Mencari Ruang


Mencari Ruang

Mencari Ruang

Kita tak kan bisa bergerak tanpa ada ruang. Sekolah ini sudah akan habis masa kontrak ruangnya, segera harus dilakukan tindakan agar nasib anak-anak itu tidak mengambang. Anak-anak perlu ruang untuk belajar,  ini sekolah formal bukan sekolah abal-abal. Banyak yang bertanya sekolah ini sudah punya ruang sendiri atau belum, dan beberapa orang malah batal mendaftar karena sekolah ini ruangnya belum permanen. Mereka takut anaknya akan menjadi korban ruang yang tak jelas adanya.

Akhirnya terpikir untuk mencari ruang, entah dengan memperpanjang kontrak atau mencari lahan yang selanjutnya dijadikan ruang untuk anak-anak belajar.Memang dibutuhkan ruang/lahan yang luas supaya bisa bernafas lega, harapan yang besar harus diwadahi dengan ruang yang luas. Sekolah ini dicita-citakan untuk menjadi sekolah yang besar, menjadi tempat yang besar bagi anak-anak yang besar jumlahnya. Semakin banyak anak yang belajar disekolah ini maka semakin besar ruang yang dibutuhkan. Namun harus disadari bahwa ruang yang besar itu membutuhkan uang yang besar pula. Sementara uang kita,  tak sebesar ruang yang dicita-citakan itu. Sehingga gamang melangkah dan akhirnya redup oleh kekerdilan keyakinan. Ya sudah, kalau begitu beli saja ruang yang kecil sebagai ruang tahapan untuk nantinya ruang yang lebih  luas. Tapi kita maunya kan yang luas supaya anak-anak bisa menempati ruang yang luas dalam berekspresi. Dan akhirnya lahan itu belum juga menjadi ruang harapan.

Lho, kan dimana-mana ini kan ruang, jadi kita bisa saja belajar dengan ruangnya yang tanpa batas. Benar, memang ruang itu adalah sesuatu yang  memiliki batas tertentu, namun tertentunya itu kan berbeda-beda batasannya. Kalau kelas ini adalah ruangan dari ukuran dinding 4 kali 6 meter, dan ruangan ini merupakan bagian dari ruang yang lebih besar berupa gedung sekolah demikian seterusnya hingga ruang yang berada diluar ruangan Tuhan yang maha tak terbatas. Sederhananya kalau tidak punya ruang kelas yang keruang alam pelataran, saung, pematang sawah, lapangan luas, garasi dan lain-lainnya. Pokoknya ruang itu selalu ada sehingga kita bisa belajar dimana saja. Ya, itu ya benar sih, tapi. Tapi harus disadari bahwa pemahaman itu kan bisa berbeda dan semuannya patut untuk diperlakukan dengan bijak. Orang tua murid, sesama pengurus, guru, murid, masyarakat, institusi resmi pendidikan dll, adalah suara-suara yang bisa memberikan definisi tentang ruang itu berbeda dengan segala argumennya. Kita kan bagian dari semua itu, yang tidak-bisa tidak harus memberikan apresiasi dan ruang proporsional dari  apa yang disebut/definisi Ruang itu sendiri. Bahkan kata teman-teman yang menekuni filsafat, dapat menjadikan hatinya sebagai ruang itu sendiri. Mereka akan lebih leluasa memilih dan memiliki ruang dari relung hatinya yang amat sangat luas dan dalam isinya. Walau bentuknya kecil dan didalam diri, namun bisa dijadikan ruang belajar yang tak berbatas dan bebas tanpa pengaruh siapapun. Untuk itu perlu kita kembali mendudukkan ruang dalam artian umum dan sesuai dengan kebutuhan.

Ruang itu bukan untuk kebutuhan dan keinginan kita sendiri, namun untuk orang lain, ruang untuk murid-murid itu, ruang untuk pengakuan masyarakat, ruang untuk menumbuhkan kepercayaan stackeholders  bahwa kita ini ada pada sebuah ruang dan memiliki ruang. Sehingga ruang harus diwujudkan dalam bentuk hamparan lahan yang diatasnya ada bangunan untuk belajar. Dan itu harus diadakan dengan cara apapun, bisa membeli, bisa dengan mendapatkan wakaf, atau dengan cara-cara lain yang sah. Dan saat ini yang paling memungkinkan adalah kita harus beli/sewa. Inget, sebentar lagi sekolah akan tambah murid-murid baru, sehingga perludisediakan ruang, sekali lagi ruang dalam artian umum.  Sebaiknya kita ngontrak aja, karena kita belum cukup uang untuk membeli ruang yang memadahi. Wah kalau begitu kita tidak ada kemajuan untuk memiliki ruang sendiri. Sebaiknya kita beli aja sendiri ruang itu walaupun kecil  kita sudah punya ruang. Tidak usah sebaiknya kita kontrak aja. Ah, sebaiknya kita nunggu saja murid yang  masuk berapa sehingga masih butuh ruang atau tidak, dan masih banyak lagi alasan-alasan itu bersliweran tak beraturan.

Apapun alasannya, kita tetep butuh ruang. Yang ada ini sudah tidak mungkin lagi untuk memenuhi kebutuhan ruang, pokoknya kita buruh ruang. Kalau memang kebutuhan ruang itu mendesak yang mungkin kita kontrak tambahan ruang, tapi keinginan untuk memiliki ruang sendiri itu juga harus tetep dilakukan.  Mana mungkin kita berkiprah tanpa ruang.

Hari-demi hari terus merangkak menuju arah ruang harapan. Melewati tanjakan dan turunan yang tajam tak terperi. Sesekali menghela nafas untuk sejenak leletakkan tubuh yang kian layu oleh harapan yang belum tertuju. Tak boleh perjuangan ini berhenti, terus dan terus melaju menuju ruang tujuanku. Akhirnya  harapan untuk memiliki ruang itu disebar kepada semua  orang, untuk bersama mencarikan ruang bagi terwujudnya harapan. Ruang itu menjadi harapanku, agar anak-anak itu memiliki tempat  yang luas untuk menjelajah alam  ilmu yang sangat luas. Saat ini aku sedang mencari ruang itu. (T.Setiya)

One thought on “Mencari Ruang

  1. DIRUANG INI KAMI MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DAN BANYAK BERLAJAR ..

    “Kebahagiaan setiap pagi…”

    Nikmat Allah tiada terhingga..
    Setiap pagi tiba di sekolah, hati ini selalu bahagia.. baru nampak bayang2 ku.. anak2 sudah berhamburan dan berteriak ibu!!!! .. ibu!!!.. mereka berlari menubrukku dan mencium tangan ku kadang wajahku juga.. kuhentikan motor ini untuk sejenak merelakan mereka apa yg hendak diperbuatnya .. ada yg naik ke motor minta diajak melanjutkan ke tempat parkir yg berjarak 3 meter saja dari tempat aku berhenti. ada juga yg sibuk mengambil bawaan yg ku ikat di motor dan membawa dengan susah payah ke dalam sekolah dengan bangga .. aku sungguh bahagia..

    “Belajar dari kepompong…”

    “bu aku dapat kemompong!!!.. anak2 berlari ke arahku dengan bangga memperlihatkan beberapa kemompong di tangannya masing2 dari hasil memanjat pohon.
    “aku akan mengamatinya bu.. sampai jd kupu2” kata luthfi.. disambut yg lain dengan setuju jg..
    mulai hari itu jadilah kami selalu mengamati kepompong demi kepompong..
    mereka sangat takjub dengan perubahan yg terjadi dari kepompong menjadi kupu2..
    hmmm… mereka belajar sendiri secara langsung dari alam.. yah di ruang kami yg luas..

    bu mala menambahkan pembelajaran tentang kepompong ..
    “tahukah kalian.. di kepompong ini ulat sedang berpuasa .. sama seperti kita berpuasa di bulan ramadhan yg diperintahkan Allah.. kalian lihat hasilnya kan?? subhanallah indah dan bagus kupu2nya.. begitu jg kita, dg berpuasa maka kita akan menjadi pribadi yg indah dan bagus… ayo kita harus berpuasa di bulan ramadhan nanti lebih baik lagi..” bgt bu mala berpesan.
    semoga mereka mendapatkan belajar lebih banyak lg dari alam.. dan ruang ini.

    masih banyak kebahagiaan2 lain nanti akan saya sambungkan… jazakallah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s