Tidak Ada Lagi Outbound


TAK ADA LAGI OUTBOUND

Awal mulanya kegiatan outbound adalah keingin setiap orang, kelompok, lembaga, instansi dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dirinya di dalam menjalan kehidupan ini. Yang memerlukan kemampuan dan kopentensi menjadi terbaik dalam kegiatan sehari-hari baik bagi anak menjadi lebih percaya diri dan mengembangkan diri, begitu juga bagi kelompok mengembangkan pontensi diri dan percaya diri lebih baik. Sedangkan buat lembaga dan instansi sebagai pengembangan diri bagi karyawan untuk mempunyai etos kerja yang baik. Karena kemampuan diri dan leadershipnya memang dikembangkan dalam kegiatan outboun. Begitulah kira-kira kegiatan outbound berlangsung di dalam kehidupan masyarakat. Dan para pengusaha melihat kegiatan outbound menjadi ruang bisnis yang menarik, karena ditambah dengan asesori untuk menarik pengunjung menjadi lebih banyak lagi.

Dari situ bisa dilihat bahwa kegiatan outbound itu menjadi sebuah indikasi dalam kehidupan masyarakat sudah tidak sehat. Bahwa masyarakat, baik itu siswa, mahasiswa, pekerja, aktifis, pengusaha sudah kehilangkan habitatnya di alam semesta ini. Mereka hidup dari ruang satu keruang berikutnya. Dari rumah, ke mobil, ke kantor dan ke rumah lagi, di rumah ke ruang tamu, ke ruang kamar dan ke kamar mandi. Ruang melingkupi kehidupan manusia yang digerakan oleh mekanisme sistem kerja yang membuat manusia tidak bisa melepaskan dirinya dari ruang. Membuat kehidupan yang didesain sedemikian rupa untuk alam, tapi itu hanya sebuah artifisial alias penuh dengan kepalsuan.

Membuat fitrahnya sebagai manusia yang menjadi bagian dari alam lingkungan yang dilingkupi dengan gunung, sungai, hutan, padang rumput dan savan, kebun dan sawah yang menyelimuti jiwa dan kehidupan manusia secara perlahan dan pasti telah dihancurkan dengan sebuah tuntutan mekanisme kerja produktif yang dikuasai oleh nafsu yang tak terkendali. Karena dengan nafsu siapapun juga orangnya, baik itu miskin dan menderita kepedihan yang mendalam, kaya dengan limpahan harta benda dan kekuasaan yang tak ada batasanya, tetap hidupnya akan mati disudut kehidupan hawa nafsu yang tak terkendali.

Merdeka Sekolah mengadakan kegiatan outbound adalah sebuah kelatahan dalam dunia pendidikan. Sebagai kesan pembentukan karakter anak dalam pendidikan, pada hal kegiatan outboud untuk sebuah kegiatan artifisial yang tidak memberikan apa-apa pada anak-anak. Karena memang anak-anak tidak memerlukan outbound karena outbound itu sudah ada didalam diri anak untuk selalu ingin dekat dengan alam. Karena dari kegiatan sehari-harinya dalam bermain, anak tidak lepas dari tanah, tumbuhan, pasir, air yang selalu menjadi dunianya itu menjadi lebih berwarna. Tapi bagi orang tua itu adalah sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan. Karena bajunya kotor-orang tua males mencucinya meskipun yang mencuci bukan lagi dirinya tapi mesin. Tapi seolah-olah yang mencuci orang tua. Takut sakit-karena kalau sakit yang repot orang tua. Seolah-olah orang tua tidak mau direbotkan dengan penyakit, pada hal penyakit itu bagian dari stimulasi perkembangan tubuh manusia menjadi lebih baik dan kuat. Takut kecelakaan pada hal kecelakaan itu sudah menjadi bagian dari kehidupan semua orang tanpa kecuali anak. Hanya saja bagaimana kita bisa menghadapi kecelakaan itu dengan pandang yang positif.

Anak digiring pada dunia artifial, dunia fantasi, dunia yang penuh dengan kepalsuaan tapi cukup menyenangkan dan membuat orang tua cukup nyaman dan buat kalau anaknya sudah berada dalam dunia artifial. Pada itu merupakan awal kehidupan bagi anak itu memasuki ruang, ruang kehampaan, ruang maya, ruang kekacauan dalam berpikir, ruang ketakutan yang menekan, ruang ketidak sadar pada dirinya, ruang yang menumpulan rasa sosial dan empatinya pada orang lain, ruang pengasingan dirinya yang sudah kehilangan dirinya. Ruang menjadikan diri anak bukan lagi sebagai manusia yang mandiri, tapi manusia yang telah direduksi menjadi sebuah robot yang telah terprogram, sebuah boneka yang sangat menyenagkan bagi orang tua karena dia tidak mempunyai sikap dan pandangan hidup yang jelas dan bermakna. Membuat anak menghindari segala persoalan hidup dan kehidupannya, kegiatan yang dilakukan sebuah tugas untuk menyenangkan orang tua bukan untuk dirinya sendiri.

Outbound hanya memperlihatkan bahwa dirinya kita sebagai manusia sudah tidak akrab dengan kehidupan, realitas kehidupan, bentuk pengambilan jarak pada realitas kehidupan di masyarakat dan di alam yang sudah tidak menjadi alam karena sudah dijadi dunia fantasi, dunia artifial, dunia penuh dengan kepalsuaaan. Outbound hanya kegiatan saja bukan sebuah peristiwa dalam kehidupan kita dan anak kita. Outbound adalah hiburan yang kehilangan rasa kebersamaan diantara manusia. Outbound membuat manusia untuk saling menyiasati, karena sudah tumpul perasaan dan harga dirinya. Sehingga perlu adanya stimulasi dalam bentuk outbound. Outbound bukanlah sebuah peristiwa kehidupan tapi sebuah aktualisasi seseorang terhadap orang lain bukan untuk dirinya tapi untuk kepentingan material, yaitu mekanisme kerja, penampilan yang berani, seolah-olah tumbuh rasa kepemimpinannya, pada hal yang ada adalah kekuasaan yang ingin menguasai karena dorong hawa nafsu.

Anak-anak Merdeka Sekolah memang bukan sedang melakukan kegiatan outbound tapi sedang menjalankan program dari pendidikan. Karena peristiwa kehidupan sudah ada di Merdeka Sekolah mulai dari halang rintang yang diciptakan anak-anak, bergelantungan sambil berjalan dengan tangan, melompat dari titian satu ketitian berikutnya. Berjalan dititian bambu untuk menjaga keseimbangan, memancat pohon dengan segala kemungkinan untuk bergerak lebih cepat dan bergelantung kemudian melompat, bermain dipematang sawah dan air yang mengalir, bergerak diantar lumpur, berlarian diantara kubanggan dan illang yang menutupi tubuhnya. Berguling ditanah dan merosot dengan segala macam caranya. Menyapa binatang yang dia temui, mulai dari kuncing, bebek, kerbau, kumbang, kambing, burung, lintah, bangau, bunglon, belalang, keong, ular, kepiting, ikan, ulat, semua itu mengiri kehidupan anak disekolah kalau memang mau dikatakan sekolah karena ada sebuah lembaga yang mengelola pendidikan, yaitu Semesta Langit Biru. Tapi pada hakekatnya bahwa apa yang dilakukan anak-anak itu adalah sebuah peristiwa kehidupan dengan segala macam haru birunya, senang dan sedihnya, suka dan dukanya, aman dan celakanya. Itulah outbound yang tidak perlu dicari di luar diri kita sendiri, karena outbound adalah peristiwa kehidupan untuk saling kerja sama dan berbagi diantara kita dan alam lingkunga sekitar kita.

Dengan begitu jadi jelas kalau kita mengadakan outbound yang ada didalam benak pikiran alam bawa sadar bahwa kita telah terpisah dengan lingkungan kita sebagai manusia diantara manusia, sebagai manusia diantara alam lingkungan, sebagai manusia diantara diri kita sendiri. Kita sudah direproduksi oleh mekanisme sistem yang membuat diri kita hilang dan tak berkarakter.

One thought on “Tidak Ada Lagi Outbound

  1. BIARKAN ANAK MERDEKA DI SEKOLAH

    Dunia anak, dunia yang lepas dari segala macam persoalan hidupnya dan segala kepentingan apapun. Karena tidak ada istilah siasat, kebohongan, tidak jujur, takut, sedih, gembira,marah, senang-senang saja. Dunia anak melibut kehidupan ini yang selalu mengajakan untuk berkata pada kehidupan ini. Bahwa apa yang dilakukan adalah panggilan alam yang membawa dirinya pada dunia yang gemilang. Penuh warna dengan senyum ketulusan dan gairah hidup untuk menembus kehidupan yang hakiki. Membuat pagi hari yang selalu menyambut dengan riang gembira karena anak sudah ada janji dengan semangat hidup pada hari ini. Begitu juga pada siang hari sudah disambut dengan kegemilangan hidup yang cerah dengan sinar matahari selalu tersenyum pada anak-anak sebagai ketulusan hati dalam hidup ini. Sedangkan menjelang senja anak-anak secara perlahan dan dengan begitu saja sudah diselimit malam penuh bintang yang menyanyikan ketenangan hatinya. Untuk istirahat karena siang hari telah dihabis dengan cinta dan ketulusan dalam bermain dengan hidup ini. Membuat bulan selalu tersenyum melihat anak-anak lelap tertidur. Karena anak-anak selalu berharap pada malam hari adalah malam yang memberikan mimpi indah itu menjadi warna dan bintang yang selalu dirindukan.

    Tapi semua itu direnggut oleh orang lain baik melalui baik melalui keinginan orang tua, lingkungan dan keadaan, sekolah. Membuat dunia anak kehilangan apa yang menjadi dunianya. Anak dimasukan dalam dunia orang dewasa dalam arti yang sebenarnya. Karena ada secara tidak langsung dipertontonkan dengan prilakukan orang dewasa yang sok tahu, paling tahu, menguasai dunianya. Begitu juga infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah dan yang berwenang menjadi dunia adalah secara perlahan dan pasti kehilang hidupnya yang sebenanrya. Seperti sekolah sebagai sebuah lembaga yang didirikan oleh pemerintah, swasta atau lembaga pendidikan lain. Hanya membuat anak dikurung dalam sangkar untuk dipelirah seperti burung yang bisa bernyanyi untuk menghibur orang tua yang kehilangan harga diri, kepercayaan, ketidak berdayaan, ketakutan pada kehidupan; takut hartanya habis, takut miskin, takut menderika, takut tidak makan, dan banyak ketakutan lagi yang dimunculkan oleh orang tua dan masyarakat atau pemerintah yang akhirnya membuat kesalahan dan permasalahan sosial dan menjadi penyakit masyarakat. Timbulnya kriminalitas, perampokan, korupsi, perebutan kekuasaan, pertikaian diantara partai dan banyak lagi. Yang membuat anak menjadi boneka yang manis untuk menghibur dirinya. Membuat anak menjadi korban penyakit masyarakat.

    Sekolah menghilangkan dunia anak dengan segala macam materi pembelajaran dan metode pembelajaran. Seolah-olah dengan materi dan metode pembelajaran yang ditrapkan itu menjadi sebuah media efektif membuat anak seperti apa yang diingin orang tua dan masyarakat pintar, berhasil, kaya dan makmur. Sebuah mimpi kepalsuan masyarakat terhadap anak. Karena anak tidak perlu diajarakan anak memang sudah pintar, karena anak memang sudah pintar, sudah berhasil, sudah karya dan makmur. Karena anak itu memang sudah diberikan sesuatu yang terbaik oleh Allah SWT sebagai Sang Pencipta. Jadi anak-anak ada di dunia ini bukan untuk menyusahkan orang tua atau masyarakat, tapi hanya menyampaikan amanah yang diberikan Allah. Untuk selalu berbuat baik dan selalu menghargai hidup ini sebagai bentuk rasa syukurnya, dengan selalu berbagi diantara kita dan lingkungan kita, alam semesta ini yang sudah dihancur karena kerakusan dan nafsu menjadi panglimanya. Alam sudah tidak dilihat sebuah bagian dari kehidupan, tapi dilihat sebuah materi, uang dan investasi, bahwa dengan menguasai tanah pada saat ini akan menguntungkan dikemudian hari. Karena tanah ini tidak lagi menjadi lingkungan hidup tapi menjadi tempat nafsu manusia meluap dalam bentuk pabrik, rumah yang tidak jelas, apartemen, pertokoan dan perkantoran yang menghilangakan lingkungan hidup ini menjadi sebuah dunia artifisal, dunia yang penuh dengan kepalsuaan. Yang membuat manusia kehilangan nilai sublim, keimanan pada Allah yang menciptakan alam semesta ini sebagai lingkungan hidup kita untuk selalu bertafkur. Untuk selalu melihat tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta ini agar kita menyadari bahwa manusia itu memang seperti setitik debu yang berterbangan dihempas angin, air bah, gelmbong lautan dan letupan gunung merapi. Kenapa belum juga menyadarkan pada kita bahwa lingkunga alam ini harus menjadi habitat manusia untuk dipelihara tapi dimusnahkan hanya karena nafsu.

    Itulah yang tidak dipunya anak-anak, karena realitas alam ini memang menjadi aktulitas anak dalam kehidupan ini. Karena sebelum sekolah itu berdirinya anak sudah mempunyai sekolah di dalam dirinya, dalam arti yang sebenarnya. Karena sekolah yang didirikan oleh orang tua bukan sekolah tapi sangkar burung yang menghilangkan kemerdekaan anak dalam kehidupan ini. Hidupnya dibatasi oleh sangkar burung (Baca; sekolah, keinginan orang tua, masyarakat dan pemerintah). Bukan keinginan hidup ini bahwa belajar dimulai dari ayunan sampai liang kubur. Bahwa samudra ilmu itu tidak bisa ditampung oleh sekolah. Karena sekolah memang bukan untuk menampung samudra ilmu tapi hanya ingin membuat imitasi samudra ilmu dengan bentuk parodi yang membentukan anak di sekolah bisa memberikan sesuatu yang menyenangkan orang tua, masyarakat dan pemerintah.

    Karena sekolah bukan untuk pendidikan tapi lahan bisnis yang mempunyai citra luhur dan baik pada kehidupan ini. Pada hal kehidupan ini sudah tahu bahwa itu hanya sebuah parodi pendidikan yang dibuat untuk menyenangkan hidup ini. Untuk tetap betah dan hanyut dalam dunia fantasi, maya, fatamorgana, lupa pada dunia yang sesungguhnya menjadi tujuan hidup manusia. Berada dalam pelukan dan kasih sayang Allah pada mahluknya dengan segala macam kekurangan dan ketidak berdayaan. Allah Maha Kaya dan Penyayang tahu apa yang dialami oleh mahluknya.

    Biarkan anak Merdeka di Sekolah dengan sekolahnya sendiri, janganlah menjadi orang yang paling menentukan, jangan kita menjadi Tuhan. Bahwa kehidupan anak-anak ditentukan oleh sekolah. Karena sekolah sudah ada di dalam diri anak jangan merampas dan merampok sekolah anak dari dirinya. Biarkan anak Merdeka Sekolah dengan segala macam kehidupan dan warna warninya. Karena itu adalah sekolanya. Bukan kepunyaan orang tua, masyarakat dan pemerintah. Anak Merdeka Sekolah sampai artinya anak merdeka menentukan sikap dan pandangannya. Karena anak kita bukan anak kita tapi anak masa depan yang tidak sesuai lagi dengan pikiran setiap orang tua. Anak adalah amanah zaman yang memberikan kemungkinan yang terbaik, hanya orang tualah yang membuat anak itu menghancurkan dunia kita sebagai orang tua. Karena dunia sekolah yang ada di dalam diri anak telah dirampas dengan paksa dan keji. Membuat dunia orang tua jadi kacau balau. Biarkan anak Merdeka Sekolah, karena Allah yang selalu menjadi pengawas yang tak ada bandingan dalam hidup ini dengan sebuah keikhlasan dan ketulusan seorang guru, apa lagi orang tua yang merasa melahirkan dan membesarkan. Biarkan anak Merdeka Sekolah di dalam hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s