Indahnya Cita-cita


INDAHNYA CITA-CITA TAK TERTANGKAP DI AWAN

Merdeka Sekolah yang berangkat dari mimpi orang tua Aghniya Ilman ketika berbicara di ruang kepala sekolah Al fityan yang mendekati realitas kehidupan masyarakat dalam melihat pendidikan secara dekat dan bersifat familiar. Di mana pendidikan bukan sebuah formalis yang membuat orang atau masyarakat terbatas dan terpisah pada pemahaman dari pendidikan yang semua orang mengerti bahwa pendidikan dalam sebuah lembaga sekolah itu menjadi tanggung jawab semua orang untuk bisa terlibat dalam porsinya masing-masing sehingga memberikan kemungkinan pada setiap orang untuk bisa melakukan yang terbaik bagi dirinya dan orang lain.

Pendidikan dalam lembaga sekolah itu merupakan hasil dari silaturahimi setiap orang dan masyarakat untuk menjadi sebuah bentuk pendidikan yang memberikan kemungkinan untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Sehingga akan memperkuat basis masyarakat pada kehidupan keluarga dan masyarakatnya. Karena dengan pendidikanlah kesadaran masyarakat di dalam membangun keluarga zakinah mawadah itu akan menjadi kehidupan masyarakat pada umumnya. Membuat masyarakat mampu melakukan langkah-langkah yang konkrit bagi kehidupan bersama untuk mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya. Yaitu kehidupan masyarakat yang selalu memberikan sesuatu yang terbaik baik kehidupan setiap orang. Dengan kemampuan membangun kehidupan masyarakat yang baik, maka dengan sendiri kehidupan sosial menjadi sebuah kebudayaan yang memberikan banyak pada kebutuhan sebagai bangsa dan negara yang lebih baik. Karena masyarakat sudah mempunyai basis berpikir yang terlatih dalam sebuah pendidikan yang melibatkan dirinya menjadi bagian dari pendidikan. Sehingga mudah di dalam milihat negara dalam sebuah analogi keluarga dan masyarakat yang mempunyai pendidikan sama. Di mana pendidikan berorientasi pada kemampuan setiap orang di dalam mengelolah kehidupan sosial dan masyarakat dalam kosntelasi alam yang menjadi keharmonisan dari kehidupan manusia. Negara dan bangsa yang memberikan kesempatan pada setiap orang dan masyarakat pada umumnya untuk bisa mengelolah negara ini, sesuai dengan kemampuan dan porsi untuk bisa saling merekat dan mengembangkan, untuk bisa menuti kelemahan setiap orang menjadi sebuah kekuatan untuk bersama. Begitu juga kemampuan setiap orang akan memberikan kemungkinan pada semua orang untuk bisa bekerjasama secara baik dan terarah.

Pendidikan sebagai lembaga sekolahlah yang mampu memberikan banyak kemungkinan pada setiap orang dan masyarakat. Kalau hal ini memang diartikulasikan menjadi sebuah upaya bersama untuk kepentingan semua orang dan rakyat yang masih dalam ketidak berdayaan karena kemikiskinan dan ketidak mampuan dalam pendidikan. Sekolah menjadi sebuah pertemuan yang memberikan kemungkina pada setiap orang untuk bisa berbagi dan menata kehidupan secara baik dan menyeluruh. Karena pendidikan bukan sekolah bagi orang yang tidak sama sekali bisa. Tapi sekolah adalah tempat semuat orang untuk bisa mengaktualisasikan dirinya untuk bisa berbagi dan untuk saling mengisi, sehingga menumbuhkan daya kemampuan setiap orang untuk bisa berbuat banyak dan berbuat yang terbaik. Karena sekolah adalah tempat untuk bekerjasama di dalam membangun kesadaran setiap orang untuk bisa melakukan yang terbaik bagi dirinya dan orang lain. Sekolah sebuah budaya yang mampu memberikan kemungkinan pada setiap orang untuk bersama-sama melakukannya yang terbaik dan yang indah bagi kehidupan. Karena kebenaran dan keindahan merupakan realitas keimanan setiap orang pada Allah di dalam memberikan sesuatu yang terbaik bagi diri dan setiap orang. Dengan begitu mekanisme kehidupan setiap orang menjadi sebuah realitas ibadah yang selalu memperkuat kualitas iman pada Allah. Sehingga kehidupan masyarakatnya banyak memberikan kemungkinan bagi setiap orang untuk bisa melakukan yang terbaik bukan untuk dirinya tapi untuk semua orang dengan mengacuh pada nilai keimanan dan keimanan itulah yang menumbuhkan setiap orang untuk melakukna yang terbaik bagi setiap orang. Karena iman dan ketaqwaanlah sebuah cita-cita menjadi indah dan bersemi dalam kehidupannya, yang secara perlahan dan pasti, tanpa kita sadari dia menjadi sebuah realitas yang tidak pernah kita bayangkan itu menjadi sebuah kenyataan.

Hal inilah kiranya yang terjadi dalam Merdeka Sekolah sebuah cita-cita yang banyak menarik perhatian masyarakt tapi kesamaan dalam melihat pendidikan dalam lembaga sekolah ini belum sama. Karena pendidikan dalam lembaga sekolah itu adalah sebuah nilai, konsep bukan sebuah bentuk arsitektural dari sekolah. Sehingga banyak masyarkat ketika melihat Merdeka Sekolah dalam konsep pendidikan yang real itu menjadi sebuah mimpi karena tidak di dukung dengan arsitektural sekolah sebuah representasi dari pendidikan Merdeka Sekolah.

Hal ini yang memang belum menjadi sebuah kesatuan dalam cara berpikir yang sama, karena hal ini perlu adanya sebuah program yang memberikan kemungkinan pada masyarakat tentang pendidikan lembaga sekolah itu bukan saja arsitektural sekolah tapi bagaimana konsep pendidikan itu mampu menentukan arstektural dari sekolah, sehingga sekolah itu dibentuk sesuai dengan konsep pendidikan yang sudah dijalani. Karena dengan direalisasikan konsep pendidkan Merdeka Sekolah dengan ruang. Dengan sendirinya akan memberikan kemungkinan yang lebih baik lagi bagi peranan masyarakat dalam melihat pendidikan secara lebih dekat dan real.

Karena pendidikan dengan lembaga sekolah menjadi sebuah realitas konseptualitas dari bisnis dan berorientasi pada nilai ekonomis. Sehingga paham dari ideologi yang dianutnya adalah pragmatis dan materialistik. Bahwa pendidikan itu sebagai lembaga legitimasi yang menentukan pintar dan tidak seseorang. Karena sekolah berorientasi pada nilai terbaik. Seorang yang terbaik dapat dilihat dari nilai rapot dan ijasahnya. Begitu juga masyarakat yang ingin menjadi orang yang baik (baca Pintar) harus membayar mahal, karena kepintara ditentukan dengan kemampuan masyarakat di dalam membayar pendidikan secara lebih baik. Ini yang disebut dengan pragmatis dan materialis.

Pendidikan dari lembaga sekolah yang direpresentasi dengan arstitektural sekolah membuat pendidikan menjadi kehilangan makna dan tujuan yang sebenarnya. Karena kalau pendidikan sebagai lembaga sekolah yang dilihat dari arsitektural sekolah menjadi sebuah pola penyeragaman pendidikan bagi setiap orang. Bahwa pendidikan yang mahal dapat diliha dari arsitektural sekolah yang megah, bertingkat dan lengkap. Meskipun tidak sesuai dengan kebutuhan dari pendidikan, tapi karena kebutuhan impotement, sekolah menjadi bagian dari hiburan masyarakat yang memberikan citra dan gaya hidup dari masyarakat.

Tapi sebalikan sekolah dengan arsitektural apa adanya juga bukan berarti sekolah itu menjadi sekolah yang sesuai dengan konsep pendidikan. Kalau tanpa ada konsep pendidikan apa yang ingin dicapai. Bukan karena keterbatasan saja pendidikan itu harus berjalan dengan sedemikian adanya, dan orang lain yang memaklumi atau memahami sekolah dengan kondisi apa adanya. Ini juga tidak baik.

Jadi jelas bahwa pendidikan bukan sebuah paradigma bagus atau jelek, lengkap atau apa adanya, mahal atau murah. Tapi pendidikan harus dikembalikan pada cara pandang yang lebih proposional, yaitu konsep pendidikan apa yang ingin dicapai dan dituju sehingga memberikan kemungkinan yang terbaik bagi siswa maupun orang tua di dalam melihat realitas kehidupan sosial masyarakat yang begitu kompleksnya. Inilah yang perlu kembali dipikirkan sebagai sebuah realitas sosial yang harus digerakan menjadi sebuah perubahan dalam pendidikan masyarakat yang tidak terjebak pada kesenjangan sosial masyarakat. Dan pendidika menjadi sebuah ladang proyek yang memberikan kemungkin untuk penyalagunaaan.

Memang cita-cita harus dikembangkan pada kesadaran bersama untuk melihat pendidikan menjadi bagian dari kehidupan kita yang begitu dekat seperti api dengan panas, kita begitu dekat seperti es dengan dingin kita begitu dekat seperti jiwa dan raga. Janganlah pendidikan dilepas seperti kita melepas jiwa kita dalam kehidupan yang tragis. Karena Allah sangat melakna kita apabila kita melepaska jiwa kita sebelum Allah mengembalikan pada diri. Karena jiwa kita milik Allah.

Sekarang Merdeka Sekolah sudah bersemai dalam realitas, meskipun itu masih bagian dari cita-cita yang harus diperjuangkan dan kita harus memperjuangkan. Karena kehidupan ini memang harus berjuang, agar kita merasakan hidup karena hidup tidak berjuang sama arti kita mati sebelum waktunya.

Langkah-langkah apa yang bisa dilakukan untuk persemaian itu menjadi tumbuh seperti pohon besar yang akan dilihat orang untuk bisa berteduh denga nyaman dan orang itu merasakan makna dari hidup ini. Karena di pohon bisa itu angin kesejukan akan dapat dirasakan oleh setiap orang yang akan berteduh di pohon itu. Dan kita bersama-sama untuk berbicara tentang hidup ini di pohon besar. Sambil menikmati angin segar yang selalu memberikan banyak inspirasi untuk melakukan yang terbaik baik hidup dan kehidupan kita. (Aru)

5 thoughts on “Indahnya Cita-cita

  1. ANAK-ANAK BERLARI DI LANGIT

    Kehidupan ini memang penuh dengan warna-warni yang membuat orang ingin selalu merasa terlihat indah dan menarik. Begitu juga dalam kegiatannya orang ingin merasakan keberadaan dalam bentuk keberhasilan dan kesuksesan. Tapi itu semua harus dilakukan dengan kerja keras dan tidak bisa hanya mengandalkan orang saja. Meskipun setiap orang butuh orang lain, namun tidak semua orang mampu memberikan dan membantu pada setiap orang, karena setiap orang ingin dibantu dan menginginkan bantuan. Hanya Allah saja yang bisa diminta bantuan, karena Allah tidak memerlukan bantuan seperti layaknya orang yang selalu ingin dibantu dan dibantu. Sehingga membuat hidup ini terasa sesak dan sempit untuk bisa menghirup udara segar dan angin segar yang memberikan sesuatu pada setiap orang.

    Berbeda dengan dunia anak yang bisa berlari dalam kehidupan ini, tidak terikat dengan ruang dan waktu. Karena realitas hidup anak dan keindahan masa kecil yang membuat dirinya selalu berlari di langit untuk menembus masa dengan yang baik dan memberikan harapan. Kesulitan apapun yang terjadi pada anak-anak, anak akan tetap berlari di langit untuk memberikan inspirasi pada hidup menjadi lebih baik dan memberikan angin segar. Berlari di langit adalah dunia yang selalu membuka realitas kehidupan yang begitu sulit bagi setiap orang untuk berkata dan berbuat. Seolah-olah setiap orang dibekukan oleh realitas sehingga tidak berdaya untuk melakukan dan bergerak sedikitpun meskipun hanya bergeser. Jiwa raga sudah membeku dan kaku untuk bisa mengatasi persoalan, karena kita sudah menutup dinding kehidupan yang makin lama makin panjang dan dinding itu berubah menjadi tembok keangkuhan yang membuat seseorang menjadi rapuh.

    Anak-anak itu berlari kian kemari mengitari atmosfir kehiduipan untuk menyanyikan lagu yang indah, dan mewarnai kehidupan ini dengan keyakinan yang kuat. Karena alunan ayat Al Quran dan zikir yang dilafalkan dan ditanamkan menjadi jalan menuju semesta kehidupan yang membuat anak menjadi lebih mengerti apa yang menjadi kehidupan ini nantinya.

    Berlarinya anak bukan berlari orang tua yang penuh sesak dengan asap permasalahan, sehingga sudah tidak bisa lari karena sudah terengga-engga seperti dunia berputar begitu cepat sehingga membuat dirinya melayang dan kehilangan grafitasi. Pada hal langit biru itu masih jauh diatas sana, hanya bisa untuk dipandangi dan tidak bisa untuk dijangkau. Karena hidup ini memang sudah terlalu panjang untuk bisa menjangkaunya. Karena perjalan sudah jauh meninggalkan langit untuk menjelajahi dunia yang tidak pernah dimengerti dan hanya membuat orang menjadi was-was, seolah apa yang dipikirkan menjadi sebuah realitas yang mengancam dan membuat dirinya merespon kehidupan ini menjadi aneh bagi orang dan tidak bisa dipahami, karena memang kejiwaan sedang mengalami situasi yang tidak memungkinkan orang untuk melakukan apa yang menjadi sesuatu yang terbaik bagi kehidupan ini.

    Berlarinyanya anak-anak di langit biru itu memberikan gairah kehidupan yang tersendiri. Membuat anak begitu energi dan menggambarkan jiwa yang mampu untuk menangkap kehidupan itu menjadi lebih baik dan berwarna. Kekuatan jiwa raga anak memberikan spirit pada semesta kehidupan ini untuk berkata tentang tembang yang memberikan dinamikan kehidupan yang lebih baik.

    Langit biru itu membuat anak begitu dekat dengan keindahan jiwa dan fitrah yang memancarkan semangat untuk selalu berjuang, karena hidup ini memang untuk ibadah pada Allah. Jiwa dan fitrahnya itu selalu menerangi kehidupan anak untuk dalam naung yang indah dalam Islam.

  2. STUDY VISIT SEBUAH REALITAS KEHIDUPAN

    Hari dengan angin yang membawa kesegaran, seolah memberikan semangat bagi kehidupan anak-anak untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi dirinya dan orang lain. Itulah suasana yang muncul dalam persiapan yang dilakukan oleh anak-anak Merdeka Sekolah untuk mengadakan study visit kebeberapa tempat yang memungkinkan anak-anak untuk menangkap realitas kehidupan sosial masyarakat yang ada dan sedang mengalami perubahan dan perkembangan di dalam kehidupan ini.

    Salah satunya adalah kunjungan ke kantor Pos yang pada masa kini peranan kantor Pos sudah banyak diganti oleh sistem informasi yang lebih praktis dan cepat, yaitu dengan sms, email, facebook dan banyak lagi yang memungkinkan masyarakat untuk mengasesnya. Tapi buat anak-anak kantor Pos sebuah realitas yang memberikan nadi informasi dengan melalu hubungan manusia dengan manusia di mana pengawai Pos melayani dengan baik dan ramah, dan memberikan informasi yang ada di dalam kantor Pos, banyak ragama yang ada di kantor Pos selain sebagai pengirim surat, tapi juga tempat menabung, membacara listrik, telpon dan pengirim barang dengan cepat dan tepat. Anak-anak antusias mengikuti proses itu sebagai bagian yang coba dirasakan di dalam internalisasi dirinya untuk mampu memberikan perspektif pada dirinya dikemudian hari. Sehingga memberikan kemungkinan untuk bisa melakukan langkah-langkah yang tepat untuk menyampaikan apa yang menjadi pandangan dan pikirannya nanti. Sebuah angin yang memberikan daun untuk bisa mengabarkan pada kehidupan bahwa alam ini memang harus dipelihara dan menjadi bagian hidup. Karena lingkungan yang rusak menjadi bagian terputus dari kehidupan ini. Pos adalah kaitan dengan orang lain untuk bisa menghubungi dan sebagai media yang memberikan kemungkinan yang lebih baik sebagai sebuah inspirasi.

    Sedangakan Stasiun Kereta Tangeran dengan segala kesederhanaannya memberikan pada anak padangan dirinya dalam mengantri karcis, meskipun anak-anak hanya mengetahuinya. Tapi atmosfir dari stasiun itu dengan sendiri memberikan suasana yang lain bagi anak untuk bisa mengatakan bahwa diri ada di dalam suatu tempat dimana dia akan melihat sebuah perjalan orang dengan kereta api, dengan berbagai macam tujuan dan maksudnya. Seolah kehidupan itu mengabarkan pada anak-anak dalam alam sadar dan fantasinya mengalir dengan kejernihan hati ini. Memberikan kemungkinan anak untuk bisa melakukan sesuatu yang belum dilakukan oleh zamannyanya, minimal anak mendapatkan sesuatu yang tidak semua orang dapat merasakan, bahwa stasiun itu menjadi tanda yang memberikan kemungkinan yang lebih baik dan banyak kemungkinan untuk memberikan inspirasi dalam kehidupannya, sebagai sebuah pengalaman hidup. Bisa saja dalam bidang pereknonomian anak bisa menganalisa perekonomi dengan mempergunakan analogi rel yang bisa memberikan kemudahan bagaimana masyarakat untuk bisa mendapat lahan pekerjaan yang baik.

    Dari Stasiun Kereta Tangerang anak-anak dengan kendaran mobil pinjaman dan Pak Tanda Setiya yang selalu memberikan perhatian pada Merdeka Sekolah ini memudahkan anak-anak bisa melihat suasan pasar yang dilewati, begitu juga anak-anak yang memakai kendaraan angkot sewaan serasa fantasinya berlari dari sebuah semangat yang memberikan anak itu begitu ceria dan memberikan kebahagian yang semua orang tidak bisa merasakan. Karen pasar dengan segala permasalahan memberikan nuansa yang indah. Karena anak-anak sebelumnya mengadakan study visit kepasar tradisional yang begitu banyak interaksinya pada setiap orang dengan respon yang berbagai macam, seolah-olah anak-anak diberikan kemungkinan pada kehidupan yang begitu hidup, bukan kehidupan artifisal dan semu seperti yang terjadi di mini market dan supermarket serta mall yang semua tidak mengacu pada realitas kehidupan. Tapi itu adalah stimulasi kehidupan konsumerisme yang hanya merangsang hedonisme, pemujuaan pada kesenangan dan kepalsuaan hidup. Yang hanya membekukan hati dan jiwa manusia untuk bisa berempati dengan sesama.

    Dari Stasiun Kereta Tangeran dengan melewati pasar sebagai nuansa dari perjalan yang banyak mengingatkan semua orang untuk kembali kepada kehidupan yang sebenarnya, yaitu silaturahim. Perjalan mobil melaju melewati kantor pemerintahan yang selalu memberikan pandang pada setiap orang bahwa peranan pemerintah dalam kehidupan masyarakat menjadi lebih penting. Tapi yang ada hanya mekanisme kerja bukan bekerja untuk rakyat banyak. Perjalan dengan mobil diwarnai dengan panas yang menyegat, memberikan warna jiwa pada anak untuk mampu melihat dirinya dengan baik dan bisa menakar kemampuan anak dalam sebuah perjalanan. Sehingga tidak heran di dalam perjalan itu ada juga yang mengalami muntah, sebuah adaptasi yang memerlukan sebuah pengorbanan dan pengertian yang luas dari teman dan gurunya.

    Sesampai di Terminal Bis dengan bangun yang baru memberikan suasana yang lengang, seolah terminal yang dibangun dengan uang rakyat ini belum di maksimalisasikan secara lebih baik dan terarah. Hal ini bisa saja dilihat dari sudut pandang pemililhan tempat sehingga minat dari pengusaha bis untuk bis mengetem diterminal menjadi sebuah kebutuhan bukan sebagai sebuah keterpaksaaan yang hanya menekankan formalitasnya. Anak-anak berlarian di Terminal yang lenggang, seolah dunia kosong yang memberikan pandang luas untuk bisa diekspresikan, hanya saja dia tidak tahu untuk apa terminal yang lenggang ini dimanfaatkan, tapi itu adalah sebuah permulaan yang harus diartikulasikan di dalam dirinya menjadi sebuah pengalaman yang berjalan dalam tiupan angin yang selalu memberikan kesegaran pada anak-anak.

    Kegiatan diterminal menjadi tanda sebuah letak dari sebuah suku bangsa, karena anak-anak diperkenalkan dengan tujuan dari bis yang akan berangkat, dan kebetulan bis itu semuanya tujuan luar kota, baik pulau Jawa maupun Sumatra. Secara tidak langsung anak-anak mengidentifikasi dirinya asal keturunnya. Membuat anak menjadi lebih senang dan riang menyambut asal usulnya. Semua ditemukan dalam ruang yang tidak pernah dipikirkan, begitu juga oleh orang lain. Memang hidup ini tidak perlu dipikirkan tapi hendaklah kita selalu berpikir dan merenung apa yang dapat kita kerjakan dalam kehidupan ini. Semangat dan kecerian dalam study visit ini membawa pulang dalam meninggalkan Terminal yang lenggang karena belum menjadi kebutuhan pada armada bis untuk singgah disitu. Apakah demikian, hanya angin saja yang tahu, karena anginlah yang memberikan banyak informasi dalam gelombangnya magnetik. Jadi dua mobil yang mengangkut anak-anak melesat dengan angin yang memberikan kesejukan pada anak-anak di terik mata hari yang mengangga. Tanpa terasa dua mobil sudah berada di Merdeka Sekolah, untuk bertanya lagi apa ini sekolah, bukan. Tapi ini adalah dunia pendidikan yang tidak semua orang tahu tentang pendidikan. Karena orang tahu sekolah bukan pendidikan. Sehingga mimikirkan sekolah menjadi sebuah keresahan tersendiri bagi orang tua, guru, pengurus yayasan di dalam mewujudkan bentuk dari sekolah. Keresahan ini bertiup pada angin yang panas. Pada hal angin kesejukan selalu menanti kesungguhan sebuah orang untuk mencintai pendidikan dan memperjuangkan,karena dengan itulah angin akan memberikan angin kesegaran tentang sekolah yang dirindukan.

  3. ANGIN ITU TIDAK PERNAH MENGELUH

    Kehidupan ini mangkin hari mangkin tidak bisa dimengerti oleh manusia, karena manusia sendiri tidak mengerti apa yang dilakukan ini memang sebagai sebuah pekerjaan atau sebuah penjelajahan hidup untuk menemukan makna dan keiman yang mengkaitkan manusia dengan Allah dalam realitasnya. Ibadah memang sudah menjadi rutin atau memang bagian dari budaya sehingga kita tidak bisa lagi memaknai sebagai sebuah kehidupan yang memang menjadi sebuah dialogi manusia pada Allah dalam Al Quran dan Hadits, sehingga membukan pemahaman dan pemikiran kita, bahwa jiwa dan rasa itu membangun realitas dari sebuah warna fitrah manusia untuk selalu melakukan yang terbaik bagi kehidupan ini.

    Resah dan gelisah dalam memikirkan sekolah bukan sebuah hal yang penting kalau kita tidak pernah berpikir untuk memperjuangkan dan secara konsisten untuk selalu melakukan dengan segala upaya diri kita yang terbaik. Karena hidupan memang demikian, perjuangan harus dirangkai dalam realitas kehidupan yang kita jalankan, perjuangan bukan sebuah cita-cita dan keyakinan yang semua. Perjuang adalah realitas yang kita hadapi dalam kehidupan ini bahwa memang ini harus dilakukan dijalan sesuai dengan apa yang bisa kita lakukan. Hidup memang bukan sebuah pekerjaan karena hidup bukan untuk mencari uang tapi uang itu sendiri yang mendekati kita kalau kita memperjuangan kehidupan ini. Karena uang selalu tertari dengan sebuah perjuangan yang mulia dalam kehidupan ini. Sehingga tidak heran kalalu banyak orang yang berjuang dengan gigih dikatakan menjadi orang yang berhasil karena kaya. Bukan keberhasilan seseorang dalam kehidupan ini menjadi kaya bukan karena uang tapi karena perjuangan yang tulus hati dan tanpa henti-hentinya. Dengan segala macam rintang dan hadang dari luar maupun dari diri kita.

    Sekolah memang belum ada tapi pendidikan sudah berjalan seolah sudah begitu lama karena interaksi sekolah dengan anak-anak melupakan sekolah itu sebagai tempat pendidikan karena memang yang terjadi dalam proses belajar adalah masalah pendidikan bukan masalah sekolah. Tapi hal itu menyadarkan semua orang bahwa pendidikan itu seolah-olah tidak ada artinya kalau tidak ada sekolah. Seolah sekolah begitu menjadi kunci dari proses belajar bagi semua orang. Dan kenyataannya demikian, namun disisi lain dalam mewujudkan sekolah seolah kita bergesekan pada orang lain yang seolah-olah tidak setuju. Karena mungkin keputusan itu membuat orang menjadi terlepas dari pandangan dirinya, sehingga membuat kita merasa lenggang.

    Angin itu memang tidak bisa dibatasi, tapi manusialah yang membatasi angin dengan sekat dan ruang yang tumbuh begitu cepat dan secara simultan membuat angin itu bergerak keatas untuk memberikan kemungkinan pada kehidupannya. Realitas sosial menjadi panas, dan banyak orang mengantikan angin dengan ac yang kembali menimbukan efek rumah kaca dalam kehidupan ini.

    Angin sudah tidak adalah di dalam ruang rumah kita, sebagai manusia, membuat hidup ini menjadi pengap dan gerah, Sehingga terartikulasi dalam kehidupan sosial mausia dalam hubungannya. Kehidupan menjadi pegap dan gerah. Membuat manusia dalam kehidupan sosial menjadi begitu mudah geram dengan orang lain tanpa kejelasan. Seolah sesuatu yang bermasalahan orang lain menjadi penyebabnya terjadi masalah ini. Pada hal ini sebuah pendidikan yang tidak semua orang memahami. Karena pendidikan sudah dipahami secara sempit dengan sekolah. Sehingga kalau belum ada kejelasan tentang tempat dan sekolah yang pasti pendidikan itu tidak berjalan. Bisa jadi kalau hal itu dipahami dan diyakini, karena kita sendiri yang akan tidak berjalan. Bukan karena pendidikannya yang tidak berjalan. Seperti angin yang tidak akan masuk kerumah kita karena sudah ada sekat dan dinding tembok yang membatasi kita dengan angin. Jadi bukan angin segar yang tidak ada tapi kita sendiri sudah meniadakan angin itu. Dan diganti dengan AC, angin arifial dan semu. Karena angin tidak perna mengeluh karena alam ini bukan untuk manusia saja tapi ada mahluk lain yang Allah ciptakan dengan begitu indah dan selalu merindukan kita pada kehidupan yang sebenarnya. Bahwa apa yang diberikan Allah itu membuat manusia untuk selalu bisa membuka tabir kehidupan yang sebenar-benarnya.

    Berbicaralah sekolah dengan angin akan membuat kita menjadi lebih luas melihat sekolah dalam sebuah pendidikan. Sekolah bukan bentuk dalam benak pikiran kita dan pikiran orang lain. Memang itu menjadi sebuah realitas yang tidak bisa dipungkirkan dalam kehidupan ini. Tapi apakah lantas sekolah itu memang harus berwujud gedung pada umumnya. Lantas bagaimana Allah membuat sekolah bagi kita dalam hidup ini. Apakah kita tahu sekolah apa yang ada dalam kehidupan ini. jadi apa lagi yang harus diresahkan kalau sekolah itu tidak berbentuk gedung pada umumnya.

    Bagaimana AC yang selalu memberikan kesejukan dalam ruang. Seolah itu angin yang sebenarnya, kita sudah lupa bahwa angin itu bukan AC. Dan AC itu bukan angin. Jadi kalau kita inign kesejukan selalu kita akan berpikir tentang AC bukan angin. Inilah sebuah realitas yang terjadi didalam kehidupan ini kesejukan mengarahkan kita pada AC. Jadi kalau tidak ada AC bukan kesejukan, meskipun ada angin kesegaran yang selalu memberikan kabar gembiran pada manusia akan datangnya hujan untuk menumbuhkan kehidupan alam ini, mulai dari tanah, tumbuhan, hewan dan manusia. Jadi angin tidak pernah mengeluh dia selalu menyanyikan alam ini dengan kesejukan dedaunan yang menimbulkan suara yang indah. Begitu juga angin memberikan telinga kita menjadi paham tentang kehidupan ini.

    Banyak orang membutuhan pendidikan untuk sekolah, apakah sekolah untuk pendidikan. Keresahan itu muncul di mana tempat dan sekolah itu. Tapi tidak pernah resah dimana pendidikan itu sekarang ini. Pendidikan menjadi angin yang tidak pernah mengeluh. Biarkan orang itu mengeluh karena tidak ada AC, biarkan orang mengeluh karena tidak ada sekolah. Tapi angin segar selalu ada dan tidak pernah mengeluh, pendidikan segar selalu ada dan tidak pernah mengeluh. Karena angin punya alam, karena pendidikan punya alam. Alam yang diciptakan Allah untuk manusia, tapi kenapa manusia membatasi alam karena pikiran manusia yang terbatas ini. Hal itu perlu kembali dipikirkan dalam diri kita bahwa sekolah itu memang penting tapi jangan melupakan pendidikan. Karena dengan berpikir pendidikan makan sekolah akan ada. Tapi kalau kita berpikir tentang sekolah belum tentu pendidikan ada, yang ada adalah uang. Angin bukan sebuah mimpi tapi sebuah realitas kehidupan yang tidak akan terhapuskan oleh apapun juga, dan tidak akan pernah tergantikan dengan apapun juga. Karena itu Allah yang punya, begitu juga pendidikan dengan sekolah itu juga ketentuan dari Allah.

  4. BURUNG HIDUP DI SEMESTA LANGIT BIRU

    Burung terbang mengitari langit itu membuka persemaian kehidupan ini. Terbang kian kemari menyambut hari demi hari untuk melihat kehidupan ini. Terbang menukik seperti semangat kehidupan yang mengujam realitas hidupnya untuk menemukan arti dari semangat hidup ini. Begitu juga burung terbang dengan formasi yang indah itu untuk menebus angin segar dan mengambarkan bahwa hidup ada di sana. Burung terbang dengan format yang indah itu juga mengabarkan bahwa kebebasan itu bukan untuk setiap orang tapi untuk berjamaah. Karena kekuatan terbang dengan formasi beragam membuat angin terpaku dan memberikan sapaan dan pujian pada burung dengan indahnya.

    Kemerdekaan dan kebebasan menjadi anologi dari Burung yang mempunyai sayap, untuk terbang dan mengabarkan kemerdekaan dan kebebasan hidup ini selalu menjadi asasi kehidupan. Burung terbang dari pohon satu ke pohon berikutnya mengambarkan hidup ini memang harus dijalani dalam realitas yang harus dengan keharmonisan dengan alam sekitar, meskipun burung terbang bebas di semesta langit biru. Tapi burung tetap memahami realitas alam dengan hutang, sawah dan ladang, sungai dan lautan. Sebuah gradasi kehidupan yang memberikan warna kehidupan pada arti dari kebesaran Allah.

    Pendidikan burung dengan lepas pesat dan bebas menyuarakan kemerdekaannya untuk bisa itu dalam arti yang sebenarnya. Semangat hidup dalam pendidikan membuat burung itu menjadi keseimbangan dari alam semesta ini. Burung adalah teman manusia yang menyatukan manusia satu dengan manusia lainnya dalam wilayah yang berbeda. Begitu juga burung memberikan inspirasi pada manusia untuk membuat prototif dari burung dalam bentuk pesawat terbang, yang membawa manusia pada cakrawala kehidupan yang lebih luas sehingga menyadari bahwa Allah menciptakan alam semesta ini begitu luas dan manusia harus kembali pada Allah untuk mempelajari firman dalam Al Quran dan Hadits, bahwa keluasan alam adalah keluasan makna dan nilai kehidupan yang diberikan Allah pada manusia untuk menjadi manusia Merdeka. Merdeka dari ikatan dunia untuk selalu dekat pada Allah. Dunia menjadi sarana untuk mendekatka diri pada Allah. Kekuasan manusia pada dunia hakekatnya untuk memerdekan kehidupannya sehingga Allah selalu memberikan karunianya. Warna kehidupan yang begitu indah membuat manusia mempunyai keluasan arti kemerdekaan bagi kehidupan ini, sehingga hubungan dengan Allah menjadi barometer dari kehidupannya. Kemerdekaan yang diberikan Allah pada manusia membuat manusia lebih menyadari arti dan tujuan hidup yang sebenarnya. Untuk bisa menemukan hakekat dari kehidupan abadi yang telah dijanjikan Allah pada manusia. Membuat manusia tidak mempunyai ikat yang hakekat pada kehidupan ini, sehingga apa-apa yang dilakukan di dalam masyarakat bukan sebuah pengorbanan dalam hidup ini, tapi sebuah perjalan dan proses untuk menemukan makna dan nilai kehidupan yang hakiki. Beribadah, berzakat, infaq dan sadakah untuk berbagi antara sesama manusia bukan sebuah perngorbanan harta dan hilangnya harta, atau kedermawan seseorang, tapi itu semua adalah proses kehidupan yang mau tidak mau harus dijalani dengan ikhlas karena Allah, untuk bisa menemukan hakekat kehidupan yang abadi.

    Kemerdekaan dan Merdeka sekolah adalah sebuah burung yang terbang diangkasa untuk menyabut alam semesta dengan segala keharmonisannya, dan menyambut waktu dengan terbitnya matahari yang selalu ditunggu manusia, sebagai semangat untuk menjalan kehidupan hari ini. Begitu juga ketika terbenamnya matahari selalu ditunggu-tunggu oleh manusia untuk melihat keindahan jingga senja hari. Begitu juga ketika malam menyelimuti bumi ini keindahan bintang-bintang dan rembulan menundukan hati dan jiwa ini untuk mengahadi kehadirat Allah, sebuah keriduan dalam Sholat Malam untuk menembut kehidupan ini pada keabadian akherat.

    Kemerdakan dan Merdeka Sekolah bukan sebuah perjuangan untuk menghadapi segala macam masalah dan rintangan hidup ini. Bukan juga sebuah perjuangan dalam pendidikan dalam arti yang sebenarnya. Karena kemerdekaan dari Merdeka Sekolah ini, adalah sebuah penemuan untuk melihat kehidupan dengan sebuah proses yang memang harus di jalani untuk bisa menemukan kehidupan yang abadi. Sehingga tak ada kelus kesah dan kuatir terhadap apa yang akan dialam oleh sebuah kemberdekaan dari Merdekan Sekolah, semua adalah perjalan dengan kesungguhan untuk menemukan hakekat dari kehidupan ini. Dan menemukan kebesaran dan keindahan hidup yang diberikan Allah pada manusia. Hidup dengan sungguh-sungguh adalah sebuah perjuangan, tapi perjuangan bukan sebuah pergorbanan, tapi memang sebuah proses kehidupan yang tidak ada pengorbanan, tapi memang harus dijalankan.

    Perjuangan arti dari sebuah proses kehidupan yang dijalani. Bukan seseorang yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan ini yang disebut berjuanga dan dinamakan dengan pahlawan. Bukan perjuangan dan kehidupan bukan sebuah peranan penting dalam kehidupan sosial. Begitu juga dengan pengorbanan, tidak ada pengorbanan yang adalah menjalani hidup sesuai dengan ketentuan Allah dan akan diberikan Allah apa yang menjadi hak dari Allah. Pengorban seolah-olah ada seseorang yang telah banyak mengorbankan. Pada hal itu sebuah tanggung jawab dari kehidupan manusia.

    Lihat burung terbang dengan bebas Merdeka. Tapi kalau burung sudah di dalam kadang burung sudah tidak mempunyai kekuatan untuk terbang menembus angin dan awan untuk mengabarkan arti kebebasan hidup ini. Karena burung di dalam sakangkar emas itu tidak lagi terbiasa terbang, tapi hanya melompat sebagai tanda kesedihan mendalam. Suaran yang merdu dan indah dari burung bukanlah suaran yang indah dan merdu bagi burung, tapi suara kesediahan yang sudah mencapai puncaknya sehingga tidak ada lagi kesedihan dan kebebasan di dalam kehidupan burung itu. Burung sudah kehilang fitrah sebagai burung yang berbang, burung sudah kehilangan kebebasannya karena kemerdekaannya sudah tidak ada. Burung kehilangan rasa sedihnya karena sudah menjadi kicauannya yang menyayat hati. Tapi menjadi hiburan bagi manusia.

    Ini sangat jelas dan tegas dari kehidupan burung yang terbang lepas, bebas dan merdeka ini. Sudah tidak ada lagi. Karena hidupanya di dalam sangkar, hakekat tentang terbang tak ada lagi, hakekat tentang kicauan tak ada lagi. Begitu juga manusia yang mempunyai kebebasan dan kemerdekaan dalam kehidupan ini menjadi kehilangan makna dan berubah menjadi sebuah mekanisme yang formal, baku dan beku. Sehingga membuat kehidupan manusia dalam realitas sosial bagaikan mekanis mesin. Kehidupan manusia sudah tidak lagi dengan nilai yang suci sesuai dengan fitrahnya. Tapi kehidupan manusia dialanogikan dengan kehidupan mesin dan teknologi. Otak manusia selalu disamakan dengan komputer bukan dengan kearifan hidup. Kerja manusia disamakan dengan mesin produksi, tapi bukan sebagai artikulasi amal ibadah pada Allah. Berinfaq, sadakah, zakat dan ibadah disama dengan sebuah transaksi ekonomi yang bersifat material, tapi bukan sebuah artikulasi kehidupan yang sublim, yang mempunyai nilai ibadah pada Allah. Inilah kehidupan yang dikurung dalam sangkar yang namanya Sekolah. Sehingga manusia sudah kehilangan habitatnya lagi tentang apa yang namanya sillaturahi sebuah ungkapan cinta dan kasih sayang antara sesama. Pertemuan yang terjadi bukan di dasarkan pada sillaturahi, tapi pada kepentingan mekanisme untuk membahas sesuatu yang berkaitan dengan materi dan sistem.

    Sekolah menjadi sebuah sangkar emas yang harus dipersiapkan bagi anak-anak manusia untuk mengarungi kehidupan yang begitu luas. Pada hal burung untuk bisa mengarungi kehidupan yang luas tidak dalam sangkar dalam dalam Semesta Langit Biru sebagai kearifan hidup dengan alam ini. Sekolah menjadi sangkar emas yang harus dipersiapkan bagi anak-anak manusia untuk Merdaka berpikir dan mengartikulasikan jiwa dan perasaannya, tapi yang terjadi adalah Sekolah sangkar emas mereduksi kemerdekaan berpikir dan mengartikulasikan jiwa dan perasaannya menjadi formal, mekanisme, beku, keras hati dan brutal. Karena sekolah sebagai sangkar emas bukan habitat dari manusia. Habitat manusia adalah kemerdekaan semesta langit biru yang menyatu dengan irama alam semesta ini. Realitas sosial kehidupan manusia menjadi tujuan dari hakekat keabadiannya.

    Tapi yang terjadi adalah keresahan manusia merasa kehilangan dan tidak mempunyai Sekolah sangkar emas itu. Karena tidak mempunyai Sekolah Sangkar Emas ini Merdeka Sekolah merasa kehilangang, resah gelisah dan entah apa lagi. Karena Sangkar yang diinginkan seperti apa yang ada dalam sangkar-sangkar yang lain. Sangkar menjadi kadang bagi anak-anak manusia untuk belajar tentang sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan, tapi sesuatu yang dia paksakan. Sehingga habitat manusia berubah menjadi orang yang suka memaksa kehendaknya pada orang lain.

    Apakah sekolah sudah menjadi sangkar dan kadang yang membatasi cara berpikir, merenung, menjelami dengan jiwa dan menikmati dengan rasa sehingga empati tumbuh subur dalam kehidupan masyarakatnya.

    Sekolah bukan lagi pendidikan yang berorientasi pada Semesta Lagi Biru untuk bisa melihat alam semesta yang lebih luas, untuk menebar cakrawala berpikir dengan arif dan bijaksana. Menjelajahi jiwa dalam relung kehidupan untuk mengabai nikmat dan makna dari kehidupan yang diberikan Allah pada manusia dan alam semersta ini. Membuat rasa begitu luas untuk menjangkau nikmat dari Allah, sehingga empati memberikan keharmonisan hidup dalam realitas sosial masyarakat. Kemajuan peradaban manusia menjadi sebuah kearifan yang membukan hakekat dari kehidupan abadi yang menjadi tujuan utama manusia. Di mana Allah akan memberikan kehidupan yang terbaik bagi manusia yang baik, dan memberikan kehidupan yang kelam bagi manusia yang kelam.

    Merdeka Sekolah apakah sedang mencari sangkar, kadang emas untuk anak-anak manusia seperti apa yang sekarang terjadi dalam sekolah yang menjadi sangkar dan kadang emas. Membuat anak manusia terlihat beku, bisu, tuli, buta dan mati sebelum waktunya. Karena manusia menjadi benda dan bergerak dalam mekanisme industri yang mana cara berpikir dan merasa menjadi instrumental dari sistem produksi, bukan kehidupan. Realitas masyarakat menjadi zombi yang berkeliaran dalam kehidupa ini.

  5. MANUSIA ITU BUKAN SERPIHAN

    Tanpa terasa Merdeka Sekolah sudah membuka kelas baru untuk para siswa baru. Orang tua yang memasuki anak-anak bukan karena sekolahannya, tapi visi dan misi sekolah. Yaitu tumbuh bersama Al Quran, dan itu yang tertulis dalam formulir pendaftaran, diperkuat lagi dengan pernyataannya ketika ada acara dialog dengan orang tua secara satu persatu, untuk menyamakan pandangan orang tua tentang pendidikan anaknya di Merdeka Sekolah, begitu juga dengan dari pihak Merdeka Sekolah menjelaskan keberadaan sekolah ini, tapi harus menutupi apa yang menjadi masalah setiap orang dan masyarakat mengenai status, tempat dan gedung, seperti juga dipikirkan oleh para pemerintah, masyarakat dan yayasan, sebuah pertanyaan yang dan semua pertanyaan yang tidak memberikan perspektif yang inspiratif. Karena selalu mengacu pada bentuk dan benda yang menjadi ukuran adanya sekolah. Tapi bukan sebuah pertemuan dan proses belajar bersama antara siswa, guru dan masyarakat sekitarnya yang terintergrasi dalam satu tujuan belajar untuk bersama. Sebuah artikulasi kehidupan yang selalu ingin dikemas menjadi sesuatu yang formal tapi tidak mempunyai muatan yang formal, kalau bukan dibilang main-main. Tapi itulah kenyataan dalam pendidikan kita sekarang yang tidak bisa dilihat dalam sisi yang berbeda. Karena pendidikan kita sangat monolit yang dikatakan sekolah.

    Sisi lain dari pendidikan yang dibawa oleh Merdeka Sekolah adalah Madrasah yang tidak pernah dipertanyakan pada orang tua murid, seolah Madrasah adalah pendidikan yang memang sudah begitu saja hidup dengan kemampuan yang fashionabel. Seperti memberi sisi kehidupan sosial yang lebih baik dalam melihat pendidikan sebagai sebuah proses kehidupan yang lebih baik dan membuat nilai-nilai spiritualitas menjadi lebih berarti dan bermakna bagi dirinya. Seolah Madrasah tidak dilihat sebelah mata oleh masyarkat, minimal orang tua siswa yang masuk ke Merdeka menjadi sebuah indikator bahwa pendidikan Madrasah bukan masalah lagi, dalam lingkup kecil. Meskipun masih ada pertanyaan materi pembelajaran berapa persen, antara pelajaran agama dan umum. Buat Merdeka Sekolah materi pelajaran yang diberikan semuanya seratus persen baik agama dan umum. Karena ketika belajar agama berarti belajar umum, ketika belajar umum berarti belajar agama. Tidak ada lagi pemisahan dan pemilihan dari sebuah materi pembelajaran. Karena hidup manusia juga merupakan satu kesatuan, dan Allah menciptakan manusia alam keutuhan. Manusia bukan sebuah serpihan.

    Pertanyaan itu memang suatu realitas yang ada di masyarakat, bahwa pendidikan agama dipisahkan dengan pendidikan umum dan kehidupan. Karena pola pendidikan yang dianut itu adalah pendidikan Barat yang memisahkan agama dan kehidupan dari pendidikan. Sekolah dipisahkan pada kehidupan masyarakat, agama dipisahan dari pendidikan sekolah, masalah sosial dipisahkan pada masyarakat, bahwa ada anak yang tidak mampu itu bukan lagi urusan sekolah, tapi urusan dia sendiri, kenapa mau menjadi orang miskin, begitu kalau cara pandangan yang dangkal dan pragmatis.

    Karena pola berpikir yang sudah menjadi serpihan maka banyak pendidikan itu bukan lagi mempunyai kepedulian pada masalah sosial dan masyarakat miskin. Karena kalau sekolah menerima orang yang tidak mampu dianggap sekolah itu tidak keren dan menurunkan gensinya. Hal itu yang dikatakan orang yang punya pengetahuan agamanya lebih dalam dari seorang guru yang mempunyai cita-cita ingin hidup merdeka.

    Sebaliknya ada orang yang begitu tergiur pada bisnis yang sangat menguntungkan dari segi material. Karena dengan berbisnis itu dia akan mendapat keuntungan yang lebih besar dan itu sangaat mengiurkan. Pada Allah berkali-kali sudah menjelaskan bahwa kalau mau berbisnis yang menguntungkan dan mendapatkan isi dunia ini adalah berdagang sama Allah yang salah satu mendirikan pendidikan berbagi bagi semua orang, itu sebuah bisnis yang sangaaat mengiurkan. Kenapa tidak bergegas untuk mengusahaan. Karena manusia sudah kehilangkan sebagian dirinya untuk bisa berbisnis dengan Allah. Yang memberikan banyaaaak sekali kemungkinan dalam hidup ini. Tapi memang tidak semua orang mengerti apa itu bisnis yang sebenarnya. Karena yang namanya bisnis itu uang, uang, uang, uang dan uang.

    Pada hal dalam kehidupan ini tidak memerlukan uang, uang dan uang. Alam banyak memberikan kesempatan pada manusia untuk menikmati kehidupan ini dengan baik dan lebih baik. Tapi kalau bergaul denga manusia kita memerlu uang, uang, uang dan uang yang membuat kita menjadi pusing. Begitu juga ketika kita mendirikan sekolah sama orang maka uang jadi faktor utama. Membuat manusia menjadi gelap mata, karena uang.

    Pada hal uang itu biarkan hanyut begitu saja pada kehidupan manusia untuk melihat kepalsuaan. Tapi begitulah uang membuat orang ingin menjadi uang dan kaya bukan menjadi manusia dan manusia utuh. Membuat alam itu menjadi lebih mengerti dan memahami tentang kehidupan yang membuat hati dan jiwa ini menjadi merdeka. Begitulah Merdeka Sekolah tetap merdeka, tapi memang tidak akan merdekan kalau dihadapkan manusia yang sudah menjadi uang, yang uang itu membuat diri lari dalam kenyataan hidup ini, bahwa alam itu indah, seindah hati manusia yang mempunyai hati nurani. Karena uangnya itu untuk berbisnis dengan Allah bukan dengan manusia, karena manusia tidak bisa dipercaya kalau sudah menjadi uang dan materi. Karena kehidupannya dikeliling oleh materi, bukan oleh kehidupan dan alam yang selalu menyabut kehidupan kita baik suka mau duka tanpa berkeluh kesah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s