Manusia Bukan Serpihan


Manusia Bukan Serpihan

Tanpa terasa Merdeka Sekolah sudah membuka kelas baru untuk para siswa baru. Orang tua yang memasuki anak-anak bukan karena sekolahannya, tapi visi dan misi sekolah. Yaitu tumbuh bersama Al Quran, dan itu yang tertulis dalam formulir pendaftaran, diperkuat lagi dengan pernyataannya ketika ada acara dialog dengan orang tua secara satu persatu, untuk menyamakan pandangan orang tua tentang pendidikan anaknya di Merdeka Sekolah, begitu juga dengan dari pihak Merdeka Sekolah menjelaskan keberadaan sekolah ini, tapi harus menutupi apa yang menjadi masalah setiap orang dan masyarakat mengenai status, tempat dan gedung, seperti juga dipikirkan oleh para pemerintah, masyarakat dan yayasan, sebuah pertanyaan yang dan semua pertanyaan yang tidak memberikan perspektif yang inspiratif. Karena selalu mengacu pada bentuk dan benda yang menjadi ukuran adanya sekolah. Tapi bukan sebuah pertemuan dan proses belajar bersama antara siswa, guru dan masyarakat sekitarnya yang terintergrasi dalam satu tujuan belajar untuk bersama. Sebuah artikulasi kehidupan yang selalu ingin dikemas menjadi sesuatu yang formal tapi tidak mempunyai muatan yang formal, kalau bukan dibilang main-main. Tapi itulah kenyataan dalam pendidikan kita sekarang yang tidak bisa dilihat dalam sisi yang berbeda. Karena pendidikan kita sangat monolit yang dikatakan sekolah. Sisi lain dari pendidikan yang dibawa oleh Merdeka Sekolah adalah Madrasah yang tidak pernah dipertanyakan pada orang tua murid, seolah Madrasah adalah pendidikan yang memang sudah begitu saja hidup dengan kemampuan yang fashionabel. Seperti memberi sisi kehidupan sosial yang lebih baik dalam melihat pendidikan sebagai sebuah proses kehidupan yang lebih baik dan membuat nilai-nilai spiritualitas menjadi lebih berarti dan bermakna bagi dirinya. Seolah Madrasah tidak dilihat sebelah mata oleh masyarkat, minimal orang tua siswa yang masuk ke Merdeka menjadi sebuah indikator bahwa pendidikan Madrasah bukan masalah lagi, dalam lingkup kecil. Meskipun masih ada pertanyaan materi pembelajaran berapa persen, antara pelajaran agama dan umum. Buat Merdeka Sekolah materi pelajaran yang diberikan semuanya seratus persen baik agama dan umum. Karena ketika belajar agama berarti belajar umum, ketika belajar umum berarti belajar agama. Tidak ada lagi pemisahan dan pemilihan dari sebuah materi pembelajaran. Karena hidup manusia juga merupakan satu kesatuan, dan Allah menciptakan manusia alam keutuhan. Manusia bukan sebuah serpihan. Pertanyaan itu memang suatu realitas yang ada di masyarakat, bahwa pendidikan agama dipisahkan dengan pendidikan umum dan kehidupan. Karena pola pendidikan yang dianut itu adalah pendidikan Barat yang memisahkan agama dan kehidupan dari pendidikan. Sekolah dipisahkan pada kehidupan masyarakat, agama dipisahan dari pendidikan sekolah, masalah sosial dipisahkan pada masyarakat, bahwa ada anak yang tidak mampu itu bukan lagi urusan sekolah, tapi urusan dia sendiri, kenapa mau menjadi orang miskin, begitu kalau cara pandangan yang dangkal dan pragmatis. Karena pola berpikir yang sudah menjadi serpihan maka banyak pendidikan itu bukan lagi mempunyai kepedulian pada masalah sosial dan masyarakat miskin. Karena kalau sekolah menerima orang yang tidak mampu dianggap sekolah itu tidak keren dan menurunkan gensinya. Hal itu yang dikatakan orang yang punya pengetahuan agamanya lebih dalam dari seorang guru yang mempunyai cita-cita ingin hidup merdeka. Sebaliknya ada orang yang begitu tergiur pada bisnis yang sangat menguntungkan dari segi material. Karena dengan berbisnis itu dia akan mendapat keuntungan yang lebih besar dan itu sangaat mengiurkan. Pada Allah berkali-kali sudah menjelaskan bahwa kalau mau berbisnis yang menguntungkan dan mendapatkan isi dunia ini adalah berdagang sama Allah yang salah satu mendirikan pendidikan berbagi bagi semua orang, itu sebuah bisnis yang sangaaat mengiurkan. Kenapa tidak bergegas untuk mengusahaan. Karena manusia sudah kehilangkan sebagian dirinya untuk bisa berbisnis dengan Allah. Yang memberikan banyaaaak sekali kemungkinan dalam hidup ini. Tapi memang tidak semua orang mengerti apa itu bisnis yang sebenarnya. Karena yang namanya bisnis itu uang, uang, uang, uang dan uang. Pada hal dalam kehidupan ini tidak memerlukan uang, uang dan uang. Alam banyak memberikan kesempatan pada manusia untuk menikmati kehidupan ini dengan baik dan lebih baik. Tapi kalau bergaul denga manusia kita memerlu uang, uang, uang dan uang yang membuat kita menjadi pusing. Begitu juga ketika kita mendirikan sekolah sama orang maka uang jadi faktor utama. Membuat manusia menjadi gelap mata, karena uang. Pada hal uang itu biarkan hanyut begitu saja pada kehidupan manusia untuk melihat kepalsuaan. Tapi begitulah uang membuat orang ingin menjadi uang dan kaya bukan menjadi manusia dan manusia utuh. Membuat alam itu menjadi lebih mengerti dan memahami tentang kehidupan yang membuat hati dan jiwa ini menjadi merdeka. Begitulah Merdeka Sekolah tetap merdeka, tapi memang tidak akan merdekan kalau dihadapkan manusia yang sudah menjadi uang, yang uang itu membuat diri lari dalam kenyataan hidup ini, bahwa alam itu indah, seindah hati manusia yang mempunyai hati nurani. Karena uangnya itu untuk berbisnis dengan Allah bukan dengan manusia, karena manusia tidak bisa dipercaya kalau sudah menjadi uang dan materi. Karena kehidupannya dikeliling oleh materi, bukan oleh kehidupan dan alam yang selalu menyabut kehidupan kita baik suka mau duka tanpa berkeluh kesah.

One thought on “Manusia Bukan Serpihan

  1. AKU INGIN MENANGIS SEPERTI EMBUN

    Merdeka Sekolah adalah sebuah realitas yang ada dalam kehidupan masyarakat pada saat ini, dan juga kehidupan aku pada saat ini. Karena sudah berjalan satu tahun dan akan ada pergantian tahun ajaran. Menjadi begitu sederhana di dalam menjalani kehidupan dalam realitas sosial yang ada di masyarakat. Merdeka Sekolah memang ada dalam realitas, hidup di dalam pergaulan masyarakat, tapi belum menjadi teman masyarakat, karena terlalu kecil kalau sebagai manusia. Belum bisa diperhitungkan, tapi Merdeka Sekolah dibiarkan untuk selalu bermain sesuka hatinya, seperti anak kecil yang baru tumbuh dan mengenal dunia tanpa rasa sungkan untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan. Yang didorong oleh keinginan untuk selalu tumbuh dan berkembang, untuk selalu menjelajah dan mencari makna kehidupan yang ada dalam realitas sosial. Merdeka begitu indah di dendangkan sebagai nyanyian anak-anak yang begitu saja suara keluar, tanpa ada rasa takut dan malu. Bernyanyi seolah menjadi bagian dari alam yang memberikan musik tersendiri. Ritme dan irama menjadi dendangan yang indah untuk selalu di kumandangkan, menjadi arti sebuah keberadaan dirinya dalam kehidupan ini.

    Tertawa dan gembira yang selalu dibagikan kepada orang lain. Seolah orang lain seperti dirinya. Merdeka Sekolah ada dalam masyarakat, tapi tak ada dalam lembaga pemerintah dan masyarakat. Tapi kesukaan bermain dan menghayati hidup ini untuk selalu berbagi. Senyum kehangatan selalu ditangkap menjadi sesuatu yang aneh, tapi bisa begitu saja diterima oleh sebagian masyarakat yang memang dirinya ada di dalam kehidupan masyarakat. Tapi merasakan dirinya tidak ada. Karena tidak menjadi hitungan dalam kehidupan masyarakat. Yang ada adalah kesedihan, minder dan serba salah. Seolah kehidupan ini milik orang kaya yang telah menjadi benda dan robot. Kemudian pertemuan itu memberikan arti yang tersendiri pada Merdeka Sekolah, sungguuuh luar biasa Allah itu Maha Besar dan Maha indah, karena berbagi itu membuka satu persatu cela hidup yang tertutup untuk sebisa melihat surga yang sungainya mengalir dengan jernih, airnya diminum tidak akan pernah haus. Membuat aku menangis seperti embun selalu menangis di pagi hari, tangisannya tenang, lembut, senjuk, adem, dan dalam bila dirasakan. Sebuah dunia yang tidak bisa terungkapkan dengan begitu saja, dengan analisa dan hitung-hitungan uang. Aku tidak mengerti mengapa hal itu begitu indah. Apalagi orang itu dengan terbukanya, dia menyadari bahwa hidup ini ada meskipun bukan menjadi perhitungan orang lain dan tetangganya. Karena mereka sudah sibuk dengan keluh kesah dunia yang ingin dicapainya. Pada hal kalau orang berpikir dunia tidak akan pernah tercapai, tapi kalau kita berpikir akhirat dunia akan mengikutinya. Kenapa hidup ini begitu mudah menjadi begitu susah. Karena banyak orang yang susah menjadi orang yang tidak pernah ada dalam dalam benak pikiran manusia yang berpikir tentang uang. Pada hal uang itu tidak pernah ada, karena yang ada adalah keinginan dan ketamakan untuk mengatakan bahwa hidup ini ada apa bila kita mendapatkan uang.

    Merdeka Sekolah begitu saja ada tanpa sebuah pemikiran yang besar dan perhitungan yang strategi dan tepat sasaran. Karena Merdeka Sekolah ada karena panggilan kehidupan yang membuat dia ada. Untuk mengatakan bahwa realitas masyarakat yang ada sekarang itu bukan masyarakat yang homogen, uang dan materi saja yang dipikirkan. Tapi ada orang yang ingin berbicara tentang kehidupan ini menjadi sebuah kesadaran tentang sosial yang memberikan keindahan dalam kehidupan masyarakat. Memang keindahan tidak bisa dipahami tapi hanya bisa dirasakan dalam dunia uang dan materi. Karena jiwa dan rasa kita telah dikuasai oleh uang dan materi. Membuat Merdeka Sekolah memang ada tanpa harus melihat sesuatu yang telah ada, karena keberadaan menjadi ada, untuk selalu ada dan mengerti ada sesuatu yang harus ada dalam kehidupan ini. Yaitu realitas sosial masyarakat yang memerlukan keberadaannya menjadi sebuah cela kehidupan yang memberikan kemungkinan pada persoalan hidup ini.

    Angin Merdeka Sekolah bukan AC yang dapat menyejukan orang kaya. Karena orang kaya sudah mengingkari angin, karena takut masuk angin. Orang kaya juga mengingkar rasa dingin karena takut demam, orang kaya juga mengingkari panas karena takut panas dalam. Orang kaya juga mengingkari tanah karena takut kena penyakit. Sehingga anak-anaknya tidak boleh main diluar takut masuk angin, takut kehujanan dan kedinginan, takut kepanasan serta takut kotor. Pada hal kehidupan sudah begitu kotor dengan prilakukan sangat keterlalu karena meniadakan orang miskin, rakyat kecil yang selalu tertindas dan ditindas. Merdeka Sekolah menyatu dengan angin, hujan,dingin, panas, dan tanah. Membuat kehidupan ini terasa hidup dan memang menjadi kehidupan. Membuatnya begitu lugas dan bersahaja. Tak ada komentar dan tak ada amarah dalam jiwa raganya, seolah semuanya menjadi panggilan alam yang selalu ingin memberikan kekuatan dan ketengan pada manusia untuk selalu tersenyum dengan berbagi. Karena kehidupan sosial yang berbagi itulah menjadi sebuah realitas kehidupan untuk selalu berkata dalam kebenaran dan ketulusan untuk selalu berjuang sehingga memberikan andil yang tinggi tentang arti dari kehidupan ini.

    Embun itu menangis Merdeka Sekolah tetap menjadi panggilan untuk berkata tentang realitas sosial yang diresahkan oleh rakyat. Dan rakyat kehidupan orientasi karena kemiskinan dan ketidak berdayaan, serta ketimpangan sosial dalam mengajukan rencana dan kebijaksaan. Yang selalu menjadi pemikiran orang yang peduli pada kehidupan rakyat kecil untuk dibangin kesadaran dalam melihat realitas kehdiupan yang ti ada taranya.

    Tanah dan angin selalu beriringan dengan pelajaran Merdeka sekolah. Seolah kehidupan ini memang tidak ada apa-apanya untuk bisa berkata apa adanya. Sehingga memberlukan perhatian yang khusus, untuk menjadikeyakinan pada Allah Swt.

    Langit biru berkumandang azan untuk kembali bersujud pada Allah untuk bisa saling melihat kehidupan ini menjadi sebuah realtias sosial yang harus diperhatikan dan kembangkan menjadi jiwa raganya untuk mengatakan tidak dan diperjuangkan. Kehidupan tak ada lagi kserasihan, tapi ketekutan dan keingina untuk menyelesaikan kuliahnya karena ingin cepat lulus. Tapi bagaimana menghayati kehidupan menjadi nilai kekuatan jiwa dan raga, masyarakat dan adil sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s