STUDY VISIT SEBUAH REALITAS KEHIDUPAN

Hari dengan angin yang membawa kesegaran, seolah memberikan semangat bagi kehidupan anak-anak untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi dirinya dan orang lain. Itulah suasana yang muncul dalam persiapan yang dilakukan oleh anak-anak Merdeka Sekolah untuk mengadakan study visit kebeberapa tempat yang memungkinkan anak-anak untuk menangkap realitas kehidupan sosial masyarakat yang ada dan sedang mengalami perubahan dan perkembangan di dalam kehidupan ini.

Salah satunya adalah kunjungan ke kantor Pos yang pada masa kini peranan kantor Pos sudah banyak diganti oleh sistem informasi yang lebih praktis dan cepat, yaitu dengan sms, email, facebook dan banyak lagi yang memungkinkan masyarakat untuk mengasesnya. Tapi buat anak-anak kantor Pos sebuah realitas yang memberikan nadi informasi dengan melalu hubungan manusia dengan manusia di mana pengawai Pos melayani dengan baik dan ramah, dan memberikan informasi yang ada di dalam kantor Pos, banyak ragama yang ada di kantor Pos selain sebagai pengirim surat, tapi juga tempat menabung, membacara listrik, telpon dan pengirim barang dengan cepat dan tepat. Anak-anak antusias mengikuti proses itu sebagai bagian yang coba dirasakan di dalam internalisasi dirinya untuk mampu memberikan perspektif pada dirinya dikemudian hari. Sehingga memberikan kemungkinan untuk bisa melakukan langkah-langkah yang tepat untuk menyampaikan apa yang menjadi pandangan dan pikirannya nanti. Sebuah angin yang memberikan daun untuk bisa mengabarkan pada kehidupan bahwa alam ini memang harus dipelihara dan menjadi bagian hidup. Karena lingkungan yang rusak menjadi bagian terputus dari kehidupan ini. Pos adalah kaitan dengan orang lain untuk bisa menghubungi dan sebagai media yang memberikan kemungkinan yang lebih baik sebagai sebuah inspirasi.

Sedangakan Stasiun Kereta Tangeran dengan segala kesederhanaannya memberikan pada anak padangan dirinya dalam mengantri karcis, meskipun anak-anak hanya mengetahuinya. Tapi atmosfir dari stasiun itu dengan sendiri memberikan suasana yang lain bagi anak untuk bisa mengatakan bahwa diri ada di dalam suatu tempat dimana dia akan melihat sebuah perjalan orang dengan kereta api, dengan berbagai macam tujuan dan maksudnya. Seolah kehidupan itu mengabarkan pada anak-anak dalam alam sadar dan fantasinya mengalir dengan kejernihan hati ini. Memberikan kemungkinan anak untuk bisa melakukan sesuatu yang belum dilakukan oleh zamannyanya, minimal anak mendapatkan sesuatu yang tidak semua orang dapat merasakan, bahwa stasiun itu menjadi tanda yang memberikan kemungkinan yang lebih baik dan banyak kemungkinan untuk memberikan inspirasi dalam kehidupannya, sebagai sebuah pengalaman hidup. Bisa saja dalam bidang pereknonomian anak bisa menganalisa perekonomi dengan mempergunakan analogi rel yang bisa memberikan kemudahan bagaimana masyarakat untuk bisa mendapat lahan pekerjaan yang baik.

Dari Stasiun Kereta Tangerang anak-anak dengan kendaran mobil pinjaman dan Pak Tanda Setiya yang selalu memberikan perhatian pada Merdeka Sekolah ini memudahkan anak-anak bisa melihat suasan pasar yang dilewati, begitu juga anak-anak yang memakai kendaraan angkot sewaan serasa fantasinya berlari dari sebuah semangat yang memberikan anak itu begitu ceria dan memberikan kebahagian yang semua orang tidak bisa merasakan. Karen pasar dengan segala permasalahan memberikan nuansa yang indah. Karena anak-anak sebelumnya mengadakan study visit kepasar tradisional yang begitu banyak interaksinya pada setiap orang dengan respon yang berbagai macam, seolah-olah anak-anak diberikan kemungkinan pada kehidupan yang begitu hidup, bukan kehidupan artifisal dan semu seperti yang terjadi di mini market dan supermarket serta mall yang semua tidak mengacu pada realitas kehidupan. Tapi itu adalah stimulasi kehidupan konsumerisme yang hanya merangsang hedonisme, pemujuaan pada kesenangan dan kepalsuaan hidup. Yang hanya membekukan hati dan jiwa manusia untuk bisa berempati dengan sesama.

Dari Stasiun Kereta Tangeran dengan melewati pasar sebagai nuansa dari perjalan yang banyak mengingatkan semua orang untuk kembali kepada kehidupan yang sebenarnya, yaitu silaturahim. Perjalan mobil melaju melewati kantor pemerintahan yang selalu memberikan pandang pada setiap orang bahwa peranan pemerintah dalam kehidupan masyarakat menjadi lebih penting. Tapi yang ada hanya mekanisme kerja bukan bekerja untuk rakyat banyak. Perjalan dengan mobil diwarnai dengan panas yang menyegat, memberikan warna jiwa pada anak untuk mampu melihat dirinya dengan baik dan bisa menakar kemampuan anak dalam sebuah perjalanan. Sehingga tidak heran di dalam perjalan itu ada juga yang mengalami muntah, sebuah adaptasi yang memerlukan sebuah pengorbanan dan pengertian yang luas dari teman dan gurunya.

Sesampai di Terminal Bis dengan bangun yang baru memberikan suasana yang lengang, seolah terminal yang dibangun dengan uang rakyat ini belum di maksimalisasikan secara lebih baik dan terarah. Hal ini bisa saja dilihat dari sudut pandang pemililhan tempat sehingga minat dari pengusaha bis untuk bis mengetem diterminal menjadi sebuah kebutuhan bukan sebagai sebuah keterpaksaaan yang hanya menekankan formalitasnya. Anak-anak berlarian di Terminal yang lenggang, seolah dunia kosong yang memberikan pandang luas untuk bisa diekspresikan, hanya saja dia tidak tahu untuk apa terminal yang lenggang ini dimanfaatkan, tapi itu adalah sebuah permulaan yang harus diartikulasikan di dalam dirinya menjadi sebuah pengalaman yang berjalan dalam tiupan angin yang selalu memberikan kesegaran pada anak-anak.

Kegiatan diterminal menjadi tanda sebuah letak dari sebuah suku bangsa, karena anak-anak diperkenalkan dengan tujuan dari bis yang akan berangkat, dan kebetulan bis itu semuanya tujuan luar kota, baik pulau Jawa maupun Sumatra. Secara tidak langsung anak-anak mengidentifikasi dirinya asal keturunnya. Membuat anak menjadi lebih senang dan riang menyambut asal usulnya. Semua ditemukan dalam ruang yang tidak pernah dipikirkan, begitu juga oleh orang lain. Memang hidup ini tidak perlu dipikirkan tapi hendaklah kita selalu berpikir dan merenung apa yang dapat kita kerjakan dalam kehidupan ini. Semangat dan kecerian dalam study visit ini membawa pulang dalam meninggalkan Terminal yang lenggang karena belum menjadi kebutuhan pada armada bis untuk singgah disitu. Apakah demikian, hanya angin saja yang tahu, karena anginlah yang memberikan banyak informasi dalam gelombangnya magnetik. Jadi dua mobil yang mengangkut anak-anak melesat dengan angin yang memberikan kesejukan pada anak-anak di terik mata hari yang mengangga. Tanpa terasa dua mobil sudah berada di Merdeka Sekolah, untuk bertanya lagi apa ini sekolah, bukan. Tapi ini adalah dunia pendidikan yang tidak semua orang tahu tentang pendidikan. Karena orang tahu sekolah bukan pendidikan. Sehingga mimikirkan sekolah menjadi sebuah keresahan tersendiri bagi orang tua, guru, pengurus yayasan di dalam mewujudkan bentuk dari sekolah. Keresahan ini bertiup pada angin yang panas. Pada hal angin kesejukan selalu menanti kesungguhan sebuah orang untuk mencintai pendidikan dan memperjuangkan,karena dengan itulah angin akan memberikan angin kesegaran tentang sekolah yang dirindukan. (T. Aru)

One thought on “

  1. SEKOLAH BUKAN ETALASE PENDIDIKAN

    Hidup ini sebuah petualangan yang mengesankan dan mendebarkan dalam luang lingkungkup sosial, sehingga nadi persoalan begitu bergetar di Merdeka Sekolah. Membuat detak jantung Merdeka Sekolah dan Semesta Langit Biru itu berpacung keras, tapi seolah tidak mampu melakukan membuka pintu dan jendela kehidupan untuk dapat melihat bahwa hidup ini begitu indah dan manarik, apa lagi yang harus digenggamnya. Karena alam semesta, langit biru membentang dan angin semilir yang selalu membawa kesegaran pikiran dan jiwa ini. Begitu juga dengan nuansa suara pohon dan tumbuhan hijau ini tidak membatasi kita untuk mengambilnya, menikmatinya dan menjadi bagian dari jiwa raga kita.

    Membuat hidup ini tidak lagi memerlukan uang tempat dan sarana. Hidup ini begitu saja ada yang diberikan Allah pada manusia. Tak ada lagi batasan, tak ada lagi hambatan, tak ada lagi aturan, tak ada lagi kekuatiran, tidak ada lagi keresahan, tidak ada lagi ketakutan yang tidak jelas dan takut tidak punya uang. Karena Allah menciptakan alam semesta ini agar memuat manusia menjadi senang menikmati keindahan dan kemuliaan alam ini, sehingga menimbulkan pkiran dan jiwa dan raga yang selalu ingin menyebut namaMu, Ya Allah. Aku menghadapi alam semesta ini seperti Aku menghadapMu Allah. Tak ada birokrasi dan protokoler untuk menghadapMu, Ya, Allah. Hidup begitu indah dan menyenangkan. Anak-anak Merdeka Sekolah dalam setiap pelajaran olah raga dan kreatif selalu merindukan alam semesta ini untuk bercekraman, berguling, bergulat, berselimut awan disaksikan langit biru yang tersenyum hanyat menyaksikan begitu riang gembiranya bermain dengan air yang juga gembira bermain bersama dengan anak-anak. Begitu juga dengan tanah yang merangkul anak-anaknya dengan kerinduan dan kasih sayang yang tak terbatas. Meskipun baju menjadi basah dan kotor kalau dilihat dari kasat mata dan cara padang material sesuatu prilaku yang tidak sepantasnya. Tapi pohon rindang yang besar itu selalu melindungi anak-anak dari terik matahari yang begitu gembira menyaksikan anak bermain bersama mereka. Membuat aku hidup dalam arti yang sebenarnya hidup dalam kehidupan ini. Subahanallah aku tak lagi mengerti apa yang aku pikirankan dan rasakan dalam jiwa ini bahwa kehidupan ini begitu nyata senyatanya. Tanpa bisa aku mengatakan sebagai guru, kepala sekolah atau apakah ini status sosial yang begitu menjadi sesuatu yang penting bagi kehidupan sosial masyarakat ini. Tidak aku rasakan aku seperti manusia yang menjadi bagian dari alam semesta ini seperti anak-anak Merdeka Sekolah bermain dengan meriahkan dan lepas terbang disambut hangat alam semesta ini. Membuat aku begitu sadar bahwa aku manusia hidup dengan alam. Bukan hidupan diantara bendah dan ruang yang dingin, beku, acuh tak acuh, manusia yang selalu mengalami keresahan, duka lara, sedih tak menentu, entah apa yang sedihkan.

    Anak-anak Merdeka Sekolah bermain dengan lepat terbang, membentang pada jiwa dan imajinasinya untuk merengkuh hidup ini, dengan air yang mengalir tanpa batas kehidupan. Karena kehidupan yang Allah berikan pada manusia begitu luas. Air sebagai sumber kehidupan, kini menjadi nestapa karena manusia yang sering mengabaikan keberadaannya air dengan membuat air menjadi keruh dan tercemar karena ketidak pedulian manusia dan keakuan manusia terhadap lingkungannya terkuasai untuk pemuas nafsu kehidupan material yang menstimulasi hedonisme yang menjerumuskan manusia pada ketakutan, keresahan, kesedihan, kegamangan, kemarahan yang tidak pernah jelas apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

    Itu yang aku rasa sebagai guru tapi aku tidak merasakan hal itu. Tapi aku merasa jauh lebih murni dan lebih luhur muncul sebagai manusia yang selalu bersama alam semesta ini bergembiran, lepas terbang membentang, tidak ada lagi uang, tidak ada lagi jabatan, tidak ada lagi batasan. Aku menemukan makna dari kehadiran Allah bersama anak-anak Merdeka Sekolah atau mungkin anak-anak Aqhniya Ilman pada masa lalu, serta para buruh tani yang selalu tersenyum menyambutkan meskipun berselimut kesusahan dan kemiskinan. Untuk itulah aku disitu hadir, guru sudah melebur dalam kehidupan alam semesta ini, membuat semuanya begitu indah, senang dan rasa syukur tak henti-hentinya melantun, hingga nadi dalam diriku selalu mengikuti keindahan dan kebesaran Allah sang pencipta alam semesta ini.

    Tapi ketika aku kembali dalam realitas sosial masyarakat status kembali dipakai, sebagai guru, kepala sekolah, pengurus yayasan, aktifis budaya, ketua yayasan, dosen, seniman, orang tua, bapak, suami, tetangga, teman, pekerja dan banyak lagi yang selalu silih berganti harus dipakaiannya.

    Kembali pada realitas sosial banyak persoalan yang hanya menyangkut masalah uang, jabatan, kedudukan, suka dan tidak suka, puas dan tidak puas. batasan-batasan menjadi manusia tertekan. Alam dieksplorasi untuk nafsu yang tidak pernah dimengerti semua orang. Ada manusia yang makan minyak, makan aspal, makan kayu, makan batu, makan orang, makan hutan, makan timah, sehingga membuat alam menjadi muak dengan menyemburkan lumpur, seperti yang terjadi di Lapindo. Banjir di mana-mana, kekerasan menjadi hiburan yang mencekam, pendidikan menjadi Mall dan sekolah menjadi etalase pendidikan. Semua dihias, semua diperindah, semua menjadi baik, semua menjadi sempurna, semua menjadi mewah, semua menjadi senang. Tapi semua itu menjauhkan dari kehidupan alam semesta ini yang menjadi manusia lebih luhur dan mulai. Untuk bisa mengerti bahwa hidup ini ada ketika kehidupand dengan alam ini menjadi indah. Semua atribut menjadi lepas, karena kerindahan manusia pada alam semesta ini menembus kesadaran pada keimanan dan ketaqwaan pada Allah. Uang tidak lagi bisa dimengerti dalam kehidupan ini. Karena membuat kehidupan ini menjadi terlalu sempit dan kecil, membuat hati dan jiwa ini begitu resah dan beku, meskipun tidak mati dan membatu.

    Berjalan adalah sebuah perjalanan tentang kehidupan, berkendaraan adalah sebuah kebekuan tentang kehidupan. Tapi apakah alam semesta ini menjadi dindin beton yang merubah sawah menjadi ruang penuh kekeringan, kebekuan, membatu. Sehigga tidak ada lagi kata dan ucapan untuk mengatakan kehidupan. Tapi adalah sebuah persembunyian yang menyakitkan pada semua orang.

    Anak-anak Merdeka Sekolah bukan berada dalam etales pendidikan. Anak-anak Merdeka berada dalam dunia alam semesta yang menembus kehidupan dan merajut ketaqwaan, membentuk keimanan serta kerinduan yang membuat Allah begitu dekat pada Anak-anak.

    Tapi apakah benar anak-anak Merdeka Sekolah berada dalam kecerian alam ini. Karena realitas sekolah menginginkan Sekolah Etalase sebagai pendidikan. Dengan penampilan pakaian yang bersih seperti berada dalam manekin, menjadikan kecerdasan adalah keindahan penampilan, kemewahan dan kelengkapan menjadi sebuah peradaban, keternaran dan favori sekolah menjadi sebuah masa depan. Tapi itu sebuah artifisial dalam sebuah Etalase Sekolah. Tak adalah makna dan kehidupan yang mampu menembus kearifan dan keimanan pada Allah. Sehingga tak ada lagi sekat kelompok dan golongan tertentu, karena Islam mengajarkan sebuah sebuah persaudaran antara sesama muslim.

    Membuat bintang dan bulan menjadi iri karena tidak bisa menemani anak-anak Merdeka Sekolah. Tapi Bintang dan bulang telah dikabarkan oleh langit dan awan bahwa anak-anak Merdeka Sekolah itu nanti malam akan tertidur pulas dan bermimpin tentang harapan dan masa dengan yang dia raih dalam ketulusan dan kearifan hidupan ini. Selama Etalase Sekolah itu tidak menjadi cara berpikir orang dewasa, pimpinan, yayasan, pemerintah dan siapa lagi. Bintang dan bulan mendo’akan anak-anak itu memang bisa sekalolah dengan kehidupan, sehingga alam akan selalu bercengkraman dengan anak-anak Merdeka Sekolah.

    Pelajaran olah raga dan kreatif sudah melebur menjadi realitas alam kehidupan anak-anak yang selalu ceria menyambut alam semesta ini. Air, tanah, angin, matahari, awan, langit biru, rerumputan, tumbuhan dan pohon selalu menyabut dengan suka cita. Ungkapan rasa syukur yang selalu dikumandangkan dalam kehidupan alam semesta ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s