Sekolah Untuk Semua


KEWAJIBAN SEKOLAH

BAGI SEMUA

 

Gang sempit di perdesaan itu, koluni dari orang-orang kecil desa yang tidak kebagian lapangnya tanah kampung. Petak-petak ruang sempit menjadi tempat bernaung untuk menjalani kehidupan sebagai peran yang mau-tidak mau harus dilakonkan. Dinamika komunitas gang sempit itu terasa berdenyut lamban. Hari sudah menunjuk jam 8.30 namun kehidupan masih lesu dan hanya beberapa perempuan umur 30 yang baru saja meninggalkan gang sederhana itu untuk bekerja di pabrik roti kecil milik koh Aling. Selebihnya penghuni gang sempit itu tak menentu kerjanya.

Seorang anak berbadan kurus, dan lesu duduk termenung di teras sempit tempat lalu lintas antar rumah petak kecil-kecil itu. ‘Jay, kalau duduk agak minggir sana entar ketabrak orang lewat lho !’, arah pok Indun tetangga sebelahnya sekaligus bibinya itu. ‘Bik…, emak kemana ya?’ tanya Jaelani sambil menggeserkan posisi ke arah depan pintu rumahnya dengan perlahan-lahan. ‘Kan barusan emak lho  berangkat kerja’, jawab pok Indun sambil menuju kamar mandi milik bersama itu.

Jaelani ternyata anak Bang Ijan dan pok Rani. Jay sejak kecil sudah diuji Alloh dengan berbagai macam penyakit dan akhirnya matanya secara perlahan tak dapat lagi melihat. Kondisi ekonomi yang lemah dan pepasrahan pada takdir semua akhirnya ditanggung oleh Jaelani. Kini usia Jaelani sudah 10 tahun kelewat 2 bulan dan 3 hari. Jay suka membawa radio kecil tinggalan kakeknya, radio itu yang menjadi teman hari-hari Jae dalam gelapnya pandang mata. Namun hati Jaelani lembut penuh rasa, dan tak pernah sedikitpun Jay mengeluh dan marah. Semua dia terima dengan kepasrahan yang absolut.

Adik Jaelani namanya Rodiah, saat ini kelas 3 SD. Nampak sudah siap dengan perlengkapannya untuk berangkat sekolah. ‘Rod, ini udah agak siang apa sudah siap-siap ke sekolah ?’ tanya Jay ke adiknya yang sudah siap berangkat ke sekolah itu.’Udah bang’ jawab Rodiah singkat. ‘ Hati-hati ya di jalan, o iya idi ada sedikit uang saku. Kemarin saya dikasih uang oleh pak Ndori, itu yang punya kontrakkan di depan. Lumayan sih, nih yang seribu untuk kamu. Beli jajannya yang ngenyangin aja ya, kan kamu belum sarapan !’, pesan Jay ke adiknya sambil menyodorkan uang ribuan kertas itu. ‘Makasih ya bang’ , ucap Rodiah sambil menyaut uang pemberian kakana itu. ‘Belajar yang rajin Rod, kalau tidak ngerti tanya ke bu guru ya ! , jangan lupa kalau sudah selesai cepet pulang jangan main terus !’ titip pesan lagi dari Jay.

Jaelani memang tidak pernah sekolah, kondisi fisiknya yang memang lemah ditambah  sudah 3 tahun ini matanya tertutup total dari pandangan, maka praktis kesempatan sekolah Jay sulit terwujud. Terkadang Jay hatinya menangis karena tak bisa sekolah. Jay hanya belajar dari pendengaran dan hatinya yang tidak mati. Dan radio kecil warisan dari kakeknya itu menjadi sumber informasi juga untuk Jay, walau memang Jay lebih suka mendengarkan lagu-lagu Ndangdut dari station radio Ria FM. Jay bahkan banyak hafal lagu-lagu ndangdut itu, apalagi lagu-lagu yang baru sangat cepat dihafal Jay.

Suatu kesempatan, Jay pernah bertanya kepada emaknya. ‘Mak, apa ada sekolah untuk orang buta mak?’. Emaknya sambil memasak di dapur sempit itu dengan santai menjawab ‘Jay-jay, udahlah untuk apa kamu sekolah ?. Yang sekolahnya tinggi-tinggi aja kagak dapet kerja. Apalagi kayak kamu’. ‘Tapi mak, saya pernah dengar katanya di kecamatan ada sekolah untu orang cacat, katanya gratis mak’ jawab Jay’.

 ‘Jay…, kalau seandainya memang ada, dan gratis lagi, lalu siapa yang nganterin kamu kesana. Kecamatan dari sini kan jauh. Naik angkot aja habis 15 ribuan, udah begitu gonta-ganti lagi. Uang dari mana Jay, mikir doong !. Apa mak suruh nganter kamu ? terus gak kerja, makan apa kita Jay. Tuh lihat bapakmu, jam segini masih tidur aja ‘. Ungkap emaknya kesal. ‘Ya udah mak, saya hanya nanya saja kok. Ma’afin saya ya mak !’ pinta Jay.

Apabila kita menyusuri kehidupan nyata yang ada disekitar, masih banyak Jay-jay yang lain, bahkan lebih banyak lagi. Ada anak-anak yang bisu, tuli, cacat tangan, kaki bahkan yang mentalnya terganggu. Semua kekurangan menurut kita umumnya  itu, sedikitpun bukan menjadi harapnya. Namun kita masih jauh dari bisa menaruh harap kepada mereka. Sekolah-sekolah untuk anak berkebutuhan khusus tersebut hanya ada di tempat-tempat yang jauh dari jangkauan anak-anak kenyataan itu. Sementara sekolah-sekolah normal, tidak memberikan ruang untuk mereka. Sungguh betapa berat derita anak-anak kenyataan itu. Walhal, ummat ini tahu bahwa setiap yang berakal, memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu adalah kewajiban, bukan sunnah, bukan mubah, bukan-bukan haram. Seakan anak-anak berkebutuhan khusus tersebut haram untuk belajar, sehingga tidak patut untuk bergabung dengan anak-anak normal lainnya di sekolah normal. Anak-anak normal dan anak berkebutuhan khusus pada basic/haqiqinya adalah sama dalam terminologi kemakhlukkan Alloh. Normal dan tidak normal adalah persepsi makhluk, sementara kewajiban belajar adalah perintah Alloh, bukan perintah makhluk, maka untuk masalah pendidikan bagi semua yang berakal adalah sama posisinya antara yang normal dan berkebutuhan khusus.

 

Sama-sama diketahui bahwa yang disebut wajib dalam kaidah fiqih adalah sesuatu yang harus dijalankan, dan apabila tidak dijalankan akan melahirkan dosa bagi pelanggarnya. Maka, apakah kita akan membiarkan anak-anak kenyataan tersebut bertambah deritanya dengan menanggung dosa-dosa tolabil ‘ilmi. Memang sudah ada sekolah-sekolah berkebutuhan khusus, namun jumlahnya lebih sedikit dibanding anak-anak kenyataan itu. Dan mengaksesnyapun tidak semudah kemampuan anak-anak berkebutuhan khusus itu.

Penyediaan lembaga/institusi pendidian adalah fardhu kifayyah, dalam artian kalau sudah ada maka dipandang kewajiban itu telah gugur. Namun perlu dipahami, telah tersedia disini adal contraint lagi yaitu telah terpenuhi. Lagikanya kalau ada seseorang meninggal dunia maka apabila sudah ada beberapa orang yang mampu menyelenggarakan prosesi jenazah, mulai dari memandikan hingga memakamkan, maka wajib kifayyah masyarakat disitu telah tertunaikan. Nah dalam konteks pendidikan, saat ini masih banyak anak yang normal apalagi yang tidak normal, belum terpenuhi kewajibannya untuk menuntut ilmu, maka argumen lembaga pendidikan sudah terpenuhi, maka itu belum benar adanya. Berarti dosa-dosa atas fardhu kifayyah itu masih terus berlanjut hingga semua yang memiliki kewajiban belajar bisa menunaikan belajarnya.

Memang belajar tidak musti dalam kotak-kotak ruang kelas, tidak harus dipayungi oleh lembaga yang bernama SD, MI dan sejenisnya , namun benarkah bahwa kewajiban-kewajiban belajar saudara dan anak-anak kita itu sudah terpenuhi senyatanya. Saudara yang mulia, marilah kita berbuat, kasihan saudara dan anak-anak kenyataan itu. Mereka tidak mungkin mampu menjalankan perintahnya tanpa bantuan dan kerja jeras kita semua. Bagi siapapun yang telah memiliki lembaga pendidikan sepatutnya dengan terbukanya hati dan tangan kita sambut kehadiran anak-anak kenyataan apabila mengetuk pintu pendidikan dengan sapaan ‘ Pak/Bu bolehkah saya sekolah disekolahan Bapak/Ibu ?’

Dan mari kita ingat bahwa jihad dipendidikan adalah amal jarriyah  yang terus mengalir rewardnya walau hayat telah berpulang. (Tanda S)

2 thoughts on “Sekolah Untuk Semua

  1. MERDEKA KAYA DENGAN PERSOALAN

    Merdeka Sekolah akan mengijak dua tahun dengan adanya siswa baru kelas satu dan kedua tahun ajaran kemarin. Sekolah yang tumbuh dari kehidupan sosial masyarakat ini satu persatu menemukan persoalan yang begitu kompleks. Karena selama ini kehidupan sosial dengan realitas sosialnya ini hidup disaji dengan kehidupan hedonisme, baik melalui media televisi, internet, iklan dan muncul mall-mall, mobil mewah memenuhi jalan utama yang memperjelas bahwa kehidupan ini tidak ada masalah, semuanya serba menyenangkan dan hidup seperti ini sepertinya kehidupan yang nyata dan hal itu tergambar dalam kehidupan masyarakat pada umumnya bahwa standart dari kehidupan ini adalah apa yang dilihat dari dirasakan. Seolah hidup itu tidak ada persoalan, gemerlapan dari kehidupan masyarakat pada saat ini.

    Kunci Merdeka Sekolah telah membuka banyak persoalan yang ada di dalam realitas kehidupan masyarakat. Satu persatu muncul, mulai dari mengurus izin dengan segala macam uang yang tidak jelas masih saja ada. Apa yang didengungkan oleh President tentang korupsi sepertinya tidak ada rasa takut bagi para pengawai daerah. Begitu juga ditemukan persoalan masalah tanah yang tidak kunjung ditemukan titik terang. Seolah persoalan tanah berangkat dari keranguan satu keraguan berikutnya dan akhirnya berada dalam medan keraguan yang tak berujung. Begitu juga ditemukan bagaimana rakyat kecil yang terasing dengan lingkungan yang hiruk pikuk. Karena ketakutan terhadap lingkungannya yang memandang dengan curiga lantaran keluarga itu adalah keluarga miskin. Sehingga untuk mengaji saja dia takut, karena takut tidak diterima. Karena mengaji adalah kegiatan orang yang mampu bukan untuk orang miskin. Anak yang tanpa terasa ketinggalan pendidikan karena kemiskinannya. Aneh dan luar biasa dilingkungan perumahan itu ada orang yang merasakan kehidupannya itu adalah bukan buat dirinya, tapi buat orang lain. Ada juga rakyat miskin yang tidak bisa menyekolahkan anak dan tidak tahu harus bagaiman caranya untuk menyekolahkan anak dengan kualitas pendidikan dan agama yang baik dibandingkan orang tuanya yang tidak mempunyai pendidikan agama, sehingga menjadi korban dari pemurtadtan. Karena lingkungan yang tidak kondusif.

    Lain hal ada orang tua datang dengan segala penampilan yang luar biasa mengesankan seorang yang sholeha dan soleh. Keduah orang tua yang perpempuan dengan pakaian cadar, tapi begitu lugas menceritakan kehidupannya begitu saja. Seolah persoalan itu sudah demikian beratnya sehingga tidak ada daya tampung untuk memikulnya. Kesholehan dan realitas kehidupan sebuah persoalan yang begitu berbeda dalam kehidupannya. Pada hal Islam sendiri tidak pernah memisahkan realitas sosial dengan kesholehan. Hidup bukan lagi sebuah keterpisahan tapi satu kesatuan. Begitu juga dengan apa suaminya yang begitu lembu tutur katanya tak ada persoalan yang ada di dalam dirinya. Tapi realitas aktualnya kehidupan sosial begitu rumit, pada hal Islam selalu memberikan kemudahan hidup tapi menjadi susah, itulah langkah kehidupan kita selalu dipilah antara ibadah dengan bermuamallah. Sekali lagi Islam tidak pernah memisahkan.

    Sedangkan persoalan yang paling berat yang dihadapi oleh Merdekan Sekolah adalah bagaimana cara memutuskan untuk tidak menerima siswa yang sebenarnya anak tidak masalah, dengan penuh kewajaran layaknya anak-anak. Dan konon katanya anaknya itu sangat terkesan ketika pernah tahun lalu mengikuti tes di Merdeka Sekolah. Entah apa yang membuat membekas di dalam dirinya tentang Merdeka Sekolah. Sampai saat ini tidak pernah diketahui, kecuali menerima anak-anak dengan sepenuh hati.

    Namun sebuat keputusan harus diputuskan dengan berat hati karena persoalannya ada pada orang tuanya yang kurang kodusif terhadap Merdeka Sekolah. Karena sekolah tidak banyak menginginkan dari orang tua, kecuali berangkat dari sebuah kewajaran hidup, tidak dibuat-buat dan apa adanya. Karena hidup dengan kewajaran itu adalalh bagian yang penting bagi proses pendidikan bagi kita semua. Bahwa kejujuran, tulusan, keikhlasan dan kesadaran bersama tentang kehidupan yang sama membuat hidup ini memang tidak mudah,tapi harus dihadapi.

    Akhirnya Merdeka Sekolah memutuskan untuk tidak menerima anak itu dengan berat hati. Hal ini merupakan salah satu gambaran kelemahan dari Merdeka Sekolah tidak bisa mengakomodir. Inilah persoah yang begitu kaya untuk bisa dipahami sebagai bagian dari kehidupan ini.

  2. MERDEKA ITU BELUM TENTU MERDEKA

    Kalimat ini muncul dari perkembangan realitas pendidikan dari Merdeka Sekolah yang sedang mengalami perkembangan dan antusias masyarakat dengan sekolah ini. Hanya saja tidak ada gedungnya. Merdeka Sekolah belajar dalam semua konsep kepercayaan masyarakat terhadap apa yang ditawarkan oleh Merdeka Sekolah mengenai pendidikan.

    Cinta dan kasih sayang memang selalu menjadi warna dari kehidupan setiap orang, masyarakat pada umumnya sebagai aktualisasi dari dirinya terhadap lingkungan dan seseorang. Begitu juga dengan pendidikan selalu sejalan dengan apa yang menjadi kehidupan masyarakat Merdeka Sekolah bergerak dan ada.

    Memang kalau mau memakai teori psikologi analisanya Lacan maka akan terlihat bahwa apa yang menjadi kehidupan ini memang cermin. Di mana setiap orang bisa bercermin pada orang lain. Tapi kata Satre bahwa keberadaan diri kita karena ada orang lain. Pada hal Islam mengajarkan manusia harus belajar dari kehidupan ini dengan membawa Al Quran dan alam semesta berserta isinya, dengan belajar akan menemukan banyak hal tentang apa yang menjadi permasalahan dalam kehidupan ini. Membaca menjadi anjuran yang pertama dalam Islam dengan Iqro, baca dengan nama Allah. Bahwa belajar dan mengajar harus berkaitan dengan Allah, karena tidak bisa berdiri sendiri. Kalau berdiri sendiri ilmunya menjadi kebelinger.

    Inilah Islam mengajar manusia untuk selalu membaca diri sendiri dalam rangka muhasbah apa yang telah dilakukan kita dalam hidup ini. Dan apa tujuan hidup ini, karena setelah itu akan timbul pertanyaan harta dan kekayaan dalam hidup ini buat apa, buat kesenangan, buat menikmati hidup, buat hidup ini. Tidak Islam akan mengajarkan pada kita untuk mengatakan bahwa hidup ini akan mencapai tujuan yang paling mulia dengan mewujudkan diri pada kebesaran Allah swt. Ilmu, harta dan kekayaaan ini mengantarkan kehidupan manusia menjadi lebih baik dan bermartabat. Hidup memang harus dijalani dengan segala konsekwensinya. Karena tidak begitu saja, memang harus diperjuangka, tapi harus ada keputusan yang jelas untuk mengatakan bahwa apa yang menjadi keputusan laksanakan jangan cari alasan hanya untuk melemah diri kita sendiri. Bahwa apa yang ingin kita berjuangkan bukan karena orang lain tapi karena komitmen pada keimanan dan ketaqwaan pada Allah. Kenapa harus selalu bergeser, karena Islam berulang kali mengatakan bahwa hidup ini hanya sementara, hidup ini adalah perjalan bagaikan seorang musafir, untuk mencapai tujuan hidup yang abadi. Cinta dan kasih sayang diperluas untuk mendalam samudra kehidupan yang diselami dengan indahan dan menarik.

    Sebuah keputusan hanya untuk menungggu dan mengugat orang lain untuk berperan serta sepertinya tidak memungkinkan. Karena hidup ini memang serba tidak memungkinkan pada kehidupan manusia, kecuali orang beriman dan bertaqwa pada Allah. Bahwa hidup ini hanya untuk Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.

    Untuk putuskanlah iya atau tidak, karena kedua nya mempunyai konsekwensi yang sama dalam kehidpan ini. Kenapa kita harus menghindar dengan segalam macam argumentasi yang di dasarkan taku miskin, bukan kita lain dan orang lain tidak maksima untuk berperan serta terlibat mendirikan sekolah. Keputusan adalah keputasan bukan sebuah keraguan dan kesalah orang lain hanya untuk menutupi keraguan yang luar biasa. Insyallah Allah akan membantunya

    Keputusan tidak membuat hidup ini kacau balau, karena track dari kehidupan manusia memang sudah berjalan, tapi bagaimana melihat dengan baik dari terstruktur dengan kreativitas yang tinggi untuk mencapak hal ini. Memang sebuah permasalahan yang tidak bisa dihindarkan pada kehidupan ini.

    Kalau masih mempertimbangkan atas pertimbangkan orang lain, membuat hidup kita ini tidak lagi Merdeka seperti Merdeka Sekolah yang selalu mencari kemungkinan untuk menjadi sekoalh yang merdekan. Karena dengan Merdeka membuat kesolah itu menjadi lebih Merdeka.

    Merdeka Sekolah yang belum Merdeka Sekolah ini menjadi persoalan di dalam kehidupan masyarakat yang berimbas pada permasalahan yan tidak kalau pentingnya. persoalan ini , kaya yang penting. Dengan menikmatkan kehidupan dunaia. Untuk kita menjadi sebuah kemerdekan yang belum merdeka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s