Sunyi


Ruang Sunyi

Entah apa yang membuatku terketuk hati untuk pergi kesekolah di pagi itu. Perasaan menggiringku untuk pergi mengayuh sepeda anakku yang besar. Sesampai disekolah, pintu gerbang dari bambu itu tertutup namun tak dikunci. Mungkin mamat sedang keluar, ke toko sebelah sehingga pintu tidak digembok.

Langkahku terus mengayun menuruti kata hati, mengelilingi setiap ruang kelas yang jumlahnya 5 ruang itu. Setiap pintu coba  kubuka, karena ada rasa yang tak seperti biasa. Pintu ke 1 dan kedua semua terkunci dan ruangan nampak sunyi kala kulihat dari anyaman kawat yang menutup separuh dinding kelas. Hatiku mulai ragu saat berada didepan pintu ke 3, karena anak kunci menggantung tepat di kunci pintu itu. ‘Ada siapa ya di dalam ruang sunyi itu ?’ , tanya dalam hati ini. Kuberanikan untuk membuka secara perlahan, dan subhanalloh, Ramdhan murid kelas 3 duduk termenung kosong dalam kesunyian ruang itu.

Ramdhan duduk di bangku belakang bangku yang selama ini menjadi tempat belajarnya.  ‘Ramdhan…, ada apa disini?’ tanyaku heran. ‘Oh.., pak Arif, ma’af pak nggak ada apa-apa pak’ jawab Ramdhan agak gugup sambil menyambut tanganku dan menciumnya.  Akhirnya aku duduk dibangku yang kosong serta mempersilahkan Ramdhan untuk duduk  di kursi depanku. ‘Ramdhan, sebenarnya ada apa kok hari minggu begini Hamdan datang ke sekolah?, nggak apa-apa kok, ceritakan saja barang kali bapak bisa membantu kamu. Saya tadi melihat kamu duduk termenung kosong di ruang kelas yang sunyi ini. Ceritakan Ramdhan !’ pintaku.

‘Pak, saya mau pindah sekolah pak. Entar  malem saya harus berangkat menuju Bau-bau pindah bersama orang tuaku pak’  jelas Ramdhan. Aku sedikit terkaget, karena sebelumnya Ramdhan tidak pernah ijin/cerita akan pindah ketempat yang jauh itu. ‘Ramdhan…, kok mendadak sekali dan kamu selama ini tidak pernah cerita ke bapak, kalau kamu akan pindah?’  tanyaku menggali keterangan Ramdhan. ‘Iya pak ini mendadak, sebenarnya saya dan keluarga mau berangkat ke Bau-Bau  dua minggu lagi, sehingga ada waktu untuk pamitan dan ijin kepada bapak dan teman-teman. Tapi ada kabar dari bapak saya bahwa kapal ke Bau-Bau ‘Dobon Solo’ ada perubahan jadual dan malem ini saya harus berangkat karena kalau tidak berangkat malem ini nanti kapal akan lama lagi merapat ke pelabuhan ‘Tri Sakti’. Sementara itu bapak harus segera masuk ditempat kerjanya yang baru. Jadi saya nanti malam harus berangkat meninggalkan sekolah ini pak’ jawab Ramdhan.

‘Terus kenapa  Ramdhan datang ke sekolah?’ tanyaku lagi. Ramdhan nanpak sudah bisa menguasi dirinya dan sambil menghela nafas Ramdhan tersenyum ‘Begini pak, sekolah ini sangat berarti bagi saya pak. Disekolah inilah saya pertama kali bisa membaca dan menulis, serta menghafal surat Al-fatihah. Sekolah ini sangat berarti bagi saya pak. Namun saya harus segera meninggalkan sekolah ini karena ketidakberdayaan saya, karena harus mengikuti bapak pindah tugas. Makanya saya ingin mengenang dan berpisah dengan sekolah ini, dan saya pingin duduk di bangku belajar ini pak’ jawab Ramdhan dengan bangga.

‘Saya pikir besok tidak ada hari lagi, karena malam ini saya harus berangkat. Dan saya terpikir bahwa pak Mamad, pasti ada disekolah karena  pak mamad minggu pagi biasanya mengecek sekolah. Maka pagi-pagi saya sudah kesini pak. Dan alhamdulilah saya ketemu pak Mamad dan minta ijin untuk dibukakan pintu kelas karena saya ingin duduk dibangku ini, untuk kenang-kenangan sebelum saya berangkat pindah. Walau ruang ini kosong dan sunyi, namun malah menambah rasa haru saya bahwa saya bangga menjadi siswa sekolah sederhana ini. Sekolah ini akan saya kenang sepanjang hidup saya pak. Saya tidak tahu apakah suatu saat nanti saya masih dapat kembali ke sini. Maka saya manfaatkan betul kesempatan ini, ruang sunyi ini sungguh sangat berarti pak’  urai Ramdhan dengan rasa yang sahdu.

‘Subhanalloh, Ramdhan…., entah apa yang membawa rasa di dalam dada bapak sehingga saya kepingin banget ke sekolah pagi ini. Perasaan bapak ada sesuatu disekolah maka saya menuju ke sekolah ini. Ternyata saya bertemu kamu Ramdhan. Yah…, kalau memang semua ini telah menjadi pilihan keluarga Ramdhan dan Ramdhan harus pindah…, maka bapak hanya bisa mendo’akan semoga Alloh memberkahimu. Berangkatlah Ramdhan bawalah sikap dan sifat baikmu menuju tempat yang baru. Bapak dan teman-teman akan mengenangmu, kamu anak yang baik dan pintar. Belajarlah dengan gigih, bapak yakin suatu saat kamu akan menjadi orang yang berhasil. Kirim surat ke kami yang ada disini kalau sudah sampai di sana ya nak !. Belajar yang gigih, rajin sholat dan terus membaca al-Qur’an. Nanti akan saya samapikan ke teman-temanmu bahwa kamu sudah pindah. O ya Ramdhan, bapak tidak bisa lama-lama disini sebab  bapak mau ke  kabupaten untuk mengurus bantuan dari Kementerian Agama, katany sekolah kita mau dapat bantuan alat-alat olah raga. Jadi Ramdhan mau pulang atau masih pingin disini?’ tanyaku.

‘Terimakasih nasehat dan do’anya pak. Ma’af ya pak ijinkan saya masih di ruang sunyi ini. Saya ingin mengenang banyak dari ruang ini, semoga semua ini menjadi bekal berarti dari kepindahan saya pak’  pinta Ramdhan. ‘Baiklah kalau begitu. Bapak pergi dulu, salam untuk keluargamu dan tolong nanti kalau sudah selesai pintu dikunci lagi dan kuncinya tolong disampaikan lagi ke pak Mamad! Sudah ya Assalamu’alaikum’. Kupeluk erat tubuh kurus dan bersih itu, sebagai ucapan rasa perpisahan di Ruang yang Sunyi itu. (Tanda S)   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s