Aku Sekolah Kemana


Aku Sekolah Dimana

SD Bahagia nampak ramai dikunjungi orang. Hari itu dalah hari pengumuman hasil seleksi penerimaan murid baru tahun ajaran 2010/2011. Mulai dari mobil  hingga pejalan kaki berjubel untuk melihat hasil pengumuman. Namun setelah beberapa saat melihat hasil seleksi tersebut, suasana di pelataran sekolah Bahagia itu berangsur sepi. Hanya beberapa orang yang masih nampak melihat hasil seleksi dan  beberapa petugas sekolah yang sedang piket masih nampak berada di ruang tata usaha.

Disebuah sudut sekolah yang ditumbuhi pepohonan akasia kira-kira 20 meter dari tempat pengumuman seorang anak kecil dan ibunya sedang duduk termenung tak bersuara. Mereka berdua bertopang dagu sambil memandang tanpa arah tertentu. Tak lama kemudian sang ibu berujar, ‘Dim, namamu nggak ada. Kamu tidak diterima di sekolah ini, udahlah nggak apa-apa kita cari sekolah yang lain. Katanya beberapa sekolah masih membuka penerimaan gelombang kedua’ . Dimanto masih terdiam dan tak menanggapi tawaran ibunya itu. ‘Kamu sedih ya Dim?, gak papa yang penting kamu bisa sekolah. Masih banyak kok sekolahan yang lain dan tidak kalah mutunya dibanding sekolah ini. O iya, bapakmu kok  belum njemput sih, udah mulai panas nich.’ keluh ibunya Diman  sambil mengusap dahinya.

‘Tauk..,’ jawab Diman dengan nada sebel, mungkin karena kegagalanya nembus sekolah impiannya. ‘Saya males sekolah bu. Saya dirumah saja nggak usah sekolah’ ungkap Diman dengan kekeh sambil mengepal-kepalkan tangannya. ‘Dim, tidak usah putus asa begitu.., kamu memiliki kemampuan kok. Begini saja kamu mencoba daftar disekolah lain yah terserah mau ke Maharani, atau ke pesantrennya Ustadz Yayah dicoba setahun nah, nanti kalau tahun depan pendaftaran lagi Diman boleh mencoba lagi daftar ke Bahagia’, rayu ibu Diman. Diman berdiri dan berkata ‘Nggak pokoknya enggak….’ jawab Diman dengan berteriak. Ibunya segera merangkul, dan berkata ‘Udah-udah Dim, malu dilihat orang.  Ayo pulang aja ita naik angkot aja, bapakmu kemana aja sih..’, ajak ibunya sambil menggandeng tangan Diman. Walau sempat berontak dengan menarik tangannya tapi akhirnya  Diman menurut juga diajak pulang oleh ibunya. Raut wajahnya masih masam dan nampak kesal dari gerak langkahnya yang sesekali menendang-nendang kertas yang tercecer di halaman sekolah Bahagia.

‘Bu saya haus, beli minum dulu dong !’ pinta Diman ke ibunya. Akhirnya Diman dan sang ibu menuju toko kecil didepan sekolah untuk membeli air mineral kesukaan Diman. Diman memang suka minum air putih, tidak seperti anak seusianya yang suka minuman warna-warni dan rasa-rasi. Sambil digandeng ibunya Diman naik angkot S37 menuju kawasan Maharani ujung. 

Setelah dibujuk  oleh kedua orang tuanya, dan saudara-saudaranya, Diman akhirnya   bersedia diajak  untuk mendaftar di SD Mayapada. Setelah melengkapi semua persyaratan dan test masuk juga sudah dilaksanakan maka tibalah hari pengumuman penerimaan siswa baru. Diman nampak ceria, karena itung-itungan akademis dan persyaratan Diman bakal lolos tanpa hambatan. ‘Dim, nanti setelah lihat pengumuman kita beli soto daging yang di perempatan Moncol ya, disana enak lho sotonya. Itu soto pak H. Rojak yang terkenal, murah lagi’ janji ibunya dengan wajah berseri. Diman menjawab dengan sumringah, ‘Baik bu. Insyaalloh kalo Diman diterima nanti Diman minta dibeliin bola futsal ya bu !’ rayu Diman. ‘Insyaalloh,’ jawab ibu Diman singkat.

Suasana di  SD Mayapadha mulai rame dan tidak lama kemudian papan pengumuman digotong oleh beberapa orang untuk ditempatkan di depan ruang Tata Usaha, agar dapat dilihat oleh pada pendaftar. Diman mulai memeriksa nama-nama yang tertera di kertas pengumuman yang berwarna putih dengan ukuran A3 itu.  Hati Diman mulai berdetak lebih sering ketika namanya tak kunjung ditemukan. Dan Diman mencoba mengulang lagi dari atas, dari 35 siswa yang diterima ternyata Diman namanya tidak tercantum dan dibawah kolom terdapat keterangan. ‘Bagi yang namanya tidak tercantum dalam lembar pengumunan ini, berarti tidak lulus dalam seleksi murid baru SD Mayapada. Semoga dapat melanjutkan pendidikan ditempat yang lain’.

Keringat mulai merembes di pipin dan baju Diman, wajah agak pucatpun terlihat jelas dirautnya. ‘Bu…, nama Diman tidak ada bu, Diman tidak lulus .’ beritau Diman ke ibunya. ‘Masak sih Dim, coba dilihat lagi barang kali kamu kelewat membacanya’ suruh ibunya. Diman, sempat menoleh beberapa kali dan akhirnya mengajak ibunya duduk dibangku panjang di teras sekolah.

‘Ma’afkan Diman ya bu. Sudah saya lihat berkali-kali ternyata nama Diman  tidak ada, saya tidak menyangka kalau saya gagal lagi. Terus gimana ya bu?’ jelas Diman ke ibunya. ‘Ya udah, kalau Diman masih pingin sekolah kita cari ke sekolah yang lain, kalau tidak salah di MI Miftahul Khoir punya H. Jujung masih buka, biasanya disana pendaftarannya lama kok. Kamu mau Dim sekolah disana ?’ tanya ibunya sambil memegangi pundak Diman yang sedikit basah oleh keringat. ‘Bu pokoknya saya pingin sekolah bu, entah bagaimana dan dimana sekolahannya sekarang saya pasrah yang penting saya bisa sekolah.’ jawab Diman dengan suara lungkrah.

‘Ya udah kalau begitu, besuk saja kita daftar ke H. Jujung, nah sekarang kita makan soto dulu yuk !, ibu sudah lapar nich. Nanti biar saya yang bilang ke H. Jujung, supaya kamu bisa diterima disana. Ayo Dim, itu angkot 09 sudah ada yang nunggu’. Akhirnya Diman dan ibunya naik angkot untuk menikmati soto H.Jujung. Walau Diman gagal lagi untuk bersekolah di sekolah harapannya, namun pesta makan soto tetep berlangsung. Walau dihati Diman masih berisi pertanyaan, “dimana saya akan bersekolah ?’ . (T.Setiya)

   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s