Penerimaan Murid Baru


Penerimaan Murid Baru

Sudah tinggal beberapa hari lagi, pendaftaran murid baru akan berakhir. ‘Yang daftar sudah berapa orang bu ?’ tanya kepala sekolah dengan nada ragu-ragu. ‘Baru 3 orang pak. Kemarin sih sempat 7 orang tapi yang 4 sudah mengundurkan diri karena jumlah yang daftar cuman sedikit’, jawab bu Ngatirah dengan sedikit gugup. ‘Ma’afin saya ya pak, saya tidak bisa meyakinkan orang tua pendaftar’ tambah bu Ngatirah dengan wajah menunduk.

‘Tidak apa-apa bu, memang belum ditentukan Tuhan, anak-anak itu sekolah disini. Udah gak apa-apa. Terus kemarin katanya ada 2 anak titipan anak yatim dari ustadz Hariyanto, apa sudah mendaftarkan diri ?’ tanya pak Salmun kepala sekolah yang sabar itu.  ‘Kemarin memang ustadz Haryanto dateng kemari pak, bahwa insyaalloh akan menitipkan 2 anak yatim untuk sekolah disini. Tapi sedang dicarikan tempat tinggalnya dulu maksudnya kos-kosan untuk anak tersebut berserta ibunya. Sebab mereka dateng dari daerah yang jauh pak. Namanya Salma dan Adil pak, dia kembar laki-perempuan’ jelas bu Ngatirah.

Sambil memeriksa daftar siswa yang telah mendaftar, kepala sekolah itu nampak sedikit gelisah.  ‘Bu, kapan rapat pengurus yayasan ?’ tanya pak Salmun. “Insyaalloh, dua hari lagi pak, katanya pak Hamid mau dateng. Kemarin sudah ada konfirmasi dia akan bergabung untuk membicarakan beberapa masalah demi pengembangan sekolah ini’.

‘Makasih ya bu, saya diingetin. Tolong disiapkan daftar seluruh siswa dan beberapa permasalahan sekolah, agar nanti bisa saya sampaikan di rapat. Sebenarnya saya enggak enak ati sama pak Hamid. Beliau sudah banyak berkorban demi sekolah ini. Namun sekolah tidak berkembang-kembang hingga saat ini. Apalagi saya enggak tahu bagaimana perasaan pak Hamid kalau mendengar jumlah murid yang daftar baru 3 orang’, keluh pak Salmun sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sudah mulai ditaburi rambut putih.

‘Bu, saya permisi dulu ya, mau ketemu pak Arifin, katanya dia mau masukkan anaknya kesekolah  ini” pamit pak Salmun sambil menuju sepeda onthel laki-laki yang bermerek Phonix. ‘Injih pak, semoga dua hari ini ada tambahan murid baru” jawab bu Ngatirah lembut.

Suasana hari yang ceria, mentari sangat jernih menyinari sudut-sudut kampung yang disembunyikan oleh pohon-pohon besar yang masih setia tumbuh di sekitar sekolahan. Beberapa orang nampak sibuk untuk mempersiapkan acara rapat yayasan pagi itu. Tak lama berselang sepeda tua itu meluncur dan bel ning-nong berbunyi, serta merta mata-mata pagi itu tertuju kepada arah suara kedatangan kepala sekolah.

‘Assalamu’alaikum pak Rus dan pak Dul…” salam pak Salmun. ‘Waalaikumsalam pak,” jawab  kedua pegawai sekolah itu. ‘Sudah beres pak ?’ sambung pak Salmun. ‘Ini tinggal sedikit pak, insyaalloh sebentar lagi beres. Mohon dicek pak barang kali ada yang kurang pas !’ pintan pak Rus yang memang lebih tua dibanding pak Dul.

‘Bail pak, tapi saya mau ke kamar kecil dulu. Maklum tadi malem saya kayaknya salah makan, terlalu pedas bumbu kepiting lada hitam yang dimasakkan istri saya’, jelas pak Salmun sambil menuju lakar kecil yang berada diujung sekolah.

‘Saya salut sama pak Salmun Dul, dia gigih sekali mengelola sekolah ini, walau secara itung-itungan ekonomi kayaknya tidak menjanjikan’ ulas pak Rus sambil melanjutkan pekerjaannya. ‘Inilah komitmen dari  seluruh pegawai dan pengurus disini pak Rus, bahwa kita semua disini memang niatnya untuk belajar berkurban melalui jalan pendidikan. Saya inget pesan pak Hamid, bahwa sekolah ini diniatkan untuk jihad fisabililah melalui jalur pendidikan. Namanya jihad ya harus berkurban. Yang punya uang ya dengan uangnya, yang punya tenaga ya dengan tenaganya pokoknya kita harus berkurban’ jawab pak Dul mengingatkan pak Rus.

Sementara itu, bu Ngaturah, bu Retno dan pak Yan juga sudah mulai datang di sekolah. Pak Salmun pun sudah selesai dari kamar kecil dan berbincang dengan guru-guru.

‘Pak Yan dan bu Retno, kita nanti harus sampaikan apa adanya kepada pak Hamid dan pengurus yayasan yang lain, tentang  kondisi sekolah. Khususnya tentang penerimaan murid baru. Ini penting supaya ada tindakan bagaimana seharusnya kelanjutan pelaksanaan murid baru ini’ harap pak Salmun kepada guru-guru.

Beberapa motor dan mobil sudah mulai datang, mereka adalah pengurus yayasan yang sebentar lagi akan mengadakan rapat. Pak Hamid juga  sudah nampak datang dengan vespa lamanya yang masih disayang. Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan nampak akrab, karena memang sudah 5 bulan rapat pengurus tidak diadakan.

‘Baik bapak-ibu  yang saya hormati, mari kita mulai rapat kali ini dan intinya akan difokuskan pada pembahasan penerimaan murid baru’ buka pak Hamid setelah terlebih dahulu mengucapkan syukur dan shalawat. Pak Salmun mendapat kesempatan pertama untuk melaporkan perkembangan penerimaan suswa baru. Pak Salmun menjelaskan bahwa murid yang sudah daftar baru 3 ada 4 yang sudah daftar namun mengundurkan diri dan ada 2 orang bawaan ustadz Haryanto rencananya akan mendaftar.

Pak Hamid, langsung menanggapi dan membawa kabar yang baik untuk siswa baru. “Bapak/Ibu yang saya hormati, sebenarnya dengan semakin sedikitnya siswa yang sekolah disini, ini merupakan keberhasilan. Berarti anak-anak  usia sekolah di sekitar kampung ini sudah mulai baik keberadaanya bisa sekolah disekolah umum baik negeri maupun  swasta yang lebih baik. Nah, ini ditunjukkan dengan baru 3 orang yang mendaftar disekolah ini.  Kalau suatu saat dikampung ini sudah tidak ada yang mendaftar kesekolah kita, maka kita telah berhasil disini dan kita akan hijrah menuju kampung yang membutuhkan sekolah seperti sekolah kita. Namun saya membawa kabar, bahwa 3 hari yang lalu saya bertemu dengan pak H. Rozi pimpinan sekolah Ar-Rahman dikampung Butut. Beliau mengatakan ada 10 murid yang sudah daftar disekolahnya, namun berdasar rapat terakhir pengurus bahwa Ar-Rahman masih ingin berkonsentrasi di MTs-nya sehingga 10 murid tersebut ditawarkan untuk masuk di sekolah kita. Yah, kebetulan sekolah kita baru ada 3 murid jadi bagaimana kalau tawaran tersebut kita terima ?’ urai pak Hamid kepada peserta rapat.

Wajah pak Salmun nampak kembali bersinar, senyum manisnya spontan keluar menebar ke seluruh peserta rapat. Demikian pula guru-guru dan tidak ketinggalan bu Ngatirah langsung berucap ‘Alhamdulillah..”.

Rapat akhirnya terus berlangsung dan menghasilkan beberapa keputusan salah satunya bahwa sekolah masih melanjutkan penerimaan siswa baru dan melaksanakan pembelajaran ditahun depan. Sementara langkah untuk hijrah ketempat lain yang sangat membutuhkan juga talah disepakati yaitu ke daerah Pasir Naga daerah pesisir selatan, yang penduduknya sebagian besar nelayan miskin.

Sekolah memang tidak bisa lepas dari adanya murid, namun banyak/sedikitnya murid tentun bukan menjadi ukuran  kebaikan/buruknya sebuah lembaga pendidikan. Sebuah upaya untuk lebih membuat anak beradab dibanding tidak sekolah tentunya lebih mulia dari sekedar mengejar kuantitas dari anak-anak yang selanjutnya dijadikan tempat menuang ilmu-ilmu dan akhirnya berujung pada selembar kertas ijasah yang ditorehi angka-angka. Kesungguhan untuk berbuat adalah barang mahal yang bakal menentukan kualitas diri sebagai insan dimuka bumi ini. (Tanda S)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s