Selamat Menjadi Anak Merdeka


Sekolah Merdeka telah mendapatkan Anak Merdeka. Melalu proses yang normal akhirnya observasi penerimaan siswa baru Merdeka telah rampung. Sebanyak 14 Anak Merdeka dapat diobservasi  dengan baik. Anak-anak Merdeka yang luar biasa, dengan sekala yang dimilikinya. Semoga bersama Madrasah Merdeka, Anak-anak Merdeka itu benar-benar bisa Merdeka dalam belajar untuk menjadi manusia Merdeka.

Observasi meliputi 4 hal yaitu :

Observasi Kecerdasan Majemuk, yang menjadi anugerah Alloh SWT. Observasi ini diharapkan dapat mendeteksi sejak dini kemampuan apa yang terdapat pada Anak Merdeka dengan ukuranya masing-masing. Deteksi ini akan sangat bermanfaat untuk mengembangkan potensi diri anak sebagai Anugerah Illahi Rabbi. Unsur-unsur yang digali meliputi : Kinestetik, Visual-Spasial, Spiritual/Akhlak, Interpersonal, Intrapersonal, Naturalis, Matematik-Logik, dan Linguistik.  Observasi dilakukan dengan  multi media test, menggunakan soal pada lembar kertas serta didukung oleh slide (infocus) sebagai pendukung pemahaman anak. Observasi berlangsung rilex dengan iringan instrumental lembut penjinak gegaduhan yang biasa dilakukan oleh anak-anak. Tidak cukup kertas dan tayangan pada slide infocus, para pembimbing yang jumlahnya 4-5 orang turut memberikan arahan kepada anak-anak agar memahami maksud pertanyaan yang diobservasikan. Dan akhirnya test kecerdasan majemuk ini rampung sudah.

 

Test Kemampuan membaca al-Qur’an

Test ini dilakukan dengan menggunakan alat buku Iqro’, dan anak-anak dipersilahkan untuk membaca mulai dari jilid awal hingga sejauh mana dia sudah kuasai. Hasilnya beraneka ragam ada  yang sudah sampai Iqro’  V dan ada juga yang belum bisa sama sekali.

Test Hafalan Surat Pendek

Anak-anak diminta untuk membaca do’a-do’a sehari-hari yang  sudah dihafalnya. Dari yang diingat itulah yang menjadi bobot penilaian. Selanjutnya hasil ini akan menjadi reference, bagi guru dan sekolah untuk menentukan target hafalan kedepan bagi anak-anak.

Test Wawancara Orang Tua/Wali

Wawancara dilakukan  terhadap orang tua/wali murid, untuk menyamakan persefsi tentang keberadaan sekolah merdeka dan hakikat pendidikan dengan konsep BERBAGI. Pendidikan tidak hanya menjadi tugas Guru dan Sekolah semata, namun menjadi tugas SEMUA yang ada disekitar Anak Merdeka. Inilah inti dari materi wawancara.

Semua berlangsung dengan akrab dan akhirnya 14 anak bergabung dengan Anak Merdeka I yang telah Merdeka lebih dahulu.

Berikut Daftar Nama Anak Merdeka :

  1. Agintha Aisa Putti
  2.  Akrom Taimullah
  3.  Dini Rasma A.
  4. M.A. Bintar Putra
  5. M. Zaidan F
  6. Qonita Agnia Risma
  7. Lyra Norviah
  8. Fajar Prayogi
  9. Luthfi Faldan R
  10. Mikhil Abu Bakar
  11. Hafizh Adi Kurniawan
  12. Vidya Najla Afaninjilan
  13. Nadhifa Shofinana
  14. Anggita Rizki Silmia

Ya Alloh, semoga anak-anak Merdeka ini benar-benar menemukan tempat belajar dan bisa belajar dengan Merdeka sebagaimana yang Engkau titahkan. Semoga kelak menjadi anak-anak yang Sholeh dan Sholihah, berguna bagi Agama, Sesama, dan Bangsa. Amiin

One thought on “Selamat Menjadi Anak Merdeka

  1. REALITAS SOSIAL MENANGIS DI MERDEKA SEKOLAH

    Sebenarnya apa yang sedang terjadi di Merdeka Sekolah dengan begitu saja sekolah itu bergulir. Dan tidak ada yang mengharapkan sekolah itu muncul, karena sekolah itu wujud sebagai anak pembangkang dari dunia pendidikan dan orang yang aktif berorganisasi, sehingga dikenal sebagai aktifis, dengan malang melintang yang mengerti dunia sosial dan politik. Tapi tidak pernah terpikirkan bagaimana seorang aktifis di dalam organisasi berbicara masalah peranan rakyat kecil dalam perubahan sosial dan budaya. Karena yang ada dalam benak aktifis adalah bagaimana membesarkan organisasi sehingga menjadi lembaga yang mampu menguasai luang lingkup segala ha demi kepentingan kelompok. Sehingga tidak heran yang terjadi di dalam kegiatannya di masyarakat pada umumnya. Rakyat dipandang sebagai obyek aktualisasi dari organisasinya. Rakyat harus mengerti apa yang menjadi keinginan dari organisasi. Bukan bagaimana organisasi, di mana para aktifis bernaung itu untuk membangun masyarakat yang mandiri dan mempunyai daya tawar yang kuat bagi kehidupannya. Rakyat harus didik menjadi orang yang mempunyai kepribadian yang kuat untuk memilih mana yang baik mana yang tidak. Karena dengan rakyat cerdas bangsa ini menjadi maju dan bermartabat. Keadilan dan kesejahteraan akan menjadi kehidupan rakyat pada umumnya. Bukan golongan atau kelompok tertentu.
    Untuk itulah sekolah menjadi media yang penting bagi rakyat kecil yang terasing, minder, tak berdaya, selalu terkalahkan, menjadi korban dan mati secara perlahan-lahan karena kelaparan dan kebodohan.
    Karena sekolah yang dikelolah swasta menjadi sebuah citra mahal dan tidak terjangkau oleh rakyat pada umum yang masih dibawa garis kemiskinan. Karena sekolah swasta berorientansi pada keuntungan ekonomi, dengan sekolah itulah sebagai pendulang uang. Dengan membangun fasilitas yang tak pernah terpikirkan pada rakyat pada umumnya.
    Merdeka Sekolah yang begitu saja lahir seperti hilalang yang tumbuh dan berkembang tanpa harus ditempatkan pada tanah dan ruang tertentu. Tapi dia tumbuh dan berada dimana-mana sehingga begitu dekat dengan realitas kehidupan sosial. Dan itu terungkap pada tahun ajaran baru yang kedua kalinya. Tiba-tiba rakyat kecil itu terpana, masihkah adakah sekolah yang berkualitas dan terjankau oleh rakyat kecil dengan segala prasarana untuk anaknya. Mulai baju seragam, buku dan kegiatan sekolah yang mumpuni. Ada!!! rakyat kecil itu berkata dalam linangan air mata dan kaharuan anatara percaya dan tidak. Bahwa masih ada sekolah yang dekat dengan kehidupannya. Yang mengerti, paham akan perasaan dan jiwa yang sudah lama hilang karena ketidak adilan menjadi sarapan setiap hari. Karena sudah tidak punya harga diri di dalam realitas kehidupan sosial yang mengedepankan status, harga, uang, kekayaan dan kekuasaan.
    Merdeka Sekolah bukan lembaga penyelamat rakyat kecil yang harus dipuji-puji. Karena Merdeka Sekolah adalah kehidupan itu sendiri yang ada ditengah-tengah kehidupan rakyat pada umumnya yang menginginkan keadilan dan kesejahteraan berpihak padanya. Merdeka Sekolah bukan malaikan penyelamat tapi dia adalah embun pagi yang selalu merindukan keriangan rakyat kecil dalam menjalani hidupnya. Karena Allah selalu berada pada rakyat kecil untuk selalu melihat hati dan jiwanya dalam langkah yang berat dan sabar. Merdeka Sekolah menjadi tidak penting bagi kehidupan ini karena realitas sosial rakyat kecil menjadi lebih penting sebagai samudra kehidupan yang membawa setiap orang pada keberkahan dan keridhoan Allah swt.
    Saya kepala sekolah yang tidak bisa apa-apa hanya terpaku melihat realitas sosial rakyat kecil itu menangis dan terharu dalam kehidupan ini yang hanya mimpi menjadi sebuah kenyataan, bahwa hidup ini benar adanya untuk melihat kebenaran hidup yang sebenarnya. Yang Allah telah janjikan pada umat manusia di muka bumi ini. Realitas sosial menangis dalam kebenaran yang membuka cela kehidupan jiwa orang untuk berkata. Bahwa itu adalah hak!!! rakyat kecil untuk menikmati pendidikan yang dia inginkan. Merdeka Sekolah bukan apa-apa, dia hanya tempat dan wadah kehidupan yang tidak bisa menjanjikan apa-apa. Tapi kita hidup dalam kebersamaan untuk membangun masa depan dengan keinginan kita bersama. Lahirkan cita-cita menjadi kehidupan kita untuk selalu berkata dalam jiwa dan realitas sosial. Hidup memang bukan kenyataan tapi sebuah mimpi yang harus dibangunkan agar sebuah orang mengerti bahwa hidup ini ada dalam jiwa raga kita. Untuk menyongsong kehidupan abadi di mana kita akan bersemai. Kenapa realitas itu tidak diberikan pada rakyat kecil, sehingga dia harus menagis ketika menerikan kesempatan itu. Apakah memang sudah tidak ada ruang dan kesempatan bagi rakyat kecil untuk berkata tentang realitas sosial sebagai artikulasi dirinya. Realitas sosial bukan harta, pengetahuan dan kekuasaan ditambah dengan nafsu yang melebih binatang. Realitas sosial adalah artikulasi kebersamaan, berjamaah dan bersilaturahim, sehingga sebuah harta, pengetahuan, kekuasan dan nafsu itu menjadi keharmonisan hidup bagi semua orang, rakyat kecil menjadi jelas. Rakyat kecil bukan orang miskin!!! Rakyat kecil adalah orang miskin dan kaya yang sama derajatnya hak dan kewajibannya.
    Begitu banyak pengetahuan Allah sehingga di Merdeka Sekolah menjadi tak berarti tapi menjadi berarti ketika rakyat kecil untuk menjadi sekolah itu berarti. Kenapa kita harus mencari perhatian agar kita menjadi berarti. Allah begitu dekat seperti api dengan asap, Allah begitu dekat seperti kapas dan kain. Allah begitu dekat seperti es dengan dingin. Allah……. begitu dekat seperti hati dan jiwa, Allah…… begitu….. dekat….
    Merdeka Sekolah tidak ada apa-apanya karena yang membuat menjadi apa-apa adalah rakyat!!! kecil yang membuat Merdeka Sekolah itu Merdeka Sekolah!!! Merdeka Sekolah itu tidak pantas untuk dipuji karena yang membuat terpuji Merdeka Sekolah itu rakyat kecil! Merdeka Sekolah bukan yang bermutu karena yang membuat bermutu itu adalah rakyat kecil. Merdeka Sekolah itu bukan yang terbaik karena rakyat kecillah yang membuat menjadi baik. Merdeka Sekolah itu bukan yang berjasa karena rakyat kecillah yang membuat Merdeka Sekolah itu berjasa. Merdeka Sekolah itu bukan sekolah berkualitas karena rakyat kecillah yang membuat sekolah berkualitas. Apa lagi yang dinginkan kata oleh Merdeka Sekolah tentang dirinya. Karena dia tidak mempunyai tubuh karena tubuh Merdeka Sekolah itu adalah rakyat kecil yang menjadi tubuh Merdeka Sekolah. Jadi tidak ada yang perlu dibanggakan oleh Merdeka Sekolah. Kerena kebanggaan itu ada pada rakyat kecil. Kerena rakyat kecil itu bersama Allah swt. Apakah kita akan berpaling, jawabannya tidak.
    Realitas sosial itu menangis dan membuat Merdeka Sekolah malu dan merasa berdosa karena masih…. banyak orang yang perlu membuka realitas kehidupannya pada dunia pendidikan yang namannya sekolah. Merdeka Sekolah itulah namanya yang tidak pernah tahu di mana muncul nama itu, seolah hadir dalam kehidupan rakyat kecil untuk Merdeka Sekolah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s