MEMBERI RUANG PADA ANAK


MEMBERI RUANG PADA ANAK

Anak Butuh Ruang Pengakuan

 

Di dalam dunia pendidikan kalau didalami dan dihayati sebagai seorang pendidikan makin memperlihatkan begitu kaya dan kompleks permasalahan anak. Karena anak tidak bisa dilihat dari segi akademiknya saja, juga bukan dari segi pertumbuhannya, bukan juga dari segi pergaulanan, bukan juga dari segi mentalnya, tapi dari cara pandang anak dalam melihat kehidupan ini membuat kita akan terpaku dan tertegun.

Karena kehidupan anak yang dilihat pada saat ini adalah melihat anak dari pandangan orang tua, anak sebagai obyek dari pengajian yang tidak pernah habis dan hanya menghasilkan buku-buku yang sebenarnya jauh dari pandangan anak sebuah realitas sosial. Hal ini yang memerlukan sebuah dialogis orang tua dengan anak. Dialogis itu dilakukan secara berkala, sebagai bagian dari kehidupan yang memang harus dijalani. Bukan sebuah peristiwa, atau sebuah kajian ilmiah tentang perkembangan dan pertumbuhan anak sebagai generasi yang akan datang. Tapi sebagai pandangan anak terhadapa kehidupan dan orang tua yang menjadikan dirinya sebagai obyek.

Karena dengan dialogis itu diharapkan akan memberikan banyak kemungkinan yang baik bagi kedua belah pihak baik anak maupun orang tua sebagai amanah kehidupan ini untuk selalu dijalani dan dipahami sebagai sebuah pandangan yang adil.

Untuk banyak sekali para pendidikan mengalami kekurangan dan harus banyak belajar di dalam melihat bagaimana anak memandang kehdupan ini, kehidupan orang tua, masyarakat dan infrastruktur dengan khas anak. Untuk itu diperlukan perangkat dan pendekatan yang lebih bisa dipahami oleh kedua belah pihak, yaitu anak dan orang tua dalam hal ini pendidik.

Dengan begitu tidak ada lagi yang keluar dari pernyataan seorang guru anak bodoh dan tidak bisa mengikuti pelajaran. Karena guru memang belum bisa memahami cara pandang anak yang lebih baik. Karena anak seperti dalamnya laut, luasnya samudra. Dan kalau sudah jauh pandangannya dan persoalanya anak menjadi lebih dalam hati dan jiwa kita. Yang tidak bisa di ukurnya, karena anak bukan benda mati tapi mahluk ciptaan Allah untuk kita selalu ingat padaNya. Bahwa pendidikan bukan masalah akademik atau pelajaran. Tapi ada sesuatu yang memang harus dipahami dan didalami lagi sebagai sebuah proses belajar yang tidak pernah habis. Karena Islam mengatakan bahwa belajar mulai dari buain sampai liang lahat. Sebuah pandangan yang jauh lebih arif dan bijak dibandingkan sebagai guru yang favori atau sekolah favorit. (Tri Aru)

One thought on “MEMBERI RUANG PADA ANAK

  1. MERDEKA SEKOLAH BERBAGI

    Pada pendidikan Merdeka Sekolah berjalan dalam bayang yang hedonisme dan pragmatisme. Sebagai sebuah perjalan lautan dan langit yang membentang untuk bisa memaknai dari kehidupan ini. Bahwa sekolah itu apa ada sesuai dengan yang namanya sekolah guru mengajar agar muridnya cerdas dan berguna bagi bangsa dan agama. Bukan sekolah yang mempersulit masyarakat dan rakyat untuk bisa mengakses kemajuan di dalam menghadapi tantangan hidup di masa akan datang. Dengan segalam seleksi dan polarisasi pendidikan, ada pendidikan orang miskin, pendidikan kelas menengah, pendidikan orang kaya, pendidikan internasional yang hanya bermuara pada masalah ekonomi. Bukan masalah karakter sebuah kehidupan setiap orang, masyarakat dan bangsa ini. Seolah-olah anak-anak kita didik untuk menjadi bagian dari mekanisme industri. Karena pendidikan bukan lagi melahirkan anak didik yang baik, tapi pendidikan mencetak anak yang cerdas, di mana sistem berpikirnya bukan lagi dengan pola berpikir seorang anak yang berkarakter, dengan eksprsif, penuh dengan ide dan pandangan yang sublim. Tapi anak yang diperlakukan seperti mesin, karena sistem berpikirkan dipolakan seperti mesin, sehingga pendidikan hanya membentuk pola berpikir instrumental, bukan pada pola berpikir yang sublim, yang lebih memahami kehidupan. Bahwa bekerja, berusaha adalah bagian dari keberadaan manusia untuk saling berbagi dan melengkapi. Bukan saling meniadakan dan menguasai orang lain. Hal ini yang perlu disadari dalam kehidupan bahwa bekerja, berusaha menjadi sukses dan berhasil menjadi orang kaya dan terkaya, menjadi orang terhormat dan dihormati karena bukan harta tapi kepeduliannya pada kehidupan masyarakat dan rakyat sebagai, wujud dari kehidupan manusia dengan manusia yang lebih baik. Karena kebaikan itu menjadi sebuah amal ibadah pada seseorang di mata Allah.

    Untuk perlu adanya Merdeka Sekolah yang bisa mengakomodir dari kehidupan masyarkat yang berada dalam bayang-bayang kehidupan hedonisme, yang memujakan senangan sesaat, dan pragmatis, yang mementingkan kehidupan yang instan sehingga mengabaikan proses dan makna dari pendidikan di dalam kehidupan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s