Kesalahan Pada Anak


Apakah Anak Bersalah ?

Benarkan Dia Bersalah

Anak itu bersih tanpa noda. Keberadaan  akan menjadi berwarna tergantung dari orang tuanya. Namun realitas menunjukkan lain, atas kesalahan yang dilakukan oleh seorang anak, maka timpaan atas salah itu absolut dibebankan pada anak itu sendiri. Sungguh ironis kenyataan itu terjadi pada anak-anak kecil yang sedang ditumbuhkan. Bahkan pada seorang anak yang masih merah jasadnya. Orang-orang tua yang belum mengerti akan keberadaan anak sebagai bahan baku, sebenarnya tidak memiliki daya kecuali tergantung pada pemahat hidupnya. Anak tidak mau sekolah, anak BAK (Buang Air Kecil) sembarangan dan perilaku sejenis lainnya, harus diakui tidak mutlak atas inisiatif original dari seorang anak yang masih dalam masa bimbingan. Memang sepatutnya untuk tidak mencari siapa yang sepatutnya disalahkan atas perilaku yang belum baik tersebut (distandarkan dengan perilaku anak/orang yang sudah mengerti), namun semua perlu disadari dan difahami.

 Anak kecil-kecil itu sepatutnya untuk dilepas dialamnya supaya anugerah dari Tuhan yang ada didirinya dapat terangsang merespon kebutuhan-kebutuhan pengembangan yang ada disekitarnya. Sejak dini diajarkan untuk selalu mencari solusi atas hambatan-hambatan yang dia alami. Ketika anak-anak bersih itu mengalami kendala sebaiknya untuk tidak segera dibantu, biarkan spiritnya terus dipicu. Selanjutnya dia akan menjadi diri yang tidak mudah menyerah dan tidak mudah minta bantuan kepada orang lain. Namun mereka meoptimalkan kemampuannya dalam memecahkan ujian yang dihadapinya. Dalam kondisi tertentu barulah diberikan pengarahan, contoh untuk memecahkan masalah yang diluar kapasitasnya. 

Perilaku orang tua yang memanjakan anak sebenarnya bukan satu-satunya bentuk kasih sayang yang mendidik. Bahkan dapat menghambat perkembangan kepribadian anak. Anak yang sebenarnya bisa mencuci piring sendiri, atau makan tanpa perlu disuapi, namun karena dimanjakan dengan suap dan dicucikan piringnya maka kepribadian anak tersebut akan terhambat kemandiriaanya. Bahkan  pemanjaan yang diberikan terus-menerus kepada anak akan melahirkan kepribadian tergantung yang akan lebih sulit untuk dientaskan. Sebenarnya anak-anak itu bisa mandiri, mari kita lihat disekitar kita. Anak-anak yang dilahirkan pada keluarga yang tidak biasa dengan pembantu rumah tangga, maka mereka sudah terampil makan sendiri, mencuci piring sendiri serta mengambil air minum dari teko dirumahnya. Bahkan mandi sendiri, berpakaian sendiri. Sementara itu anak-anak yang dilahirkan pada keluarga berada dengan segala kelebihanya, maka anak-anak seusia anak mandiri tadi masih amat sangat tergantung dengan bantuan orang lain. Apakah mereka beda? asasinya tidak. Anak orang beradapun apabila dididik mandiri maka dia juga biasa mandiri. Namun sarung kasih sayang telah menghambat kemandiriannya. Apakah menyayang anak dengan mempermudah kebutuhannya salah ? Tentu tidak demikian, namun jangan dilupakan bahwa pada diri anak-anak itu membutuhkan rangsangan untuk syaraf kemandirian yang harus ditumbuhkembangkan.

Kalau anak sudah waktunya untuk dilepas, kemudian masih berperilaku tergantung  maka tidak layak mereka kita salahkan. Karena memang syaraf  kemandiriannnya masih belum berkembang. Seorang anak yang sudah waktunya makan sendiri, atau mencuci piring sendiri kemudian dia tidak bisa melakukan itu, ini dimungkinkan tidak pernah adanya pembelajaran atas tindak kemandirian sianak. Memang harus dilakukan upaya-upaya yang lebih jeli melatih kemandirian anak, khususnya anak keluarga yang berada. Karena melatih kemandirian anak sangat dibutuhkan ketika anak suatu saat harus dituntut atas pentingnya kemandirian itu. Menimpakan kesalahan kepada anak diluar kemampuan dan belum pernahnya diberikan bimbingan atas kemandirian itu, merupakan hal yang tidak baik  bagi anak-anak itu. Bahkan dapat berimbas turunan yaitu gampang menyalahkan kepada orang lain tanpa dilihat dan difahami lebih seksama atas sebab-sebab kesalahan itu terjadi.

Mencari kesalahan, menimpakan kesalahan kepada orang lain merupakan pekerjaan yang mudah bagi orang-orang yang sempit hidupnya.

(Tanda S)

4 thoughts on “Kesalahan Pada Anak

  1. SEBUAH PENGORBANAN YANG MERDEKA

    Kegiatan pendidikan tidak ada beda dengan kegiatan keseharian semua orang, karena apa yang dilakukan itu menjadi bagian dari kehidupan Merdeka Sekolah. Berqurban bukan sebuah serimonial dari hari raya Qurban. Tapi menjadi sebuah peristiwa untuk menyatukan visi dan kegiatan yang dilakukan Merdeka Sekolah dengan semua pihak. Mulai dari Pihak Yayasan Semesta Langit Biru, Orang tua dengan upaya secara bersama mau persorangan yang mempunyai kemampuan untuk berqurban. Begitu juga anak-anak Merdeka Sekolah tidak kalah antusiasnya di dalam berqurban. Sedangkan guru dengan keterbatasan tidak membuat dirinya untuk merealisasikan Qurban menjadi sebuah kekuatan untuk saling berbagi dan menyamakan pandangan dengan segala macam kelebihan dan kekurang.

    Karena kehidupan bukan sebuah perjalan biasa tapi sebuah perjalanan yang mempunyai makna. Untuk bisa ditelusuri, hal itu terlihat dari berqurban bukan masalah memotong sapi dan dua kambing yang diiring dengan takbir oleh anak-anak. Tapi adalah sebuah pengelolah kehidupan yang lebih baik, untuk bisa dirasakan dalam kehidupan yang akan datang, kehidupan abadi. Sebagai bentuk pengukuhan terhadap kehidupan dan kebersamaan untuk saling berbagi. Hal itu yang diajarkan Islam pada semua umat, untuk saling berbagi pada orang lain dalam mengembangkan kepribadian setiap orang untuk menjadi lebih baik. Dan meningkatkan harkat dan martabat setiap orang yang selalu berbagi pada orang lain. Dalam sekala negara membuat bangsa ini menjadi bangsa yang mempunyai harkat dan martabat di mata negara lain. Untuk tidak diniha dan dizalim seperti pertiwa TKW yang di buang di tempat sampah seperti binatang jalang yang terbuang.

    Bangsa Kita adalah bangsa yang Merdeka dari kemiskinan, kebodohan, penjajahan tapi belum Merdeka dari ahlaq, moral yang mengedepankan hawa nafsu, karena di sana sini masih banyaaaaaak sekali ketimpangan dan ketidak adilan selalu menjadi santapan rakyat kecil untuk dihina dan dicaci maki. Korupsi menjadi gaya hidup pengusaha, pejabat dan masyarakat yang menginginkan kehidupan yang instan dan pragmatis.

    Dengan Idul Adha, dengan berqurban terasa menjadi lebih indah di dalam kehidupan masyarakat. Semua orang saling bekerja sama untuk saling berbagi tugas dan membagikan qurban pada rakyat kecil yang masih disudut kehidupan yang asing bagi dirinya. Anak-anak merasakan arti dari berbagi yang dilakukan orang tua untuk mengungkapkan kerinduaan pada kebersamaan. Karena masyarakat telah kehilangan dirinya terbawa arus materialisme yang membuat dirinya terasing pada lingkungan dan dirinya sendiri. Hidup berlimpahan informasi dan kesibukan bekerja hanya mencari sesuap nasi, tapi nafsu dunia membuat dirinya bukan lagi maka nasi, tapi makan besi, makan jabatan, karier, kehormat yang palsu, cita-cita yang artifisial. Seolah membuat kita menjadi tidak percaya pada diri kita dan sesama kita.

    Berqurban menjadi keindahan yang tidak setiap orang merasakan, kecuali orang yang suka berbagi. Akan merasakan bahwa hidup ini memang harus terus berbagi sebagai cahaya kehidupan yang menerangi kehidupan masyarakat yang mengalami kegelapan. Cahaya bagi orang kaya adalah kemurahan hati untuk selalu merasakan bagaimana kenikmatan yang telah diberikan Allah pada dirinya. Cahaya bagi rakyat kecil yang dhuafa dari haknya yang ada pada orang kaya menjadi harapakan bagi kehidupannya, untuk bisa merubah kehidupannya lebih baik. Sehingga menyadarkan dirinya bahwa cahaya Allah itu bukan pada kenikmatan materi, tapi kenikmatan untuk saling berbagi dan merasakan bahwa yang diberikan pada kita, sebagai manusia untuk merasakan kenikmatan dari Allah secara berjamaah.

    Qurban bukan sebuah peristiwa pemotongan hewan sapi, domba atau kambing. Tapi sebuah peristiwa kasih sayang dan rasa syukurnya atas nikamat Allah yang diberikan pada Nabi Ibrahim setelah lama tidak mempunyai anak. Untuk mengurbankan anak yang dicintakan karena Allah. Begitu juga sebaliknya Ismail yang sangat sayang pada orang tuanya, karena Allah begitu melibahkan kasih sayang pada dirinya melalui ayahnya Ibrahim. Kerelaan dirinya untuk diqurbankan semata-mata keinginan untuk berbagi pada orang tuanya, Ibrahim, sebagai rasa hormat dan taatnya Karena Allah.

    Hal ini sudah tidak ditemui lagi berbagi antara orang tua dan anak dalam kasih sayang yang tidak memerlukan materi, uang dan harta. Tapi hati dan rasa yang menyatu dalam kerinduan dirinya pada Allah. Karena iman bukan serimonial ibadah dan status. Tapi keterpautan iman pada kehidupan sehingga rasa ingin selaluuuuuu untuk berbagi dilahirkan sampai jangan berhenti. Tapi sekarang berbagi hanya sebagai pertiwa sosial, peristiwa serimonial, peristiwa politik dengan kampanye, peristiwa menguasai dan dikuasai, peristiwa untuk penghinaan dan cacian. Berbagi juga menjadi status kekayaan dan kehormatan, berbagi pada golongan dan keturunannya yang sebenarnya tidak membutuhkan. Berbagi untuk saling mempengaruhi.

    Ah, begitu indahnya berqurban bagi orang yang mampu berqurban, hati hanya mendo’an untuk orang yang berqurban bahwa orang itu sedang menyalahakan cahaya Allah bagi diri dan orang lain.

  2. BANYAK KEJADIAN YANG ANEH DI MERDEKA SEKOLAH

    Pendidikan di Merdeka Sekolah ini memang bukan sebuah pendidikan biasa karena memang sekolah ini bukan berbentuk gedung. Tapi rumah yang ada tanahnya menghampar luas. Semua ada dengan begitu saja. Sebuah keterpautan hidup yang memang tidak bisa dipaksakan menjadi sesuatu yang diinginkan. Kalaupun bisa dipaksakan memang akan menjadi sebuah mekanisme yang mengorbankan semuat orang, tanpa kecuali orang yang kayaaaa baget. Karena orang kayaaa banget ketika memaksakan diri untuk materi berarti dia sudah dikuasai materi dan nafsu yang tak berujung. Itu sebuah diskripsi sekolah.

    Anak-anak Merdeka Sekolah adalah anak-anak pada umumnya yang sudah bermain dan asik dengan dunianya. Hanya bedanya anak-anak Merdeka Sekolah itu tidak pernah dilarang, hanya diberikan kiat agar dirinya merasa aman dan tidak tertekan selama belajar. Anak-anak belajar seperti biasanya pada dunia pendidikan,tapi anak-anak belajar tentang dirinya sendiri. Mulai dari permainan yang dia ciptakan sendiri dan bersama dengan temannya. Kadang terjadi perdebatan, berselisih paham dan bisa terjadinya perkelahian. Dan hal itu yang terjadi, kalau ada perkelahian maka keduanya harus mengikuti kesepakatan bersama, yang untuk selalub berdamai. Karena teman bukan untuk dimusuhi tapi untuk disayangi. Sehingga perkelahian sebagai proses untuk saling mengenal dirinya dan memahami orang lain, serta mengerti arti sebuah peraturan atau syariahnya.

    Kejadian aneh dan cukup serius bagi sekolah pada umumnya atau orang tua pada umumnya. Tapi bagi anak-anak sebuah peristiwa yang memang harus dialam sebagai seorang anak di dalam kehidupan ini. Auliya semoga Allah memberikan kesehatan dan hidayahnya. Anak yang laki-laki kecil mungil mengalami kecelakaan ketika bermain dengan temannya. Yang harus dirawat di rumah sakit, tapi semangat kebersamaan pada temannya, untuk sekaloh tidak menyurut walapun kondisi masih sakit. Tapi alhamdullillah anak itu sekarang sehat dan semangat untuk sekolah.

    Begitu juga dengan Hafidz anak yang lincah, gesit dan aktraktif, seperti biasa anak-anak Merdeka Sekolah permainannya memang berisiko menurut orang pada umumnya mengelantungan di saung, naik pohon dan bergoyang dengan pohon mengecar ular atau bunglon, mencari keong atau lintah, menangkap belalang atau kumbang. Tapi yang terjadi pada Hafidz adalah jatuh dari pohon dan darah mengalir dari mulutnya, guru mengantar kedokter namun dirujuk kerumah sakit. Tapi anak itu ketika di Puskesmas masih bisa berbicara dengan gaya kekanak-kanaknya. Ketika melihat ada anak yang sakit, Hafidz menanyakan dengan mulut yang luka sehingga bibir makin kedepan,”komu shakit apa”

    Dirumah sakit Hafidz mulutnya dijahit karena ada yang sedikit robek, tapi anak itu tidak menagis, tenang dan menambahkan sebuah keyakinan bahwa perhatian orang disekitarnya merasakan dirinya menjadi anak yang kuat. Karena ketika jatuh bukan caci maki dan amarah yang keluar, tapi adalah kasih sayang dan pertolongan sehingga anak merasakan ketenangan dan memulihkan scoknya. Kecelakan bukan menjadi peristiwa yang menakutkan tapi memang ada dalam kehidupan ini. Tapi bagaimana kita harus menyikapinya, bahwa kecelakan akan sewaktu menyapanya.

    Setelah dijahit Hafidz kembali kesekolah seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa yang begitu mengetarkan. Semua berjalan wajar, seperti biasa menjelang siang Hafidz tidur hingga pelajar selesai, tidak ada yang menganggu dan tidak ada yang merasa terganggu. Tidur adalah sebuah proses pembelajar di dalam melihat dirinya yang paling dalam, dan hal itu memang tidak ada di dalam pelajaran. Tapi Merdeka Sekolah memberikan pelajaran tidur bagi anak sebagai proses belajar, belajar alam bawah sadar.

    Kembali lagi Allah Maha pelindung dan kasih sayang pada anak Merdeka Sekolah yang kalau dilihat dari kaca mata orang pada umumnya sebuah kejadian yang tidak lazim. Orang tuanya juga penuh pengertian dan mengucapkan terima kasih pada sekolah, dan sekolah juga merasa terima kasih pada orang tua atas pengertiannya. Saling berbagi rasa terasa betul dari peristiwa Auliya dan Hafidz. Mudah-mudah Allah selalu memberikan keselamatan pada anak-anak Merdeka Sekolah yang Merdeka.

    Begitu juga anak-anak Merdeka Sekolah kerap kali menemukan ular, tapi ular itu tidak mengigit dan anak-anak juga tidak membunuhnya, hanya mengejar sampai kesemak-semak. Semoga Allah melindungi anak-anak yang pemberani dari ular ciptaanMu, ya Allah. Semua kejadian begitu saja berjalan, dan sebuah kejadian itu bukan sesuatu kesulitan, tapi ada saja kemudahan. Seolah-olah Merdeka Sekolah yang begitu terbuka dengan segala hal di lingkungannya itu selalu dalam pengawasan dan lindungan Allah.

    Ada juga yang aneh bagi Merdeka Sekolah yang tidak pernah menjanjikan atau menawarkan sesuatu yang terbaik pada pendidikan ini. Hanya melibatkan semua orang untuk saling berbagi di Merdeka Sekolah. Karena dengan berbagi itu sama arti membuka akses kehidupan yang lebih luas baik dunia maupun akhirat. Dan berbagi itu sekarang sebetul sudah menjadi karkater dunia maya dengan internetnya. Dari anak yang pendiam dan tidak mudah berbicara, kaku, dingin dan beku. Tapi anak itu hanya bersekolah satu minggu untuk trail menurut orang pada umumnya. Tapi Merdeka Sekolah memperlakukan anak itu seperti anak Merdeka Sekolah pada umumnya. Anak itu begitu manis, berani, perhatian dan suka bicara, dan dengan mudahnya dimenyatu dengan teman lainnya, karena teman di Merdeka Sekolah memperlakukan anak itu seperti yang lain untuk saling berbagi dan bermain. Sehingga aneh anak itu bukan anak yang berbeda tapi anak yang seperti kebanyak anak di Merdeka Sekolah. Tapi apakah memang anak Merdeka Sekolah itu berbeda dengan anak sekolah pada umumnya. Wallahualam, hanya Allah yang Maha Tahu.

    Ketika anak itu tidak sekolah di Merdeka Sekolah masih memberikan kesan yang mendalam, seolah-olah dia pernah sekolah tujuh tahun yang lalu. Ketika di kembali melihat Merdeka Sekolah di dunia maya.

    Aneh tapi nyata, sekolah yang tidak berbentuk sekolah ini begitu saja ada dalam lingkungan masyarakat. Dan begitu saja terbentuk yang didukung oleh segenap orang dan pemerintah dalam hal ini departemen Agama. Karena sekolah ini punya cahaya kehidupan bagi setiap orang yang selalu merinduha cahaya. Karena cahaya itu selalu ada dalam kehidupan untuk berbagi. Merdeka Sekolah ada, sehingga dengan begitu saja masyarakat yang bersedia menjadi guru dengan segala hal yang tidak mungkin ditemui disekolah pada umumnya. Merdeka Sekolah.

  3. SIAPA SEBENAR ORANG TUA ITU

    Anak-anak begitu saja bermain, seperti air mengalir, hujan turun yang selalu membasahi bumi persada ini. Banjir bukan datang begitu tapi karena tatanan kehidupan alam sudah dirusak oleh manusia. Di dunia ini tidak ada istilah banjir, karena yang ada mengalir dan tidak mengalir. Peristiwa banjir adalah bentuk kesalahan manusia di dalam mengelolah alam. Tidak ada lonsor karena derasnya hujan tapi itu karena ketamakan manusia istilah lonsor itu ada.

    Jadi tidak ada anak-anak yang nakal tapi itu hanya ada dalam dunia pendidikan dan dunia orang tua yang memperlakukan anaknya seperti mainan dan keinginan yang tidak pernah jelas dalam memahami dunia anak. Anak diperlakukan sedemikian rupa agar mengikuti keinginan orang tua. Jadi kalau anak sekolah itu sebenarnya anak itu tidak pernah sekolah dalam arti yang sebenar-benarnya. Karena yang sekolah adalah orang tuanya, anak hanya sebagai media keinginan orang tua yang tidak pernah tercapai dalam kehidupannya. Sekolah bagi dunia pendidikan bukan untuk anak menjadi pintar atau cerdar, tapi untuk keuntungan dan membuka lapangan pekerjaan bagi para penganggur yang tidak diterima disana-sini. Karena hanya sekolah yang hanya bisa memberikan kemungkinan untuk sekedar mencari sesuap nasi. Jadi sekolah bukan lagi sekumpulan orang yang haus dengan ilmu tapi haus dengan materi uang dan harta. Anak-anak disekolah hanyalah stimulasi orang tua untuk membuktikan dirinya sebagai orang tua. Karena orang tua itu sudah tidak bisa menjadi orang tua tapi masih menjadi anak-anak yang kehilangan masa depan karena dituntut oleh kehidupan yang mekanisme untuk menjadi elemen atau suku cadang industri yang menjelma menjadi sebuah moster yang mengedalikan manusia yang sudah dikuasai dengan hawa nafsu. Sehingga orang tua sudah kehilangan harga diri, cinta dan kasih sayang. Membuat anak menjadi sebuah pelampiasan segala macam ketidak berdayaan dalam menghadapi hidup ini. Cinta sudah tidak ada lagi dalam benak dan jiwa. Karena sudah berganti dengan aroma ketidak berdayaan yang termekanis dalam kehidupan dan dunia kerja.

    Anak-anak disekolah dirumah sudah tidak aman lagi dari perlakuaan orang tua kehilangan empati dan harga diri sebagai orang tua. Anak dengan dunianya tercerabut kedalam dunia orang dewasa yang begitu rumit dan tidak pernah terselesaikan. Kehidupan yang sederhana dan indah dengan segala macam ragam dari alam semesta ini. Menjadi sebuah persoalan yang rumit karena dibuat menjadi rumit, agar hidup ini tidak lagi menjadi indah, karena indah sama artinya dengan kasih sayang untuk saling berbagi. Yang merupakan perwujudan dari keimanan manusia pada hidup ini. Di mana hidup ini ada yang mempunyai peranan yang sangat penting dan sangat dekat pada kehidupan manusia dan mahluk bumi pada umunya. Yaitu Allah yang selalu menyertai kehidupan ini agar menjadi lebih indah dan menari, sehingga cinta selalu bersemi pada setiap orang untuk selalu diungkapkan dalam bentuk kasih sayang dan berbagi dengan berbagai macam cara dan kreativitas setiap orang. Kreativitas semua orang menjadi kehidupan ini kehidupan berbudaya bagi kehidupan setiap masyarakat yang selalu menjujung tingggi nilai keindahan yang disitu ada muatan keimanan dan ketakwaan pada Allah.

    Jadi siapa sebenarnya orang tua sekarang ini, orang tua yang kehilangan orientasi pada kehidupan spiritual dan kehidupan sosial. Membuat tatanan kehidupan ini mengalami pergeseran yang sangat tajam. Karena kesenjangan hidup menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak dan korbannya adalah anak-anak yang mempunyai dunia begitu indah. Karena anak-anak mampu menghiasi kehidupan orang dewasa itu menjadi indah. Untuk itu janganlah anak menjadi pelampiasan diri kita sebagai orang dewasa yang telah kehilangan dirinya. Yang akan mengakibatkan pada anak yang kehilangan dunia yang indah, dunia yang penuh kreativitas dan keramahan untuk saling berbagi diantaran mereka.

    • Saya mempunyai anak usia 14thn (ahmad mabruri)sekarang dia pergi dari rumah dan berhenti sekolah sudah saya upayakan dan apapun kemauannya sudah saya turuti……sejarah anak mulai kecil (usia5 tahun)ananda suka ps setiap saya cari selalu ada di tempat ps,bertambah usia dia suka warnet kalau tidak punya uang mencuri uang saya,jika warnetan disuruh pulang ananda bilang mau kabur (sayangnya ayahnya selalu memanjakan dia, bila saya marahi mencuri uang atau yg lainnya selalu dibela terkadang saya bertengkar dgn ayahnya) anak saya 4yg lainnya tdk bermasalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s