Belajar Menangis


Belajar dari Tangisan Hasan

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba dari ruang kelas Al-Baynah terdengar tangisan yang keras. Tak lama kemudian anak-anak diruangan itu berhamburan lari  menuju ruang guru yang tak jauh dari tempat itu.

‘Ada apa anak-anak ?, siapa yang menangis ?’ tanya bunda Rumi sambil merangkul beberapa anak kelas satu yang menuju ruangannya. ‘Itu bu, Hasan menangis keras sekali, brisik bu ruangan jadi gaduh’ jawab Marta  dengan jelas sambil menunjuk kearah kelas. Kemudian Rafli menimpali, ‘Iya bu, Hasan minta pinjem pulpen Ipin-Upinnya Jajang. Nah Jajang tidak boleh, terus Hasan malah menangis’.

‘Baik anak-anak yang baik, ayo kita ke ruang kelas yuk ! kasihan kan Hasan sendirian menangis di kelas. Ayo kita kesana, !’ ajak bunda Rumi sambil membimbing beberapa anak perempuan. ‘Assalamu’alaikum anak-anak…’ salam bunda Rumi sumringah. Beberapa anak masih berada di dalam kelas dan Hasan masih sesenggukkan menangis dengan menundukkan kepalanya ke atas meja tulis. ‘Waalaikum salam bunda’ , jawab anak-anak tak berbarengan.

‘Tolong anak-anak kembali ketempat duduknya masing-masing, dan lanjutkan menyelesaikan tugas menulisnya. Dan mohon semua duduk yang rapi ya!’, pinta  bunda Rumi sambil melangkah menuju tempat duduk Hasan yang tensi menangisnya mulai agak redup.

‘Hasan…, anak bunda…, Hasan pingin pulpen Ipin-Upin ya ?’ tanya bunda Rumi   sambil membelai rambut Hasan yang lurus itu. ‘Iya bunda.., Jajang jahat bunda, masak mau dipinjemi aja enggak boleh, malah ngatain minta ke bapakmu sana. Kan Hasan sudah tidak punya bapak, jadi Hasan sedih sekali bunda’, urai Hasan sambil meneteskan sisa-sisa air matanya.

‘Baik Hasan, sekarang Hasan menulis dengan pulpen Hasan dulu ya. Insyaalloh, besok bunda belikan pulpen Upin-Ipin.  Hasan pingin yang warnanya apa sayang ..?’ pinta bunda Rumi dengan perasaan yang berwarna. Hasan, nampak mulai tenang walau masih menahan tangisnya yang tersisa. ‘Ma’af bunda. Terimakasih, atas tawarannya, tapi saya mau bilang ibu saya dulu ya bu. Sebab ibu selalu pesan kepada Hasan agar hasan tidak mudah menerima pemberian orang lain, apalagi meminta-minta. Sebenarnya saya hanya ingin pinjam saja bu pulpennya Jajang, sebab saya belum pernah melihat dan memegang pulpen yang dikepalanya ada kepala Ipin dan Upin. Terimakasih ya bunda…’ , jawab Hasan dengan nada yang tulus. ‘Baik anakku, enggak apa-apa, sekarang melanjutkan menulisnya yaa…, sebentar lagi istirahat. Besok kalau ibunya Hasan sudah setuju Hasan dibelikan hadiah pulpen Ipin-Upin, bilang ke bunda ya .,  sayang,,..!. Baik anak-anak masih ada waktu 15 menit lagi untuk menyelesaikan tugas menulisnya. Bunda ada perlu sebentar ke  ruang guru, nanti kalau sudah selesai, tolong Rahmat dan Badrul memberitahu bunda ya!’  pinta bunda Rumi sambil meninggalkan ruang al-Baynah.

Sesampai di ruang guru, bunda Rumi nampak terduduk dan diam dalam perenungan. ‘Subhanalloh, Hasan anak yatim yang baik. Ternyata dia menangis karena teringat bapaknya yang telah tiada. Dan dia, diajari perilaku mulia oleh ibunya. Walau dia anak yatim dan tidak punya, ibunya  melarang gampang   menerima pemberian orang dan jangan sekali-kali meminta kepada orang. Sungguh betapa berartinya kata-kata yang keluar dari anak kecil itu, aku dibuatnya tersadar bahwa setiap kita dalam segala keberadaanya memiliku titik sedih yang berbeda, yang ternyata bisa menjadi sebab menetesnya air mata. Hasan meledakkan rasa ingat pada bapaknya yang telah tiada dengan menangis sejadi-jadinya, barang kali dihatinya ingin memanggil bapaknya yang telah tiada agar mendengar bahwa anaknya pingin sebuah pulpen Ipin-Upin’ , tak tersadar air mata mulai menetes perlahan di pipi bunda Rumi yang putih halus itu. ‘Ya Alloh, Hasan telah membuatku kembali  tersadar bahwa keinginan itu bisa menimbulkan tangisan. Hasan membuatku tersadar bahwa tangisan itu bisa tercipta dari teringatnya pada sesuatu/benda/seseorang yang dicintainya. Dan dari asebab tangisan Hasan tadi akhirnya aku bisa tahu bahwa pelajaran berharga telah Alloh turunkan untukku, bahwa jangan mudah menerima pemberian orang lain apalagi meminta-minta kepada orang lain, walau kita dalam kekurangan. Saya yakin ibunya Hasan tidak mengajarkan anaknya sombong, namun malah sebaliknya dia mengajarkan apa yang disebut harga diri dan lebih dari itu bahwa sepatutnya kita hanya berharap dan meminta semata hanya kepada Alloh SWT. Sungguh pelajaran  mulia telah aku dapatkan pada   hari ini dari tangisan Hasan’.  Renung bunda Rumi. (Tanda S) 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s