Anak Merdeka Outbond


 

Outbond Besar Anak Merdeka

Anak Merdeka Outbond

Anak merdeka melatih keberanian dan percaya diri. Tepat disengang hari pada bulan Maret 2010 Anak Merdeka mengikuti outbond besar didaerah ciseeng Bogor. Seluruh anak Merdeka + keluarga dan guru bersama mengikuti latihan uji nyali dan percaya diri di area luar ruang kelas.

Sebenarnya anak Merdeka sudah terbiasa hari-hari dengan uji nyali dan menantang rintangan, namun semua tanpa instruktur dan tahapan yang rinci. Kini di Ciseeng anak Merdeka melakukan aktivitas uji nyali dan percaya diri dengan tatanan yang teratur, didampingi instruktur yang terlatih dan prasarana yang lebih komplit.

Mulai event, latihan keseimbangan, keberanian, ketrampilan dan kegesitan semua dicoba oleh anak Merdeka. Ini adalah kegiatan rutin anak Merdeka, lebih lengkap liputan secara tersebut tersaji dalam foto-foto dibawah ini.

Anak Merdeka sedang mendengarkan Pengarahan dari Kakak Pendamping Ourbond

He he he, hati-hati maju terus tinggal dikit kok, Ayo kamu bisa !!!

Siswi-siswi Merdeka juga pemberani lho, nich buktinya. Menyeberang Jembatan Goyang dengan 'V'.

Menyeberang Jembatan kayu yang menyentuh air serem juga ya ?

Nah ini benar-benar susu segar, anak Merdeka belajar memerah susu dari pabrik aslinya (Sapi Perah)

Ibu-ibu petani kecil Merdeka sedang belajar, membersihkan padi hasil panen yang bercampur dengan kotoran

Ternyata mudah lho cara membuat kompos, aku janji setelah pulang outbond ini akan membuat kompos sendiri, janji Anak Merdeka

8 thoughts on “Anak Merdeka Outbond

  1. TERBALIK DI LANGIT

    Tak ada lagi pengalaman di dalam belajar untuk bisa mengatakan sesuatu kebenarannya. Karena kita bukan lagi belajar tapi bagaimana memenuhi hasrat untuk memuaskan keinginan dan emosi untuk mendiskriditkan orang dengan kata dan kalimat yang selalu terlihat lemah lembut tapi sudah tak lagi memberikan rasa aman dan dipercaya. Seolah kalimat dan kata itu bukan lagi pembicaraan yang dapat memberikan hikmah dan pandangan tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam proses pembelajaran ini. Sehingga mampu melihat kebenaran itu memang bukan dari kecerdasan dan kepintaran seseorang. Tapi kebenaran itu memang datangnya dan hati nurani yang tidak semua orang tahu bagaimana hati nurani ini memberikankan suara kebenaran.

    Semua kalimat dan kata seolah itu menjadi sebuah pernyataan yang benar dan sebenarnya, tapi kenyataannya kata dan kalimat itu bukan lagi menjadi sebuah kebenaran, tapi sebuah kenyataan yang membuat orang selalu melihat dirinya pada satu posisi yang resah dan gelisah sehingga kalimat itu menjadi menikam. Kalimat dan kata hanyalah ungkapan seseorang terhadap isi hatinya yang merasakan sesuatu tidak nyaman pada orang lain. Membuat kalimat dan kata itu menunjur dengan begitu saja tapi bisa dikontrol, karena itu memang sebuah mekanisme yang ada di dalam jiwa seseorang sehingga merasakan permasahalan itu menjadi sebuah kebenarnya yang menyatakan ketidak benarannya.

    Anak-anak itu memang berjalan dipematang sawah dengan menyambut alam dengan segala penuh hati. Seolah kerinduan itu memberikan semangat untuk hidup. Perjalanan itu disambut dengan angin dan tumbuh-tumbuhan yang memberikan anak-anak itu begitu bergairah dan merasakan pelajaran ini menjadi sebuah mimpi yang menembus kesadaran dirinya terhadap dirinya yang ingin selalu mengatakan aku bisa dan ingin selalu memeluk alam sebagai kerinduannya terhadap alam. Begitu juga alam ini memberikan kehangatan yang indah pada anak-anak Merdeka Sekolah. Hal itu terlihat dalam menyelusuri illang yang melebih tinggi anak-anak. Membuat anak tenggelam dalam kehidupan alam dan terbawa dalam sebuah mimpi yang indah di dalam kesadarannya sendiri. Mimpi bukan lagi bunga tidur, tapi mimpi ini sebuah perjalanan anak untuk merasakan dan menemukan apa yang menjadi keinginan, perasaan dan ketakutan itu menjadi sebuah jawaban yang bisa dijelaskan. Sehingga anak-anak itu tidak lagi berada dalam batas kekuasaan bahasa yang dipergunakan oleh orang dewasa maupun orang tuanya yang sudah terkontaminasi pada sebuah sistem dominasi kekuasaan, kekerasan, baik fisik maupun verbal.

    Bumi yang terkuak dan mengangga ini meluncurkan anak-anak pada mimpi yang sebenarnya. Merosot dan mendaki, berguling dan mendaki, sebuah ungkapan kerinduan pada sebuah kebebasan untuk menyatu dengan alam. Karena dunia anak adalah dunia alam yang selalu menginginkan apa yang menjadi naluri dan dorong untuk selalu berkata pada alam. Untuk bisa bermain dengan air, tanah, tumbuhan, angin dan hujan. Semua itu memberikan pada anak warna dan tanda bahwa kehidupan itu indah dan memberikan kesenangan dan kedamaian, bahwa hidup untuk saling berbagi dan sebuah ungkapan kesadaran bahwa hidup ini tak perlu ada aturan yang dipaksakan. Karena fitrah manusia itulah yang selalu memberikan aturan untuk selalu bersama, berbagi dan memberi. Bukan untuk memaksakan orang untuk tidak memberi, janganlah kata Pelit diungkapkan pada orang atau merasa dirinya pelit. Lebih baik disimpan dalam diri kita agar dia hilang dengan sendirinya.

    Dalam perjalanan anak-anak itu benar-banar menyatukan dengan alam, sampai-sampai mereka sadar bahwa mereka tersesat dalam pandangannya. Pada hal mereka tidak pernah tersesat karena anak-anak itu memang sudah ada di dalam dunianya. Tapi karena mereka belajar tentang batasan menjadikan anak-anak itu tersesat. Tersesat dalam pikiran dan pandangan yang di dapat dalam dunia pendidikan yang mengatakan anak-anak itu menjadi sebuah batas yang hanya mengetahui sesuatu itu terbatas. Terbatas menurut orang tua, pendidik, aturan dan sistem. Pada hal dunia anak tidak terbatas dan tidak ada batasannya untuk bisa mengatang sesuatu tanpa ada satupu orang bisa mengatakan bahwa kalimat dan katanya itu sangat terbatas.

    Karena kalimat dan katanya menjadi sebuah kebebasan anak untuk mengungkapkan apa yang menjadi realitasnya di dalam melihat dan mengalaminya. Sehingga pengalaman belajar bukan lagi sebagai kebenaran yang harus diyakini tapi memang hal itu sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tidak bisa dibatasi sebagai sebuah kebenaran yang parsial. Biarakan anak berkata sesuai dengan hati nuraninya tanpa harus dikatakan dia sebagai seorang anak. Karena realitasnya memang sudah menjadi anak-anak yang tidak perlu lagi untuk dikatakan dia sebagai anak-anak. Karena kalau orang tua kembali mengatakan anak-anak itu ketika anak sedang melontarkan pandangan, berarti anak-anak itu bukan lagi anak-anak tapi kedewasaan di dalam berpikir. Tapi sebaliknya ketika orang tua mengatakan anak-anak pada anak-anak, berarti dirinya menjadi anak-anak. Sebuah realitas yang tidak lagi bisa dibantahkan pada siapapun. Karena alam ini sudah menyatakannya. Biarkan terbalilk di langit tapi membuat anak itu menjadi lebih mengerti apa yang menjadi pikiran dan perasaannya untuk bisa mengatakan apa yang menjadi pandangnya.

    Angin dan bau yang dibawanya membuat anak-anak itu mengaktifkan penciumnya dan menafsirkan menuruk kata hatinya. Ada yang mengatakan bau dan kematian, bau ada ketakutan, bau adalah sebuah do’a, bau adalah sebuah proses, bau adalah sebuah bau, bau adalah sesuatu yang harus dihindarkan, bau adalah sebuah kotoran, bau adalah sebuah tiupan. Semua itu membawa anak-anak Merdeka Sekolah pada kehidupan yang coba dicerna menuru apa yang dipikirkan dan dirasakan. Sehingga kalimat dan kata bukan saja lemah lembut tapi memberikan makna dan kekuatan untuk menyatakan kebenaran itu memang harus dikatakan dengan apa yang dikatakan. Bukan dengan apa yang tidak dikatakan. Karena ini akan menyalahi kebenaran itu sendiri sebagai realitas kebenaran yang harus diyakini dan dijalani sebagai kehidupan. Yang mau tidak mau akan selalu berbenturan dengan diri kita sendiri sebagai manusia yang selalu banyak melakukan kesalahan dan kehilafan. Tapi kalau kita mau menyadari bahwa kesalahan, kekurangan dan kehilafan kita bukan sesuatu yang buruk kalau hal itu dipahami sebagai sebuah kehidupan manusia untuk selalu mau belajar dan untuk saling memaafkan diantara kita. Sehinggga tidak ada lagi terbalik dilangit.

  2. MATAKU DI LANGIT

    Sebuah ungkapan bukanlah sebuah komunikasi, bukan sebuah pembicaraan, bukan sebuah kata atau kalimat, bukan sebuah dialog dalam sebuah pertunjukan teater, bukan sebuah ekspresi di dalam karya lukisan, bukan sebuah tangisan orang dewasa karena kehilangan harta, tahta dan kehormatan, bukan sebuah nyanyian seperti penyanyi yang ingin dipuji dan terkenal, bukan sebuah permintaan yang selalu ingin mengiba pada orang lain dan menjilat orang kaya dan berkuasa tapi menindas rakyat kecil yang tidak berdaya dan menderita sekali, bukan sebuah bisikan yang memberikan angin surga untuk mendapat uang dan komisi seperti para makelar kasus atau makelar macamnya, bukan sebuah teriakan seperti teriakkan kaum demonstran menyampaikan aspirasinya, sehingga membuat bingung para pengusaha dan penguasa, bukan membuat kalimat dan kata menjadi indah seperti dalam puisi atau sastra yang membuat orang menjadi mimpin yang berkepanjangan, bukan sebuah keluh kesah yang selalu dirasakan oleh rakyat kecil yang tidak tahu kemana dia harus mengadu dan memperjuangkan kehidupnnya, bukan sebuah angin yang selalu memberikan kesejukan pada tubuh manusia hingga menyelusuri relung kehidupan, bukan sebuah panas yang memberikan kesadaran tentang adanya keresahan yang tak pernah terjawab dalam kalimat dan kata, bukan sebuah air yang mengalir dari bawah keatas karena itu bukan dari sifat air, bukan karena letupan gunung yang menyemburkan abu membuat kehidupan orang eropa terganggu, bukan karena cerita uang yang bisa membuat orang senang dan bahagia, bukan sebuah kemarahan yang membuat manusia kehilangan kendali, sehingga terjadinya metamorfosi menjadi bintang dan melebih binatang, bukan kelemah lembutan kata dan kalimat yang hanya bisa menikam orang lain dari belakang maupun dari sampingnya, bukan kelembutan hati yang selalu memberikan kita menjadi lebih berharga dari pada apa yang dipandang orang lain, bukan sebuah realitas yang harus disadari karena hal itu memang tidak perlu disadari sebagai sebuah realitas yang tidak pernah kita tahu, bukan kebisingan kota yang membuat orang untuk berpikir ulang tinggal ditengah kota, bukan hiruk pikuk kehidupan yang membuat orang menjadi lebih hidup dan menarik, bukan kekuasaan yang ingin selalu dikejar melalu pemilihan umum, bukan sebuah kesenangan yang bisa disampaikan dalam dunia kita itu bisa berkata tentang apa yang menjadi kata dan kalimat kita yang juga tidak pernah dipahami oleh orang lain dan mungkin diri kita sendir, bukan sebuah lukisan yang dapat menceritakan apa yang menjadi isi hati dari gagasan dari sebuah kenyataan yang ingin ditangkapnya, bukan sebuah bisnis yang dikelolah dengan profesionalisme dan kata dan kalimat, namun tidak pernah jelas dalam kehidupan yang sebenarnya, bukan sebuah pengusaha yang setiap saat mengejar laba dan menjadi gila karena kebangkrutannya di dalam usaha, sampai masuk rumah sakit gila dan memang sudah menjadi gila, yaitu gila harta, bukan sebuah sekolah yang hanya mengajarkan untuk bisa menjadi pertanyaan yang diberikan oleh guru, pada hal gurunya sendiri tidak tahu apa yang dia tanyakan dan kenapa harus ada pertanyaan, sehingga guru membuat pertanyaan yang dia sendiri tidak pernah mempertanyakan apa yang ditanyakan, sehingga guru kehilangan pertanyaan untuk bertanya, sehingga pertanyaan yang dibuat menjadi sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan pertanyaan lagi oleh siswanya, karena anak-anak sudah dikuasai oleh pertanyaan dan untuk selalu menjawab pertanyaan, kalau dia tidak bisa menjawab pertanyaan dia harus ikut bimbel untuk bisa menjawab pertanyaan yang tidak dia mengertia apa pertanyaan itu dan untuk apa dipertanyaan sehingga pertanyaan itu muncul untuk dipertanyakan, pada hal masih banyak lagi pertanyaan yang harus dipertanyaakan untuk tidak dijawab sebagai sebuah jawaban bagi pertanyaan itu, karena bisa saja pertanyaan itu sebenarnya jawaban yang sedang dipertanyakan, bukan sebuah pendidikan yang membuat orang menjadi pintar dan cerdas, karena pendidikan adalah sebuah proses dari kehidupan manusia di dalam menjalani hidup yang menjadi fitrahnya. Sehingga pendidikan tidak perlu lagi untuk didik, karena pendidikan itu sudah menjadi pendidikan yang membuat menjadi orang yang berpendidikan. Kenapa pendidikan menjadi realitas yang membuat orang menjadi pusing dan bingung dengan pendidikan yang menurutnya pendidikan menjadi sebuah komodite pendidikan bukan menjadi pendidikan yang sebenarnya, tapi pendidikan yang menghancurkan anak-anak dengan cara pendidikan. Pada hal pendidikan itu sebuah ritme yang selalu memberikan alunan pada kehidupan manusia untuk bisa menemukan makna dari kehidupan dan pendidikan itu, bukan sebuah sistem yang menjadikan manusia itu menjadi lebih baik dan maju tapi kenyataan itu yang membuat manusia menjadi bagian dari sistem yang tidak pernah tahu sistem itu untuk apa, dan bagaimana seharusnya sistem itu diberlakukan.

    Mataku dilangit sebuah hempasan yang melepaskan kehidupan dari sebuah kejenuhan dan keraguan yang banyaknya keinginan dan kemauan tapi melihat realiltas yang sudah diberikan Allah untuk bisa melakukan sebuah sebuah tahapan yang harus dijalani, sehingga akan memberikan makna dan pemahaman yang lebih jauh tentang apa yang harus kita lakukan dan kerjakan sebuah dari upaya dan pemahaman manusia dari kehidupannya, sehingga memberikan kesadaran baru dalam melihat kehidupan dan persoalan itu menjadi lebih menarik dan menguat untuk bisa diterima sebagai bagian yang harus dipahami dengan mudah dan apa adanya. Membuat kekurangan dan kelemahan manusia menjadi muncul sebagai sebuah pontensi yang harus diberikan penghargaan dan itulah yang diberikan Allah pada manusia seperti apa yang dikatakan dalam Al Qur’an, bahwa di dalam kesusahan itu ada kesenangan dan itu selalu diperlihatkan Allah dalam sebuah kehidupan sosial masyarakat kita pada saat ini. Hal ini yang terjadi pada rakyat kecil yang menyangkut hukum dengan diperdaya oleh markus, makelar kasus yang membuat kehidupannya terdampar di dalam kadang kambing selama hampir sembilan bulan, tapi Allah mempunyai kekuasaan dengan peranta orang lain, akhir yang rakyat kecil itu kembali dipulihkan kehidupan dan menjadi lebih baik. Tinggal bagaimana menatanya.

    Biru langit juga sebuah sapuan dari kehidupan yang selalu mengingatkan manusia pada kehidupan yang menjadi tujuan dan visi untuk selalu bisa membersikah hati dan jiwa sehingga mata hati menjadi sebuah realitas yang dapat memberikan kesejukan dan kesenangan yang lebih baik untuk bisa berkata dalam sebuah langkah yang makin hari makin memberikan makna dan kekuatan iman yang selalu ditata dalam nilai dan ritme yang baik. Karena hati menjadi sekolah dan pendidikan utama bagi terbangunnya rasa keyakinan pada kebesaran Allah yang kemudian menjadi sebuah representasi dari keimanan yang selalu memberikan kontrol pada diri manusia untuk selalu berkata apa yang menjadi tuntunan dalam Al Qur’an dan Hadits untuk bisa mewarni dengan segala macam bentuknya, sehingga memberikan kehidupan ini menjadi lebih berwarna, warna keimanan, sholehan, kekuatan, keistiqomaan, ketekunan, kesabaran, kepedulian, keberanian untuk mengatakan yang benar adalah benar.

    Matiku dilangit menjadi lebih luas melihat kehidupan ini, karena bisa memetakan kehidupan yang bagaimana yang harus kita jalannya. Karena mata kita bukan lagi mata kuda yang membuat kita menjadi orang yang jemut karena tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam lingkungan kehidupan kita pada saat ini, membuat kita menjadi paling besar dan sombong karena kita merasakan bahwa apa yang kita lihat itu adalah apa yang kita kuasaai pada hal masih banyak disekitar kita yang lebih baik dari pada pandangan kita.

    Mataku dilangit bagi anak-anak Merdeka Sekolah sebuah inspirasi dalam lukisannya yang membuat dia menjadi lebih bebas dan lebih banyak menemukan apa sebuah bentuk dan warna dalam realitas lukisannya. Membuat dirinya menjadi sebuah pandangan yang memberikan pemahaman tentang apa yang dikatakan sebuah tema atau judul yang berkaitan dengan bentuk atau visual. Seperti di dalam kehidupan sehari-hari rakyat kita sudah tidak lagi paham tentang apa yang dikatakan penguasa yang seenaknya saja dengan apa yang dihadapi dalam kehidupannya. Seolah kehidupan itu memang bukan miliknya, tapi kehidupan itu adalah sebuah beban yang sangat dibebani pada rakyat kecil yang menderita tanpa tahu ujungnya.

    Anak-anak Merdeka Sekolah melukis dengan kemerdekaannya, membuat diri banyak sekali menemukan bentuk yang tidak pernah dia lihat dalam realitasnya, seolah dia menemukan realitas baru sebagai sebuah pengetahuan dan pengalaman matanya di dalam melihat kehidupannya. Membuat dirinya begitu paham dengan apa yang dilakukan dengan mudah dan biasa saja, tapi dibalik itu anak-anak Merdeka Sekolah menemukan struktur bentuk yang baru dengan paduan warna yang begitu lugas dan masif. Sedangkan komposisi yang lahir dan tumbuh mampu menempu mimpinya menjadi sebuah realitas yang begitu indah dan enak dirasakan sebuah sebuah kehidupan yang penuh dengan kewajaran dan apa adanya.

    Mataku dilangit menjadi realitas yang memberikan banyak kemungkinan untuk bisa dikatakan dan dirasakan sebuah semua auran yang selalu memberikan semangat untuk selalu melakukan apa yang bisa dilakukan tanpa harus dibebani dengan batasan dan kebebasan yang tidak pernah jelas.

  3. “Sekolahku Rumahku” dan Gagasan Konsep Ruang

    Diposting: Selasa, 09 Maret 2010 / 13:45:37 | Oleh: annida | Kategori: Citizen Journalism

    Halaman ini diakses sebanyak: 152 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

    Rating: 0

    Annida-Online—Kegelisahan Tri Aru Wiratno tentang sekolah yang tertuang dalam bukunya, Sekolahku Rumahku (Kepustakaan Majelis Budaya Rakyat, 2008) mendapat wadah baru, yaitu MI Merdeka Sekolah Tangerang. Sekolah yang menekankan model pengalaman dan memahmai fenomena ini didirikan untuk menjawab kecenderungan pendidikan yang menjadi sebuah bidang usaha komersial untuk mencari keuntungan.

    “Seharusnya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama untuk pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang lebih baik. Komersialisasi pendidikan membuat arus pemahaman di masyarakat bahwa pendidikan itu memang harus mahal. Berkualitas ataupun tidak semuanya mahal, dan masyarakat tidak punya pilihan, sehingga mereka terpaksa memilih apa adanya,” terang Aru, yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pendiri Semesta Langi Biru Foundation, yayasan yang menangui MI Merdeka.

    Dalam kegiatan belajar mengajarnya, MI Merdeka memadukan kurikulum yang ditetapkan Departemen Agama RI seperti Kewarganegaraan dan IPS, Matematika, Sains, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Akidah Akhlak, Al-Quran Hadits, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Olahraga dengan kurikulum progresif berupa Bermain peran, proyek, kemasyarakatan dan penelitian, kontekstual learning, partisipatoris dan pemecahan masalah.

    Perpaduan kurikulum ini didasarkan pada pemikiran Aru tentang konsep ruang, yaitu proses belajar yang membebas siswa dari sekat-sekat ruang sekolah. Jadi, selain belajar di kelas, Aru juga memperkenalkan proses belajar dengan pengalaman, seperti menanam padi di sawah. Para siswa juga bisa belajar di pasar untuk mengalami sendiri proses transaksi.

    Untuk membiayai kegiatan operasional sekolah, MI Merdeka memberlakukan sistem berbagi antara orang tua murid dan masyarakat, di samping penggalangan donasi dari pihak-pihak lainnya yang peduli dengan pengembangan pendidikan inovatif, kreatif, solutif dan inspiratif khususnya sekolah yang berbasis Islam. [papirana/foto: dok. MI Merdeka]

  4. REALITAS PENDIDIKAN DIATAS LANGIT

    Merdeka Sekolah bukanlah sekolah yang baik pada umumnya karena sekolah itu tidak pada umumnya, sehingga kalau dibandingkan dengan sekolah pada umumnya bukan menjadi sekolah pada umumnya. Karena yang baik pada umumnya memang harus mengikuti ketentuan umum dan ketentuan umum itu memang tidak umum bagi kehidupan rakyat kecil karena rakyat kecil bukan sesuatu yang umum karena di terlilha di dalam media televisi dan pendidikan pada umumnya. Sehingga tidak baik untuk umum, apa lagi sekolah yang menampung rakyat kecil tidak menjadi umum karena yang ditampung di sekolah pada umumnya adalah orang yang bisa mengumumkan dirinya mampu untuk menyekolahkan anaknya pada umumnya. Sehingga sekolah pada umumnya tidak baik bagi rakyat kecil pada umumnya, karena rakyat kecil itu tidak mungkin masuk sekolah yang banyak orang yang pada umumnya, dan tidak menjadi umum. Inilah masalah sosial yang pada umumnya tidak menjadi permasalahan yang umum. Meskipun kita tahu bahwa sekolah adalah untuk kepentingan umum bukan kepentingan orang kaya pada umumnya sehingga tidak terjadi kesenjangan sekolah dan jurang antara yang kaya dan miskin pada umumnya. Hal ini yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat kita pada umumnya, bahwa pendidikan untuk rakyat kecil itu tidak begitu umum karena tidak baik untuk umum.

    Merdeka Sekolah mengumumkan bahwa pendidikan untuk kepentingan umum, karena disana tidak ada kesejangan antara kaya dan miskin yang pada umumnyal. Sehingga sekolah menjadi lebih umum untuk kalangan umum untuk bisa berpartisipasi bagi masyarakat pada umumnya. Sehingga jangan dibiarkan kalau umum menjadi tidak mengerti apa pendidikan di dalam sekolah pada umumnya. Karena dengan tidak mengertikan masyarakat umum pada pendidikan sekolah pada umumnya akan memberika kekuasaan yang sangat besar pada umumnya bagi sekolah. Sehingga rakyat tidak mempunyai daya tawar pada umumnya, untuk bisa mengkritis permasalahan yang ada di sekolah pada umumnya, agar bisa terjadi keseimbangan pada umumnya, dengan begitu sekolah menjadi sebuah kebijakan pada umumnya untuk kalangan semua orang pada umumnya. Tidak mendiskriditkan masyrakat pada umumnya. Yang dianggap tidak mengerti pendidikan dan mengelola pendidikan yang baik pada umumnya.

    Sehingga sekolah menjadi lahan bisnis pada umumnya untuk kalang umum yang mempunyai orientasi kapital pada umumnya. Menjadi penjahatan sekolah yang memanipulasi sekolah untuk kalangan umum tapi sebenarnya untuk kepentingan bisnis pada umumnya. Karena sekolah pada saat ini, umumnya berorientasi pada bisnis yang menghalalkan segala cara untuk melegalisasikan kegiatan itu menjadi sesuatu yang lebih umum agar tidak menjadi lebih umum dan diterima oleh umum. Untuk bisa diumumkan pada umum untuk bisa masuk sekolah dengan semestinya atau pada umumnya.

    Merdeka Sekolah tidak pada umumnya sehingga dia terlihat indah pada umumnya sebagai sebuah pendidikan yang mengesankan pada kehidupan realitas, yang terlihat dalam blog di internet adalah keindahan Merdeka Sekolah pada umumnya karena Merdeka Sekolah terlihat diinternet itu menjadi sebuah sekolah pada umumnya, meskipun sekolah itu tidak umum, karena masih banyak masyarakat kita berpikir secara umum tentang sekolah yang pada umumnya. Sehingga kalau tidak umum, maka sekolah itu tidak menjadi umum. Meskipun dalam pandangan visual Merdeka Sekolah itu sangat umum. Tapi kenapa menjadi tidak umum, karena masyrakatnya tidak pernah berpikir tidak umum, karena masih berpikir umum berdasarkan pengumuman yang umum tapi sebenarnya tidak umum karena pengumuman lulus pendidikan bukan karena kemampuan anak pada umumnya tidak karena kemampuan keuangang berbicara pada umumnya, meskipun hal itu tidak umum bagi dunia pendidikan. Tapi dibelakang itu semua menjadi terlihat umum dan mampu memberikan perhatian pada umum untuk tertarik pada sekolah itu menjadi lebih umum.

  5. KEINDAHAN MERDEKA SEKOLAH SEBUAH MIMPI?

    Merdeka Sekolah yang berangkat dari kehidupan yang sangat sederhana dan cara berpikirnya sangat sederhana, bahwa pendidikan memang harus dimulai dari kehidupan masyarakat pada umumnya yang masih melihat bahwa silaturahmi dikalangan masyarakat menjadi menjadi menu utama yang mendorong manusia itu menjadi mengerti arti kehidupan yang sedang dijalaninya sebagai sesuatu yang harus dipahami dan diperjuangankan sebuah sebuah aktualisasi dari fitrah manusia yang ingin memberikan sesuatu yang terbaik bagi dirinya dan orang lain pada umumnya. Namun hal itu kadang terkendala pada sekat kelas sosial yang membuat hubungan itu menjadi tidak lagi mempunyai makna dan berupa menjadi hubungan yang bersifat fungsional untuk kepentingan yang tidak pernah tahu dan jelas kena hal itu harus dilakukan dan dikerjakan. Yang kadan kita sebagai manusia tidak mau mengambil resiko apa lagi merasa dikorbankan dalam cara padangan manusia di dalam melihat dirinya diantara manusia lainnya. Seolah-olah lingkungan sosial adalah sebuah lingkungan yang asing bagi manusia untuk bisa memahami arti dari sebuah kejujuran, keikhlasan dan pengorbannya. Karena realitas sosial tidak mencerminkan itu di dalam kehidupan manusia. Membuat niatan yang baik itu menjadi sebuah mitos yang tidak pernah dialam dan dirasakan sebagai sebuah aktulitas dari manusia di dalam kehidupan realitasnya. Itu kalau manusia terpaku pada ruang dan konsep manusia.

    Hal ini yang terjadi pada banyak orang di dalam melihat Merdeka Sekolah ini menjadi sesuatu yang begitu indah dalam sebuah mimpi yang diwujudkan dalam cerita foto yang ada di internet, seolah Merdeka Sekolah adalah realitas keindahan dalam internet tapi bukan realitas keindahan dalam kenyataan. Karena keindahan itu akan terkubur dengan cara padang orang yang melihat dengan sebuah batasan dan definisi tentang pendidikan dan sekolah. Ditambah lagi dengan pengertian lokasi dan tempat yang berkaitan dengan kontrak yang membuat Merdeka Sekolah itu bukan sebuah keindahan dari pendidikan tapi menjadi sebuah persoalan yang membuat setiap orang akan berpikir seribu kali lagi dalam melihat Merdeka Sekolah.

    Tapi apakah mereka yang memandang Merdeka Sekolah dengan mengacu pada keindahan visual Merdeka Sekolah di internet dan realitas yang dilihatnya tidak berbeda dan tidak ada manipulasi gambar, yang adalah cara pada itu berdasark refrensi pada sebuah pengertian ketetapan, ketakutan, kekwatiran tapi bukan pada pendidikan. Meskipun hal ini sangat berkaitan dengan apa yang dilihatnya.

    Begitu juga dengan pengelolahan seolah Merdeka Sekolah itu hanya mengadakan kekuatan dari sekolah untuk bisa mengelolanya secara baik dan bagaimana caranya pendidikan itu bisa jalan. Dan hal itu memang bisa dipahami sebagai sebuah realitas yang susah untuk bisa diusahakan bagaimana untuk mengembangkan sekolah itu, tanpa dengan uang dan uang menjadi sebuah kata kunci untuk bisa melihat Merdeka Sekolah seindah dengan foto yang terdapat di internet. Ini tanggung jawab masyarakat yang direpresentasikan pada yayasan Semesta Langit Biru untu berupaya lebih keras dan keras lagi dengan kerja keras dan cerdas dengn sendirikan akan banyak memberikan kemungkinan, meskipun hal itu dimulai dari sesuatu yang tidak berarti dimata orang lain atau kita sendiri. Tapi Allah sangat melihat usaha sekecil apapun juga mendapatkan imbalan sesuai dengan niatan hambanya. Inilah dimensi menembus semesta menjadi sebuah keindahan mimpi yang selalu muncul dalam kehidupan realitas masyarakat untuk selalu ditumbuh kembangkan menjadi sebuah usaha yang tidak terikat pada aspek apapun juga apa lagi sosial dan orang lain yang kadang membuat kita menjadi orang yang tidak lagi peduli dan hanya mementingkan orang lain. Sehingga membuat diri kita menjadi orang disibukan dengan sesuatu yang tidak jelas yang namanya sibuk tapi bisa mengerti apa yang ada di dalam diri kita sebagai manusia di dalam melihat hidup.

  6. APAKAH MERDEKA SEKOLAH INI SEPERTI

    Toto-Chan, kisah seorang anak Jepang yang sederhana, selalu ingin tahu, dan bersemangat. Bercerita tentang masa kecil seorang anak yang menuntut ilmu di sekolah “super asyik”. Kenapa kubilang “super asyik” ? Karena ternyata lingkungan sekolah seperti itulah yang kudambakan sejak masih TK sampai sekarang !

    Bayangkan. Ruang kelasmu adalah gerbong kereta dan alam bebas. Kepala sekolah dan gurumu sangat bersahabat. Seragammu adalah pakaian paling usang yang boleh kotor dan robek tanpa omelan mama. Belajarmu adalah bermainmu. Celotehmu adalah pendapatmu yang akan didengar dan dihargai guru.

    Asyik bukan ?

    Saat aku masih sekolah dasar dulu, belum ada sekolah dengan konsep seperti itu. Tapi sekarang sudah banyak sekolah yang mengambil sebagian konsep dari sekolah “Tomoe Gakuen” (nama sekolah Toto-Chan)

    Awalnya Toto-Chan pernah dianggap murid nakal. Dia suka sekali berdiri di depan jendela saat pelajaran. Melakukan ‘adegan-adegan’ aneh yang memancing perhatian teman lainnya. Pernah suatu saat dia berdiri di jendela, lewat serombongan pemusik jalanan, dengan spontan Toto-Chan memanggilnya untuk memainkan lagu-lagu. Buyarlah semua aktivitas kelas, anak-anak berkerumun di pinggir jendela melihat pemusik beraksi. Mungkin ini pelajaran bagi kita semua. Jauhkan ruang kelas dari jalanan

    Sejak kejadian itu, kesabaran Guru Toto-Chan makin berkurang. Akhirnya Toto-Chan dikeluarkan dari sekolah.

    Rasa ingin tahu yang besar dan kreativitas yang tinggi membuat Toto-Chan harus tampil jadi anak yang berbeda. Tapi, sejak di Tomoe Gakuen itu tidak terjadi lagi !.

    Banyak cerita seru dan lucu terjadi di sana. Salah satunya, cerita dibalik rok dan celana dalam Toto-Chan yang selalu robek setiap pulang sekolah. Kejadian itu sempat membuat mamanya bingung. Sampai akhirnya Toto-Chan mengatakan yang sebenarnya, tentang permainan kesukaannya itu.

    Yah begitulah Toto-Chan. Kadang kita sebagai orang dewasa tak habis pikir kenapa anak-anak suka melakukan hal aneh dan bodoh, terutama saat mereka berhadapan dengan sesuatu. Kawat berduri ternyata bisa menjadi mainan yang mengasyikan bagi mereka.

    Penasaran ingin tahu cerita-cerita menarik lainnya ? Baca ajah. Pasti tidak akan menyesal. Buku ini juga bagus sebagai panduan mengajar guru-guru atau orang tua dan penyemangat kita agar jangan menyerah untuk berekpresimen terhadap tingkah laku anak.

  7. SEKOLAH TERKECIL DI DUNIA

    Jalan menuju desa kecil Kalou Iran sedang diletakkan di dalam menghormati sekolah dasar tersebut, sekarang diakui oleh UNESCO sebagai terkecil di dunia. Kalou adalah sebuah desa kecil yang terletak 180 kilometer dari Bushehr di bagian selatan Iran; penduduknya terdiri dari 34 orang – tujuh keluarga.sekolah Kalou memiliki empat mahasiswa; dua anak laki-laki dan dua anak perempuan, diajarkan oleh Mohammad mereka antusias guru Abdol-Sha’raani. Dia meletakkan rencananya untuk pendidikan lanjutan ditahan untuk mengajar di desa ini.

    Itu Sha’raani yang memperkenalkan sekolah ke dunia melalui log-nya web. Sekarang sekolah diakui secara internasional.

    Ketika ditanya bagaimana sekolah itu diperkenalkan dengan UNESCO, Sha’raani kata seorang teman hidup Iran di Australia menciptakan sebuah versi bahasa Inggris dari blog baginya. Segera setelah itu, pembaca yang dikirimkan link untuk UNESCO yang kemudian diakui sebagai sekolah terkecil di dunia.

    “Mungkin ada sekolah-sekolah kecil dengan siswa lebih sedikit di dunia,” kata Sha’raani, “tetapi keuntungan sekolah saya adalah bahwa saya telah diperkenalkan ke dunia melalui log-web saya.”

    Kedatangan sebuah paket misterius yang berisi cokelat dan kartu sepanjang jalan dari California menunjukkan sekolah kecil telah jelas berhasil menyentuh hati seluruh dunia. Hadiah memberi Sha’raani kesempatan untuk berbicara tentang orang-orang dari budaya lain dengan murid-muridnya, yang segera menulis surat-terima kasih untuk penggemar mereka dari jauh.

  8. SEKOLAH DITENGAH

    Setiap hari senin pelajaran kreatif selalu belajarnya diluar kelas. Karena dengan belajar diluarkan kelas membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan hidup karena anak-anak sudah dengan ruang luar yang memberikan kemungkinan anak pada lingkungan yang lebih memberikan suasana menarik dan mengairahkan untuk diekspresikan dalam tingkah laku anak-anak. Karena seperti biasa kalau belajar kreatif anak-anak bergairah untuk mengikutinya. Karena pelajaran itu memang mengikuti alur dari gerak dan perasaan anak untuk mengungkapkan dan menangkapnya menjadi sebuah pelajaran atau hanya untuk mengeksplorasi persaaan yang begitu kuat mendorong dirinya untuk berlari kian kemarin tanpa bisa diatur. Seolah gerakan anak-anak menjadi sebuah gerakan alam yang begitu dinamis dan mengairahkan untuk ditangkapnya sebagai realitas kehidupan yang begitu dinamis dan tidak ada permasalahan yang membuat hidup ini tidak bergembiran.

    Gerak langkah dan larinya anak-anak Merdeka Sekolah seperti angin yang bertiup kadang menyenangkan dan kadang menjengkelkan buat orang tertentu. Tapi angin itu menjadi indah dan menarik karena menyuarkan kata dan kalimat yang coba diungkapkan sebagai sebuah pandangan yang memberikan kemungkinan pada anak untuk selalu bergerak dan menghidupkan suasana, sehingga membuat diri terbangun untuk selalu melakukannya tanpa harus takut dan dibatasinya. Karena anak-anak tahu batas dimana dia harus diam. Anak-anak dan alam seperti bagian yang tidak terpisah untuk dikatakan bawah kemerdekaan anak-anak untuk bergerak menjadi batasan kesadaran untuk memberikan warna pada kehidupan ini. Tapi itulah yang tidak pernah dibaca dalam mata pelajaran di sekolah. Karena pelajaran disekolah berkisar pada teks buku yang tidak memberikan kemerdekaan di dalam berpikiran dan merasakan apa yang dapat dirasakan oleh anak-anak. Ini kiranya anak begitu antusias untuk mengikuti pelajaran kreatif, pada hal pelajaran itu tidak ada dikurikulum manapun di dunia. Mata pelajaran yang memang diada-adakan sebagai sebuah kehidupan yang ingin dilihat dari segala macam aspek. Guru tidak bisa menentukan pelajaran itu menjadi baik atau tidak. Yang jelas dalam pelajaran itu anak-anak begitu antusias untuk belajar. Karena anak-anak Merdeka Sekolah masih kelas satu yang masih sulit merangkai kata. Tapi ketika membuat cerita dia seperti seorang sastrawan yang mempunyai pandang tentang apa yang dia lihat dan rasakan sebagai sebuah pengalamannya. Sehingga kata dan kalimat mengalir begitu saja dengan segala macam kekurangannya yang ada pada anak-anak. Tapi anak-anak tidak merasakan hal itu yang ada adalah keinginan untuk mengungkapan apa yang dia lihat, pikirkan, rasakan dan bayangkan tentang sesuatu yang dekat dengan dirinya. Karena belajarnya ditengah sawah, dengan sendirinya sawah dan segala macam yang ada disekitarnya termasuk guru, teman-temannya dan para petani menjadi bagian dari cerita yang ada di dalam tulisan anak-anak, mereka menagkap seperti mereka menangkap dengan perasaan dan keinginan untuk tahu apa yang dia tulisakan. Kadang menyadarkan dirinya bahwa apa yang ditulisnya memang menjadi sesuatu yang begitu dekat dan pernah dialami dirinya sehingga terasa lagi, sebagai sesuatu yang muncul begitu saja. Membuat dia terpana, gembira, senang, kesal, sedih, marah dan benci. Tapi itu sebuah gambaran bagaimana anak itu bisa menangkap persoal ketika dia menuliskan kembali sebagai sebuah kesadaran dirinya.

    Ada dua anak yang belum bisa merangkai kata dan kalimat, karena belum begitu kenal huruf. Tapi ada keinginan untuk menulis dan bercerita, bukan itu saja dia dengan mudah menangkap realitas yang ditangkapnya menjadi sebuah tulisan, seperti apa yang dilakukan Isa dengan mudah memaparkan apa yang dilihat untuk bisa diceritakan tanpa harus berpikir lama untuk menulis apa. Semuanya dilakukan dengan spontanisa, dia mencerita gurunya yang tidur diatas jerami sambil mengajarkan teman-temannya menulis. Begitu juga dengan Rohim yang semangat untuk bercerita meskipun kendala yang paling besar dia tidak kenal huruf, sehingga satu persatu gurunya memperkenalkan huruf sesuai dengan keinginan cerita yang ingin dia ceritanya. Seolah-olah huruf itu menjadi sebuah kelahir yang dia buat dalam sebuah cerita. Huruf bukan sebuah mitos yang tidak dia kenal dan tahu dari mana, yang penting anak harus belajar mengenal huruf dan bisa membaca. Tapi dengan Rohim kata bisa lahir dari dirnya, dengan sendirinya dia akan tahu bagaimana sebuah huruf, kata dan kalimat itu muncul. Dan itu memang tidak dirasakan olehnya tahu alam bawah sadarnya tahu bahwa huruf, kata dan kalimat itu muncul dari dirinya yang mempunyai inginan untuk bercerita dan bermimpi tentang apa yang menjadi mimpinya. Inilah pelajaran yang tidak tahu apa yang harus dipelajari, karena yang jelas anak mempunyai keinginan untuk menulis dan mengambar, kemudian bermain dengan gurunya.

    Pelajaran itu berjalan diantara pematang sawah sambil merasakan terik mata hari atau melihat keindahan hijaunya sawah yang terbentang untuk menyelami dengan tanah dan air yang ada disawah. Atau anak-anak Merdeka melihat panen padi di sawah sambil berjeletuk tentang apa yang dilihat dan dirasakan. Pak Tani dengan anaknya anak-anak ditenagh sawah pada mulanya sesuatu yang aneh tapi lama kemudian menjadi sesuatu yang biasa, kedekatan anak-anak dengan petani begitu saja terjadi tanpa ada sesuatu yang dilakukan, anak-anak melihat dan belajar untuk menulis, Pak tani dan Bu tani menanam atau memanen padi dan kemudian mengkepyoknya menjadi pekerjaan sehari-hari yang tidak pernah terganggu dengan kehadiran anak-anak. Dan seperti layaknya orang tua Pak dan Ibu tani menanyakan pada anak-anak nanti panas dan nanti kotor, tapi dengan lugasnya anak-anak mengatakan tidak apa-apa karena bawa baju ganti. Begitulah yang terjadi di dalam pelajaran kreatif yang memberikan pada anak-anak untuk merdeka belajar dan menulis apa saja yang dia lihat, pikirkan, rasakan dan mimpinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s