Mataku


MATAKU DI LANGIT

Sebuah ungkapan bukanlah sebuah komunikasi, bukan sebuah pembicaraan, bukan sebuah kata atau kalimat, bukan sebuah dialog dalam sebuah pertunjukan teater, bukan sebuah ekspresi di dalam karya lukisan, bukan sebuah tangisan orang dewasa karena kehilangan harta, tahta dan kehormatan, bukan sebuah nyanyian seperti penyanyi yang ingin dipuji dan terkenal, bukan sebuah permintaan yang selalu ingin mengiba pada orang lain dan menjilat orang kaya dan berkuasa tapi menindas rakyat kecil yang tidak berdaya dan menderita sekali, bukan sebuah bisikan yang memberikan angin surga untuk mendapat uang dan komisi seperti para makelar kasus atau makelar macamnya, bukan sebuah teriakan seperti teriakkan kaum demonstran menyampaikan aspirasinya, sehingga membuat bingung para pengusaha dan penguasa, bukan membuat kalimat dan kata menjadi indah seperti dalam puisi atau sastra yang membuat orang menjadi mimpin yang berkepanjangan, bukan sebuah keluh kesah yang selalu dirasakan oleh rakyat kecil yang tidak tahu kemana dia harus mengadu dan memperjuangkan kehidupnnya, bukan sebuah angin yang selalu memberikan kesejukan pada tubuh manusia hingga menyelusuri relung kehidupan, bukan sebuah panas yang memberikan kesadaran tentang adanya keresahan yang tak pernah terjawab dalam kalimat dan kata, bukan sebuah air yang mengalir dari bawah keatas karena itu bukan dari sifat air, bukan karena letupan gunung yang menyemburkan abu membuat kehidupan orang eropa terganggu, bukan karena cerita uang yang bisa membuat orang senang dan bahagia, bukan sebuah kemarahan yang membuat manusia kehilangan kendali, sehingga terjadinya metamorfosi menjadi bintang dan melebih binatang, bukan kelemah lembutan kata dan kalimat yang hanya bisa menikam orang lain dari belakang maupun dari sampingnya, bukan kelembutan hati yang selalu memberikan kita menjadi lebih berharga dari pada apa yang dipandang orang lain, bukan sebuah realitas yang harus disadari karena hal itu memang tidak perlu disadari sebagai sebuah realitas yang tidak pernah kita tahu, bukan kebisingan kota yang membuat orang untuk berpikir ulang tinggal ditengah kota, bukan hiruk pikuk kehidupan yang membuat orang menjadi lebih hidup dan menarik, bukan kekuasaan yang ingin selalu dikejar melalu pemilihan umum, bukan sebuah kesenangan yang bisa disampaikan dalam dunia kita itu bisa berkata tentang apa yang menjadi kata dan kalimat kita yang juga tidak pernah dipahami oleh orang lain dan mungkin diri kita sendir, bukan sebuah lukisan yang dapat menceritakan apa yang menjadi isi hati dari gagasan dari sebuah kenyataan yang ingin ditangkapnya, bukan sebuah bisnis yang dikelolah dengan profesionalisme dan kata dan kalimat, namun tidak pernah jelas dalam kehidupan yang sebenarnya, bukan sebuah pengusaha yang setiap saat mengejar laba dan menjadi gila karena kebangkrutannya di dalam usaha, sampai masuk rumah sakit gila dan memang sudah menjadi gila, yaitu gila harta, bukan sebuah sekolah yang hanya mengajarkan untuk bisa menjadi pertanyaan yang diberikan oleh guru, pada hal gurunya sendiri tidak tahu apa yang dia tanyakan dan kenapa harus ada pertanyaan, sehingga guru membuat pertanyaan yang dia sendiri tidak pernah mempertanyakan apa yang ditanyakan, sehingga guru kehilangan pertanyaan untuk bertanya, sehingga pertanyaan yang dibuat menjadi sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan pertanyaan lagi oleh siswanya, karena anak-anak sudah dikuasai oleh pertanyaan dan untuk selalu menjawab pertanyaan, kalau dia tidak bisa menjawab pertanyaan dia harus ikut bimbel untuk bisa menjawab pertanyaan yang tidak dia mengertia apa pertanyaan itu dan untuk apa dipertanyaan sehingga pertanyaan itu muncul untuk dipertanyakan, pada hal masih banyak lagi pertanyaan yang harus dipertanyaakan untuk tidak dijawab sebagai sebuah jawaban bagi pertanyaan itu, karena bisa saja pertanyaan itu sebenarnya jawaban yang sedang dipertanyakan, bukan sebuah pendidikan yang membuat orang menjadi pintar dan cerdas, karena pendidikan adalah sebuah proses dari kehidupan manusia di dalam menjalani hidup yang menjadi fitrahnya. Sehingga pendidikan tidak perlu lagi untuk didik, karena pendidikan itu sudah menjadi pendidikan yang membuat menjadi orang yang berpendidikan. Kenapa pendidikan menjadi realitas yang membuat orang menjadi pusing dan bingung dengan pendidikan yang menurutnya pendidikan menjadi sebuah komodite pendidikan bukan menjadi pendidikan yang sebenarnya, tapi pendidikan yang menghancurkan anak-anak dengan cara pendidikan. Pada hal pendidikan itu sebuah ritme yang selalu memberikan alunan pada kehidupan manusia untuk bisa menemukan makna dari kehidupan dan pendidikan itu, bukan sebuah sistem yang menjadikan manusia itu menjadi lebih baik dan maju tapi kenyataan itu yang membuat manusia menjadi bagian dari sistem yang tidak pernah tahu sistem itu untuk apa, dan bagaimana seharusnya sistem itu diberlakukan. Mataku dilangit sebuah hempasan yang melepaskan kehidupan dari sebuah kejenuhan dan keraguan yang banyaknya keinginan dan kemauan tapi melihat realiltas yang sudah diberikan Allah untuk bisa melakukan sebuah sebuah tahapan yang harus dijalani, sehingga akan memberikan makna dan pemahaman yang lebih jauh tentang apa yang harus kita lakukan dan kerjakan sebuah dari upaya dan pemahaman manusia dari kehidupannya, sehingga memberikan kesadaran baru dalam melihat kehidupan dan persoalan itu menjadi lebih menarik dan menguat untuk bisa diterima sebagai bagian yang harus dipahami dengan mudah dan apa adanya. Membuat kekurangan dan kelemahan manusia menjadi muncul sebagai sebuah pontensi yang harus diberikan penghargaan dan itulah yang diberikan Allah pada manusia seperti apa yang dikatakan dalam Al Qur’an, bahwa di dalam kesusahan itu ada kesenangan dan itu selalu diperlihatkan Allah dalam sebuah kehidupan sosial masyarakat kita pada saat ini. Hal ini yang terjadi pada rakyat kecil yang menyangkut hukum dengan diperdaya oleh markus, makelar kasus yang membuat kehidupannya terdampar di dalam kadang kambing selama hampir sembilan bulan, tapi Allah mempunyai kekuasaan dengan peranta orang lain, akhir yang rakyat kecil itu kembali dipulihkan kehidupan dan menjadi lebih baik. Tinggal bagaimana menatanya. Biru langit juga sebuah sapuan dari kehidupan yang selalu mengingatkan manusia pada kehidupan yang menjadi tujuan dan visi untuk selalu bisa membersikah hati dan jiwa sehingga mata hati menjadi sebuah realitas yang dapat memberikan kesejukan dan kesenangan yang lebih baik untuk bisa berkata dalam sebuah langkah yang makin hari makin memberikan makna dan kekuatan iman yang selalu ditata dalam nilai dan ritme yang baik. Karena hati menjadi sekolah dan pendidikan utama bagi terbangunnya rasa keyakinan pada kebesaran Allah yang kemudian menjadi sebuah representasi dari keimanan yang selalu memberikan kontrol pada diri manusia untuk selalu berkata apa yang menjadi tuntunan dalam Al Qur’an dan Hadits untuk bisa mewarni dengan segala macam bentuknya, sehingga memberikan kehidupan ini menjadi lebih berwarna, warna keimanan, sholehan, kekuatan, keistiqomaan, ketekunan, kesabaran, kepedulian, keberanian untuk mengatakan yang benar adalah benar. Matiku dilangit menjadi lebih luas melihat kehidupan ini, karena bisa memetakan kehidupan yang bagaimana yang harus kita jalannya. Karena mata kita bukan lagi mata kuda yang membuat kita menjadi orang yang jemut karena tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam lingkungan kehidupan kita pada saat ini, membuat kita menjadi paling besar dan sombong karena kita merasakan bahwa apa yang kita lihat itu adalah apa yang kita kuasaai pada hal masih banyak disekitar kita yang lebih baik dari pada pandangan kita. Mataku dilangit bagi anak-anak Merdeka Sekolah sebuah inspirasi dalam lukisannya yang membuat dia menjadi lebih bebas dan lebih banyak menemukan apa sebuah bentuk dan warna dalam realitas lukisannya. Membuat dirinya menjadi sebuah pandangan yang memberikan pemahaman tentang apa yang dikatakan sebuah tema atau judul yang berkaitan dengan bentuk atau visual. Seperti di dalam kehidupan sehari-hari rakyat kita sudah tidak lagi paham tentang apa yang dikatakan penguasa yang seenaknya saja dengan apa yang dihadapi dalam kehidupannya. Seolah kehidupan itu memang bukan miliknya, tapi kehidupan itu adalah sebuah beban yang sangat dibebani pada rakyat kecil yang menderita tanpa tahu ujungnya. Anak-anak Merdeka Sekolah melukis dengan kemerdekaannya, membuat diri banyak sekali menemukan bentuk yang tidak pernah dia lihat dalam realitasnya, seolah dia menemukan realitas baru sebagai sebuah pengetahuan dan pengalaman matanya di dalam melihat kehidupannya. Membuat dirinya begitu paham dengan apa yang dilakukan dengan mudah dan biasa saja, tapi dibalik itu anak-anak Merdeka Sekolah menemukan struktur bentuk yang baru dengan paduan warna yang begitu lugas dan masif. Sedangkan komposisi yang lahir dan tumbuh mampu menempu mimpinya menjadi sebuah realitas yang begitu indah dan enak dirasakan sebuah sebuah kehidupan yang penuh dengan kewajaran dan apa adanya. Mataku dilangit menjadi realitas yang memberikan banyak kemungkinan untuk bisa dikatakan dan dirasakan sebuah semua auran yang selalu memberikan semangat untuk selalu melakukan apa yang bisa dilakukan tanpa harus dibebani dengan batasan dan kebebasan yang tidak pernah jelas. (Aru)

3 thoughts on “Mataku

  1. INDAHNYA CITA-CITA TAK TERTANGKAP DI AWAN

    Merdeka Sekolah yang berangkat dari mimpi orang tua Aghniya Ilman ketika berbicara di ruang kepala sekolah Al fityan yang mendekati realitas kehidupan masyarakat dalam melihat pendidikan secara dekat dan bersifat familiar. Di mana pendidikan bukan sebuah formalis yang membuat orang atau masyarakat terbatas dan terpisah pada pemahaman dari pendidikan yang semua orang mengerti bahwa pendidikan dalam sebuah lembaga sekolah itu menjadi tanggung jawab semua orang untuk bisa terlibat dalam porsinya masing-masing sehingga memberikan kemungkinan pada setiap orang untuk bisa melakukan yang terbaik bagi dirinya dan orang lain.

  2. INDAHNYA CITA-CITA TAK TERTANGKAP DI AWAN

    Merdeka Sekolah yang berangkat dari mimpi orang tua Aghniya Ilman ketika berbicara di ruang kepala sekolah Al fityan yang mendekati realitas kehidupan masyarakat dalam melihat pendidikan secara dekat dan bersifat familiar. Di mana pendidikan bukan sebuah formalis yang membuat orang atau masyarakat terbatas dan terpisah pada pemahaman dari pendidikan yang semua orang mengerti bahwa pendidikan dalam sebuah lembaga sekolah itu menjadi tanggung jawab semua orang untuk bisa terlibat dalam porsinya masing-masing sehingga memberikan kemungkinan pada setiap orang untuk bisa melakukan yang terbaik bagi dirinya dan orang lain.

    Pendidikan dalam lembaga sekolah itu merupakan hasil dari silaturahimi setiap orang dan masyarakat untuk menjadi sebuah bentuk pendidikan yang memberikan kemungkinan untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Sehingga akan memperkuat basis masyarakat pada kehidupan keluarga dan masyarakatnya. Karena dengan pendidikanlah kesadaran masyarakat di dalam membangun keluarga zakinah mawadah itu akan menjadi kehidupan masyarakat pada umumnya. Membuat masyarakat mampu melakukan langkah-langkah yang konkrit bagi kehidupan bersama untuk mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya. Yaitu kehidupan masyarakat yang selalu memberikan sesuatu yang terbaik baik kehidupan setiap orang. Dengan kemampuan membangun kehidupan masyarakat yang baik, maka dengan sendiri kehidupan sosial menjadi sebuah kebudayaan yang memberikan banyak pada kebutuhan sebagai bangsa dan negara yang lebih baik. Karena masyarakat sudah mempunyai basis berpikir yang terlatih dalam sebuah pendidikan yang melibatkan dirinya menjadi bagian dari pendidikan. Sehingga mudah di dalam milihat negara dalam sebuah analogi keluarga dan masyarakat yang mempunyai pendidikan sama. Di mana pendidikan berorientasi pada kemampuan setiap orang di dalam mengelolah kehidupan sosial dan masyarakat dalam kosntelasi alam yang menjadi keharmonisan dari kehidupan manusia. Negara dan bangsa yang memberikan kesempatan pada setiap orang dan masyarakat pada umumnya untuk bisa mengelolah negara ini, sesuai dengan kemampuan dan porsi untuk bisa saling merekat dan mengembangkan, untuk bisa menuti kelemahan setiap orang menjadi sebuah kekuatan untuk bersama. Begitu juga kemampuan setiap orang akan memberikan kemungkinan pada semua orang untuk bisa bekerjasama secara baik dan terarah.

    Pendidikan sebagai lembaga sekolahlah yang mampu memberikan banyak kemungkinan pada setiap orang dan masyarakat. Kalau hal ini memang diartikulasikan menjadi sebuah upaya bersama untuk kepentingan semua orang dan rakyat yang masih dalam ketidak berdayaan karena kemikiskinan dan ketidak mampuan dalam pendidikan. Sekolah menjadi sebuah pertemuan yang memberikan kemungkina pada setiap orang untuk bisa berbagi dan menata kehidupan secara baik dan menyeluruh. Karena pendidikan bukan sekolah bagi orang yang tidak sama sekali bisa. Tapi sekolah adalah tempat semuat orang untuk bisa mengaktualisasikan dirinya untuk bisa berbagi dan untuk saling mengisi, sehingga menumbuhkan daya kemampuan setiap orang untuk bisa berbuat banyak dan berbuat yang terbaik. Karena sekolah adalah tempat untuk bekerjasama di dalam membangun kesadaran setiap orang untuk bisa melakukan yang terbaik bagi dirinya dan orang lain. Sekolah sebuah budaya yang mampu memberikan kemungkinan pada setiap orang untuk bersama-sama melakukannya yang terbaik dan yang indah bagi kehidupan. Karena kebenaran dan keindahan merupakan realitas keimanan setiap orang pada Allah di dalam memberikan sesuatu yang terbaik bagi diri dan setiap orang. Dengan begitu mekanisme kehidupan setiap orang menjadi sebuah realitas ibadah yang selalu memperkuat kualitas iman pada Allah. Sehingga kehidupan masyarakatnya banyak memberikan kemungkinan bagi setiap orang untuk bisa melakukan yang terbaik bukan untuk dirinya tapi untuk semua orang dengan mengacuh pada nilai keimanan dan keimanan itulah yang menumbuhkan setiap orang untuk melakukna yang terbaik bagi setiap orang. Karena iman dan ketaqwaanlah sebuah cita-cita menjadi indah dan bersemi dalam kehidupannya, yang secara perlahan dan pasti, tanpa kita sadari dia menjadi sebuah realitas yang tidak pernah kita bayangkan itu menjadi sebuah kenyataan.

    Hal inilah kiranya yang terjadi dalam Merdeka Sekolah sebuah cita-cita yang banyak menarik perhatian masyarakt tapi kesamaan dalam melihat pendidikan dalam lembaga sekolah ini belum sama. Karena pendidikan dalam lembaga sekolah itu adalah sebuah nilai, konsep bukan sebuah bentuk arsitektural dari sekolah. Sehingga banyak masyarkat ketika melihat Merdeka Sekolah dalam konsep pendidikan yang real itu menjadi sebuah mimpi karena tidak di dukung dengan arsitektural sekolah sebuah representasi dari pendidikan Merdeka Sekolah.

    Hal ini yang memang belum menjadi sebuah kesatuan dalam cara berpikir yang sama, karena hal ini perlu adanya sebuah program yang memberikan kemungkinan pada masyarakat tentang pendidikan lembaga sekolah itu bukan saja arsitektural sekolah tapi bagaimana konsep pendidikan itu mampu menentukan arstektural dari sekolah, sehingga sekolah itu dibentuk sesuai dengan konsep pendidikan yang sudah dijalani. Karena dengan direalisasikan konsep pendidkan Merdeka Sekolah dengan ruang. Dengan sendirinya akan memberikan kemungkinan yang lebih baik lagi bagi peranan masyarakat dalam melihat pendidikan secara lebih dekat dan real.

    Karena pendidikan dengan lembaga sekolah menjadi sebuah realitas konseptualitas dari bisnis dan berorientasi pada nilai ekonomis. Sehingga paham dari ideologi yang dianutnya adalah pragmatis dan materialistik. Bahwa pendidikan itu sebagai lembaga legitimasi yang menentukan pintar dan tidak seseorang. Karena sekolah berorientasi pada nilai terbaik. Seorang yang terbaik dapat dilihat dari nilai rapot dan ijasahnya. Begitu juga masyarakat yang ingin menjadi orang yang baik (baca Pintar) harus membayar mahal, karena kepintara ditentukan dengan kemampuan masyarakat di dalam membayar pendidikan secara lebih baik. Ini yang disebut dengan pragmatis dan materialis.

    Pendidikan dari lembaga sekolah yang direpresentasi dengan arstitektural sekolah membuat pendidikan menjadi kehilangan makna dan tujuan yang sebenarnya. Karena kalau pendidikan sebagai lembaga sekolah yang dilihat dari arsitektural sekolah menjadi sebuah pola penyeragaman pendidikan bagi setiap orang. Bahwa pendidikan yang mahal dapat diliha dari arsitektural sekolah yang megah, bertingkat dan lengkap. Meskipun tidak sesuai dengan kebutuhan dari pendidikan, tapi karena kebutuhan impotement, sekolah menjadi bagian dari hiburan masyarakat yang memberikan citra dan gaya hidup dari masyarakat.

    Tapi sebalikan sekolah dengan arsitektural apa adanya juga bukan berarti sekolah itu menjadi sekolah yang sesuai dengan konsep pendidikan. Kalau tanpa ada konsep pendidikan apa yang ingin dicapai. Bukan karena keterbatasan saja pendidikan itu harus berjalan dengan sedemikian adanya, dan orang lain yang memaklumi atau memahami sekolah dengan kondisi apa adanya. Ini juga tidak baik.

    Jadi jelas bahwa pendidikan bukan sebuah paradigma bagus atau jelek, lengkap atau apa adanya, mahal atau murah. Tapi pendidikan harus dikembalikan pada cara pandang yang lebih proposional, yaitu konsep pendidikan apa yang ingin dicapai dan dituju sehingga memberikan kemungkinan yang terbaik bagi siswa maupun orang tua di dalam melihat realitas kehidupan sosial masyarakat yang begitu kompleksnya. Inilah yang perlu kembali dipikirkan sebagai sebuah realitas sosial yang harus digerakan menjadi sebuah perubahan dalam pendidikan masyarakat yang tidak terjebak pada kesenjangan sosial masyarakat. Dan pendidika menjadi sebuah ladang proyek yang memberikan kemungkin untuk penyalagunaaan.

    Memang cita-cita harus dikembangkan pada kesadaran bersama untuk melihat pendidikan menjadi bagian dari kehidupan kita yang begitu dekat seperti api dengan panas, kita begitu dekat seperti es dengan dingin kita begitu dekat seperti jiwa dan raga. Janganlah pendidikan dilepas seperti kita melepas jiwa kita dalam kehidupan yang tragis. Karena Allah sangat melakna kita apabila kita melepaska jiwa kita sebelum Allah mengembalikan pada diri. Karena jiwa kita milik Allah.

    Sekarang Merdeka Sekolah sudah bersemai dalam realitas, meskipun itu masih bagian dari cita-cita yang harus diperjuangkan dan kita harus memperjuangkan. Karena kehidupan ini memang harus berjuang, agar kita merasakan hidup karena hidup tidak berjuang sama arti kita mati sebelum waktunya.

    Langkah-langkah apa yang bisa dilakukan untuk persemaian itu menjadi tumbuh seperti pohon besar yang akan dilihat orang untuk bisa berteduh denga nyaman dan orang itu merasakan makna dari hidup ini. Karena di pohon bisa itu angin kesejukan akan dapat dirasakan oleh setiap orang yang akan berteduh di pohon itu. Dan kita bersama-sama untuk berbicara tentang hidup ini di pohon besar. Sambil menikmati angin segar yang selalu memberikan banyak inspirasi untuk melakukan yang terbaik baik hidup dan kehidupan kita.

  3. ANAK ALAM BERTANYA

    Anak-anak Merdeka Sekolah sudah terbiasa dengan pelajaran yang berkaitan dengan lingkungan. Karena Merdeka Sekolah yang sekarang ini lahir dalam lingkungan sosial masyarakat yang terbuka. Artinya Merdeka Sekolah itu menyatu dengan kehidupan masyarakat dan alam lingkungan yang terhampar sawah dan pepohonan yang menaungki kehidupan masyarakatnya. Jadi belajar dengan lingkungan sudah biasa dalam kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan. Di mana alam menjadi bagaian dari kehidupan ini. Anak-anak menanam padi bersama para petani pengarap atau buruh tani yang sudah tidak mempunyai tanah sawah lagi. Begitu juga ketika para petani garap memanen pada anak-anak dengan begitu saja ikut memanen. Begitu juga dengan merontokan padi dari tangkainyanya anak-anak juga ikut mencobanya, dan selanjutnya menyaksikan. Sebuah keterlibatnya yang begitu saja muncul. Karena Merdeka Sekolah memang meniatkan bahwa sekolah itu bagian dari masyarakat dan lingkungan alam. Sehingga tidak ada batas antara masyarakat dan lingkungannya. Interaksinya begitu saja lahir diantara anak-anak Merdeka dengan masyarakat dan lingkungannya. Karena kesadaran inilah anak-anak banyak belajar mengenai sosial dan alam lingkungannya. Di mana dia berada, begitu juga bagi masyarakat sekitarnya, terutama pada petani menemukan aspek kehidupan lain dari seorang petani. Bahwa anak-anak yang sekolah itu adalah anak yang berjarak dari kehidupan masyarakatnya. Tapi anak-anak Merdeka Sekolah buat mereka seperti bagiannya, tidak ada bedanya dengan kehidupan anak-anak yang dipahami oleh mereka.

    Banyak hal yang membuat masyarakat bertanya-tanya dengan anak-anak Merdeka Sekolah. Karena sekolahnya di sawah, belajar di sawah diantara jerami bekas panen padi yang sudah mengering dan berwarna coklat. Kadang belajar di bawah pohon rindah dengan suka cita. Para petani memang anak-anak Merdeka Sekolah menjadi berubah tentang sebuah pendidikan sekolah, bahwa belajar bukan saja di dalam kelas tapi juga di luar kelas. Setelah belajar selesai yang membuat kaget dan takjub adalah anak dengan begitu riangnya bermain lumpur disawah dan bermain air dipematang sawah. Yang tidak lazim dilihat oleh para petani. Seolah dunia baru tentang sekolah. Tapi melihat itu petani menjadi mahfum bahwa sekolah ini memang berbeda.

    Membuat kedekatan dengan petani menjadi sesuatu yang lain. Dan hal itu memang tidak begitu dirasakan oleh anak-anak, semua seolah berjalan semana mestinya bahwa belajar yang dilakukan menjadi sebuah kelazin dan kewajaran yang membuat anak begitu dekat dengan anak-anak dilingkungan sekolah. Begitu juga anak-anak disekitar sekolah dengan larut dalam pembelajar disekolah ketika sekolah itu usai. Seolah sekolah itu menjadi dunianya yang begitu dekat. Sekolah yang dilakukan seolah kehilangan dunia anak. Dengan begitu saja anak-anak sekitar sekolah ada.

    Alam lingkungan yang tidak terbatas, realitas sosial masyarakat yang terbukan memberikan kemungkinan pada anak-anak sekolah dan anak-anak sekitar sekolah bermain seperti anak-anak pada umumnya. Bahwa anak sekolah seperti bermain di rumah, begitu juga anak disekitar sekolah seperti anak-anak bersekolah. Semuanya begitu saja menjadi paduan yang bergerak dengan begitu saja. Seolah alam dan kehidupan ini menyatukan kehidupan anak-anak pada dunia yang sebenarnya. Dunia yang bergerak dengan begitu saja tapi ada sesuatu yang membuat dirinya menjadi terbebani dan terberartkan.

    Tapi sekarang sawah itu tumbuh dengan tembok-tembok yang melingkar dan sawah tidak lagi terlihat sebagai pandangan yang luas dan menghijau. Petani itu seolah hilang dilenyapkan alam, anak-anak hanya bertanya kenapa sawah itu ditembok, sawah itu bukan lagi sawah tapi tanah milik orang yang akan berubah menjadi bangunan rumah. Kalau begitu nanti padi untuk makan nasi berkurang, kata anak-anak Merdeka Sekolah. Iya, karena tanah persawahan berubah menjadi rumah. Membuat anak-anak sedih bercampur tidak mengerti kenapa sawah itu berubah menjadi bangunan dan sekarang sudah ditembok beton.

    Memang sekolah yang lahir dari kehidupan alam dan lingkungan sosial selalu berharap ada dalam kehidupan yang merdeka. Seperti Merdeka Sekolah yang belajar dari alam dan lingkungannya. Tapi bukan sekolah alam, karena anak-anak ini adalah anak alam yang selalu ingin bertanya, di mana alam ini dan apa alam ini sehingga hidup ini menjadi tidak lagi alami. Apakah alam menjadi obyek eksplorasi dan kesewenangan manusia.

    Anak-anak Merdeka Sekolah menulis dengan sungguh tapi juga dengan gembira diantara pertanyaan yang tidak bisa di jawab olahnya. Tapi memang itu lah kehidupan yang tidak semua orang bisa menjawab dan hanya bertanya-tanya tanpa sebuah tujuan yang tidak dimengerti, kenapa manusia merubah dirinya seperti benda dan robot serta menciptakan dunia maya, dunia artifisial, dunia yang tidak berpijak pada alam dan kehidupan ini. Pada hal manusia masih menjadi kehidupan ini tempat yang selalu membuat manusia mengerti. Tapi pada kenyataannya tidak seperti ini. Manusia kehilangan empati, jiwa dan berubah menjadi zombi sehingga tidak lagi bersahabat dengan alam apa lagi dengan kehidupannya. Karena hal itu sudah dihancurkan dari dalam dirinya sendiri, sehingga manusia kehidupan kehidupan. Bicaranya teknik dan oprasional tanpa makna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s