Menebar Angin


Kebersamaan awal yang baik dalam kehidupan manusia sebagai mahluk sosial, karena akan terlihat perkembangan diri dalam kehidupan sosial dan terjadinya akselerasi yang membuatnya mencapai satu titik tertentu. Namun sebaliknya kebersamaan menjadi sebuah beban, kalau kebersamaan itu merugikan dirinya dan orang lainnya. Karena cara pandang kehidupan bersamaan itu dengan kaca mata negatif. Membuat kehidupan penuh dengan masalah dan permasalahan. Karena dirinya bermasalah dan tidak bisa menyelesaikan masalahanya. Membuat selalu curiga pada orang lain dan sikap marah selalu dikedepannya. Karena dengan marah itu diharapkan akan melindungi dirinya dari interpensi dari orang lain. Pada hal orang lain hanya mengingatkan dan memberikan masukkan. Tapi tindakan orang lain seperti itu merupakan ancaman yang membuat dirinya tidak nyaman dan aman. Untuk itu tujuan hidup perlu ditanamkan pada setiap orang didalam kehidupan bersama. Dengan itu akan muncul keiklasan dan ketenangan selalu menjadi jalan yang memberikan kemungkinan terhadap permasalahan yang dihadapi. Menjadi kemerdekaan itu memberikan banyak kemungkinan pada diri, orang lain dan masyarakat pada umumnya terhadap berbagai permasalahan yang selalu mengelayut pada kehidupan manusia dalam realitas sosial dan bermasyarakat. (Tri Aru)

One thought on “Menebar Angin

  1. MEMBERI RUANG PADA ANAK

    Di dalam dunia pendidikan kalau didalami dan dihayati sebagai seorang pendidikan makin memperlihatkan begitu kaya dan kompleks permasalahan anak. Karena anak tidak bisa dilihat dari segi akademiknya saja, juga bukan dari segi pertumbuhannya, bukan juga dari segi pergaulanan, bukan juga dari segi mentalnya, tapi dari cara pandang anak dalam melihat kehidupan ini membuat kita akan terpaku dan tertegun.

    Karena kehidupan anak yang dilihat pada saat ini adalah melihat anak dari pandangan orang tua, anak sebagai obyek dari pengajian yang tidak pernah habis dan hanya menghasilkan buku-buku yang sebenarnya jauh dari pandangan anak sebuah realitas sosial. Hal ini yang memerlukan sebuah dialogis orang tua dengan anak. Dialogis itu dilakukan secara berkala, sebagai bagian dari kehidupan yang memang harus dijalani. Bukan sebuah peristiwa, atau sebuah kajian ilmiah tentang perkembangan dan pertumbuhan anak sebagai generasi yang akan datang. Tapi sebagai pandangan anak terhadapa kehidupan dan orang tua yang menjadikan dirinya sebagai obyek.

    Karena dengan dialogis itu diharapkan akan memberikan banyak kemungkinan yang baik bagi kedua belah pihak baik anak maupun orang tua sebagai amanah kehidupan ini untuk selalu dijalani dan dipahami sebagai sebuah pandangan yang adil.

    Untuk banyak sekali para pendidikan mengalami kekurangan dan harus banyak belajar di dalam melihat bagaimana anak memandang kehdupan ini, kehidupan orang tua, masyarakat dan infrastruktur dengan khas anak. Untuk itu diperlukan perangkat dan pendekatan yang lebih bisa dipahami oleh kedua belah pihak, yaitu anak dan orang tua dalam hal ini pendidik.

    Dengan begitu tidak ada lagi yang keluar dari pernyataan seorang guru anak bodoh dan tidak bisa mengikuti pelajaran. Karena guru memang belum bisa memahami cara pandang anak yang lebih baik. Karena anak seperti dalamnya laut, luasnya samudra. Dan kalau sudah jauh pandangannya dan persoalanya anak menjadi lebih dalam hati dan jiwa kita. Yang tidak bisa di ukurnya, karena anak bukan benda mati tapi mahluk ciptaan Allah untuk kita selalu ingat padaNya. Bahwa pendidikan bukan masalah akademik atau pelajaran. Tapi ada sesuatu yang memang harus dipahami dan didalami lagi sebagai sebuah proses belajar yang tidak pernah habis. Karena Islam mengatakan bahwa belajar mulai dari buain sampai liang lahat. Sebuah pandangan yang jauh lebih arif dan bijak dibandingkan sebagai guru yang favori atau sekolah favorit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s