TERBALIK DI LANGIT

Tak ada lagi pengalaman di dalam belajar untuk bisa mengatakan sesuatu kebenarannya. Karena kita bukan lagi belajar tapi bagaimana memenuhi hasrat untuk memuaskan keinginan dan emosi untuk mendiskriditkan orang dengan kata dan kalimat yang selalu terlihat lemah lembut tapi sudah tak lagi memberikan rasa aman dan dipercaya. Seolah kalimat dan kata itu bukan lagi pembicaraan yang dapat memberikan hikmah dan pandangan tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam proses pembelajaran ini. Sehingga mampu melihat kebenaran itu memang bukan dari kecerdasan dan kepintaran seseorang. Tapi kebenaran itu memang datangnya dan hati nurani yang tidak semua orang tahu bagaimana hati nurani ini memberikankan suara kebenaran.

Semua kalimat dan kata seolah itu menjadi sebuah pernyataan yang benar dan sebenarnya, tapi kenyataannya kata dan kalimat itu bukan lagi menjadi sebuah kebenaran, tapi sebuah kenyataan yang membuat orang selalu melihat dirinya pada satu posisi yang resah dan gelisah sehingga kalimat itu menjadi menikam. Kalimat dan kata hanyalah ungkapan seseorang terhadap isi hatinya yang merasakan sesuatu tidak nyaman pada orang lain. Membuat kalimat dan kata itu menunjur dengan begitu saja tapi bisa dikontrol, karena itu memang sebuah mekanisme yang ada di dalam jiwa seseorang sehingga merasakan permasahalan itu menjadi sebuah kebenarnya yang menyatakan ketidak benarannya.

Anak-anak itu memang berjalan dipematang sawah dengan menyambut alam dengan segala penuh hati. Seolah kerinduan itu memberikan semangat untuk hidup. Perjalanan itu disambut dengan angin dan tumbuh-tumbuhan yang memberikan anak-anak itu begitu bergairah dan merasakan pelajaran ini menjadi sebuah mimpi yang menembus kesadaran dirinya terhadap dirinya yang ingin selalu mengatakan aku bisa dan ingin selalu memeluk alam sebagai kerinduannya terhadap alam. Begitu juga alam ini memberikan kehangatan yang indah pada anak-anak Merdeka Sekolah. Hal itu terlihat dalam menyelusuri illang yang melebih tinggi anak-anak. Membuat anak tenggelam dalam kehidupan alam dan terbawa dalam sebuah mimpi yang indah di dalam kesadarannya sendiri. Mimpi bukan lagi bunga tidur, tapi mimpi ini sebuah perjalanan anak untuk merasakan dan menemukan apa yang menjadi keinginan, perasaan dan ketakutan itu menjadi sebuah jawaban yang bisa dijelaskan. Sehingga anak-anak itu tidak lagi berada dalam batas kekuasaan bahasa yang dipergunakan oleh orang dewasa maupun orang tuanya yang sudah terkontaminasi pada sebuah sistem dominasi kekuasaan, kekerasan, baik fisik maupun verbal.

Bumi yang terkuak dan mengangga ini meluncurkan anak-anak pada mimpi yang sebenarnya. Merosot dan mendaki, berguling dan mendaki, sebuah ungkapan kerinduan pada sebuah kebebasan untuk menyatu dengan alam. Karena dunia anak adalah dunia alam yang selalu menginginkan apa yang menjadi naluri dan dorong untuk selalu berkata pada alam. Untuk bisa bermain dengan air, tanah, tumbuhan, angin dan hujan. Semua itu memberikan pada anak warna dan tanda bahwa kehidupan itu indah dan memberikan kesenangan dan kedamaian, bahwa hidup untuk saling berbagi dan sebuah ungkapan kesadaran bahwa hidup ini tak perlu ada aturan yang dipaksakan. Karena fitrah manusia itulah yang selalu memberikan aturan untuk selalu bersama, berbagi dan memberi. Bukan untuk memaksakan orang untuk tidak memberi, janganlah kata Pelit diungkapkan pada orang atau merasa dirinya pelit. Lebih baik disimpan dalam diri kita agar dia hilang dengan sendirinya.

Dalam perjalanan anak-anak itu benar-banar menyatukan dengan alam, sampai-sampai mereka sadar bahwa mereka tersesat dalam pandangannya. Pada hal mereka tidak pernah tersesat karena anak-anak itu memang sudah ada di dalam dunianya. Tapi karena mereka belajar tentang batasan menjadikan anak-anak itu tersesat. Tersesat dalam pikiran dan pandangan yang di dapat dalam dunia pendidikan yang mengatakan anak-anak itu menjadi sebuah batas yang hanya mengetahui sesuatu itu terbatas. Terbatas menurut orang tua, pendidik, aturan dan sistem. Pada hal dunia anak tidak terbatas dan tidak ada batasannya untuk bisa mengatang sesuatu tanpa ada satupu orang bisa mengatakan bahwa kalimat dan katanya itu sangat terbatas.

Karena kalimat dan katanya menjadi sebuah kebebasan anak untuk mengungkapkan apa yang menjadi realitasnya di dalam melihat dan mengalaminya. Sehingga pengalaman belajar bukan lagi sebagai kebenaran yang harus diyakini tapi memang hal itu sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tidak bisa dibatasi sebagai sebuah kebenaran yang parsial. Biarakan anak berkata sesuai dengan hati nuraninya tanpa harus dikatakan dia sebagai seorang anak. Karena realitasnya memang sudah menjadi anak-anak yang tidak perlu lagi untuk dikatakan dia sebagai anak-anak. Karena kalau orang tua kembali mengatakan anak-anak itu ketika anak sedang melontarkan pandangan, berarti anak-anak itu bukan lagi anak-anak tapi kedewasaan di dalam berpikir. Tapi sebaliknya ketika orang tua mengatakan anak-anak pada anak-anak, berarti dirinya menjadi anak-anak. Sebuah realitas yang tidak lagi bisa dibantahkan pada siapapun. Karena alam ini sudah menyatakannya. Biarkan terbalilk di langit tapi membuat anak itu menjadi lebih mengerti apa yang menjadi pikiran dan perasaannya untuk bisa mengatakan apa yang menjadi pandangnya.

Angin dan bau yang dibawanya membuat anak-anak itu mengaktifkan penciumnya dan menafsirkan menuruk kata hatinya. Ada yang mengatakan bau dan kematian, bau ada ketakutan, bau adalah sebuah do’a, bau adalah sebuah proses, bau adalah sebuah bau, bau adalah sesuatu yang harus dihindarkan, bau adalah sebuah kotoran, bau adalah sebuah tiupan. Semua itu membawa anak-anak Merdeka Sekolah pada kehidupan yang coba dicerna menuru apa yang dipikirkan dan dirasakan. Sehingga kalimat dan kata bukan saja lemah lembut tapi memberikan makna dan kekuatan untuk menyatakan kebenaran itu memang harus dikatakan dengan apa yang dikatakan. Bukan dengan apa yang tidak dikatakan. Karena ini akan menyalahi kebenaran itu sendiri sebagai realitas kebenaran yang harus diyakini dan dijalani sebagai kehidupan. Yang mau tidak mau akan selalu berbenturan dengan diri kita sendiri sebagai manusia yang selalu banyak melakukan kesalahan dan kehilafan. Tapi kalau kita mau menyadari bahwa kesalahan, kekurangan dan kehilafan kita bukan sesuatu yang buruk kalau hal itu dipahami sebagai sebuah kehidupan manusia untuk selalu mau belajar dan untuk saling memaafkan diantara kita. Sehinggga tidak ada lagi terbalik dilangit. (Tri-Aru)

One thought on “

  1. PERJUANGAN ITU TIDAK TERKALAHKAN

    Perjuangan dalam kehidupan manusia menghadapi belantara permasalahan sosial yang begitu sumpek dan sempit ini tidak memberikan ruang pada kemungkinan yang memberikan manusia untuk bisa melihat dirinya secara lebih baik. Untuk bisa merefleksikan menjadi sebuah kekuatan yang memberikan keluasan dalam melihat permasalahan dengan baik. Kemudian melakukan langkah-langkah yang memberikan kemungkinan pada manusia untuk bisa mengurainya dengan baik. Sehingga ruang yang sumpek dan sempit itu menjadi terbuka luas untuk bisa diartikulasikan secara baik. Untuk bisa memberikan sesuatu yang terbaik. Ini sebuah gambaran di mana hidup memang harus memberikan kemungkinan pada dirinya untuk bisa mengatakan sesuatu pada diri dan orang lain sehingga memubuat manusia merasakan getaran nadi kehidupan untuk bisa diukur dalam realitas sosial.

    Kehidupan yang demikian menjadi sebuah perjuangan yang memberikan kemungkinan pada manusia untuk selalu bisa memperbaiki diri setiap saat agar perjuangan itu memang selalu memberikan semangat untuk bisa selalu melakukan dan mengerjakan. Sebagai sebuah proses dari kehidupan manusia yang memang harus dijalani. Karena mau tidak mau kehidupan manusia ini harus terus berjalan sesuai dengan waktu dan takdir yang telah menentukan. Selama kehidupan ini masih berada dan manusia masih tetap ada maka perjuangan itu tidak akan pernah terkalahkan, meskipun dalam perjalanan hidupnya ini mengalami kegagalan dan ketidak berhasilan. Tapi masih tetap kuat dan istiqomah maka perjuangan itu tidak akan pernah terkalahkan.

    Selama Merdeka Sekolah masih ada perjuangan itu tidak akan pernah hilang. Meskipun badai mengunjang, arus besar menerpa, ombak menghantam, kesulitan menikam, keterbatasan menteror, senyum sinis bertebaran, Merdeka Sekolah tetap ada dalam kehidupan untuk memberikan kemungkinan yang terbaik bagi kehidupan masyarakat untuk bisa tumbuh dan berkembang bersama, sehingga memberikan kemungkinan masyarakat untuk bergerak lebih baik lagi dalam menata kehidupan yang dipenuhi dengan kemewahan fatamorgana, kemiskinan yang menikam, ketidak adilan yang menerpa, ketidak berdayaan yang memasung. Semua itu digerakan dalam kebersamaan di dalam Merdeka Sekolah untuk bisa berbagi dan berubah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s