PENGORBANAN YANG MERDEKA


SEBUAH PENGORBANAN YANG MERDEKA

Kegiatan pendidikan tidak ada beda dengan kegiatan keseharian semua orang, karena apa yang dilakukan itu menjadi bagian dari kehidupan Merdeka Sekolah. Berqurban bukan sebuah serimonial dari hari raya Qurban. Tapi menjadi sebuah peristiwa untuk menyatukan visi dan kegiatan yang dilakukan Merdeka Sekolah dengan semua pihak. Mulai dari Pihak Yayasan Semesta Langit Biru, Orang tua dengan upaya secara bersama mau persorangan yang mempunyai kemampuan untuk berqurban. Begitu juga anak-anak Merdeka Sekolah tidak kalah antusiasnya di dalam berqurban. Sedangkan guru dengan keterbatasan tidak membuat dirinya untuk merealisasikan Qurban menjadi sebuah kekuatan untuk saling berbagi dan menyamakan pandangan dengan segala macam kelebihan dan kekurang.

Karena kehidupan bukan sebuah perjalan biasa tapi sebuah perjalanan yang mempunyai makna. Untuk bisa ditelusuri, hal itu terlihat dari berqurban bukan masalah memotong sapi dan dua kambing yang diiring dengan takbir oleh anak-anak. Tapi adalah sebuah pengelolah kehidupan yang lebih baik, untuk bisa dirasakan dalam kehidupan yang akan datang, kehidupan abadi. Sebagai bentuk pengukuhan terhadap kehidupan dan kebersamaan untuk saling berbagi. Hal itu yang diajarkan Islam pada semua umat, untuk saling berbagi pada orang lain dalam mengembangkan kepribadian setiap orang untuk menjadi lebih baik. Dan meningkatkan harkat dan martabat setiap orang yang selalu berbagi pada orang lain. Dalam sekala negara membuat bangsa ini menjadi bangsa yang mempunyai harkat dan martabat di mata negara lain. Untuk tidak diniha dan dizalim seperti pertiwa TKW yang di buang di tempat sampah seperti binatang jalang yang terbuang.

Bangsa Kita adalah bangsa yang Merdeka dari kemiskinan, kebodohan, penjajahan tapi belum Merdeka dari ahlaq, moral yang mengedepankan hawa nafsu, karena di sana sini masih banyaaaaaak sekali ketimpangan dan ketidak adilan selalu menjadi santapan rakyat kecil untuk dihina dan dicaci maki. Korupsi menjadi gaya hidup pengusaha, pejabat dan masyarakat yang menginginkan kehidupan yang instan dan pragmatis.

Dengan Idul Adha, dengan berqurban terasa menjadi lebih indah di dalam kehidupan masyarakat. Semua orang saling bekerja sama untuk saling berbagi tugas dan membagikan qurban pada rakyat kecil yang masih disudut kehidupan yang asing bagi dirinya. Anak-anak merasakan arti dari berbagi yang dilakukan orang tua untuk mengungkapkan kerinduaan pada kebersamaan. Karena masyarakat telah kehilangan dirinya terbawa arus materialisme yang membuat dirinya terasing pada lingkungan dan dirinya sendiri. Hidup berlimpahan informasi dan kesibukan bekerja hanya mencari sesuap nasi, tapi nafsu dunia membuat dirinya bukan lagi maka nasi, tapi makan besi, makan jabatan, karier, kehormat yang palsu, cita-cita yang artifisial. Seolah membuat kita menjadi tidak percaya pada diri kita dan sesama kita.

Berqurban menjadi keindahan yang tidak setiap orang merasakan, kecuali orang yang suka berbagi. Akan merasakan bahwa hidup ini memang harus terus berbagi sebagai cahaya kehidupan yang menerangi kehidupan masyarakat yang mengalami kegelapan. Cahaya bagi orang kaya adalah kemurahan hati untuk selalu merasakan bagaimana kenikmatan yang telah diberikan Allah pada dirinya. Cahaya bagi rakyat kecil yang dhuafa dari haknya yang ada pada orang kaya menjadi harapakan bagi kehidupannya, untuk bisa merubah kehidupannya lebih baik. Sehingga menyadarkan dirinya bahwa cahaya Allah itu bukan pada kenikmatan materi, tapi kenikmatan untuk saling berbagi dan merasakan bahwa yang diberikan pada kita, sebagai manusia untuk merasakan kenikmatan dari Allah secara berjamaah.

Qurban bukan sebuah peristiwa pemotongan hewan sapi, domba atau kambing. Tapi sebuah peristiwa kasih sayang dan rasa syukurnya atas nikamat Allah yang diberikan pada Nabi Ibrahim setelah lama tidak mempunyai anak. Untuk mengurbankan anak yang dicintakan karena Allah. Begitu juga sebaliknya Ismail yang sangat sayang pada orang tuanya, karena Allah begitu melibahkan kasih sayang pada dirinya melalui ayahnya Ibrahim. Kerelaan dirinya untuk diqurbankan semata-mata keinginan untuk berbagi pada orang tuanya, Ibrahim, sebagai rasa hormat dan taatnya Karena Allah.

Hal ini sudah tidak ditemui lagi berbagi antara orang tua dan anak dalam kasih sayang yang tidak memerlukan materi, uang dan harta. Tapi hati dan rasa yang menyatu dalam kerinduan dirinya pada Allah. Karena iman bukan serimonial ibadah dan status. Tapi keterpautan iman pada kehidupan sehingga rasa ingin selaluuuuuu untuk berbagi dilahirkan sampai jangan berhenti. Tapi sekarang berbagi hanya sebagai pertiwa sosial, peristiwa serimonial, peristiwa politik dengan kampanye, peristiwa menguasai dan dikuasai, peristiwa untuk penghinaan dan cacian. Berbagi juga menjadi status kekayaan dan kehormatan, berbagi pada golongan dan keturunannya yang sebenarnya tidak membutuhkan. Berbagi untuk saling mempengaruhi.

Ah, begitu indahnya berqurban bagi orang yang mampu berqurban, hati hanya mendo’an untuk orang yang berqurban bahwa orang itu sedang menyalahakan cahaya Allah bagi diri dan orang lain. (t. aRU)

3 thoughts on “PENGORBANAN YANG MERDEKA

  1. TAK ADA LAGI OUTBOUND

    Awal mulanya kegiatan outbound adalah keingin setiap orang, kelompok, lembaga, instansi dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dirinya di dalam menjalan kehidupan ini. Yang memerlukan kemampuan dan kopentensi menjadi terbaik dalam kegiatan sehari-hari baik bagi anak menjadi lebih percaya diri dan mengembangkan diri, begitu juga bagi kelompok mengembangkan pontensi diri dan percaya diri lebih baik. Sedangkan buat lembaga dan instansi sebagai pengembangan diri bagi karyawan untuk mempunyai etos kerja yang baik. Karena kemampuan diri dan leadershipnya memang dikembangkan dalam kegiatan outboun. Begitulah kira-kira kegiatan outbound berlangsung di dalam kehidupan masyarakat. Dan para pengusaha melihat kegiatan outbound menjadi ruang bisnis yang menarik, karena ditambah dengan asesori untuk menarik pengunjung menjadi lebih banyak lagi.

    Dari situ bisa dilihat bahwa kegiatan outbound itu menjadi sebuah indikasi dalam kehidupan masyarakat sudah tidak sehat. Bahwa masyarakat, baik itu siswa, mahasiswa, pekerja, aktifis, pengusaha sudah kehilangkan habitatnya di alam semesta ini. Mereka hidup dari ruang satu keruang berikutnya. Dari rumah, ke mobil, ke kantor dan ke rumah lagi, di rumah ke ruang tamu, ke ruang kamar dan ke kamar mandi. Ruang melingkupi kehidupan manusia yang digerakan oleh mekanisme sistem kerja yang membuat manusia tidak bisa melepaskan dirinya dari ruang. Membuat kehidupan yang didesain sedemikian rupa untuk alam, tapi itu hanya sebuah artifisial alias penuh dengan kepalsuan.

    Membuat fitrahnya sebagai manusia yang menjadi bagian dari alam lingkungan yang dilingkupi dengan gunung, sungai, hutan, padang rumput dan savan, kebun dan sawah yang menyelimuti jiwa dan kehidupan manusia secara perlahan dan pasti telah dihancurkan dengan sebuah tuntutan mekanisme kerja produktif yang dikuasai oleh nafsu yang tak terkendali. Karena dengan nafsu siapapun juga orangnya, baik itu miskin dan menderita kepedihan yang mendalam, kaya dengan limpahan harta benda dan kekuasaan yang tak ada batasanya, tetap hidupnya akan mati disudut kehidupan hawa nafsu yang tak terkendali.

    Merdeka Sekolah mengadakan kegiatan outbound adalah sebuah kelatahan dalam dunia pendidikan. Sebagai kesan pembentukan karakter anak dalam pendidikan, pada hal kegiatan outboud untuk sebuah kegiatan artifisial yang tidak memberikan apa-apa pada anak-anak. Karena memang anak-anak tidak memerlukan outbound karena outbound itu sudah ada didalam diri anak untuk selalu ingin dekat dengan alam. Karena dari kegiatan sehari-harinya dalam bermain, anak tidak lepas dari tanah, tumbuhan, pasir, air yang selalu menjadi dunianya itu menjadi lebih berwarna. Tapi bagi orang tua itu adalah sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan. Karena bajunya kotor-orang tua males mencucinya meskipun yang mencuci bukan lagi dirinya tapi mesin. Tapi seolah-olah yang mencuci orang tua. Takut sakit-karena kalau sakit yang repot orang tua. Seolah-olah orang tua tidak mau direbotkan dengan penyakit, pada hal penyakit itu bagian dari stimulasi perkembangan tubuh manusia menjadi lebih baik dan kuat. Takut kecelakaan pada hal kecelakaan itu sudah menjadi bagian dari kehidupan semua orang tanpa kecuali anak. Hanya saja bagaimana kita bisa menghadapi kecelakaan itu dengan pandang yang positif.

    Anak digiring pada dunia artifial, dunia fantasi, dunia yang penuh dengan kepalsuaan tapi cukup menyenangkan dan membuat orang tua cukup nyaman dan buat kalau anaknya sudah berada dalam dunia artifial. Pada itu merupakan awal kehidupan bagi anak itu memasuki ruang, ruang kehampaan, ruang maya, ruang kekacauan dalam berpikir, ruang ketakutan yang menekan, ruang ketidak sadar pada dirinya, ruang yang menumpulan rasa sosial dan empatinya pada orang lain, ruang pengasingan dirinya yang sudah kehilangan dirinya. Ruang menjadikan diri anak bukan lagi sebagai manusia yang mandiri, tapi manusia yang telah direduksi menjadi sebuah robot yang telah terprogram, sebuah boneka yang sangat menyenagkan bagi orang tua karena dia tidak mempunyai sikap dan pandangan hidup yang jelas dan bermakna. Membuat anak menghindari segala persoalan hidup dan kehidupannya, kegiatan yang dilakukan sebuah tugas untuk menyenangkan orang tua bukan untuk dirinya sendiri.

    Outbound hanya memperlihatkan bahwa dirinya kita sebagai manusia sudah tidak akrab dengan kehidupan, realitas kehidupan, bentuk pengambilan jarak pada realitas kehidupan di masyarakat dan di alam yang sudah tidak menjadi alam karena sudah dijadi dunia fantasi, dunia artifial, dunia penuh dengan kepalsuaaan. Outbound hanya kegiatan saja bukan sebuah peristiwa dalam kehidupan kita dan anak kita. Outbound adalah hiburan yang kehilangan rasa kebersamaan diantara manusia. Outbound membuat manusia untuk saling menyiasati, karena sudah tumpul perasaan dan harga dirinya. Sehingga perlu adanya stimulasi dalam bentuk outbound. Outbound bukanlah sebuah peristiwa kehidupan tapi sebuah aktualisasi seseorang terhadap orang lain bukan untuk dirinya tapi untuk kepentingan material, yaitu mekanisme kerja, penampilan yang berani, seolah-olah tumbuh rasa kepemimpinannya, pada hal yang ada adalah kekuasaan yang ingin menguasai karena dorong hawa nafsu.

    Anak-anak Merdeka Sekolah memang bukan sedang melakukan kegiatan outbound tapi sedang menjalankan program dari pendidikan. Karena peristiwa kehidupan sudah ada di Merdeka Sekolah mulai dari halang rintang yang diciptakan anak-anak, bergelantungan sambil berjalan dengan tangan, melompat dari titian satu ketitian berikutnya. Berjalan dititian bambu untuk menjaga keseimbangan, memancat pohon dengan segala kemungkinan untuk bergerak lebih cepat dan bergelantung kemudian melompat, bermain dipematang sawah dan air yang mengalir, bergerak diantar lumpur, berlarian diantara kubanggan dan illang yang menutupi tubuhnya. Berguling ditanah dan merosot dengan segala macam caranya. Menyapa binatang yang dia temui, mulai dari kuncing, bebek, kerbau, kumbang, kambing, burung, lintah, bangau, bunglon, belalang, keong, ular, kepiting, ikan, ulat, semua itu mengiri kehidupan anak disekolah kalau memang mau dikatakan sekolah karena ada sebuah lembaga yang mengelola pendidikan, yaitu Semesta Langit Biru. Tapi pada hakekatnya bahwa apa yang dilakukan anak-anak itu adalah sebuah peristiwa kehidupan dengan segala macam haru birunya, senang dan sedihnya, suka dan dukanya, aman dan celakanya. Itulah outbound yang tidak perlu dicari di luar diri kita sendiri, karena outbound adalah peristiwa kehidupan untuk saling kerja sama dan berbagi diantara kita dan alam lingkunga sekitar kita.

    Dengan begitu jadi jelas kalau kita mengadakan outbound yang ada didalam benak pikiran alam bawa sadar bahwa kita telah terpisah dengan lingkungan kita sebagai manusia diantara manusia, sebagai manusia diantara alam lingkungan, sebagai manusia diantara diri kita sendiri. Kita sudah direproduksi oleh mekanisme sistem yang membuat diri kita hilang dan tak berkarakter.

  2. KEBOHONGAN KEGIATAN UJIAN SEMESTER

    Pada bulan depan anak-anak sekolah sudah tahu dan tidak akan mempersiapkan untuk menghadapi ujian semester. Karena ujian semester bagi anak-anak sama arti sebuah peristiwa yang menegangkan bagi dirinya. Karena orang tua akan selalu memerintahkan, menghardik, memarahi untuk belajar. Karena kalau tidak belajar tidak akan naik kelas atau lulus. Sebab nilainya akan menjadi jelek, buruk dan menjadi indikator sebagai anak yang bodoh dan tolol.

    Mengadakan ujian semester buat sekolah menjadi ajang yang menyenangkan bagi guru. Karena dengan ujian guru akan mendapatkan tambah penghasilan dari membuat soal, mengawasi. Dan belum lagi menjadi ajang kekuasaan di dalam menilai muridnya. Meskipun hal itu tidak akan perna tersiratpun juga untuk menghakimi muridnya. Tapi alam bawah sadar yang mengerakan prilaku guru menjadi hakim penentu murid pintar atau tidaknya ada ditangan guru. Seolah-olah begitu. Pada hal itu hanya sebuah tanggung jawab guru untuk mengadakan evaluasi yang sifatnya tidak memakai ujian semester sebenarnya guru sudah bisa bagaimana mengembangkan kemampuan anak yang tidak bisa menjadi bisa, yang bisa menjadi lebih bisa. Bukan untuk menilai seorang anak itu pintar dan bodoh dari soal yang diberikan. Kalau hal itu masih menjadi tolak ukur guru, itu menjadi sebuah bentuk kebohongan yang terjadi dalam dunia pendidikan.

    Karena di dalam dunia pendidikan yang ingin dicapai dalam pendidikan sekolah itu adalah bagaimana anak bisa mengembangkan dirinya secara baik. Dan merasakan bahwa apa yang dilakukan itu memang berangkat dari dirinya sendiri. Anak bisa mampu mengukur kemampuannya sendiri dengan berbagai macam yang sebenarnya tidak sepenuhnya diketahui oleh guru dan orang tua. Kalau mereka tidak dekat dengan anaknya atau tidak memahami alur berpikirnya. Karena anak bukan memerlukan nilai sebuah tolak ukur kesuksesannya. Rapot yang diberikkan bukan untuk sebuah nilai. Tapi sebagai sebuah langkah awal untuk melihat perkembangan anak selanjutnya. Untuk sama-sama memberikan kemungkinan pada anak bisa melihat diri dari lingkungan dan orang lain pada umumnya. Dengan begitu menjadi langkah awal bagi anak untuk mencari solusinya, bagaimana dia bisa tumbuh dan berkembang untuk bisa beradaptasi pada lingkungan dan pandangan orang lain yang berbeda. Begitu juga anak bisa, secara tidak langsung mengantisipasi perkembangan zamannya.

    Ujian semester itu kegiatan artifisial dan pragmatis bagi guru untuk menilai anak muridnya. Bisa juga ujian semester memperlihatkan ketidak mampuan guru dalam melihat perkembangan anak secara menyeluruh. Sehingga mengambil praktisnya saja untuk melihat perkembangan anak dengan memberikan soal pelajaran. Tapi bukan bagaimana memberikan cara belajar bagi dirinya, sesuai dengan kemampuan anak yang tidak sama.

    Untuk itu hendaknya sekolah dalam hal ini Merdeka Sekolah di dalam menyikapi ujian semester ini tidaklah terlalu berlebihan. Sehingga akan mengorbankan anak bukan menjadi pintar dan kreatif. Tapi menjadi awal ketakutan dan ketidak sukaan pada sekolah atau pendidikan. Pada hal sekolah bagian dari kehidupan anak untuk selalu tumbuh dan berkembang untuk belajar. Bukan mendapat nilai dan rapot yang baik, agar mendapatkan hadiah dari orang tua. Karena orang tua senang pada anak yang nilai bagus. Meskipun hal itu bukan yang menjadi dunia anak dengan segala kemungkinannya. Karena sejarah sudah mencatat bahwa Albert Einstan seorang ahli fisika disekolah mengalami banyak hambatan, sehingga membuat dirinya menjadi orang bodoh dan tolol. Thomas Alfa Edison menemu lampu pijar, Pablo Piccaso seorang pelukis yang disekolah selalu ditemani oleh orang tuanya juga terasa menjadi orang bodoh dan dungu.

    Karena sekolah bukan tempuan ujian soal, tapi tempat memberikan kesempatan anak untuk berbeda dan mengungkapkan pandangan dengan segala macam keterbatasan dan kesalahan yang bukan menjadi kesalahan, tapi ketidak tahuan. Yang harus diberikan pemahaman sehingga menjadi tahu bagaimana harus belajar dan belajar untuk kebutuhannya. Bukan untuk nilai dan menyenangkan orang tuanya.

  3. RASIONALITAS YANG MENYESATKAN

    Dunia pendidikan adalah dunia rasionalitas segala sesuatu bisa diukur dan dibisa diamati sebagai kajian ilmiah. Sebagai tradisi kehidupan dunia pendidikan, segala penyampainya harus didasarkan pada landasan yang ilmiah, yang masuk akal, yang rasional. Dengan dasar teori yang jelas, untuk memperlihat bahwa apa yang disampaikan dan apa yang menjadi gagasan itu bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Karena dunia pendidikan bukan dunia mistik atau perdukunan, tapi dunia yang mampu memberikan pemahaman tentang sesuatu itu bisa dilihat secara ilmiah.

    Untuk itu dunia pendidikan menjadi sebuah tolak ukur dari kehidupan manusia dan masyarakat pada umumnya. Sekolah formal itu menjadi wajib hukumnya untuk semua orang. Karena dengan sekolah itu seolah-olah anak itu menjadi lebih pintar, cerdas, baik dan berbudi pekerti yang baik. Mengenal tata krama yang menjadi budaya moral di dalam kehidupan masyarakat. Yaitu menghormati orang tua, yang tua menghargai yang muda, dan kedua untuk saling menghormati satu sama lain. Karena mengharmoti adalah manifestasi dari kehidupan manusia yang mempunyai perasaan dan nilai moral.

    Tapi karena nilai moral dan etika yang menyangkut perasaan seseorang itu tidak pernah terasah di sekolah. Karena sekolah lebih menekankan pada rasionalitas dan formalitas. Jadi apa yang dikatakan menghormati guru adalah dalam rangka untuk mendapatkan nilai yang terbaik, minimal tidak merah. Karena menghormati guru adalah indikatro keberhasilan untuk mendapatkan nilai. Anak tidak perlu lagi melihat guru itu baik atau tidak, benar atau tidak dalam mengajar, kelakuannya kasar atau tidak. Yang penting bagaimana baik sama guru itu dapat nilai. Untuk itu guru memang tidak perlu dihormat atau ditakuti, yang takuti oleh anak murid adalah kalau tidak naik kelas, itu akan menghebokan dunia. Dan membuat anak menjadi bulanan orang dengan segala macam cap yang buruk disandangnya.

    Guru dihormati oleh anak muridnya karena takut tidak naik kelas atau nilainya jelek. Itu rasionalitas dari anak yang dibangun oleh dunia pendidikan di dalam sekolah. Tidak heran kalau diluar sekolah anak seperti menemukan dunianya yang ingin mengekspresikan apa yang menjadi keinginannya. Tanpa harus melanggar tata krama semu yang telah dibuat sekolah untuk mengukukuh legalitasnya sebagai penentu anak dimasa depan. Begitu juga anak dirumah sudah tidak melihat orang tua sesuatu yang harus dihormati karena orang tua sendiri memang sudah berpikir sangat rasional. Bahwa memasukan anak kesekolah dengan biaya mahal, diharapkan anak menjadi apa yang diingikan orang tua, sebagai anak yang pintar dan sukses. Dan itu memang menjadi terbukti anak pintar dan sukses, tapi tidak punya empati pada orang tua sebagai hubungan orang tua dan anaknya. Anak sudah tidak melihat orang tua sebagai sesuatu yang harus dihormati. Tapi sebagai sesuatu yang memberikan sumber materi untuk keperluannya. Karena cinta dan kasih sayang sudah diganti dengan media materi, uang dan harta benda lainnya. Anak sudah tidak dibangun lagi dengan cinta. Tapi dengan materi.

    Padangan materialisme dunia pendidikan, masyarakat dan pemerintahan sebuah cermin rasionalitas yang dikedepankan untuk menjadi sebuah ukuran kesuksesan dan keberhasilan. Karena pandangan rasionalisme berorientasi pada materi, benda, bukan pada sesuatu yang menyangkut ahlak, jiwa atau rasa. Karena budaya sekolah dengan rasionalitas dengan demikian tidak heran kalau anak-anak sudah kehilangan empati dan nilai luhur yang menyangkut keiman dan ketaqwaan pada Tuhan Pencipta alam semesta ini.

    Rasionalitas menjadi sebuah kesesatan yang mengarahkan hidup pada dunia materi. Pada hal kehidupan ini tidak bisa dipandang dari segi material. Yang hanya menyesatkan pandangan hidup manusia pada nilai kehidupan yang lebih baik lagi yaitu kehidupan akhirat. Dunia dalam pandangan filsafat adalah fenomenal yang membatasi seseorang di dalam memahamikan kehidupan yang hakiki. Dunia seperti kembang api yang terlihat indah tapi hanya sebuah fatamorgana. Seperti kita melihat udara panas di pandang pasir yang menyerupai air. Begitulah dunia, bukan sebuah materi semata. Tapi sebuah keterkaitan kehidupan yang membuat orang harus menyadari bahwa Allah adalah Maha Kuasa dalam situasi apapun juga.

    Pendidikan bukan lagi menjadi realitas yang sebenarnya, pendidikan adalah sebuah realitas sekolah yang dirasionalitaskan. Sebuah imitasi yang tidak akan membawa anak-anak kepada masa dengan yang sebenarnya, yaitu kehidupan akhirat. Dunia adalah sebuah tangga lagu untuk membuka kehidupan yang sesungguhnya. Bukan menjadi sebuah tujuan utama, kenapa sekolah mengaju pada dunia, yang bersifat materi. Pada hal dunia sendiri tidak menginginkan diri menjadi seorang bernaung padanya. Karena tidak kuasa memikul beban dari rasionlitas manusia terhadap kehidupan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s