Anak Merdeka Rapotan


Anak Merdeka Naik Kelas

Anak Merdeka Berprestasi

Suasana biasa-biasa saja. Padahal hari itu adalah hari pembagian rapot atau pengumuman apakah anak Merdeka  naik kelas atau masih tinggal kelas. Suasana sekolah mulai pagi hingga agak terang mentari tak ada yang berubah dibanding hari-hari biasanya. Hanya sedikit nampak beda yaitu tempat parkir mulai lebih banyak dihuni oleh motor-motor dan beberapa orang tua sudah mulai berdatangan untuk mengambil rapot anaknya. Namun tak sedikitpun anak Merdeka, peduli dengan rapotan hari itu. Mereka tetap berlarian bercanda dan menjalani sekolahnya dengan merdeka.

Suratmi, anak yang lebih tertib dan serius dibanding temannya, mencoba bertanya kepada Ihsan yang energik. ‘San, hari ini katanya rapotan ya, kamu kira-kira rangkin berapa ya?’ , tanyanya  lembut. Ihsan seakan tak mengindahkan pertanyaan itu sambil terus memainkan bola kaki (futsal) yang ukuran sedang itu. “Kamu tanya apa Rat?, aku gak denger’ tanya Ihsan balik. ‘Duuh, Ihsan, makanya kalau ditanya orang tolong dengerin !, San, hari ini kita rapotan, terus kira-kira kamu rangking berapa? terus kirakira naik kelas nggak ya?’ tanya Suratmi mengulangi. Ihsan sambil menghela nafas dan berhenti main bolanya dan menjawab ” Emmmm, aku gak ngerti Rat, aku itu pokoknya kesekolah ya untuk sekolah, naik atau tidak itu bukan urusanku. Gak usah dipikirin rangkin atau tidak yang penting kita sekolah pasti nanti jadi anak pintar’ jelas Ihsan dengan berdiri tegap. ” Baik, terimakasih ya San,’ jawab Ratmi agak kecewa karena harapannya tidak mendapat respon positif dari Ihsan.

Anak Merdeka Menghafal

Suasana bertambah ramai, ketika murid-murid sudah mulai banyak berdatangan dengan orang tuanya. Namun Siska nampak berjalan sendirian dengan sedikit menundukkan kepala dan langsung menuju ruang kelas. ‘Hai, Siska, ayo main ke sawah karena hari ini kita rapotan tidak ada pelajaran di kelas,’ ajak Nurmala dan teman-teman perempuannya. Tak ada jawaban dari Siska, dan Siska langsung duduk dengan menundukkan kepada di bangku sekolahnya yang pendek itu. Temen-temen perempuannya bergegas menghampiri dan bertanya ‘ Sis.., ada apa sih. Kok gak kayak biasanya?. Jangan pikirin rapotan pokoknya kita pasti bisa ayo main yok !,’ ajak Dina sambil memegangi tangan Siska yang dingin itu. ‘Aku malu Din, karena Bapak dan Ibu enggak bisa dateng ke sekolah untuk ambil rapot. Bapak kerja dan ibu sedang nganter adik ke Puskesmas karena semaleman adik deman’, ungkap rasa Siska dengan mata yang mulai berkaca. ‘Ya udah gak papa, nanti kamu ambil sendiri aja rapotnya ke Bunda Yoyoh, terus kita bilang bareng-bareng kalau bapak dan ibumu nggak bisa dateng karena ada urusan lain. Gak papa kok. Ayo main dulu! “. Akhirnya   Siska dan teman-temannya berlarian menuju ladang di belakang sekolah untuk bermain.

Pengurus sekolah dan guru-guru nampak sudah mulai mempersilahkan orang tua murid untuk memasuki ruangan. Sambil menunggu acara dimulai, orang tua murid saling berbincang. ‘Gimana bu, anak-anak sekarang sudah mulai pinter deh. Tapi yaitu, tidak bisa diam dirumah. Main terus’ kisah ibu Bintang ke Umi Zahra. ‘Alhamdulilah bu, anak-anak banyak kemajuan, hafalan Zahra juga sudah nambah kok. Eh.., ngomong-ngomong anak-anak rangking berapa ya?’ tanya balik Umi Zahra. Sambil nyeletuk bunda Ihsan menyahut ‘ Udahlah nggak usah dipikirin rangking atau tidak, yang penting naik kelas’ jawabnya. ‘Saya kawatir, Tuffa tidak naik, sebab yah Tuffa anaknya lemah sih.” rasa kawatir ibunya Tuffa. Umi Rahmi menjawab ‘Tidak usah khawatir bu, anak-anak kan baru kelas satu kalau tinggal kelas juga tidak apa-apa, apalagi Kepala Sekolah  waktu penerimaan dulu kan pernah bilang kalau anak-anak kita semua pasti mengalami kenaikan kepandaian, kalau tidak naik kelas itu semata-mata karena mengikuti aturan administrasi saja. Yang penting anak kita mau sekolah dan senang’ argumen Umi Rahmi. Tak lama berselang pembicaraan itu terputus oleh pengumuman bahwa pembagia rapot akan segera dimulai.

‘Bapak dan Ibu alhamdulillah anak kita nilainya baik-baik dan kita ikut bangga diantara kekurangan, kelebihan anak kita akhirnya semua naik kelas. Semoga kedepan kita semua bisa bekerjasama dan berbagi lebih baik agar anak-anak kita serta sekolah ini bisa lebih baik kedepannya. Terimakasih atas kehadirannya dan nanti budan Yoyoh dan bunda Nila akan membagikan rapotnya. Mohon maaf atas segala kekurangan.’ Buka kepala sekolah dengan singkat. Dan anak merdeka tak satupun yang peduli dengan rapot itu karena dia menerima rapotnya di alam yang merdeka di belakang sekolah Merdeka. (Tanda S) 

 

One thought on “Anak Merdeka Rapotan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s