BIARKAN ANAK MERDEKA SEKOLAH


BIARKAN ANAK MERDEKA DI SEKOLAH

Dunia anak, dunia yang lepas dari segala macam persoalan hidupnya dan segala kepentingan apapun. Karena tidak ada istilah siasat, kebohongan, tidak jujur, takut, sedih, gembira,marah, senang-senang saja. Dunia anak melibut kehidupan ini yang selalu mengajakan untuk berkata pada kehidupan ini. Bahwa apa yang dilakukan adalah panggilan alam yang membawa dirinya pada dunia yang gemilang. Penuh warna dengan senyum ketulusan dan gairah hidup untuk menembus kehidupan yang hakiki. Membuat pagi hari yang selalu menyambut dengan riang gembira karena anak sudah ada janji dengan semangat hidup pada hari ini. Begitu juga pada siang hari sudah disambut dengan kegemilangan hidup yang cerah dengan sinar matahari selalu tersenyum pada anak-anak sebagai ketulusan hati dalam hidup ini. Sedangkan menjelang senja anak-anak secara perlahan dan dengan begitu saja sudah diselimit malam penuh bintang yang menyanyikan ketenangan hatinya. Untuk istirahat karena siang hari telah dihabis dengan cinta dan ketulusan dalam bermain dengan hidup ini. Membuat bulan selalu tersenyum melihat anak-anak lelap tertidur. Karena anak-anak selalu berharap pada malam hari adalah malam yang memberikan mimpi indah itu menjadi warna dan bintang yang selalu dirindukan.

Tapi semua itu direnggut oleh orang lain baik melalui baik melalui keinginan orang tua, lingkungan dan keadaan, sekolah. Membuat dunia anak kehilangan apa yang menjadi dunianya. Anak dimasukan dalam dunia orang dewasa dalam arti yang sebenarnya. Karena ada secara tidak langsung dipertontonkan dengan prilakukan orang dewasa yang sok tahu, paling tahu, menguasai dunianya. Begitu juga infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah dan yang berwenang menjadi dunia adalah secara perlahan dan pasti kehilang hidupnya yang sebenanrya. Seperti sekolah sebagai sebuah lembaga yang didirikan oleh pemerintah, swasta atau lembaga pendidikan lain. Hanya membuat anak dikurung dalam sangkar untuk dipelirah seperti burung yang bisa bernyanyi untuk menghibur orang tua yang kehilangan harga diri, kepercayaan, ketidak berdayaan, ketakutan pada kehidupan; takut hartanya habis, takut miskin, takut menderika, takut tidak makan, dan banyak ketakutan lagi yang dimunculkan oleh orang  tua dan masyarakat atau pemerintah yang akhirnya membuat kesalahan dan permasalahan sosial dan menjadi penyakit masyarakat. Timbulnya kriminalitas, perampokan, korupsi, perebutan kekuasaan, pertikaian diantara partai dan banyak lagi. Yang membuat anak menjadi boneka yang manis untuk menghibur dirinya. Membuat anak menjadi korban penyakit masyarakat.

Sekolah menghilangkan dunia anak dengan segala macam materi pembelajaran dan metode pembelajaran. Seolah-olah dengan materi dan metode pembelajaran yang ditrapkan itu menjadi sebuah media efektif membuat anak seperti apa yang diingin orang tua dan masyarakat pintar, berhasil, kaya dan makmur. Sebuah mimpi kepalsuan masyarakat terhadap anak. Karena anak tidak perlu diajarakan anak memang sudah pintar, karena anak memang sudah pintar, sudah berhasil, sudah karya dan makmur. Karena anak itu memang sudah diberikan sesuatu yang terbaik oleh Allah SWT sebagai Sang Pencipta. Jadi anak-anak ada di dunia ini bukan untuk menyusahkan orang tua atau masyarakat, tapi hanya menyampaikan amanah yang diberikan Allah. Untuk selalu berbuat baik dan selalu menghargai hidup ini sebagai bentuk rasa syukurnya, dengan selalu berbagi diantara kita dan lingkungan kita, alam semesta ini yang sudah dihancur karena kerakusan dan nafsu menjadi panglimanya. Alam sudah tidak dilihat sebuah bagian dari kehidupan, tapi dilihat sebuah materi, uang dan investasi, bahwa dengan menguasai tanah pada saat ini akan menguntungkan dikemudian hari. Karena tanah ini tidak lagi menjadi lingkungan hidup tapi menjadi tempat nafsu manusia meluap dalam bentuk pabrik, rumah yang tidak jelas, apartemen, pertokoan dan perkantoran yang menghilangakan lingkungan hidup ini menjadi sebuah dunia artifisal, dunia yang penuh dengan kepalsuaan. Yang membuat manusia kehilangan nilai sublim, keimanan pada Allah yang menciptakan alam semesta ini sebagai lingkungan hidup kita untuk selalu bertafkur. Untuk selalu melihat tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta ini agar kita menyadari bahwa manusia itu memang seperti setitik debu yang berterbangan dihempas angin, air bah, gelmbong lautan dan letupan gunung merapi. Kenapa belum juga menyadarkan pada kita bahwa lingkunga alam ini harus menjadi habitat manusia untuk dipelihara tapi dimusnahkan hanya karena nafsu.

Itulah yang tidak dipunya anak-anak, karena realitas alam ini memang menjadi aktulitas anak dalam kehidupan ini. Karena sebelum sekolah itu berdirinya anak sudah mempunyai sekolah  di dalam dirinya, dalam arti yang sebenarnya. Karena sekolah yang didirikan oleh orang tua bukan sekolah tapi sangkar burung yang menghilangkan kemerdekaan anak dalam kehidupan ini. Hidupnya dibatasi oleh sangkar burung (Baca; sekolah, keinginan orang tua, masyarakat dan pemerintah). Bukan keinginan hidup ini bahwa belajar dimulai dari ayunan sampai liang kubur. Bahwa samudra ilmu itu tidak bisa ditampung oleh sekolah. Karena sekolah memang bukan untuk menampung samudra ilmu tapi hanya ingin membuat imitasi samudra ilmu dengan bentuk parodi yang membentukan anak di sekolah bisa memberikan sesuatu yang menyenangkan orang tua, masyarakat dan pemerintah.

Karena sekolah bukan untuk pendidikan tapi lahan bisnis yang mempunyai citra luhur dan baik pada kehidupan ini. Pada hal kehidupan ini sudah tahu bahwa itu hanya sebuah parodi pendidikan yang dibuat untuk menyenangkan hidup ini. Untuk tetap betah dan hanyut dalam dunia fantasi, maya, fatamorgana, lupa pada dunia yang sesungguhnya menjadi tujuan hidup manusia. Berada dalam pelukan dan kasih sayang Allah pada mahluknya dengan segala macam kekurangan dan ketidak berdayaan. Allah Maha Kaya dan Penyayang tahu apa yang dialami oleh mahluknya.

Biarkan anak Merdeka di Sekolah dengan sekolahnya sendiri, janganlah menjadi orang yang paling menentukan, jangan kita menjadi Tuhan. Bahwa kehidupan anak-anak ditentukan oleh sekolah. Karena sekolah sudah ada di dalam diri anak jangan merampas dan merampok sekolah anak dari dirinya. Biarkan anak Merdeka Sekolah dengan segala macam kehidupan dan warna warninya. Karena itu adalah sekolanya. Bukan kepunyaan orang tua, masyarakat dan pemerintah. Anak Merdeka Sekolah sampai artinya anak merdeka menentukan sikap dan pandangannya. Karena anak kita bukan anak kita tapi anak masa depan yang tidak sesuai lagi dengan pikiran setiap orang tua. Anak adalah amanah zaman yang memberikan kemungkinan yang terbaik, hanya orang tualah yang membuat anak itu menghancurkan dunia kita sebagai orang tua. Karena dunia sekolah yang ada di dalam diri anak telah dirampas dengan paksa dan keji. Membuat dunia orang tua jadi kacau balau. Biarkan anak Merdeka Sekolah, karena Allah yang selalu menjadi pengawas yang tak ada bandingan dalam hidup ini dengan sebuah keikhlasan dan ketulusan seorang guru, apa lagi orang tua yang merasa melahirkan dan membesarkan. Biarkan anak Merdeka Sekolah di dalam hidupnya. (T. Aru)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s