Galau Anakku


Galau Anakku

Langkah anak itu seakan tak bertenaga, memikul beban tubuhnya yang tergolong besar dibanding teman seusianya. Tatap wajahnya tak terarah, liar keberbagai objek yang tidak jelas. Sesakali galau hatinya diluapkan dengan tendangan dan ayunan tas plastik warna merah yang kosong tak berisi. Dan terkadang wajahnya menatap langit tinggi sambil melaungkan takbir, Allohu Akbar.

Dari kejauhan kupandangi polahnya yang syarat dengan masalah itu. Sungguh kasihan, masa ceria dan merdekanya harus terampas oleh berbagai variabel kehidupan eksternal yang terjadi dilingkungannya. Masalah seperti ini, himpitan psikologis yang harus ditanggung anak sebelum usianya tidak sedikit terjadi disekitar kita. Anak-anak harus disuguhi beban hidup yang semestinya menjadi hak dan kewajiban orang tuanya. Saya yakin, sebenarnya tidak ada orang tua yang menginginkan buah hatinya harus terlibat dalam problem orang-orang dewasa. Namun inilah yang terjadi, sungguh sesuatu yang harus dicarikan solusi, karena sekali lagi semua ini telah terjadi.

Hari itu masih pagi sekali, sehingga belum banyak anak merdeka yang hadir. Anak galau itu, duduk di saung Merdeka, dan cukup lama menundukkan kepalanya yang bulat dengan rambut lurusnya. Akhirnya dengan lamban wajahnya yang bulat bersih itu bangkit, dan saya tepat berada didepannya tanpa disadari. ‘Assalamu’alaikum anakku, kamu rajin sekali. Pagi-pagi sudah sampai disekolah. Tadi naik apa sayang?’ tanyaku merayu. ‘Wa’alaikumsalam pak, saya tadi numpang  angkot tetangga pak, kebetulan dia berangkat pagi untuk narik angkot,’ jelas anak itu dengan polos.  ‘Lho biasanya kan diantar  Ibu naik motor ?’ tanyaku lagi. ‘ E, e, ma’af pak motor ibu sudah dijual, ada kebutuhan mendesak katanya. Jadi saya numpang bang Udin yang narik angkot  kalau berangkat’ jelas anak itu lagi. ‘Trus kalau pulang gimana sayang ?’ lanjutku. ‘Saya ya nunggu kalau bang Udin lewat pak, sambil jalan. Sebab kalau nunggu sambil duduk ya males, bosen pak, mendingan sambil jalan. Kalau gak ketemu bang Udin kan, bisa sampek rumah juga pak’ urai anak itu dengan jujur. ‘Wah, hebat dong, nah kalau jalan kaki berapa lama nak?’ galiku lagi. ‘Satu jam lebih pak, capek juga sih, berkeringat pak sampai rumah’, tegasnya.

Subhanalloh, saya yakin bahwa masalah berangkat dan pulang sekolah bukan satu-satunya masalah anak itu, dan saya kira masalah berangkat dan pulang sekolah bisa dia atasi. Pasti ada rentetang masalah lain yang membuat anak itu nampak galau dalam hidupnya. Tentu problem yang melilit orang tuanya tidak bisa dia hindari, dan pikirannya tidak bisa masa bodoh dengan permasalahan orang tuanya. Bukankan kita tahu bahwa anak-anak kita ada ikatan batin dengan orang tuannya. Ketika orang tua sedang konflik, maka anak-anak itu juga merasakannya walau ekspresinya beragam. Terkadang ekspresi itu baru terluap diluaran sana, yang jauh dari lingkungan rumah dan tidak diketahui orang tuannya.

Kita harus menyadari bahwa setiap anak yang telah lahir maka dia merdeka menjadi seorang diri, bukan lagi diri orang tuannya atau diri orang lain. Apalagi kala semakin komplitnya alam nalarnya, maka anak-anak kita adalah diri mereka. Dia punya rasa empati, rasa sedih, rasa marah, rasa keilahian dan  tak terhitung lagi asesoris kemanusiaan yang melekat padanya. Dia telah menjadi individu manusia yang bisa merespon setiap kejadian baik dalam dirinya maupun dilingkungannya, bahkan hal ghoibpun dia bisa meresponnya.

Terkadang orang-orang tua melupakan bahwa apa yang dilakukan,masalah yang dihadapinya tidak akan direspon oleh anak-anaknya walau masih kecil, ini hal yang keliru. Coba kita perhatikan dari yang dasar-dasar, saat seorang ibu hatinya gundah, maka anak yang sedang disusuinya juga ikut gundah dengan seringnya dia menangis. Saat orang tuannya menangis karena sesuatu sebab, maka anak-anak kecil itu juga ikut menangis walau dia tidak tahu apa yang menjadi sebabnya (versi kita).

Begitulah, kenyataan ini yang terlewatkan untuk dijadikan media pembelajaran. Maka orang-orang tua kita mengajarkan kepada anak-anaknya yang akan memasuki jenjang keluarga, agar bisa memanage konflik dengan baik. Jangan ribut/berselisih di depan anak, jangan mengungkapkan susahnya mencari rejeki kepada anak. Hal itu akan membebani anak-anak itu dengan kebingungan-kebingangan. Pada akhirnya membuat anak-anak itu harus menambah memorinya dengan persoalan-persoalan yang sepatutnya tidak menjadi domainnya.

Kembali kepada masalah keluarga yang sering terbawa kesekolah melalui anak, memang harus disikapi dengan bijak. Sekolah yang baik, sepatutnya memandang dan menggali problem anak dari sudut-sudut yang beragam. Belum tentu kemurungan dan keributan anak disebabkan oleh lingkungan internal sekolah, bisa jadi lingkungan eksternal punya andil yang besar. Ini bukan untuk mencari kambing hitam siapa yang harus disalahkan, namun untuk mencari solusi yang tepat dalam membantu anak memecahkan masalahnya. Seberapa besar upaya yang dilakukan disekolah untuk membina anak didik tidak akan pernah berhasil apabila sumber permasalahan anak didik yang diluar tidak dibenahi.

Memang hal ini kelihatanya utopis, namun ini adalah logis dari sudut manapun apalagi dari kacamata psikologi sosial. Masalah seperti ini bisa menjadi diskusi menarik sebenarnya, dengan tujuan bahwa pendidikan itu sebab dan akibat keberhasilan/kegagalannya tidak sekedar di internal sekolah, namun pada lingkungan sosial yang komprehensif.  Sekali lagi ini bukan masalah yang simple, apabila tidak pernah dicoba. Sebagai ilustrasi, saat orang tua sedang dililit hutang, cecok setiap hari dengan tetangga, dan bahkan perceraian, memang dipandang bukan urusan sekolah karena itu adalah ranah pribadi masing-masing individu orang tua murid. Namun harus disadari juga mereka adalah orang tua MURID, berarti ada murid didalam konflik tersebut.

Pemilahan memang harus dilakukan, hal mana pihak sekolah bisa membantu memberi solusi dan pada ranah mana sekolah tidak bisa sama sekali merambah masalah pribadi itu. Namun yang perlu sekali dimengerti oleh sekolah adalah akar dari masalah. Apabila memang akarnya berada di problem keluarga,  maka solusinya juga mengarah kepada solusi problem keluarga. Apabila akar masalahnya di internal misal konflik antar teman, atau sebel dengan guru, atau uangnya sering hilang disekolah, tentu solusi permasalahn muridnya juga solusi internal. Sekali lagi untuk mengetahui akar permasalahan bukan untuk intervensi urusan pribadi orang (orang tua murid), namun untuk mengetahui akar permasalahan.

Walau sebenarnya, kalau memang sekolah memiliki power untuk membantu menyelesaikan permasalah keluarga (yang memungkinkan) tentu itu lebih bagus. Karena lembaga pendidikan sekolah adalah lembaga sosial yang secara generalnya mampu mendidik dan memberikan solusi dari permasalahan-permasalahan sosial dilingkungnya. Sekolah merdeka sudah belajar untuk mencoba, dengan orang tua murid untuk bisa bekerja sama mencarikan solusi permasalahan anak yang berawal dari konflik di intern keluarga. Memang tidak mudah namun sedikit-demi sedikit itu harus dilakukan, karena membantu saudara didunia yang sedang kesusahan nanti di akhirat akan menjadi asebab dibantunya permasalahan-permasalahan kita kala di mahkamah KEADILAN SEJATI.

Semoga, kegalauan ANAK ITU, segera teratasi. Kembalilah tersenyum dan berlari Merdeka wahai anak-anak MERDEKA.

(Tanda S) 

2 thoughts on “Galau Anakku

  1. untuk semua anak sekolah merdeka,semangat ya…salam untuk bu mala,bu yoyoh dan pak aru..guru sd tsasa..ternyata masih ada sekolah seperti Aghniya Ilman..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s