kehidupan yang sesungguhnya. Bukan menjadi sebuah tujuan utama, kenapa sekolah mengaju pada dunia, yang bersifat materi. Pada hal dunia sendiri tidak menginginkan diri menjadi seorang bernaung padanya. Karena tidak kuasa memikul beban dari rasionlitas manusia terhadap kehidupan ini.

    Oleh: tri on Desember 7, 2010
    at 4:43 am

    Balas

     

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s