Butir-butir Merdeka


Butir-butir Merdeka

 Pagi itu suasana masih hening. Perubahan iklim yang terjadi membuat suasana pagi tidak secerah dan sehangat biasanya. Tadi malam kayaknya baru hujan lebat sehingga lumrah kalau teras Merdeka itu penuh dengan kotoran macam-macam. Dan tepat diatas bangku panjang tempat duduk anak merdeka dan saiapa saja yang membutuhan itu nampak seonggok butiran-butiran hitam hasil proses makanan kambing-kambing liar disekitar merdeka. Mungkin tadi malam hujan terlalu lebat dan lantai teras merdeka dingin dan basah maka ide kambing-kambing untuk naik ke bangku di teras merdeka itu adalah logik. Dan ketika sisa hasil makan yang telah diproses diperutnya itu arus dibuang, maka ya dikursi itulah dibuangnya.

Pagi itu diawali dengan hadirnya guru-guru wanita dan beberapa anak merdeka. Sudah menjadi kebiasaan, maka kerja bakti harus dilakukan untuk membersihkan butir-butir kotoran kambing itu. Pel, sapu, air selang diguyurkan untuk menyingkirkan butiran-butiran berbau itu. Kepala Sekolahpun tak ketinggalan, langsung bergabung untuk bersama membersihkan. Anak-anak merdeka sebenarnya ingin ikut membantu, namun disarankan untuk tidak membantu karena kawatir bajunya kotor, dan akhirnya anak merdeka menunggu di saung merdeka sambil belajar bagaimana guru-gurunya mengajarkan tanggungjawab mengurus sekolahnya.

Memang sekolah merdeka tdak punya CS (Cleaning servce) sehingga kebersihan sekolah adalah tanggungjawab bersama. Kejadian seperti diatas memang sudah biasa terjadi disekolah merdeka, walau hari itu memang agak ekstrim. Kepalang tanggung akhirnya kerja bakti dilanjutkan ke ruang sekolah, apalagi ada keinginan dari sekolah untuk merubah setting ruangan kelas agar tidak monoton. Ternyata sekolah merdeka tidak sekedar menjadi tempat merdeka bagi anak-anak kenyataan, namun bagi binatangpun ternyata merasa merdeka bermain di sekolah merdeka.  Mungkin ini implementasi ‘Rahmatan lil’alamin’.

Dibawah rak buku dan di belakang lemari-lamari arsip, ternyata menjadi tempat merdeka bagi tikus-tikus liar. Pekerjaan ekstra keras harus dilakukan di pagi itu untuk membereskan ruang sekolah merdeka. Keringat bercucuran, tak menandakan lelahnya perjuangan guru-guru tanpa tanda jasa itu. Akhirnya tugas itu selesai juga dan suasana baru hadir di layout sekolah merdeka. Harapannya anak-anak merdeka dapat lebih merdeka belajar dengan suasana yang lebih bersih dan berbeda.

Semua pekerjaan itu tidak akan terjadi apabila tidak ada rasa saling memiliki. Manajemen moderen yang mengedepakan SOP, spesialisasi dan atribut keindividualismean tidak berlaku di manajemen Merdeka. Semua tugas adalah tanggungjawab bersama, walau ada pemilahan-pemilahan namun bukan untuk memisah-misahkan. Kalau berdiri pada frame manajemen moderen, maka butiran-butiran kambing itu tetap teronggok di atas kursi panjang merdeka. Bau akan tetap menyengat kemana-mana dan proses belajar tidak akan berlangsung dengan baik. Kalau harus menunggu petugas kebersihan maka hari itu akan berakhir dengan penantian. Namun semua akhirnya terpulang bahwa kebersamaan (jama’i) adalah milah yang terbaik dalam menjalankan kiprah bersama.

Butiran-butiran kambing itu biarlah merdeka berhamburan, semoga menjadi pupuk-pupuk kebajikan. Sehingga bersemi amal sholeh untuk bekal hari kemudian. Menumbuhkan lebarnya daun-daun kasih sayang dan pendidikan sejati kepada siapa yang mau berbakti. Butir-butir kambing itu tak pernah hilang dari catatan malaikat-malaikat kebaikan. Ingatlah bahwa diakhirat kelak butiran-butiran kambing itu akan menjadi saksi bahwa pernah menjadi asebab kebakan bagi yang menbersihkannya. Semoga Alloh SWT meridhoi. Amiiin. (Tanda S)       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s